Hadiah Ulang Tahun | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Hadiah Ulang Tahun Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Hadiah Ulang Tahun

UNTUK ulang tahunnya yang ke-13, Srikanti mendapat sebuah lukisan dengan pigura kayu jati yang diukir dengan cermat oleh seorang tukang dari Jepara. Bapaknya, seorang pedagang barang pecah belah mendapat lukisan itu dari kawan lamanya, seorang pemasok yang bangkrut bukan karena insting bisnisnya buruk, melainkan lantaran kelakuan ugal-ugalan tiga anaknya yang terlahir dengan satu-satunya bakat untuk menghabiskan uang lebih cepat dari yang bisa didapat. 

Beberapa waktu sebelumnya, seperti bersepakat, tak kurang dari selusin penagih mendatangi rumah sang pemasok dengan setumpuk catatan hutang dan ancaman. Tak ada yang bisa diperbuat oleh laki-laki usia senja itu selain merelakan harta yang ia kumpulkan bertahun-tahun ludes sekejap mata. 

Salah satu dari sedikit barang yang berhasil selamat dari penyitaan brutal-brutalan itu adalah lukisan matahari terbit di sebuah pantai, dengan karang yang menjulang tinggi di sisi kanan, dan rimba raya hijau di sebelah kiri. Pasir putih membentang di latar depan, dengan latar belakang air biru dan sirip seekor paus raksasa, dan perahu yang oleng yang menampung seorang anak kecil. Dan tentu saja, pusat dari semua itu adalah mentari yang malu-malu menyemburkan sinarnya. Merah seperti neraka. 

“Harta turun temurun,” ujar si pemasok lesu. 

“Catnya tampak pudar,” tukas bapak Srikanti dengan lagak seperti pecinta lukisan sejati. 

“Tapi kau bisa merasakan energinya. Dan lebih dari itu, usia lukisan begitu tua, bahkan lebih tua dari bapakku. Konon, lukisan ini tinggalan tentara kolonial Belanda. Aku tak tahu persisnya bagaimana bisa lukisan ini sampai ke keluarga besar kami. Ia seperti datang begitu saja.” 

Dan begitulah lukisan itu berpindah tangan, dengan harga yang kebacut murahnya, tepat sehari sebelum hari ulang tahun Srikanti. 

“Tapi aku ingin ponsel android baru,” teriak Srikanti. 

Lukisan itu digantung di dinding kamar Srikanti yang didominasi warna merah jambu sehingga menciptakan komposisi yang tak lazim, bersebelahan dengan poster besar Lee Min Ho dan sejumlah artis Korea yang rawan membuat lidah keseleo untuk mengeja nama mereka. 

Srikanti, sebagai wujud protes atas hadiah yang merusak kedamaian mata itu awalnya menolak memasuki kamarnya. Ia merengek. Namun orangtuanya, yang insting pedagangnya membuat mereka kelewat cermat dan hemat hingga lebih pantas disebut pelit, bergeming. 

Menjelang pukul 10 malam, mereka lenggang kangkung memasuki kamar tidur mereka yang besar dengan ranjang megah, meninggalkan Srikanti sendirian di ruang tengah. Tak sampai setengah jam kemudian, merinding oleh keheningan yang asing, Srikanti luluh dan beringsut ke kamarnya, mencari kehangatan dari kasur dan selimutnya. 

Kemarahan bercampur kekecewaannya kembali mengelunjak begitu matanya menatap warna-warna kontras dalam lukisan tersebut. Srikanti mendekat, mengusap permukaannya yang kasar, dan secara refl ek menancapkan kuku-kukunya yang tajam ke permukaan kanvas. Ia meringis ketika mendapati secabik cat menelusup ke dalam kukunya. 

Biru laut dan hitam sirip paus raksasa. Perahu di sana tampak bergerak lembut dan ombak kecil menghempas. Srikanti mengira ia tengah berhalusinasi. Ia mengerjapngerjapkan matanya. Ia membeliak dan menatap lebih cermat. Dan di sanalah, terlihat jelas, mulut si anak di atas perahu komatkamit, seakan hendak mengucap sesuatu kepada Srikanti. 

