Otobiografi Sebuah Ban | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Otobiografi Sebuah Ban Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:26 Rating: 4,5

Otobiografi Sebuah Ban

Satu

BANGUNAN itu seperti rumah tradisional Dayak. Akan tetapi ada bedanya. Kalau rumah Dayak merupakan rumah panggung maka bangunan yang aku dan entah berapa puluh manusia tempati selama beberapa tahun terletak di atas tanah. Kalau rumah Dayak terbuat dari kayu-kayu alam yang murni maka rumah yang aku dan beberapa keluarga tempati berdinding setengah tembok. Selebihnya gedek dan berpintu kayu lapis.

Akan tetapi aku bahagia berdiam di salah satu petak dari sepuluh petak yang disewakan setiap bulan. Para penghuni rukun semua walaupun kebanyakan tidak mempunyai pekerjaan tetap. Pada umumnya petak-petak itu didiami oleh tukang pijat, pelayan bar tak bergaji (yang kerjanya menemani para peminum bir dengan menuang-nuang bir ke dalam gelas dan mengharapkan uang tip) dan sebagainya. Semuanya punya anak yang masih sekolah, mulai dari yang masih duduk di SD sampai di SMP. Ada yang sudah gadis dan duduk di SMA dan setingkat seperti PGA, SMEA dan sebagainya. Satu hal yang patut dipuji dalam masyarakat kecil kami adalah bahwa kami merasa satu nasib, satu tingkat kemampuan ekonomi. Ada sentuhan persaudaraan dalam hidup bertetangga kami. Kami saling menghargai, saling tolong menolong, saling mengawasi, kompak dan entah apa lagi kata-kata yang patut dipakai untuk melukiskan masyarakat rumah petak kami.

Pada suatu hari, penghuni petak-petak sebelah kananku panik. Aku keluar dari petakku dengan perasaan ingin tahu. Ternyata ada lelaki kurang lebih berusia tiga puluh lima tahun yang baru beberapa minggu mendiami petak paling ujung bagian kanan sakit keras dan perlu segera dibawa ke rumah sakit. Ia tidak punya uang sama sekali. Ia tidur di atas karton yang dilapisi sebuah tikar buatan Tasikmalaya. Sebuah ban luar bekas menjadi bantalnya dan sekaligus tempat duduknya.

Dengan suara yang terengah, ia memohon kepada salah satu di antara kami agar membeli sebuah buntelan kertas yang terdiri dari beberapa puluh halaman tulisan tangan. Ternyata tulisan itu adalah sebuah novel yang belum selesai, berjudul Percakapan dengan Ban. Kebetulan, ada seorang tukang pijat buta yang punya uang dan punya semacam penyakit aneh berupa hobi mendengarkan cerita pendek dan novel yang dibacakan oleh istri dan anak-anaknya. Mendengarkan pembacaan cerpen atau novel, bagi pemijat buta itu perlu sekali demi untuk membuat mata hatinya terang-benderang. Kebetulan ada tetangga seorang lelaki muda yang suka menulis cerita. Ia segera menyuruh orang membaca satu halaman dan tanpa banyak bicara ia menyerahkan kepada ketua rukun tetangga kami beberapa lembar uang kertas sepuluh ribuan untuk diserahkan kepada si sakit itu. Maka tertolonglah si miskin bujangan dan penyendiri di petak paling ujung itu. Ia dibawa ke rumah sakit.

Pak Pijat yang punya istri dan anak-anak yang sudah bersekolah di SMP dan SMA mengumpulkan semua anak dan menyuruh mereka membaca cerita itu keras-keras. Kalau anak yang duduk di SMA capek, anak yang duduk di SMP mendapat giliran untuk membaca. Aku ikut-ikut pula membacakan kepada si buta cerita itu. Cerita itu berawal dengan sebuah keputusan.

Dua

AKU mengambil keputusan yang berani untuk menjelajah dunia ini. Bagiku, dunia ini bukanlah semata gunung-gunung dan lembah, bukan semata sungai, laut, awan gemawan dan langit biru serta bintang gemintang yang jauh. Dunia ini adalah cita-citaku yang pada mulanya berkedip kecil di masa kanakku, ketika aku bersama ayah dan ibuku, bersama saudara lelaki dan perempuan. Ibarat kunang-kunang berkedip di musim hujan, pada mulanya aku hanya merasakan bahwa ada suatu nyala ajaib yang kecil dalam jiwaku dan aku hidup dengan nyala ajaib itu tahun demi tahun.

Aku merasa bahwa hidup ini demikian indahnya dan demikian pentingnya. Aku seakan-akan hidup dengan penuh janji—janji yang melekat dalam diriku dan jauh tersembunyi, janji yang mengatakan bahwa bilamana aku besar nanti, kunang-kunang itu akan menjadi besar, entah berupa sebuah bulan di malam hari atau matahari di siang hari, bulan dan matahari kehidupanku.

Aku dilahirkan di sebuah lembah yang permai. Ada sungai bening yang mengalir dari gunung yang menjulang di sana. Sungai itu berliku, meliuk dan di tepi-tepinya ada mata air yang memancur. Aku selalu minum dari pancuran tidak jauh dari rumahku. Aku selalu mandi dan berenang di sungai bening, sungaiku. Ayah dan ibuku memiliki sawah dan ladang, kolam ikan dan beberapa puluh ekor ternak. Aku sangat bahagia di masa kecilku, bukan saja hidup tak kekurangan makan, tetapi juga tak kekurangan pakaian. Aku dikelilingi oleh para kekasihku yaitu ayah bundaku dan saudara-saudaraku sebanyak lima orang. Kami enam bersaudara, tiga lelaki dan tiga perempuan. Aku anak yang paling bungsu, yang selalu dimanja tetapi karena ayah dan ibuku, walaupun tidak menginjak bangku sekolah menengah, namun sangat disiplin dalam mengawasi sekolahku, maka aku dapat menamatkan Sekolah Lanjutan Atas dengan baik. Aku lulus dengan peringkat tinggi.

Seharusnya aku mengenyam pendidikan tinggi tetapi sudahlah. Kalau aku berbicara, mungkin orang tidak percaya. Aku tidak ingin bicarakan kegagalanku mengenyam pendidikan tinggi secara lisan. Lebih baik aku tulis saja. Barangkali ada gunanya untuk dibaca dan dipelajari oleh siapa saja yang menemukan naskah ini. Ya, lebih baik aku tulis saja.

Aku lahir di tahun 1965. Tahun ini, tahun 1990, usiaku sudah cukup matang sebagai lelaki tetapi mengapakah aku masih terus begini? Mengapakah aku harus merantau ke Jakarta ini dan tinggal sendirian di rumah petak ini dalam keadaan miskin melarat begini? Mengapakah aku harus tidur di atas tikar yang tergelar di lantai, di atas ‘kasur’ karton dan kertas-kertas koran dan berbantal ban luar sebuah mobil dan buku-buku? Mengapakah aku harus jadi begini? Aku bukan seorang lelaki yang suka bersedu-sedan. Aku sadar akan keputusanku. Aku meninggalkan kampung halamanku, aku meninggalkan saudara-saudaraku untuk mencari kunang-kunang yang pernah hidup dalam jiwaku, di masa kecilku ketika aku bermain di sawah, ketika aku mandi di malam hari di sungai ketika pulang dari ladang, aku mengikuti dia yang telah menjadi cita dan cinta itu dengan sadar.

