Hari Pertama di Penjara | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Hari Pertama di Penjara Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:36 Rating: 4,5

Hari Pertama di Penjara

SEKETIKA petugas datang menjemputku paksa, lalu membawaku pergi, tepat di hari pernikahanku. Aku hanya bisa tertunduk pasrah.

Sipir menggiring paksa diriku menuju sel. Tanganku diborgol.

"Hai! Mau ke mana?" teriak sipir berkumis ketika aku berjalan melewati sell penempatanku. Sebelumnya, kurasakan hawa mencekam. Saat melakui sel tahanan lain. Nyaliku ciut menatapi tampang sangar mereka. Ada tahanan menatap dengan wajah bengis, dan ada pula yang menatap dengan senyum palsu. Setiap pasang mata itu seakan isyarat, ketika kau berada di sini, maka kau akan menderita.

Orang kurus sepertiku pun telah dipastikan jadi konco para pemilik badan kekar lagi bertato. Aku bisa bayangkan sebelum jadi konco, wajahku terlebih dulu harus merembes darah atau lebam terkena pukulan tangan kuat lagi kasar di sudut-sudut sepi penjara.

Setelah aku melangkah masuk sel, sipir itu menutup pintunya dengan kasar. Aku berjalan lesu sembari menatapi jendela kecil besi di bagian atas belakang. Udara yang melewatinya sedikit. Melihatnya saja membuatku sesak. Langit-langit selnya penuh noda, sangat kotor. Cukup membuat perukut mual. Lantai semennya kasar dan tidak nyaman diinjak. Dua ranjang besi karatan dilapisi kain tipis kumal membuat selnya makin bau. Hanya lemari kayu kecil di bawah jendela enak dipandang. Sejumlah buku menumpuk di situ.

Aku telah duduk lemas di ranjang ketika seorang sipir mengantar penghuni sel ini.

"Kenalkan, aku Penja. Kawan satu selmu."

"Aku Jara."

"Jangan pernah percaya siapapun di sini!"

Aku agak senang ada teman satu sel. Ia terlihat baik, batinku.

"Jadi. Apa yang menyebabkan kau ada di sini?"

Aku diam tidak menanggapi pernyataannya sebab pikiranku masih kacau. Melihatku demikian, ia malah lanjut menerangkan kisahnya.

"Dulu, aku miskin lalu terobsesi jadi orang kaya. Jadilah aku banyak menipu orang. Aku punya dua anak yang masih sekolah. Tentu ia perlu uang jajan dan keperluan sekolah. Semua berjalan baik waktu itu. Hasil dari menipu banyak orang banyak mencukupi kebutuhan keluargaku. Aku bisa membawa mereka pelesir ke tempat wisata yang mahal. Bahkan, aku mampu menghadiahi mereka benda mewah. Suatu hari, di siang terik, saat bepergian ke kota. Mendadak keramaian kota membuat aku berpikir bahwa kehidupan masih sangatlah panjang. Bagaimana kalau anakku ingin masuk universitas terbaik? Bagaimana kalau ia ingin jadi dokter? Bagaimana kalau ia ingin kendaraan mewah? Seakan itu tak cukup. Istriku pasti ingin rumah besar. Dan, aku pun ingin kendaraan mewah. Alhasil, aku meningkatkan kemampuan menipuku dengan caara baru yaitu lewat internet dan cukup berhasil. Namun, tidak lama setelahnya, aku pun berakhir di sini. Ah, jika sudah memulai, maka akan sulit untuk berhenti."

Selesai ia berkisah, aku tergerak membuka suara, sebab ia begitu terbuka padaku.

"Sebanarnya aku pengacara. Tapi, bukan sebenar-benarnya pengacara. Sejak awal menjadi pengacara, aku telah memalsukan identitasku sebagai lulusan sarjana hukum. Padahal sekolah SMP saja tidak tamat. Bisa dibayangkan, ada orang yang tidak berlatar pendidikan dokter kemudian menjadi dokter selama bertahun-tahun. Seperti itulah diriku. Sialnya, pengacara sainganku mengetahui rahasia itu. Ia tidaak bisa menerima, lalu menjebloskanku di sini."

"Ternyata, kau penipu kelas atas!"

Kualihkan pandanganku darinya. Aku menatap bingkai foto yang ada di atas lemari kayu. Bingkainya tersemat foto wanita menyunggingkan senyum.

