Hikayat Kampung - Sahur - Margonda - Blang Bintang - Angsa Merah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Hikayat Kampung - Sahur - Margonda - Blang Bintang - Angsa Merah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:00 Rating: 4,5

Hikayat Kampung - Sahur - Margonda - Blang Bintang - Angsa Merah

Hikayat Kampung

ayat-ayat yang bergelombang memecahmecah
kaca jendela
di tengah hiruk dan siulanmu di angkutan
kota
mengirim jalan setapak, rumah tua, juga
sebuah meunasah yang kalah
oleh suara azan dari telepon pintar dan
denting gelas di warung kopi

kau terlalu tua untuk mengerti, katamu,
tentang lorong-lorong
yang makin panjang -- bukan di kota tempat
kau terjebak menjadi
kelelawar, tapi di sebuah bentangan bukit
yang berundak-undak
dengan palawija yang sedang tumbuh dan
membiak

setiap pagi, kita memandikan jempol kaki dan
rambut beruban,
membedaki bibir, menglipstikkan payudara
dengan warnah merah saga
juga membuat sebuah lubang di tengahnya
tempat kita berpetak umpet waktu malam,
setelah kota-kota kembali ke sarang.

kau tidak pernah bisa menjawab satu
pertanyaan:
mengapa matamu selalu basah setiap
mendengar ayat-ayat yang
melengking di gang-gang ramai, seolah
membunuh ritus-ritus
dan riwayat kampung yang tak kunjung
terang

kampung dan kota tak ada bedanya, katamu,
dan kami selalu
berdoa di sudut-sudut halaman karena lampu
di kamar sering padam
jurong-jurong lebih gelap dari pada yang kau
duga
tapi kami, ujarmu lagi, tetap terus berzikir
kepada Yang Maha.

Depok, 27 Mei 2017

Sahur

bangunlah dengan segenap ruh
menggenapkan zikir dalam riuh kentongan
dan
suara tadarus yang membelah kegelapan

meunasah tak pernah diam, katamu,
setiap waktu merekam suara guntur, petir,
juga kulik elang yang sewaktu-waktu datang
membawa kabar kepergian

lalu orang-orang menyiapkan keranda dan
memahat nisan dengan tangan terluka

hapuslah darah dari matamu cintaku,
katamu,
sambil menyeret waktu yang enggan
bergerak,
jam malam akan segera lindap
bersama kampung-kampung yang senyap,

tidurlah!

ada yang bermain dadu di gunung
ada yang berjudi di kota
ada yang menjual ibu dan kampung

kita merawat anak-anak yang tumbuh penuh
aroma bangkai
seorang tua menikmati senja di luar sana,
sambil menghabiskan cerutu dan menyusun
biji-biji puzle
dengan kesadaran yang makin turun

dan kau menyebutnya pahlawan!

bangunlah dengan ruh penuh
menutup seluruh buku yang menuliskan
ketakutanmu,
juga airmataku, dan membakarnya hingga
jadi abu,
kemudian larunglah ke laut,

ke laut terjauh,
ke seberang ingatan

lalu kita habiskan sisa waktu di kanot bu
untuk bekal zikir kita.

Depok, 30 Mei 2017

Margonda

apakah kau tidak pernah kangen pada pohonpohon?
rok merah siapakah yang kau kibarkan
sepanjang jalan
seperti pertunjukan metador

lelaki-lelaki itu memburumu
menyeruduk muleta
seperti membayangkan sebuah nirwana, nun

di setiap lampu merah
kau menemukan mata-mata bening
bocah-bocah yang terbakar
puisi-puisi gombal

dan di sebuah ujung, di dekat terminal,
kau membangun tebat dan kolam ikan
dari air mata pejalan malam

kita terperosok di emperan, kegerahan di
halte,
gosong di trotoar,
membayangkan daun-daun cherry dan
akasia melambai-lambai

dan kau tak henti bertanya dalam hati:
apakah kau tidak kangen pohon-pohon
yang tumbuh di perjalanan subuh
dalam doa-doa panjang

Depok, 26 Mei 2017

Blang Bintang

- Penyair Hasbi Burman

puisi-puisi romantik turun ke sawah-sawah
membentuk benih-benih padi, kacang tanah,
juga burung-burung yang gelisah.

setiap pesawat-pesawat itu terbang rendah,
kau menatap dengan mata nanar: anak-anak
berlari ke jendela
membayangkan jadi merpati

sedangkan kau terperosok dalam bayangan
tentang makam-makam tua tanpa nama
yang membuatmu pernah terluka dan
terpenjara

juga tentang ratusan pesawat lalu lalang dan
berhenti di kebun-kebun kosong
mengangkut singkong dan kacang panjang

apakah kesunyian begitu abadi
dan puisi begitu kuat menarikmu ke
Peunayong
berhikayat tentang Rex

setiap rindu selalu ada alamatnya sendiri,
begitu pula kau, yang tak henti
mempuisikan angin dan dedaunan

penyair, puisimu abadi di daun-daun laksa
seperti pesawat yang selalu datang dan
pergi mengusung baling-balingnya

Blang Bintang, Banda Aceh, 17 Mei 2017


Angsa Merah

Aku hanya bisa membayangkan
dari tepi jalan ini: sepasang angsa merah
mengibas-ngibas sayap di sore basah

mengapa angsa berubah merah?

api unggun menyala malu-malu
seperti mata perawan menatap ikan-ikan
di kedalaman hulu

mengapa langit berubah ungu?

kau mengaduk-aduk tungku
mengipas-ngipas api yang mati
dari hilir ke hulu

seperti angsa-angsa liar *)
yang sempat memuja Mao
lalu menghadapi takdir: terbakar!

kau hanya bisa meratapi warna-warna
setiap pagi dan senja
dan tak mungkin bisa membunuhnya

angsa-angsa itu meronta-ronta
seperti penari yang terluka
bulu-bulunya tetap merah saga.

Depok, 2016-2017

*) Angsa-angsa Liar adalah judul novel penulis China Jung Chang 

Mustafa Ismail, lahir di Aceh pada 1971. Buku puisinya Tarian Cermin (2007 & 2012), Menggambar Pengantin (2013 & 2014) dan Tuhan, Kunang-Kunang & 45 Kesunyian (Agustus 2016). Buku cerpennya Cermin (2009) dan Lelaki yang Ditelan Gerimis (2017).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mustafa Ismail

[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 24 September 2017

0 Response to "Hikayat Kampung - Sahur - Margonda - Blang Bintang - Angsa Merah"