Ah, aku terlalu memakai bahasa perlambang. Jelasnya, aku datang ke Jakarta ini untuk mencari dia yang selama ini telah menjadi guruku. Dia adalah guruku yang aneh. Dia dekat sekali denganku. Aku sangat kagum padanya, pada tulisan-tulisannya. Tulisan-tulisannya yang berbentuk cerita pendek dan panjang, sajak-sajak, artikel dan esainya yang dimuat di koran-koran dan majalah ibukota, buku-bukunya yang sampai di toko buku di kota kecil tempat aku bekerja, semuanya sudah aku baca. Banyak juga yang belum aku baca, karena menurut sebuah wawancara oleh sebuah koran, ternyata masih banyak tulisannya yang tak sampai ke kota kecilku.

Aku mengambil keputusan untuk berhenti dari pekerjaanku. Selama aku bekerja, aku bisa menabung sedikit, sangat sedikit tetapi dengan yang sedikit itu aku bisa memperoleh yang banyak dan yang banyak itu akan berupa pertemuanku dengan si pengarang itu.

Begitu aku menerima gajiku yang terakhir, pada mulanya aku mengirimi ibuku sebagian dari gajiku dengan sedikit hiburan buat ibuku dalam suratku. Aku menyurati ibu dan saudara-saudaraku bahwa aku telah memilih jalan untuk menjadi pengarang, menjadi pahlawan pena. Aku mengatakan bahwa sejak kecilku di tengah sawah di malam-malam yang indah, aku melihat beribu kunang-kunang dan ketika kunang-kunang itu hilang bersama musim, ada sebuah kunang-kunang yang makin lama makin besar, sebesar bulan di waktu malam dan sebesar matahari di waktu siang. Aku dituntun oleh semacam panggilan untuk menjadi pengarang, panggilan yang indah seperti bulan, panggilan yang cerah seperti matahari. Di atas segalanya, aku terpanggil untuk mencari ayah yang hilang di suatu malam, ketika ia dibawa oleh sekelompok lelaki dan tak pernah pulang sampai hari ini. Aku dituntun oleh panggilan kepengaranganku untuk mencari ayahku yang hilang ditelan kesewenangan yang dibuat oleh manusia.

Ibu, hiduplah di tengah saudara-saudaraku yang baik hati dan jangan bersedih karena anakmu akan menjadi orang yang akan terkenal dan mengharumkan nama bangsa. Hanya itu yang aku bisa katakan kepada ibuku di samping menjanjikan hal-hal yang praktis, bahwa aku akan mengirimi sedikit uang untuk membeli sirih dan pinang, untuk membeli kain dan kebaya, dan sebagainya.

Sudah itu aku menenteng tasku menuju sebuah perpustakan di kota kabupatenku dan mencari sebuah majalah atau koran yang memuat tulisan guruku, si pengarang yang tinggal di Jakarta itu. Aku membuat beberapa fotokopi dari karangan-karangannya yang baru, kemudian aku menuju terminal bus dan membeli karcis untuk tujuan Jakarta.

Perjalanan sangat panjang di atas jalan Trans Sumatra. Karena terlalu lama duduk maka mungkin darahku mengalir ke kaki sehingga sering kesemutan dan agak membengkak. Untuk menghilangkannya, di setiap pemberhentian, misalnya di warung-warung atau restoran Padang, aku turun dan berolahraga sedikit, atau menggeletak di pinggir jalan sambil mengangkat kaki ke atas atau makan dan minum sambil angkat kaki kemudian menggeletakkan badan di atas bale-bale yang tersedia bagi sopir-sopir kendaraan yang kelelahan dan ingin beristirahat.

Dalam perjalanan yang jauh itu, aku berdialog dengan gunung-gunung, dengan berjuta pohon yang membungkus gunung-gunung dan lembah, dengan sungai, dengan awan gemawan. Aku berjanji kepada semua mereka bahwa aku akan kembali bersama mereka setelah aku selesai belajar mengarang pada si pengarang yang aku kagumi itu. Ada beberapa tulisannya yang menggugah aku, yang dimuat dalam salah satu suratkabar atau dalam majalah (maaf, aku agak lupa). Sang pengarang mengatakan bahwa di masa Orde Baru ini, sudah ada berjuta jalan raya yang dibangun pemerintah di seluruh Indonesia termasuk Pulau Sumatra. Ia menganjurkan setiap anak muda yang terpelajar, setiap sarjana dan tamatan sekolah lanjutan untuk memilih posisi ‘geopolitik’ di salah satu tempat di jalur jalan raya Indonesia. Bukalah tanah pertanian di pinggir jalan raya. Buatlah rumah dari kayu-kayu hutan. Tinggallah di sana sebagai petani dan peternak, sebagai pengrajin dan pedagang. Ya, aku akan kembali ke tanah-tanah yang kosong di Sumatra, atau di mana saja nanti. Aku akan menjadi seperti Leo Tolstoy, yang mengarang di tengah-tengah ladang gandumnya. Lebih dari itu, kalau aku sudah belajar banyak dari sang guruku, aku akan membuka tanah persawahan, kebun palawija seperti kedelai dan sebagainya. Aku akan membuka perkebunan karet, kelapa sawit, kelapa hibrida. Aku akan menanam pohon buah-buahan seperti nangka, durian, mangga, rambutan dan sebagainya. Aku akan memelihara madu, di samping memelihara sapi, kerbau, kambing dan sebagainya.

Nantilah. Bus menderu bersama angan-anganku. Nantilah kalau sudah lancar mengarang nanti. Aku akan mengarang di tengah firdaus baru di pinggir sebuah jalan raya yang telah dibangun pemerintah. Aku akan meminta modal dari bank, untuk bertani, beternak, dan membuka toko kerajinan dan sebagainya, sambil mengarang dan mengarang. Sambil membaca dan membaca. Ya, semua itu gampang dicapai setelah aku sudah belajar banyak dari guruku yang selama ini dari jarak yang jauh di Jakarta mempengaruhiku, memberi motivasi yang gemuruh dalam jiwaku.

Tiba di Terminal Kalideres di pagi subuh, aku menitipkan tasku ke sebuah warung Padang, lalu aku mandi, kemudian sarapan pagi. Kemudian aku naik bus menuju Jakarta, mencari alamat guruku. Aku menuju Taman Ismail Marzuki. Di taman itu, aku mulai kecewa karena ketika aku menyebut nama pengarang yang aku kagumi itu, ternyata pemuda yang gondrong yang mengaku sebagai seniman, tidak pernah mendengar nama itu. Aku mengatakan padanya bahwa aku yang tinggal di ketiak gunung di pedalaman Sumatra sering membaca tulisan-tulisannya yang sering muncul di koran-koran dan majalah Jakarta. Mengapa seniman muda Taman Ismail Marzuki tidak mengenal dia? Aku hampir pingsan dalam kantuk dan kelelahanku setelah mengadakan perjalanan darat yang panjang, ketika aku bertanya padanya di sebelah mana terletak Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin dalam kompleks Taman Ismail Marzuki itu dan dia balik bertanya padaku, “Ya, di mana ya? Aku pernah menonton Pak Jassin beberapa tahun yang lalu di TVRI tidak tahu di mana pusat dokumentasi sastranya.”