"Apa itu istrimu?" tunjukku.

"Ya. Dia istriku, Maya!"

Seketika, aku pun teringat kekasihku.

"Hari ini, seharusnya aku telah menikah dengan kekasihku. Tempat pesat pernikahannya telah disiapkan. Akan tetapi, aku membiarkan diriku dibawa. Aku melakukan itu karena tidak ingin membuatnya lebih menderita nantinya. Aku takut jika sudah bersamanya lalu meninggalkannya seperti ini. Mungkin dengan begini, ia tidak akan terlalu merasakan terlalu merasakan sakit."

"Sudahlah, kau harus kuat. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku!"

Perbincangan kami pun tetap berlanjut. Tapi, begitu tubuhku lelah, aku langsung rebah di ranjang. Melihatku, Penja ikut rebah. Selang beberapa menit, aku membalikkan badan ke arahnya. Namun, matanya telah terpejam. Kedua tangannya dijadikan bantal.

"Bagaimana kau bisa melewatinya tanpa Maya di sisimu?" tanyaku penasaran dan membangunkannya.

"Tidurlah! Kau akan sanggup melewatinya dan menghadapi ini. Aku saja masih lima tahun di sini," ucapnya. "Sekarang kau sudah tahu."

Masa tahananku yang hanya dua tahun. Rasanya tidak seberapa jika dibandingkan dengannya. Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk tidak bisa bertahan di sini, batinku.

Saat puncak tengah malam, Penja terbangun dan melihatku masih membuka mata. Aku terus-terusan teringat kekasihku. Ia pasti sangat sedih sebab aku meninggalkannya tepat di hari pernikahan kami. Sejak tadi aku belum bisa memberi kabar keadaan diriku padanya. Penja seakan mampu membaca pikiranku. Ia merogoh sesuatu di bawah sela-sela ranjang.

Aku seketika terperangah. Mataku membelalak menatapi benda yang dipegangnya. "Bolehkah menyimpan benda seperti itu? Bukankah yang seperti itu dilarang?"

"Ya, memang dilarang. Tapi, kita kan bisa menyuap sipirnya. Pakailah dan hubungi kekasihmu! Jangan biarkan dia menunggu lebih lama lagi."

"Terima kasih. Sungguh beruntung, aku bisa bersama dengan orang baik sepertimu."

Penja hanya tersenyum.

Aku mengirim pesan singkat pada kekasihku. Mengatakan kalau aku baik-baik saja dan ia tidak perlu khawatir. Kukatakan juga padannya kalau aku satu sel dengan orang yang sangat baik. Dialah yang memberiku ponsel unntuk memberinya kabar.

"Apa kau sudah merasa baikan setelah mengabarinya?"

"Ya. Sepertinya sekarang aku merasa lebih baik."

"Tidak perlu sungkan, jika kau memerlukan ini lagi."

Tidak lama kemudian ponsel itu bergetar pendek. Artinya, pesanku dibalas. Penja yang membacakannya. Aku senang kau baik-baik saja dan punya teman yang baik dan perhatian. Sampaikan ucapan terima kasihku padanya, bacanya pelan. Aku tertawa mendengarnya, begitupun dirinya.

Lalu, tiba-tiba saja Penja berdiri. Ia beranjak ke depan dan teriak melalui jeruji besi. "Sipirrrr, aku selesai."

Begitu sipir datang dan membuka pintu sel. Rasanya aneh. Aku pun tersentak penuh tanya. 

Sebelum Penja keluar dari pintu sel, ia berbalik menatapku. "Sejak awal sudah kukatakan. Jangan pernah percaya siapapun di sini!"

Rasanya ingin memukul wajahnya keras hingga berdarah. Setelah ia melangkah keluar, sipir mengunci sel. Lalu, ia kembali menatapku sekali lagi.

"Kawan, ingat nomor kekasihmu sudah ada padaku,"ucapnya tertawa keras lalu pergi.

Rasa pedih di dadaku muncul kembali. Dan kini, pedihnya terasa jauh lebih dalam. 

 Rappang, 2017

* Iqbal Risadi:
Jalan A Makkulau Rappang Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iqbal Risadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi Minggu I September, 3 September 2017

0 Response to "Hari Pertama di Penjara"