Gadis menjelang akil baligh itu nyaris berteriak. Namun suaranya tertelan begitu sampai di ujung lidah. Ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Tubuhnya undur ke belakang, lalu terantuk tepi ranjang dan jatuh terduduk di atas kasur. Ia merasa angin beraroma garam berembus pelan,membawa udara panas memenuhi kamar itu. Srikanti gerah. 

Dan tiba-tiba, ia merasa tubuhnya begitu ringan. Bocah laki-laki dalam perahu itu ternyata hanya mengenakan celana hijau selutut serta kaus oblong tanpa gambar atau tulisan. Ia melongokkan kepala ke arah Srikanti. Semakin lama semakin jelas kalau kepalanya menonjol di permukaan kanvas, lalu lepas dari bidang dua dimensi tersebut. Dan pada akhirnya, kepala itu benar-benar nongol, sejangkauan dari jarak yang bisa dicapai dari juluran tangan Srikanti. 

“Ke sinilah,” ujarnya dengan suara sehalus deru kipas angin. 

Srikanti bangkit, seperti berada dalam kuasa lain yang tak terjelaskan. Lalu mendekat dan menjulurkan tangan, meraih tangan bocah laki-laki yang ternyata juga sudah terulur ke arahnya. Dengan gerakan anggun, ikan paus dalam lukisan itu bergerak, menyembulkan kepalanya yang tak terkira besarnya, menggoyang perahu dan mengakibatkan riak ombak dan menimbulkan desir keras. 

“Naiklah,” kata bocah laki-laki. Dan seperti tersihir, Srikanti menurutinya. Ikan paus itu menyambutnya dengan menciptakan air mancur dari lubang di atas tubuhnya, mengguyur Srikanti dengan kesejukan yang belum pernah ia rasakan. 

“Ia baik,” bocah laki-laki itu menambahkan. “Kau tak perlu takut. Tak ada bahaya di sini.” 

Begitu Srikanti menginjak lantai perahu yang basah dan licin, ikan paus tersebut, dengan gerakan akrobatik yang sukar dipercaya, melompat ke atas, membentuk setengah lingkaran melewati perahu itu, dan mencebur tepat di sisi seberang. Hempasan air yang sedemikian keras, anehnya, tak membuat perahu itu terbalik. Perahu itu hanya bergoyang pelan. Lebih disebabkan refl ek dan bukan ketakutan, Srikanti menjerit. 

“Jangan keras-keras, nanti orangtuamu bangun,” kata bocah laki-laki itu. 

Jika orangtuanya bangun, pikir Srikanti, maka itu pasti karena suara deburan air, dan bukan karena jeritannya. Namun ia tidak berkata apa-apa. Ia terlalu terpesona dengan pengalaman ajaib yang ia alami. Angin bertiup lebih keras di sana, menggerai rambut Srikanti, memberati lembar-lembar hitam itu dengan garam dan cairan. Sinar mentari pagi yang hangat mengikis kantuknya, dan sebentar kemudian, ia merasakan haus serta lapar yang tak terkira meski beberapa jam sebelumnya ia telah mengganyang semangkuk soto Lamongan berikut satu gelas besar es teh. 

“Apa yang kau mau? Buah-buahan? Air kelapa?” bocah laki-laki itu menunjuk sisi rimba raya. “Atau kepiting bakar? Dan ada sumber air tawar segar juga di sana,” dan ia melemparkan pandangannya pada sisi karang tinggi. 

Malam itu, mereka melabuhkan perahu di tepi karang, berburu kepiting dan membakarnya dan berpesta semalam suntuk. Kekenyangan dan kecapekan, Srikanti jatuh tertidur dan ketika terbangun keesokan paginya, ia mengira apa yang dialaminya adalah mimpi belaka. Srikanti mendapati dirinya telah berganti baju dan baju yang ia kenakan semalam teronggok di sudut kamar, basah dan asin. Dan lukisan itu sepersis ketika pertama tiba. 

