Memilih Pohon Sebelum Pinangan - Variasi Mantra Pengurip Kayu - Geguritan Empat Buah - Lima Pupuh Denpasar | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Memilih Pohon Sebelum Pinangan - Variasi Mantra Pengurip Kayu - Geguritan Empat Buah - Lima Pupuh Denpasar Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:30 Rating: 4,5

Memilih Pohon Sebelum Pinangan - Variasi Mantra Pengurip Kayu - Geguritan Empat Buah - Lima Pupuh Denpasar

Memilih Pohon Sebelum Pinangan

Cintaku kepadamu menjulang makin tinggi
Tapi tidak akan kutebang pohon yang tumbuh
di tempat kau biasa menyembah Hyang

Tidak juga kutebang pohon yang hidup pada tanah,
tempat di mana badanmu yang kasar
kelak akan dikuburkan

Untuk membuat rumah
kita cukup memotong ranting matang
mencabut alang-alang
menyapih pandan duri
dan mengiris daun kelapa udang

Rumah kayu dari pohon besar di tempat suci
Membuatmu tidak suci
Rumah kayu dari pohon besar di kuburan
Membuatmu kehilangan rasa hina

Segera kupinang kau di rumah tempat kau lahir
Di perjalanan kulewati batas desa yang rimbun
Tapi jangan kautebang ragam pohon di perbatasan
Biarkan ia subur agar tak sesat aku
Dalam lengang pintu gerbang

Kayu dari pohon yang tumbuh di perbatasan
tidak berguna untuk membangun rumah
karena akan membuat kita jadi kesepian

Untuk membangun rumah
Kita cukup menyambung ranting matang
memintal alang-alang
menganyam pandan duri
dan menjalin daun kelapa udang

Rumah tempat kau lahir tampaklah cukup jauh
Kuseberangi sembilan sungai, tiga danau
dan tiga belas jurang kering
Kutemukan pohon di tepi-tepinya
kutemukan pohon menghirup air sepuasnya
Jangan sesekali kautebang pohon itu

Untuk membangun rumah
Kita cukup menegakkan sambungan ranting matang
merentangkan atap pintal alang-alang
menggelar tikar anyam pandan duri dan
mengurung jalin daun kelapa udang
Pohon tepi air biarkanlah tumbuh
Karena akan melindungi rumahmu dari bah dan panas

Cintaku kepadamu menusuk makin dalam
Dan akan kutanam pohon di semua tempat
di mana rumah kita berdiri

Variasi Mantra Pengurip Kayu

Tahan getahmu
Kutahan air mata
Kuayun kapak besi
Di atas akar, pada batang terendah,
di kebun ayah

Kutebang kau
Setelah tumbang, matilah kau

Di langit mendung menguap
Seribu burung terbang berpencar
Memburu nasib baik di segala penjuru

Kutebang kau
Setelah tumbang, matilah kau

Tapi jangan cemas
Kuhidupkan kau
Menjadi rumah
Agar subur segala pengantin

Jangan kutuk aku
Sudah cukup aku dikutuk jadi tukang kayu
Karena setiap cinta harus punya rumah
Setiap kekasih harus diteduhkan

Jangan kutuk aku
Pasrahlah kau kutebang

Dan tumbuhlah kemudian di surga
Kakimu akan jadi buah padi
Dan bermacam lagi manis buah
Berumbilah kau
Pergilah segala kesengsaraanmu

Minggu jadi tunas
Senin jadi daun
Selasa jadi buah
Rabu jadi bunga
Kamis jadi batang
Jumat jadi kambiun
Sabtu jadi akar

Semua menyaksikan kau tumbuh
Dan aku bersujud lagi di kakimu
untuk kutebang
dan kuhidupkan lagi jadi rumah
Tumbuhlah kau kembali di surga

Geguritan Empat Buah

1. Belimbing Wuluh

Belimbing wuluh buah kesehatan
Petik dan ketuk di pangkal pohon
Bisik-bisik mantra

Enyah asam, datanglah madu!
Ketuk dengan rima agar tak muncrat
Air dari pori. Lalu gigit Huya!