Ajegile, aku mendapat jawabannya bahwa ia lebih banyak menonton, daripada banyak membaca. Apakah Jakarta ini lebih dikuasai budaya menonton daripada budaya membaca? Bagaimana pula dengan budaya menulis? Aku mulai berdebar-debar, tetapi aku terhibur ketika terlintas dalam pikiran bahwa banyak penulis yang tinggal di Jakarta seperti penulis yang aku cari.

Aku mendapat alamat dan fotokopi dari beberapa tulisannya terbaru. Sebenarnya aku mau membuat fotokopi sebanyak-banyaknya tetapi uangku terbatas. Nanti, nanti kalau aku sudah punya uang, pusat dokumentasi ini aku akan kunjungi setiap hari, kalau mungkin.

Alamatnya ternyata banyak. Waktu aku tanya tentang dia di Majalah Sastra Horison, majalah ini mempimpong aku ke beberapa majalah wanita tetapi majalah wanita di Jakarta hanya memiliki alamat lengkap para fotomodel, peragawati dan bintang-bintang film. Dalam keadaan bingung, seorang redaktur wanita yang cantik menganjurkan aku untuk mencari dia di kolong jembatan layang. Aku tertawa. Terlintas perasaan aman dalam diriku. Seandainya sewa rumah mahal dan tak terjangkau oleh uang yang aku bawa dari Sumatra, maka aku akan mengikuti jejak guruku, pengarang yang aku kagumi itu untuk tinggal di bawah kolong jembatan layang.

Majalah wanita terakhir pun tidak tahu alamat guruku, si pengarang yang selalu menulis di majalah itu. Alamatnya selalu berubah-ubah, kata sekretarisnya yang kemudian tampak berusaha untuk tidak mengecewakan aku karena dia melihat aku mencari alamat pengarang yang tulisannya selalu muncul di majalah itu. “Coba Saudara memakai tilpon di meja sana. Coba menelpon ke alamat beberapa surat kabar. Hampir setiap hari tulisannya muncul di beberapa surat kabar besar ibukota. Coba Saudara memakai tilpon itu,” kata sang sekretaris sambil menunjuk sebuah meja yang ada tilponnya, yang kebetulan terletak di dekat koran-koran ibukota.

Aku menilpon semua koran itu tetapi mereka tidak mengetahui alamatnya. Semua koran itu hanya memberi alamat kotak pos dan bahkan ada beberapa yang agak curiga padaku dengan mengatakan bahwa pengarang seperti dia banyak musuhnya. Karena itu ia hanya memberi alamat kotak pos. Bahkan dari koran yang terakhir, ketika dengan sopan kutanyai, mendapat jawaban bahwa pengarang yang aku cari itu adalah burung. Alamatnya ada tetapi kadang-kadang ia keluar negeri.

“Alamatnya di mana, Pak?”

“Cari saja di Indonesia!” jawab yang kuterima disertai dengan bunyi kop tilpon yang diletakkan secara kasar.

Aku betul-betul jadi bingung.

Hari sudah sore ketika aku keluar menuju jalan raya. Aku menaiki sebuah bus kota yang menuju jalan layang. Ini betul-betul pekerjaan gila. Di mana harus kucari dia di jalan layang yang melayang panjang? Di titik mana ia berdiri atau duduk? Aku turun di sebuah kaki jalan layang yang besar itu. Berjuta getaran, beratus manusia dan mobil menjadi satu, memadu dalam jiwaku menjadi satu sosok yang berwujud seorang pengarang yang aku cari. Aku seperti berada di alam semesta kota yang betul-betul tidak berisi manusia kecuali sosok yang aku cari itu.

Malam itu aku menghabiskan waktu berjalan sekuat tenaga, semampu kakiku di bawah jalan layang. Aku lelah dan duduk sebentar. Aku tertawa geli mengingat salah satu tulisannya tentang jalan layang. Tulisan ini mengemukakan dua hal, yaitu manusia konkret dan abstraksi. Semula aku tidak mengerti akan tulisan itu dan aku ingin bertanya padanya tetapi malam itu, ketika aku lelah dan mengantuk, aku duduk cukup lama. Ketika aku bangun, kepalaku pusing. Aku ingat, dia mengatakan dalam tulisannya tentang orang-orang yang berlindung di bawah jalan layang. Ada seorang yang mengatakan bahwa pembangunan (jalan layang) berhasil dengan baik, tetapi usaha untuk bangun dari duduk agak susah. Kepala jadi pusing, mata berkunang-kunang kurang darah. Ah, sekarang baru aku mengerti bahwa pembangunan itu adalah alat untuk bangun. Yang pertama abstrak dan yang kedua (bangun) menyangkut manusia konkret seperti aku. Ya, mataku berkunang-kunang kurang darah barangkali.

Ketika pagi tiba dalam kantuk yang luar biasa, aku membuat kesimpulan bahwa jalan layang yang megah dan mahal itu bukan untuk didiami oleh calon pengarang seperti aku. Aku harus kembali ke terminal Kalideres untuk mengambil tasku.

Beruntunglah aku karena tasku yang kutitipkan di Warung Padang di terminal bus luar dan dalam kota itu masih ada dan barang-barang masih utuh. Dalam perjalanan pulang ke pusat kota, aku tidak lagi bertanya tentang sang pengarang yang aku cari tetapi aku memberanikan diri ngobrol dengan tetangga duduk di bus dan bertanya tentang kamar atau rumah sewaan yang murah.

“Coba cari di sekitar Taman Indonesia Mini. Ya, di Taman Mini. Di sana ada rumah-rumah petak yang disewakan per bulan sekitar lima belas atau dua puluh ribu rupiah ke atas,” kata seorang tetangga duduk, seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun.

Wanita itu menjadi tetanggaku, sekarang. Aku menyewa rumah petak ini bersama wanita penganggur yang selalu mangkal di sebuah bar entah di mana di kota Jakarta yang luas ini. Aku kasihan betul padanya. Ia hidup dengan dua orang anaknya. Anak pertama perempuan yang duduk di kelas lima SD. Dialah yang menjaga adik lelakinya. Kadang-kadang di tengah malam anak-anaknya berseru, “Ibu pulang, Ibu pulang,” sambil berlari memeluk ibunya dan merampas tasnya. Biasanya dalam tas ibunya ada selembar dua uang ribuan hasil tip para peminum bir dan beberapa bungkus kue. Kedua anak itu bagaikan anak burung dalam sarang yang bahagia menunggu induknya membawa makanan. Akan tetapi kadang-kadang ibunya keluar membawa sandal ke bar dan pulang dengan sandal itu juga tanpa uang tip, tanpa kue, kecuali sandal yang dibawa dari rumah. Biasanya, sandal dipakai di bar dan sepatu dipakai dalam perjalanan pergi dan pulang. Aku sangat terharu ketika di tengah malam, dari petak sebelah aku dengar kedua anaknya terbongkar dari tempat tidur mereka, sambil berseru, “Ibu datang, Ibu datang,” sambil berlari merebut tas ibunya tetapi tiba-tiba yang paling kecil berseru, “Iiii, cuma sandal yang dibawa pulang Ibu.”

