Koko | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Koko Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 20:00 Rating: 4,5

Koko

NAMAKU Koko. Tapi, hampir semua siswa di SMA 3 memanggilku Emon. Jujur aku marah, benci, tak suka dipanggil demikian. Tapi aku bisa apa? Aku tak becus mendribel bola saat basket. Kakiku kaku seperti kayu saat menggiring bola. Tanganku gemetar memegang raket. Tenagaku juga tak kuat saat memukul bola voli. Tak hanya itu, kalau lompat tinggi aku orang pertama yang gugur di ketinggian 110 cm. Namaku Koko. Karena aku selalu jadi pecundang di pelajaran olahraga, mereka memanggilku Emon. Ohya suaraku juga lembut. Seperti suara ibuku.

Ibuku meninggal saat aku kelas 1 SD. Bapak bekerja sebagai tukang macul. Bapak bekerja kalau ada pemilik sawah yang menyuruh. Kalau tidak? Bapakku nganggur.

Meski aku lahir dari keluarga tak mampu, aku termasuk anak yang cukup cerdas. Di bangku SD aku sering mendapat peringkat kelas saat pembagian rapot.

Namaku Koko. Aku ingin terus sekolah meski untuk itu, sejak kelas 3 SD aku sudah bekerja di pabrik kerupuk di dekat rumah. Aku juga kerap ditegur guru karena sering telat bayar iuran SPP. Penampilanku juga paling kucel dibanding murid-murid lainnya. Maklum baju seragamku cuma satu.

Karena hidup dalam kemiskinan, sejak kecil aku tak pernah merasakan asyiknya bermain bola di lapangan seperti anak lainnya. Tak bisa bebas mandi di kali karena sepulang sekolah aku harus berangkat kerja hingga petang hari. Andai saja ibu belum tiada? Andai saja bapakku kaya raya? Aku tak perlu susah payah agar bisa terus sekolah.

Namaku Koko. Kalau hari minggu aku juga harus disibukkan mencuci baju dan seragam, melipat kadang juga menyeterikanya. Aku cuma gigit jari melihat anak-anak lain memancing atau bersepeda ria ke Waduk Cacaban, yang terkenal di kota kami.

Aku nyaris putus asa ketika bapak tak mengizinkanku melanjutkan sekolah selepas mendapat ijazah SMP.

"Biaya SMA itu selangit. Kamu tak lihat sepupumu Ragil yang orangtuanya menjual tanah untuk biaya sekolahnya?" cecar bapak kala itu. Aku hanya bisa menunduk tanpa bisa melawan.

Setahun lamanya aku memendam rindu duduk di bangku sekolah, berseragam putih abu-abu. Kalau malam menjelang aku sering menangis di sajadah kadang juga membahasi buku harian saat meluapkan gundah gulana karena ingin sekolah. Setahun lamanya aku menyimpan mimpi sembari terus bekerja di pabrik kerupuk kepunyaan Lik Yanto.

Namaku Koko. Suatu hari Tante Yeni sahabat almarhum ibu. Tante Yeni bersedia menyekolahkanku dengan sarat aku ikut ke kota membantu mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel atau mencuci motor atau mobil kepunyaan suaminya. Tanpa pikir panjang dan bapak membolehkan aku mengiyakan ajakan Tante Yeni. Asal bisa sekolah, pekerjaan-pekerjaan itu tak menjadi beban buatku. Lagi pula bukankah pendidikan adalah hak setiap warga negara?

Orang-orang kota dan orang-orang di kampungku ternyata seperti air dan api. Ketika di kampung tak pernah ada yang mengejekku Emon, Beti atau apalah. Di kampung aku dikenal sebagai anak penurut dan pintar. Itu saja

Kali pertama aku mengenalkan diri di depan kelas, mendengar suaraku yang kecil dan lembut murid-murid di kelasku langsung berseloroh Emon. Emon. Emon. Belakangan aku baru tahu kalau Emon adalah salah satu karakter di novel dan film Catatan Si Boy yang kemayu dan centil seperti perempuan.

Tante Yeni punya anak yang seumuran denganku, namany Ferdy. Ferdy juga sepertinya tak menyukaiku. Kalau di sekolah ia seperti tak mengenalku. Kalau di rumah Ferdy juga hanya berbicara denganku seperlunya saja. Padahal aku ingin berkawan dengannya.

Suatu hari Tante Yeni dan suaminnya ke luar kota. Ferdy yang biasanya di rumah kalau ada orang tuanya, pergi entah ke mana. Mungkin ke rumah temannya, mungkin juga ke diskotik seperti anak orang kaya lainnya. Oh ya, Tante Yeni dan keluarganya punya pembantu rumah tangga yang bertugas memasak dan menyeterikan, tapi biasanya berangkat pagi dan pulang menjelang sore hari.

Tengah malam, aku terbangun. Dari pintu kamarku, aku mendengar suara langkah yang mencurigakan. Dengarn berdebar aku mengintip dari lubang kunci. Deg. Ada tamu tak diundang. Aku merapal doa mencari sesuatu. Aku harus berbuat sesuatu.

Entah keberanian dari mana, aku memegang linggis yang kebetulan ada di kamarku. Aku mendekati orang bertutup kepala yang sedang berusaha membuka pintu kamar Tante Yeni dan suamianya.. Aku mengayunkan linggis itu tepat mengenai pundak orang bertutup kepala itu.

Namaku Koko. Kau pernah membaca novel atau menonton film Getar-Getar Cinta yang booming itu? Novel itu karya Koko Kusuma, nama lengkapku. Setelah kejadian pencurian di rumah Tante Yeni belasan tahun lalu itu, aku sempat dirawat di rumah sakit karena sobekan dari benda tajam yang dibawa orang bertutup kepala itu, aku berhasil menggagalkan perampokan itu karena para tetangga Tante Yeni tiba-tiba berdatangan. Sejak saat itu, Ferdy mau bersahabat denganku, teman-teman di SMA 3 juga tak lagi memanggilku Emon. 

Sutono Adiwerna Jalan Pertanian no 15 Ds Harjosari Kidul Rt 16/04 Adiwerna Tegal 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sutono Adiwerna
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi Minggu, 3 September 2017

0 Response to "Koko"