Malam Sabit - Menjadi Bayi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Malam Sabit - Menjadi Bayi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 00:55 Rating: 4,5

Malam Sabit - Menjadi Bayi

Malam Sabit 

Meski hari-hari
Tak cukup untukku berdoa
Namun lewat puisi
Akan kuselipkan munajat pada-Mu
O, Tuhanku
Agar aku tak kehilangan
Waktu untuk terus
Sadar kepada-Mu

Berbicara pada-Mu
Aku karam
Di malam menyabit
Menjerit
Jiwa kerdil tak kuasa
Mengucap salam
Meski hanya awalan

Lewat wudlu
Dan sembahyang
Kusajadahkan kening
Pada-Mu
Di malam kudus
Syiíiran airmata
Membawa lelahku
Yang khusyuí

Pasir Luhur, 2017

Menjadi Bayi 

Seluruh sudut kota basah
Lilin nyala
Dalam toples kaca
Dan pigura yang
Usang, kau sematkan
Dendelion pada trotoar

Airmata luntur
Bersama pesan yang beterbangan
Sepanjang jalan
Adalah arakan kemenangan
Kepada tanah
Putrimu kembali
Menjadi bayi yang suci

Pasir Luhur, 2017

*) Faiz Adittian Ahyar, lahir di Banyumas, 21 Oktober 1994. Tempat tinggal di Pasir Kidul RT 02 RW 05 Purwokerto Barat 53135. Puisinya terantologikan dalam buku Kampus Hijau (Stain Press), Kampus Hijau 2 (Stain Pres), Kampus Hijau 3 (SKSP), Pilar Pusi II (Stain Pres, 2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Faiz Adittian Ahyar
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 17 September 2017

0 Response to "Malam Sabit - Menjadi Bayi "