Kudapat manis
Seperti jatuh cinta kepada istri
Untuk kesekian kali

2. Jambu Biji

Sebulan lalu: kumakan daging jambu
Biji kubuang sembarang
Tak kuingat apakah ia manis atau pahit

Sehari lalu: biji tumbuh jadi pohon
Pada sembarang lubang di halaman
Tak kutahu ia akan pahit atau manis

Tentu kutunggu ia berbuah
Mungkin seminggu atau sewindu lagi
Mungkin pada sembarang waktu

3. Seiris Mangga

Seiris mangga di ujung pisau
Kusodorkan kepada istri
di awal perjamuan keluarga

”Suguhkan lebih banyak!
Jika hanya seiris,
Kau dikutuk jadi lintah pohon”

Itu nasehat ibu
Tapi istri minta seiris
Dan aku meminta kutuk

4. Sebutir Durian

Sebutir durian
Kubagi bersama istri
Pada senja yang tak redup

Isinya 13 biji
Besar kecil tak sama
6 untukku, 7 untuk istri

Kami menelan wangi yang sama
Tak lebih banyak
Tak lebih sedikit


Lima Pupuh Denpasar 

1. Pupuh Kesiman

Kata-kataku di jembatan
Jatuh di sungai mati
Pasar pagi sudah dekat
Bau terasi dan lawar sapi

Betapa lidah tak bertepi
Dan ujung jalan hanya satu
Bukan di kiri bukan di kanan
Segala arah memberi arti

Suara burung
Sesekali hangat riang terbuka

2. Pupuh Renon

Jalanlah pelan kau pasti ingat
Sawah pergi lautan menepi
Serangga main di ruang suka-suka
Jika berhenti kau hati-hati

Tak akan kau temukan perigi
Di bawah lubang dan tinggi daun
Hanya gang kecil dan pintu terbuka
Tapi janganlah kau menepi

Penjaga sebisu dadu
Dipasanglah fotomu di muka gerbang

3. Pupuh Cengkilung

Duduk bersila di tepi jalan
Tak akan kencang angin bergerak
Tembok rumah masih hangat
Daun jatuh dan sejuk berhenti

Jarak tanam antara rumah dan tepi
Di situ ruang bebas mencipta lagu
Seperti basah batas kota dan desa
Demi hati meramu mimpi

Mengemban rindu
Dekatkan hati pada mata

4. Pupuh Ubung

Pernah pada malam setelah luang
Kita bawa benih dalam peti
Ke barat kita tembus semak pematang
Menitip manis pada sunyi sepi jampi

Belum tahulah si kecil soal roti
Tak ada kerlip apalagi lampu
Kita merangkak di tikung selokan
Mencari tepi menemu kali

Ini barat
Bukan lagi barat yang kausuka

5. Pupuh Sanur

Aku kenang kau naik sepeda
Masuk parit dan kita tertawa geli
Lalu jagung pun dibakar
Bulan timur terpanggang matahari

Takkan membuatmu sakit hati
Jika pacar kemudian berlagu sedu
Ia lari dari ombak ke ombak
Setelah jalan lurus sesatkan diri

Angin yang dulu
Kini sembunyikan arah

Made Adnyana Ole lahir di Tabanan dan kini tinggal di Singaraja, Bali. Ia mengelola Mahisa Institute Indonesia yang bergerak di pendidikan seni dan budaya. Dongeng dari Utara (2014) adalah kumpulan puisinya. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Made Adnyana Ole 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 9 September 2017

0 Response to "Memilih Pohon Sebelum Pinangan - Variasi Mantra Pengurip Kayu - Geguritan Empat Buah - Lima Pupuh Denpasar "