Menggulung Ombak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Menggulung Ombak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:12 Rating: 4,5

Menggulung Ombak

AWAL perkenalan menarik. Medsos membuat ruang dan waktu tak terbatasi. Lewat temamu kau menjalin banyak teman. Walau tak semua merespons. Dia lebih dulu bergabung Path. Kau kaget ketika balasan ucapan selamat ulang tahun dari seseorang berakun 'Initial A'.

"Nama yang unik, 'Initial A', katamu dalam ruang chat khusus.

"Cuma buat seru-seruan aja. Nama panjangku Adiansyah. Panggil saja Adi. Mahasiswa UGM semester akhir."

Tanpa terduga apalagi terencana, semua bergulir begitu saja dalam alunan rima hati yang senada. Masih dalam ruang Path, tak menganggu hubunganmu dengan cowok itu. Bagimu pertemuan tak harus kopi darat dalam tempat dan wkatu khusus. Sampai kau menerima tawarannya berkunjung. Sesuatu yang sudah lama kau dambakan namun tak terungkap. Tidak saja karena kodratmu sebagai cewek yang masih mengagungkan adat ketimuran, namun ada hal lain yang lebih urgen, tentang pertanyaan-pertanyaan orang rumah, terutama mama. Kedatangan lawan jenis, terlebih dari luar kota, pastilah punya niatan khusus.

"Tempat tinggalmu Kaliwungu sebelah mana?" tanya Adiansyah polos, memastikan jawabanmu sejujurnya.

"Mmm... untuk sementara ketemuannya nggak di rumah, gimana, Mas? Aku tinggal dekat Pantai Ngebum. Bagaimana kalau kita ketemuan di Pantai Ngebum. Mas belum pernah ke sana, kan? Sekalian lihat sunset."

"Kenapa sih nggak boleh langsung main ke rumah? Keluargamu masih melarang kita pacaran?"

"Papa dan Mas Ari sih nggak masalah, tapi masalahnya Mama pola pikirnya masih jadul. Padahal kita kan nggak ngapa-ngapain."

Senyummu mengembang. Empat larik kata manis tak berkedip kau pandang. Pasir pantai sebagai saksi, betapa melamar menjadi kunci cinta kasihmu bersama Adiansyah.

Sore itu selesai salat Asar, langkahu mengalun pasti menuju Pantai Ngebum seperti dijanjikan Adiansyah dari Yogyakarta menuju Kaliwungu bila tak ada aral melintang. Kau tak berterus terang. Kau buat seisi rumah terheran . Lagi-lagi mamamu. Bersama siapa, ada urusan apa, bertemu siapa? Dengan berdalih sekadar ingini melihat sunset yang lama tak kau nikmati, akhirnya mereka membiarkanmu melenggang ke pantai berpasir, tempatmu menghabiskan masa kecil.

Pukul empat sore yang dijanjikan, tepat menandai arloji di pergelangan tanganmu. Dadamu semakin berdegup keras. Gemuruh suara ombak semakin tak membuatmu tenang. Kau sengaja menatapnya. Demi menutupi kegundahhan, agar tak begitu kentara kau begitu memujanya. Lalu dengan tiba-tiba dia datang dari samping, menebar senyum menawan khas lesung pipit di kedua pipi yang dipunya 'Initial A'. Siapa sangka sebentar lagi akan hadir di hadapanmu. Kau merasa bagai bintang sebuah sinetron atau film.

Detik demi detik terlewat, tak ada respons. Kau mencoba bersabar dan terus bersabar. "OTW to Kaliwungu, Pantai Ngebum." Itu terakhir postingan-nya. Hingga sunset menjelang. Hingga tak kau sadari kakakmu Ari sudah berada di sampingmu, lalu memaksamu bercerita.

"Akan aku hajar cowok itu kalau sampai berani menelantarkamu."

"Adi tidak seburuk yang Mas sangka!"

"Kamu berlinangan air mata begini masih mengatakan dia cowok baik?"

Kau diminta baik-baik saja sesampai di rumah agar mamamu tak semakin menyalahkanmu. Di dalam kamar dadamu sesak. Apa yang tengah terjadi padanya. 

Barulah keesokan hari kau lihat postingan di Path, teman-temanmu ramai membicarakannya.

"Tidaaaakkk. Tidak mungkinnnnn!"

Sontak seisi rumah menghampirimu di kamar. Kau meronta-ronta dan membuang ponselmu. Terbaca di sana semua mengucap bela sungkawa atas meninggalnya 'Initial A' dalam kecelakaan menuju ke Pantai Ngebum.

Semenjak itu kau rajin ke Pantai Ngebum, memastikan kedatangannya yang tak pernah bertepi.

"Riris, ayo pulang!," ajak mamamu tiba-tiba dalam kekhawatiran mendalam.

"Aku janjian sama Mas Adi di sini, Ma."

"Mas Adimu sudah nunggu di rumah." Mas Ari yang lalai menjagamu sore itu membujuk sambil menggandengmu. Barulah kau menurut begitu disebut nama Adi. Empat larik kata manis dan penantianmu pun menggulung bersama ombak.  17 Agustus 2017

Iskadarwati 
Jonegaran 277 Semarang 50138

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iskadarwati 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi Minggu, 17 September 2017

0 Response to "Menggulung Ombak"