Datang jauh-jauh mencari sang pengarang yang aku kagumi, cuma bertemu dengan tetangga janda dua anak yang bekerja menunggu uang tip di bar.

Selama seminggu aku mencari alamatnya dan aku memperoleh informasi bahwa sang pengarang berada di luar negeri untuk waktu yang tidak tentu lamanya. Ia mengajar sastra dan bahasa Indonesia di sebuah universitas di luar negeri. Aku kecewa betul, aku akan kecewa seumur hidup. Tega benar pengarang Indonesia yang satu ini, meninggalkan tanah airnya bertahun-tahun untuk mengajar orang lain dan bukan bangsanya sendiri, terutama orang seperti aku yang ingin belajar sebanyak-banyaknya dari sang sastrawan. Apakah di Indonesia mereka tidak berguna dan tidak bisa mencari makan sehingga mereka harus makan gaji di luar negeri? Apakah di Indonesia mereka kecewa? Bukankah di masa pembangunan sekarang ini keadaannya lebih baik dari di masa lalu?

Pertanyaan ini memenuhi benakku beberapa lama dan aku mencari jawabnya. Seorang kawanku mengatakan bahwa pengarang yang aku cari itu sangat kecewa karena industri baca jauh ketinggalan dari industri nonton dan dengar. Mana ada industri buku yang bisa menjamin hidupnya seorang pengarang? Seharusnya sebuah buku cerpen atau novelet atau novel yang tebalnya sekitar dua ratus halaman, dapat menjamin hidup seorang pengarang paling kurang selama satu atau dua tahun ke atas. Namun, sekarang ini, mana pengarang Indonesia bisa hidup dari buku kecuali menulis di sana sini di majalah wanita, koran-koran, dan sebagainya. Penulis yang serius di negeri ini kurang didukung oleh industri perbukuan dan majalah yang serius.

Aku membaca di koran bahwa Pak Emil Salim sendiri mengatakan bahwa industri pers kita banyak mengeksploitasi wanita dan kurang menerbitkan majalah yang serius. Cuma ada dua majalah yang serius di Jakarta, yaitu Horison dan Prisma.

Aku membaca juga sebuah artikel (atau cerpen?—maaf, aku lupa) tentang dahsyatnya pengaruh industri menonton dan mendengar dan kurangnya industri buku. Ini menyebabkan orang suka menonton dan yang ditonton, suka pamer dan semua ini menyebabkan sedikit demi sedikit punahnya kutubuku-kutubuku dari Indonesia. Ini berbahaya sekali. Kutubuku menghidupkan budaya berpikir dan ada kaitannya dengan budaya menulis. Aku kira, karena orang malas baca dan malas menulis semenjak di SD membuat masih terpakainya undang-undang buatan Belanda. Kalau pendidikan membaca dan menulis itu diperhatikan maka para penulis bermunculan, entah itu penulis sastra entah itu penulis buku undang-undang.

Uangku makin tipis tetapi aku harus mengarang terus. Aku kira pengalamanku mencari pengarang yang aku kagumi itu, yang telah hijrah ke luar negeri karena belum berkembangnya industri buku atau industri perbukuan di negeri ini, walaupun ditulis dengan tangan di atas tikar dan ban mobil yang diberi papan di atasnya, bisa kujual dengan harga berapa saja untuk beli beras, jika uangku habis nanti.

Untung tetanggaku memberi pelajaran secara tak langsung. Bermodal sebuah kompor dan beberapa alat makan minum, dunia ini bisa dijalani sebagai layaknya manusia miskin. Aku meniru tetanggaku membeli sebuah kompor kecil untuk masak nasi. Ikan asin merupakan makanan mewah kalau sudah lapar karena berjam-jam menulis. Tetanggaku membuat pagar dari batang singkong di belakang rumah petaknya. Aku lihat setiap minggu pucuk daun singkong dipetik dan direbus dan dilalap dengan sambal dan ikan asin. Betapa segarnya. Maka aku pun menancapkan batang-batang singkong di belakang petakku dengan harapan dalam sebulan akan panen pucuk daun singkong. Makan daun singkong membuat pencernaanku lancar sekali sehingga badanku sehat dan daya kerja menulis dengan tangan tidak berkurang. Aku siap-siap memungut kayu bakar dari halaman-halaman rumah, tumpukan sampah dan yang dibawa banjir di parit-parit. Aku mengikuti anak-anak tetanggaku, makhluk rumah petak. Mereka disuruh ibu mereka mengumpulkan kayu bayar di belakang rumah. Kalau lagi bokek, tak ada duit untuk beli minyak mengisi kompor, maka tetangga petakku masak nasi dan lauk dengan kayu bakar yang berasal dari sampah kota.

Aku banyak belajar dari semua tetanggaku yang baik itu sehingga uangku masih bisa bertahan sampai dengan pengalamanku ini tertuang sebanyak-banyaknya di atas kertas putih.

Pada suatu tengah malam, ketika aku sedang tertidur nyenyak karena kelelahan menulis, aku bermimpi buruk. Terasa dinding gedek itu menyempit dan menghimpit tubuhku. Aku berteriak dan terbangun. Keadaan sangat sepi. Aku terduduk di atas tikarku di lantai dan bernapas pelan-pelan. Tiba-tiba mataku melihat seekor ular tanah merayap di kaki tembok. Aku kenal ular yang demikian itu. Ular yang bagian atasnya berwarna hitam dan bagian perutnya berwarna putih itu sungguh berbisa. Dengan cepat aku menangkapnya hidup-hidup lalu membuangnya ke parit. Ular itu meluncur memasuki rerumputan.

Aku bersyukur pada Tuhan karena masih memberi aku semacam indera ajaib yang memberi isyarat adanya bahaya lewat mimpi.

Semenjak itu, aku berusaha mengarang sepanjang malam dan tidur di siang hari. Kebiasaan ini tiba-tiba terganggu dengan adanya tetangga yang tiba-tiba diserang demam berdarah. Aku menjadi cemas ketakutan. Aku menunggu saatnya demam berdarah itu muncul tetapi karena aku harus berurusan dengan rumah sakit dan biaya, maka sambil menunggu munculnya demam berdarah aku ngebut mengarang. Dalam sehari bisa sepuluh atau dua puluh halaman kertas folio tulisan tangan. Aku makin ketakutan ketika tetanggaku meninggal. Walaupun seorang anak kecil, namun adalah anak manusia yang meninggal karena demam berdarah. Celaka. Padahal anak itu tidak pernah tidur siang seperti aku. O, Tuhan. Aku pasti sudah diserang karena selalu tidur siang. Apa boleh buat kalau saatnya tiba. Aku tidak punya apa-apa kecuali karya seorang calon pengarang. Aku menulis terus dalam kekuatiranku.

