Mie Caluek - Tirom - Mata Pisau dalam Lukisan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mie Caluek - Tirom - Mata Pisau dalam Lukisan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:30 Rating: 4,5

Mie Caluek - Tirom - Mata Pisau dalam Lukisan

Mie Caluek

kita seperti meniti jembatan waktu:
dimulai dari sebuah sketsa tua,
dari sebuah kampung yang sempat binasa,
senja seperti bongkahan pelangi berayun-ayun sehabis hujan
melempar kau ke sini:
aha betapa riang burung-burung di jendela

dari kampung-kampung yang sempat kau benci
karena lelakimu terkubur di makam-makam rahasia
kita tetap menulis pesan ini:
wahai boh hate ma tetaplah kau melukis para bidadari
di sepanjang jalan berdurimu, dengan berbinar,
seperti melumat asi dari payudaraku.

kau tetap merawat rindu seperti meninabobokan si kecil
yang selalu bertanya bapak yang hilang ditelan hujan,
dengan air mata ditahan, sebab langit tidak perlu tahu
tentang ledakan gunung dalam dadamu, kecuali satu hal:
ketika senja menindihmu dengan nafas memburu

kau harus segera mengeluarkan rencong dari sarungnya dan
kalian menari di udara seperti sepasang merpati sedang jatuh cinta

seperti sore itu, aku melihatmu menari-nari di atas kota
di bawah gerimis dan matahari yang redup
mereka berenang-renang dalam piring pualam
sambil membayangkan kampung-kampung yang dulu murung
dalam hamparan ranting kuning mirip tali-temali
matamu mengerjap-ngerjap merawat rindu.
segalanya boleh pergi, katamu, kecuali dada ini.

Banda Aceh, 15 Mei 2017

Tirom

di kampung kami, selalu ada senja yang lumer di atas air payau
perempuan-perempuan menadah matahari untuk terbit esok pagi
sebelum mereka berhasil meringkus mulut kuala dan kolam ikan
untuk ditimang-timang di atas pualam.

sebelum mimpi benar-benar tamat, mereka telah tiba di tubir tebat
kau akan tahu betapa perihnya sayatan ketika disiram asin laut
cahaya selalu berpendar di atas ombak, bukan di jemariku
yang lentik dengan seribu kunang-kunang yang riang

kota-kota yang selalu menyusup dalam tidurmu,
dengan lampu-lampu tak pernah berhenti kedap-kedip,
hanya ada di ujung jempol kakimu yang tergores rumah karang
lalu diasinkan gelombang

tidak di kilatan lampu bus-bus yang terburu-buru ke timur
membawa anak-anakmu berlayar
juga tidak di kereta yang terengah-engah
mendaki Seulawah menuju ke Darussalam

rumah-rumah yang digambar anak-anak di dinding kamar
selalu menjelma kupu-kupu setiap kali mereka bercinta dengan senja
itulah yang membuat langit lebih gegas benderang
sebelum azan subuh berkumandang dari meunasah kampung

matahari sering ingin terbit lebih awal
tapi selalu saja mata mereka lebih tajam dari cahaya
membuat tubuh-tubuh itu melayang di jalan-jalan berkerikil
seperti bergurau dengan nasib yang nihil

tapi tawa itu tak pernah lepas sebelum pinggang kuyup
dan jari-jari menggigil

kau ingat, suatu malam seseorang pergi dijemput elang
dan tak pernah pulang
mereka telah disekolahkan, katamu, sambil menahan tubuh
yang tak lagi bisa gemetar setiap mendengar suara letusan
atau membaui aroma kematian

di lampoh soh, lorong pasar, juga jalan raya
kita menemukan tubuh-tubuh yang rebah
sambil terus berzikir dalam diam
saat itulah payau-payau dan asin kuala kesepian
nasi di piringmu seperti dusun yang ditumbuhi alang-alang

tapi mereka adalah perempuan-perempuan yang pintar menyimpan air mata
di tengah tangis anak-anak meski sang lakoe tak mungkin lagi pulang

mereka pun menjadi bapak bagi perahu yang kesepian.

Banda Aceh, 16 Mei 2017

Mata Pisau dalam Lukisan

: The Missing Rooms #7 Jeffrey Sumampouw

seperti mata pisau,
helai-helai rambutmu
mengiris-iris kanvas itu

seperti mencakar-cakar
dengan warna-warna yang tawar

ia membentuk bola-bola api yang melesat
dalam mantra-mantra dengan tarikan biru,
merah dan ungu

cinta adalah sepasang doa yang bertalu-talu:
penari yang bergerak di malam buta
mendaki tangga demi tangga

setiap senja, di ruang itu
mata pisau seperti bekas sepatu
yang kekal di balik pintu

dengan bibir penuh gincu
menyusup ke dalam aortamu

Depok, 2016/2017

Mustafa Ismail lahir di Aceh, 1971. Buku puisinya yang terbaru adalah Tuhan, Kunang-kunang & 45 Kesunyian (2016).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mustafa Ismail
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 16 September 2017

0 Response to "Mie Caluek - Tirom - Mata Pisau dalam Lukisan"