Srikanti menghabiskan hari dalam kebingungan yang begitu besar hingga ia membisu seribu bahasa; ragu-ragu antara menceritakan apa yang dialaminya semalam atau tidak. Orangtuanya mengira kelinglungannya bagian dari bentuk protesnya. Srikanti, pada akhirnya, memutuskan untuk memastikan bahwa apa yang dialaminya bukanlah mimpi sebelum menceritakan hal itu kepada orangtuanya. 

Menjelang sore, ia masuk ke dalam kamarnya, memanggilmanggil bocah laki-laki dalam lukisan. Namun bocah itu bergeming. Warna merah masih menyemburat dari gambar mentari yang muncul malu-malu dari batas cakrawala, dan rimba raya masih sehijau sebelumnya, dan karang juga sekokoh kemarin. 

Srikanti kembali memanggil. Dan ia masih tak mendapat jawaban. “Barangkali itu memang mimpi,” gumamnya. Namun ia kembali ragu. Ia hampir keluar kamar ketika memutuskan untuk kembali mencoba memanggil si bocah. Ia beringsut lebih dekat ke lukisan tanpa tanda tangan senimannya tersebut, hingga ujung hidungnya nyaris bersintuhan dengan permukaan kanvas. Dari jarak yang begitu, ia bisa melihat bahwa sirip ikan paus itu tampak boncel, bekas cabikannya kemarin. Dan segera, gagasan itu menyergapnya. Bila kemarin si bocah nongol begitu ia mencakar lukisan aneh itu, maka mungkin cara yang sama bisa ia terapkan sekarang. Ia memeriksa kuku-kukunya dengan kecermatan seorang peneliti, dan setelah yakin akan kualitas senjata bawaan itu, ia menempelkannya pada permukaan kanvas, tepat pada warna biru laut. Kesepuluh kuku-kuku jari tangannya sekaligus. Dan dengan satu gerakan kasar nan keras, ia benamkan semuanya, lalu ia tarik ke bawah. 

Srikanti menjerit kalut ketika tangannya basah dan air meluap ke kamarnya. Perahu itu dengan segera terbawa arus dan turut terjun ke lantai, diikuti paus raksasa yang menggeliat-geliat buas, memorak porandakan meja dan ranjang, membentur dan meretakkan tembok. Ukuran paus itu berubah-ubah secara ajaib dan acak, kadang membesar dan mengecil sehingga--meski ketika masih bersemayam dalam lautan di dalam lukisan ia seakan lebih besar dari lapangan bola-- selalu ada ruang yang tak terisi oleh tubuhnya di dalam kamar seluas 4 kali 5 meter itu. Si bocah tersungkur begitu perahu terbentur keramik, dan gelagapan seolah baru bangun dari tidur. 

“Apa yang terjadi?” bocah itu berteriak seraya mengerjap-ngerjapkan mata, rambutnya semrawut dan basah. 

Dan air semakin deras meluap, mengisi setiap ruang dalam kamar itu. Srikanti, di sudut kamar, meringkuk seperti bayi tikus, berlindung dari terpaan ekor paus dengan setengah tubuh tenggelam, menambah volume air dengan air matanya yang tak terbendung. Dan tak lama kemudian, mentari pagi beserta cakrawalanya, berikut karang dan rimba rayanya, turut terseret ke kamar itu. Tak ketinggalan pantai berikut pasir putihnya. Seperti ada semesta dari dimensi lain yang dipindahkan dengan cara yang sama sekali tidak elegan, menimbulkan kegemparan mengerikan. Dari luar, terdengar teriakan kedua orangtua Srikanti. 

Dadang Ari Murtono merupakan penulis yang suka travelling. Sejumlah bukunya sudah diterbitkan berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang belum Pernah Menyakitimu (2015). Buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dadang Ari Murtono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu 24 September 2017 

0 Response to "Hadiah Ulang Tahun"