Demam berdarah tidak datang-datang, padahal aku menunggunya dengan kerja keras. Mengapa? Tiba-tiba aku sadar bahwa aku biasa tidur berbungkus badan baik siang baik malam. Di siang hari, karena menghindari lalat, aku tidur berbungkus badan dengan sepotong kain batik. Kepalaku juga terbungkus. Aku sudah terbiasa tidur begitu semenjak kecilku, di ladang di dataran tinggi Sumatra. Kebiasaanku ini, bagi teman-teman yang suka tidur di sampingku, sangat jelak. Begitu mereka bangun di tengah malam, mereka melihat kepala sampai kaki terbungkus atau tertutup seperti mayat. Mereka sering membuka bagian kepalaku biar tidak seperti mayat tetapi dalam nyenyakku, aku membungkus kepalaku kembali. Itulah yang membuat aku tidak diserang nyamuk berdarah walaupun aku selalu tidur di siang hari.

Jiwaku segar kembali dan mulai menulis lagi karangan ini. Aku menulis terus apa saja. Ada beberapa halaman yang rasanya ngawur. Aku robek, robek dan robek. Rasanya kreativitasku buntu. Entah karena apa. Barangkali karena aku sebal pada tetanggaku janda beranak dua itu. Ia meminjam uangku dua puluh ribu untuk membayar kamarnya karena pemasukan melalui tip di bar macet total.

Mengapa macet? Entah. Dulu banyak sekali tamu bule, Jepang dan Korea rajin memenuhi bar dan membawa para cewek bar itu ke hotel-hotel tetapi semenjak dunia dilanda AIDS maka para tamu jarang datang ke bar. Kalaupun datang tidak sebanyak dulu. Padahal jumlah perek bar makin bertambah sedangkan tamunya berkurang. Celaka, celakalah aku. Uang calon pengarang yang sedang mengejar cita-cita besar (menjadi pengarang besar) dengan jumlah uang yang sedikit, beberapa lembar meloncat ke tetangga petak sebelah. Aku jadi tertekan. Perasaan ini menyebabkan pikiranku buntu. Rasanya tidak ada lagi yang bisa mengalir lancar dari benak dan lubuk jiwaku. Waktu aku minta kembali uang yang dipinjam itu, ia malah mau mengembalikan uang itu dalam bentuk lain.

Mungkin karena aku terlalu lama berkurung di petakku dan jarang keluar, ditambah dengan gangguan tetangga, maka kreativitasku betul-betul buntu. Untuk itu, lebih baik aku keluar dulu malam-malam atau siang-siang untuk mencari variasi lain. Biasanya kalau aku pulang aku membawa kayu bakar yang kupungut di mana saja dan bilamana aku berjalan-jalan di kebun orang, aku minta daun singkong pada pemilik kebun. Inilah enaknya tinggal di kampung kumuh pinggiran Jakarta.

Tiba-tiba terpikir olehku untuk berdagang kopi malam-malam, sekaligus dengan mi godok dan roti bakar. Aku hitung-hitung uangku yang masih tersisa. Tampaknya bisa. Perkara tempat gampang saja. Di pinggir jalan, dekat rombong rokok bisa saja. Toh cuma sebuah meja, sebuah kompor dan bangku, gelas dan mangkuk. Untuk mengatasi hujan, beli saja lembaran plastik. Jadilah sebuah usaha untuk mencari makan, mencari tenaga untuk mengarang.

Bagaimana dengan waktu untuk mengarang? Ya, ini pun masalah yang sulit kalau mau dipersulit tetapi mudah kalau mau dipermudah. Ajak saja tetangga janda itu. Bukankah ini sesuai dengan pasal 33 UUD-45 tentang ekonomi gotong-royong berdasarkan kekeluargaan walaupun dalam tingkat dan gaya rumah petak?

Pada suatu malam, aku membuat kopi yang agak keras satu gelas besar lalu aku minum pelan-pelan sambil membaca buku-buku karangan guruku. Barangkali aku sudah terpengaruh oleh gayanya, sadar atau tidak. Namun ada suatu hal dari guruku. Menurut pandanganku, guruku memiliki banyak segi. Beberapa ceritanya realistis. Ada yang naturalistis. Banyak puisinya yang ekspresionistis sekali. Beberapa novelnya yang aku baca, bahasanya sederhana tetapi jika kita tidak jeli maka kita akan mengira bahwa di balik kata-kata atau kalimat dan keseluruhan novel itu tidak mengandung ide-ide sama sekali, kecuali sebuah potret realistis yang sederhana. Tidak. Dalam kesederhanaannya, sering terasa suatu gaung atau goncangan yang membawa ketegangan yang tidak mungkin dimengerti antara dua kutub. Kadang-kadang seperti sebuah puting beliung yang tampak indah dari jauh tetapi imajinasi yang kuat dapat membayangkan betapa dahsyat dan penuh rahasia bila kita memasuki puting beliung itu. Mungkin tulang dan darah kita, kesadaran kita akan lenyap ditelan oleh puting beliung yang tampak sederhana dari sebuah jarak yang aman seorang pembaca. Imajinasi yang istimewalah yang bisa memahami karya-karya pengarang yang aku kagumi itu.

Ia mengajarkan aku untuk merasakan dengan penuh keharuan akan sensasi-sensasi sehari-hari yang menyembunyikan konflik tersembunyi yang penuh rahasia, yang tak dapat dirumuskan, kecuali dimasuki dengan penuh gejolak kreatif, gejolak rindu akan pengertian tetapi selalu kerinduan itu menemukan kendala sehingga yang tersisa dari kehidupan ini adalah diri dan kerinduan kita, tetangga kita dan kendala yang pasti datang, hari demi hari.

Ah, aku mabuk kopi barangkali sehingga batinku ngoceh sendiri di malam sunyi di petakku. Masa ada orang yang mabuk kopi? Kalau diriku, kalau kehidupanku ibarat anggur dalam cawan, maka anggur itu sudah kuminum dengan penuh gairah. Pertama-tama aku minum anggur kehidupan itu melalui buku-buku yang dikarang oleh guruku. Kedua, anggur kehidupan itu setiap hari kuteguk dalam rumah petak ini. Betapalah pahitnya anggur penderitaan ini kuminum ketika mendengar kedua anak yang tidur sendiri di petak sebelah ketika ibunya mengembara mengarungi malam kemerlap Jakarta yang kering-kerontang. Betapa pahitnya anggur atau penderitaan ini ketika anak-anak itu terbongkar dari tikarnya di lantai dan berseru, “Ibu pulang, Ibu pulang,” tetapi apa yang dibawa sang ibu. “Iiii, sandal yang tadi dibawa dari rumah, bukan uang, bukan makanan.” Semuanya sederhana sekali tampaknya, realistis sekali, tetapi gelombang keharuan yang sangat pribadi di hatiku itu, adalah anggur kehidupan, anggur penderitaan yang penuh ketegangan dua kutub yang tak mungkin terungkap secara rasional. Nah, sekarang, apa yang aku baca dari karya-karya guruku, aku lihat dengan jelas dalam rumah petak ini.

Tiba-tiba aku dengar bunyi lonceng kecil dari petak di sana. Pak tua tukang pijat di petak sana baru pulang. Istrinya yang muda dan cantik dengan setia menunggu kedatangannya, membuka pintu, menuntunnya, menolongnya membuka pakaiannya, mengantarkannya ke kamar mandi yang telah siap dengan air hangat kuku, memandikannya kemudian menyiapkan pakaian ganti yang bersih dan menyiapkan makanan baginya. Kedua anak lelakinya sudah nyenyak setelah lelah belajar. Besok pagi, ketika ayahnya sedang tertidur nyenyak, mereka bangun dan mandi, sarapan dan bergegas ke sekolah. Alangkah bahagianya si tukang pijat buta itu.

