Karang yang Lebur di Dadaku - Di Tubuh Anak-Anak - Dari Kota Jerebu Terselip Pilu - Jalan di Sebuah Pagi - Menguras Musim - Hujan di Kartu Pos | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Karang yang Lebur di Dadaku - Di Tubuh Anak-Anak - Dari Kota Jerebu Terselip Pilu - Jalan di Sebuah Pagi - Menguras Musim - Hujan di Kartu Pos Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Karang yang Lebur di Dadaku - Di Tubuh Anak-Anak - Dari Kota Jerebu Terselip Pilu - Jalan di Sebuah Pagi - Menguras Musim - Hujan di Kartu Pos

Karang yang Lebur di Dadaku

Jangan pergi dulu,
sebelum matahari mengakar di tanah langit
biarkan orang-orang menjejaki rasa
sibuk di jalan kota
bau ludah dan kaos kaki ditumbuhi anak-anak kulit
yang mengeras, yang memberi tanda pada bumi.

Jangan pergi dulu, biasanya suara burung
dan daun-daun gugur
menjadi sarapan pagi, detak membumbuhi makanan
di pingganmu.
kau seduh secangkir kopi, dibalur cinta di sekitarmu
masih luaskan bintang berjejer di kepalamu,
atau sudah tenggelam di langit maha biru.

Karang telah tumbuh, mengekali tiang tiang lautan.
di dadaku, ada sesak yang lebur di sepasang jarum
menjahit angka di kawah ingatan.
Sampai padamu beratus kali lelah, aku masih tabah
menggumuli sepi. Kelak kepergian tidak mengalir
terlalu lama di dalam nadi

Medan, 2017

Di Tubuh Anak-Anak

Di tubuh anak-anak terdapat liur hujan
mengalir ke bilik sepi, dibanjiri rupa tangis
ada desah yang timbul dari nafas pagi
setelah menghabiskan kudapan mimpi.

Anak-anak memandangi atap rumah
mengukir kembali wajah ibu
yang selalu membangunkan jantungku
dengan tampian beras.

Di tubuh anak-anak terdapat aroma kulit beras
yang dijemur sebagai penangkal amsal
panen telah usai, mesin padi menggiling musim
berikutinya
tanah mengering, batang kaki mengakari bumi.

Sarapan pagi dan segelas air tajin manis
mengawali ritual hari, kuketuk jam dinding buram
bertaburan ingatan beberapa hari sebelumnya,
barangkali kisah lalu
jangan lagi dituang dalam pinggan kata
biarkan ia disapu oleh jerami-jerami kering
agar hilang sudah-sudah rasa nyeri.

Medan, 2017

Dari Kota Jerebu Terselip Pilu

Pandangan telah luntur oleh cahaya
tanah mengering, bahkan ribuan air mata
mengakar di lubuk ketakutan, tak jua membasah
wajah wajah penantian, kaki yang letak getarnya
serta merta mengetuk pintu degup waktu
segalanya pasang surut di dadaku

Kota jerebu
pada tumbuhan dan binatang kematian telah
menjadi panggilan paling akhir dari Tuhan
pada rumah dan harta para pengungsi
segalanya telah lebih dulu kupamitkan
pada tangis dan ketakutan di dadaku
redakanlah hujan yang berhari hati deras

Dari kota jerebu, pilu ternanak
kenangan tawa dan kaki kaki bocah
terjejak di tanah subur
tak sengaja kami sirami darah dan air mata
barangkali sinabung juga luluh
biarkan harapan tak rabun dimakan waktu

Medan, 2017

Jalan di Sebuah Pagi

Sebuah jalan yang sepi
pagi lebih sering dituang dalam teh
dibandingkan kopi yang tersaji di meja makan
kita juga memahat kepadatan
kata-kata bekerja mengurusi pintu-pintu
dan titik tidak dapat dibubuhi tanpa penjelasan rinci

Mencari-cari letak denyut dari pagi
makna disulam, tumbuh dari matahari
dan bersemi setelah hujan
kepala kita menampung bayi ingatan
datang silih berganti

Sungguh, ia lebih sering menampung kaki-kaki
yang tergesa dan tidak tersusun rapi

Medan, 2017

Menguras Musim

Lalu arah angin hendak pulang
menajamkan kenangan yang tumbuh di kepala
sebagaimana dingin tengah malam
gigil kematian menelanjangi tubuh para gadis kasur
aku telah sampai di tempat pembaringan kudus

Akhirnya alamat berpulang pada pengirim
menemui ruas kisah belum sembuh
seperti mafela terbang membantai keinginan
aku semakin menerka-nerka riwayat basi
pekeuk rindu menjelma kapal perang
senjata disimpan dalam peti
sedang karat menyerang besi-besi tua

kobar api menyala
membakar rambut para gadis kasur
tentang peristiwa yang ranum
tentang permisalan yang gagal
sebaiknya gali kubur massa

Medan, 2017

Hujan di Kartu Pos

Pada kepala yang padat ingatan
hujan selalu membasahi bumi setelah kau
rambutmu tetap jatuh
menjadi jalur air mengalir
tak ubahnya mimpi-mimpi di malam hari

Yang datang dari langit seperti wajah lautmu
sebelum akhirnya meninggalkan tanah kelahiran
di sana kau melihat tangan-tangan ilusi
memeluk dan merekah segala dada
agar rindu dapat ditampung

Hujan menusuk kenangan di hulu jantung
menenun doa-doa bumi
dan berlayar kartu pos menuju rumahmu

Romantisme musim dingin

Puisi-puisi lahir dari rahim pena
tangisan menyelimuti kata-kata
kecemasan menghitam
segalanya tumpah dalam kartu pos
yang datang dari negeri sebrang

Jampi-jampi masa depan
bekal yang tumbuh dari kejujuran
sebab ia telah berkabar pada langit
pada tumbuhan dan tanah-tanah basah

Angin di telingaku, air di kaca jendela berbisik
; matahari kerap menghilang, laju puisi
mengikuti detak jantung dari waktu dan kerinduan

Medan, 2017

Julaiha Sembiring, perempuan kelahiran Medan, 11 Juni 1993. Sejumlah tulisan telah dimuat di media cetak dan online dan beberapa antologi puisi. Alumni Program Penulisan Mastera: Puisi 2017. Saat ini, ia tercatat sebagai alumni Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Medan. Ia telah melahirkan buku puisi tunggalnya berjudul Mula-Mula Kita Pergi Selanjutnya Tersesat. (Obelia Publisher, 2016)

[1] Disalin dari karya Julaiha Sembiring
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 10 September 2017

0 Response to "Karang yang Lebur di Dadaku - Di Tubuh Anak-Anak - Dari Kota Jerebu Terselip Pilu - Jalan di Sebuah Pagi - Menguras Musim - Hujan di Kartu Pos"