Di sore hari, ia sudah siap menanti kedatangan mobil jemputan milik hotel internasional tempat ia bekerja. Pada suatu hari minggu aku mampir ke petaknya, ketika ia sedang meniup harmonika mulut kesayangannya yang diberikan oleh seorang turis Amerika. Mungkin sang turis Amerika itu mengajari dia meniup harmonika mulut itu, mengajarkan dia lagu-lagu country. Aku mampir ke petaknya ketika ia sedang asyik memainkan lagu-lagu itu. Betapa mahirnya dia, betapa gairahnya dia. Lewat musik, tampaknya orang buta ini melihat kemilaunya sinar matahari, embun yang bergelantung di daunan, bunga-bunga negeri yang berwarna-warni. Televisi yang dibeli dari hasil keringatnya, dari profesinya sebagai tukang pijat berijasah, dinikmati oleh anak istrinya tetapi semua orang menikmati permainan harmonika mulutnya. Luar biasa. Aku dapat menikmati misteri cahaya batin ini, berkat ketekunanku membaca karya-karya sastra guruku. Aku dapat menukik ke dunia tersembunyi di balik realitas kehidupan janda dan dua orang anak di petak sebelahku.

Aku tak dapat tidur. Aku tak dapat menulis dengan penuh gairah setelah beberapa halaman penuh dengan tulisan tanganku. Aku tak mau memaksanya. Aku membaca. Capek membaca aku melamun di petakku. Aku berjalan-jalan sebentar di dalam kamar kemudian duduk dan kemudian meluruskan tubuh dan kepalaku berbantalkan ban.

Tiba-tiba di dini hari pukul tiga sang janda pulang. Biasanya, kalau sudah dini hari begitu, anak perempuannya sukar sekali dibangunkan walaupun ibunya memanggil-manggil namanya. Biasanya aku menolong sang ibu. Aku memanggil-manggil anak perempuan itu sambil memukul-mukul gedek bagian tengah karena di kaki dinding gedek itulah, keduanya tidur di atas tikar yang tergelar di lantai.
Ketika pintu dibuka oleh anak perempuannya, sang ibu masuk. Aku dengar sang ibu membangunkan anak lelakinya dan begitu anak itu bangun, aku dengar dua mulut berbunyi mengunyah-ngunyah makanan. Kedua anak itu tentulah lapar betul. Soalnya mereka tidak makan malam di rumah mereka. Untung aku masih memiliki sedikit nasi kerak dan kedua anak itu merendam kerak itu dengan air garam lalu memakannya dengan lahap. Dini hari itu mereka mengenyangkan perut mereka dengan rejeki yang dibawa ibunya. Entah rejeki dari negeri mana, dari manusia mana. Aku bertanya dalam hati tetapi jawabnya adalah kebahagiaan makan enak yang dialami oleh kedua anak tetangga yang tadi siangnya aku beri kerak yang dimakan setelah direndam dengan air garam.

Tiba-tiba pintu petakku diketuk. Aku membuka pintu dan janda tetanggaku masuk lalu duduk di atas ban.

“Maaf, baru saya punya uang malam ini, Dik. Jangan minta bunganya, ya. Ini lima belas ribu rupiah yang saya pinjam tempo hari.”

“Terima kasih,” kataku ketika menerima uang sebesar lima belas ribu rupiah. Uang sejumlah itu, dalam keadaan inflasi seperti sekarang tidak seberapa bagi orang lain tetapi bagiku cukup banyak. Cukup untuk beras kualitas rendah sekitar dua puluh liter. Dengan beras sejumlah dua puluh liter, aku bisa hidup selama dua bulan. Mudah-mudahan, selama dua bulan itu ada tulisanku yang bisa diterima oleh salah satu majalah atau surat kabar dan kalau ada penerbit yang mau memberiku persekot setelah menyetujui penerbitan naskahku, aku berubah dari lelaki yang tidur berbantalkan ban menjadi manusia yang tidur berbantalkan uang. Aku akan membeli mesin tik dan bila perlu membeli salah satu petak dari bangunan yang aku tempati ini.

Eh, aku tersadar dari lamunanku ketika melihat janda tetanggaku menggeletakkan tubuhnya di lantai dan kepalanya termuat di ban. Ia segera nyenyak tampaknya, ia sangat lelah tampaknya. Mulutnya berbau minuman keras entah bir entah wiski. Anak-anaknya lagi apa di petak sebelah? Aku bangun dari dudukku dan melihat anak-anak itu. Ternyata keduanya sudah tidur di lantai. Di pinggir tubuh mereka ada dua bungkus nasi goreng yang kertasnya sudah terbuka. Masih ada nasi pada masing-masing kertas yang terbuka, cukup untuk makan besok tetapi celakanya ada kecoak yang hinggap di nasi goreng sisa itu. Aku segera membungkusnya dan menggantungnya di dinding gedek. Esok aku harus menyuruh mereka panaskan dulu nasi goreng sisa itu sebelum kedua anak itu memakannya.

Kembali dari petak sebelah, aku lihat tubuh ibu kedua anak itu sudah tidur di atas tikarku. Tadinya ia menggeletak di atas lantai. Aku jadi repot. Bukan karena apa. Aku selalu mempertahankan kesucian tubuhku. Aku bergaul dengan manusia yang tubuhnya telah kotor, tetapi aku tidak ingin jadi kotor. Manusia seperti janda tetanggaku ini tentulah telah mengorbankan tubuhnya kepada banyak orang demi untuk menghidupkan dirinya dan kedua anaknya. Keadaan ini sangat memprihatinkan. Ia adalah perempuan yang tertatih-tatih memikul beban hidupnya siang dan malam menuju puncak penderitaan yang bernama ajal. Sebelum ajal tiba, tubuhnya, jiwanya telah setengah hidup. Sebagian dari hidupnya telah mati dan aku sangat prihatin pada situasi kemanusiaan yang demikian.

Situasi yang demikian ini, aku pelajari dari buku-buku yang ditulis guruku, sang pengarang yang aku cari itu. Cerpen-cerpennya, novelet dan novelnya, esei-eseinya sarat dengan situasi human yang tertatih-tatih setengah hidup dan setengah mati seperti situasi yang melanda janda tetanggaku yang sedang tidur di tikarku, berbantal ban.

Aku juga tertatih-tatih setengah hidup dan setengah mati tetapi tubuhku masih bersih. Idealismeku membuat aku sibuk sehingga tidak pernah memikirkan hubungan seksual antara lelaki dan perempuan. Di kampungku aku punya tunangan yang disediakan orang tuaku tetapi kami tidak pernah berkencan, bersenggolan kulit tubuh. Suasananya lain. Sekarang, tunanganku sedang menungguku di kampung dan aku akan pulang dengan tubuhku yang bersih setelah aku berhasil mengarang beberapa cerpen, novel, puisi, dan esei. Aku bisa menahan hawa nafsu seksualku. Bisa. Bisa! Selain karena pacarku—karena aku harus membaca kesucian tubuhku ke kampung—aku bisa bertahan karena pengaruh guruku. Aku pernah membaca salah satu topik yang ditulisnya mengenai situasi ketertatihan manusia setengah hidup setengah mati. Setiap orang hidup dengan salibnya sendiri-sendiri. Setiap langkah yang dibuatnya dalam perjalanan hidupnya adalah salib. Setiap langkah maju suatu kebudayaan ideologis (seperti agama, filsafat, seni, ilmu pengetahuan, dan lain-lain), kebudayaan material, personal dan perilaku, adalah salib, adalah beban kehidupan manusia. Janganlah kita menyangka bahwa setiap langkah kebudayaan manusia adalah juru selamat manusia itu sendiri. Penderitaan yang beruntun dan memuncak pada ajal tidak dapat dihilangkan oleh manusia dengan kebudayaannya. Inilah yang aku baca dalam karya-karya sang pengarah, guruku.

Lalu bagaimana jalan keluar dari ketertatihan yang konyol ini? Suatu bisik yang diam, suatu keluh-kesah yang tidak tertulis dan terdengar, jauh di dasar jiwa di malam sunyi waktu jiwaku berjalan dalam kerumun kefanaan manusia di terik siang dan di malam kelam dan kejam, adalah suatu percakapan dengan Tuhan yang telah hadir dalam sejarah, dalam daging. Tuhan yang telah berpartisipasi dengan ketertatihan manusia, Tuhan yang telah memanusia dan menyelesaikan duka dan ajal manusia dengan misteri cintanya, dengan rahasia penebusannya. Demikianlah yang ditulis oleh guruku yang sangat aku kagumi.

Untaian kata-katanya pada mulanya sukar aku cerna padahal bahasanya sederhana tetapi dalam sebuah artikel yang ditulisnya baru-baru ini, sebelum ia lari ke luar negeri, ia mengatakan bahwa kehidupan manusia ini telah dibeli atau paling kurang telah tergadaikan kepada konglomerat maharaksasa yang disebut rantai penderitaan dan ajal. Tuhan sendiri tidak menyelesaikannya dari jauh, dari semesta langit yang tak terjangkau. Tuhan sendiri turun ke bawah (turba), ke dalam atau ke eksistensi manusia. Ia hadir, menderita kefanaan, menderita ajal demi untuk menjelaskan bahwa penderitaan manusia oleh rantai konglomerat ajal dan maut itu sudah dihayatinya secara eksistensial dan … (ini yang penting) ia telah bangkit kembali, naik ke surga. Ini berarti ia telah menebus manusia dari konglomerasi duka dan ajal, manakala ia berkata bahwa ia pergi tetapi manusia selalu bersentuhan dengan rohnya sampai ajal tiba, sampai manusia duduk bersamanya di surga. Bukankah ini suatu misteri penebusan?

Jadi, kalau aku melihat janda di sebelah rumahku ini, kalau aku melihat pada anak-anaknya yang tidur di tikar, maka bersatulah duka mereka dengan dukaku, menjadilah ia salib yang sangat berat dalam batinku dan aku tidak dapat memikul dan membuangnya, kecuali memikulnya dengan tabah, mengiring penebus dunia.

Malam itu aku melihat dia dengan penuh perasaan kemanusiaanku. Ini berarti bahwa mataku menyapu tubuhnya, buah dadanya, pahanya, dan, oh, setiap langkah manusia dalam detik-detik kefanaan di malam rumah gedekku, adalah beban kehidupanku. Aku tidak mau terlibat dengan lumpur yang dibawanya dari luar, dalam malam gemerlapan bar yang kejam. Aku takut pada AIDS, aku tak mau membawa lumpur Jakarta dalam tubuh janda itu, ke tunanganku di kampung, kelak.

Malam itu aku tak dapat tidur sama sekali. Aku ke luar dan tidak lama kemudian hari pun terang tanah. Aku membeli koran, kemudian membacanya sambil berjalan pulang. Di rumah, si janda sudah bangun dan mengurus anaknya. Aku menyuruhnya memanaskan sisa nasi goreng tadi malam karena sudah dihinggapi kecoak. Kemudian aku terus membaca koran sampai mengantuk dan tertidur.
Bangun di siang hari, aku masak nasi. Aku menukar sepiring nasi dengan pecel daun singkong dan tahu goreng si janda. Kami makan bersama di tikarnya.

“I’is,” aku menyebut nama panggilannya.

“Mm?”

“Saya ingin berjualan kopi, mi godok, roti bakar, dan sebagainya.”

“Tidak mengganggu pekerjaan mengarang?” tanya I’is.

“Habis bagaimana. Uang saya makin tipis karena selama ini tidak ada pemasukan,” kataku.

“Begini saja …. Bagaimana kalau patungan? Saya berjualan kopi, mi godok dan roti bakar, pisang goreng dan sebagainya. Anda berjualan rokok dan bir. Meja, bangku, tenda plastik dan lampu tekan tanggungan Anda. Saya akan memanggil seorang dua atau tiga gadis atau janda muda yang cantik dari desa untuk melayani tamu-tamu,” kata I’is.

Ide itu segera kami realisasikan. Aku membuat meja sendiri, bangku sendiri, dan tiang-tiang tenda plastik. Tempatnya di pinggir jalan raya. Sebenarnya lokasi yang kami pilih adalah di jalur hijau. Jalur ini cukup panjang, penuh pohon-pohon rindang di pinggir jalan itu ada sungai buatan (terusan) yang lebat ditumbuhi bambu dan semak belukar. Nasib penjual rokok dan warung tenda di jalur hijau ini selalu dipimpong oleh Tibum (Tim Pembersihan Umum) tetapi masalahnya seperti kebiasaan mengadakan ulang tahun segala. Kalau ada hari ulang tahun ini dan itu, maka ada surat resmi yang datang kepada pedagang kaki lima agar jangan berjualan, biar bersih, biar tidak ada pemandangan kotor di jalur hijau. Setelah habis ulang tahun dan acara resmi lainnya, pedagang kaki lima memasang tenda kembali, berjualan sampai pagi. Alasan membiarkan pedagang kaki lima itu berjualan di jalur hijau yang rimbun itu, antara lain untuk menjaga keamanan. Kalau tidak ada pedagang kaki lima maka jalur hijau itu begitu angkernya. Penodongan, perampokan, perkosaan bisa saja terjadi di jalur hijau itu. Namun, sekali pedagang kaki lima tetap pedagang kaki lima. Selalu diusir, pura-pura diusir, selalu dimintai uang oleh petugas krucuk.

Tidak apa … yang penting aku masih bisa berjualan.

I’is hanya berhasil membujuk I’in dari desa untuk membantu kami. Menurut pengakuannya, I’in belum pernah kawin. Gadis berusia sembilan belas tahun ini masih bersaudara lain ibu dengan I’is. Barangkali karena I’is dan I’in yang berwajah cantiklah itu yang membuat warung kaki lima kami yang terletak di salah satu jalur hijau Jakarta menjadi demikian larisnya. Tugasku hanyalah berbelanja rokok, sabun, gula pasir, obat-obat, batere, pisau silet, bir, dan sebagainya. Semuanya dipajang di atas meja, dalam sebuah lemari yang didudukkan di atas meja itu.

Kadang-kadang aku menulis atau membaca di warung tenda plastik itu, kadang-kadang aku membaca dan menulis di rumah petakku. Anak-anak I’is pun, kadang-kadang belajar di warung kadang-kadang belajar di rumah.

Warung demikian ramainya dan lebih ramai lagi ketika beberapa perek datang mangkal di warung kami. Kedatangan mereka tidak sia-sia karena mereka membuat banyak lelaki datang minum kopi, bir dan makan. I’is menambah jenis makanan berupa nasi goreng dan sate sedangkan aku harus membuat lagi dua bangku panjang dan sebuah meja.

Setelah itu aku mulai mengarang dan mengarang. Waktu untuk mengarang berebutan dengan waktu untuk warung tetapi karena persaingan itu maka mentalku dipacu untuk lebih bergairah menulis dan mempergunakan waktu sebaik-baiknya apalagi aku telah memutuskan untuk membaca, menambah pengetahuan, terutama mempelajari bahasa Inggris. Aku harus selalu ke perpustakaan. Semua ini aku ketahui dari salah satu tulisan sang guru di sebuah koran Ibu Kota. Memang, aku harus menambah pengetahuanku. Soalnya aku hanya menamatkan sekolah lanjutan, walaupun disebut tingkat atas. Berapalah pengetahuanku selain bakat alam semata dan sedikit motivasi yang dirangsang oleh tulisan-tulisan guruku?

Tiga

ITULAH rencanaku. Salah satu tahap sudah aku realisasikan. Maksudku tahap isi perutku. Memang, dalam perjalanan darat yang panjang, di atas bus, aku sudah memikirkan bagaimana soal isi perut. Walaupun aku mempunyai kepercayaan diri atau semacam keberanian mengambil keputusan, namun terbayang juga, kalau terjadi satu hal yang tak terduga dengan urusan cari makan, misalnya kalau uang tabunganku habis atau dicuri orang maka aku terpaksa bekerja apa saja, asal halal. Aku tidak akan mengemis pada siapa saja termasuk guruku karena dari tulisan-tulisannya aku ketahui bahwa dia sangat miskin. Aneh sekali. Kalau aku hitung-hitung pendapatannya cukup besar kalau melihat karangannya yang tersebar di beberapa media Ibu Kota tetapi mengapakah ia sangat miskin? Apakah ia mengidap penyakit yang harus makan biaya? Apakah ia penjudi seperti Dostoevski? Inilah yang belum aku ketahui tentang guruku yang mengajarku lewat tulisannya.

Di waktu warung sedang ramai, anehnya kreativitasku buntu. Aku sukar sekali menambah kalimat-kalimat ke dalam kertas. Aku baca lagi kalimat-kalimat yang sudah aku tulis. Oh, berlembar-lembar yang harus dirobah. Malah ada berlembar-lembar kertas yang harus aku robek atau dijadikan kertas pembungkus di warung. Akan tetapi untung ada warung. Dengan warung, selain perut selalu terisi sampai kenyang dan uang selalu bertambah, aku tidak terlalu gelisah kalau kreativitas menulisku buntu. Aku duduk saja di warung ikut melayani tamu. Kadang-kadang, bilamana warung kami lagi ramai dengan para tamu pria, perek-perek, dan sebagainya, di saat pasaran bir, kacang tanah, mi godok dan pisang goreng dan jajan titipan lagi laris-larisnya, Pak Pijat mampir di warung dalam perjalanan pulang dari hotel tempat ia bekerja tetap sebagai tukang pijat. Kalau ada tamu warung yang pegal-pegal, Pak Pijat lembur di pinggir warung di atas tikar yang digelar di atas rumput yang disediakan olehku bagi tamu-tamu yang suka lesehan minum bir atau makan. Kemudian Pak Pijat pulang membawa jajan atau nasi yang diberikan oleh I’is.

Akan tetapi ada hal yang membikin I’is, I’in, dan aku jadi sebal. Masalahnya ada beberapa perek bar yang ngebon makanan untuk dimakan di warung dan untuk dibawa pulang. Pada mulanya I’is memberi karena ia pernah mengalami nasib demikian ketika ia menjadi pelayan bar. Kalau tidak dapat tip, untuk pulang pun susah. Harus pinjam sana pinjam sini apalagi kalau punya anak tanpa suami. Makin hari utang di warung makin membengkak. Kalau satu perek tidak mengapa tetapi bahkan sampai sepuluh orang yang sudah berutang selama sebulan. Ada yang mencicil utangnya ada yang berjanji terus menerus.

Suatu hari, ketika I’in sendirian sebentar menjaga warung karena I’is ke rumah sebentar untuk mengambil sesuatu, ada seorang perek datang dan minta makan. I’in menolak memberi makan padanya karena utangnya belum terbayar selama sebulan. Kontan I’in diancam. Kalau tidak memberinya nasi goreng, ia akan tempeleng I’in di tempat. I’in jadi takut dan segera menggoreng nasi untuk perek galak itu. Kemudian perek itu menyuruh I’in menggoreng sepiring teh bawang putih dan perek itu makan bawang putih goreng itu seperti kacang saja. Aneh.

Begitu I’is muncul, I’in melaporkan segala sesuatu kepada I’is. Aku juga sudah hadir saat itu dan mendengar laporan itu.

“Bukan tidak mau menolong, Titin. Soalnya sudah sebulan nih. Bayar sedikit-sedikit kek, kalau tidak mampu bayar semua utang selama satu bulan itu. Soalnya, saya juga pinjam modal orang nih,” kata I’is dengan lemah lembut.

“Jangan begitu dong sama orang susah, I’is. Saya lagi mengandung nih,” kata Titin.

“Minta dong sama bapaknya anak dalam perut itu,” kata I’is.

“I’is seperti tidak mengalami seperti Titin saja,” kata Titin. “Jangan begitu dong sama teman yang pernah menolong I’is ketika I’is mengalami hamil begini. Mentang-mentang sudah punya cowok, sombong. Kasihan dong sama orang. Gue lagi ngidam makan bawah putih nih. Mudah-mudahan anak ini bawa rezeki supaya bisa bayar utang,” kata Titin.

Percakapan antara I’is dan I’in terhenti ketika serombongan anak muda dengan beberapa perek jelita menyerbu warung. I’is dan Titin sibuk melayani pesanan dan aku juga ikut melayani. Titin mencuci piring dan gelas dan ikut melayani tamu.

Malam itu aku bahagia betul. I’is dan I’in lebih lagi karena nasi, mi, pisang goreng, kacang dan sebagainya laris. Walaupun tamu pria banyak minum bir, namun mereka tidak mabuk. Mereka duduk sopan, bercengkerama sopan, minum berjam-jam, bercengkerama berjam-jam dengan perek-perek itu, sampai dengan suatu saat, bukannya minta diri tetapi minta tambah bir.

Kebetulan aku punya langganan toko di pinggir jalan. Toko itu baru saja dibuka dan ketika dia mengetahui bahwa aku membuka warung bir di pinggir jalan di bawah tenda plastik, ia mengatakan bahwa tokonya boleh diketuk kapan saja di waktu malam kalau aku perlu bir. Aku menyuruh Titin dan I’is pergi mengetuk toko itu untuk membeli bir.

Keduanya pergi naik becak dan pulang naik becak. Di waktu pulang dengan dua buah peti bir, ketika becaknya sampai di depan warung tenda kami, o, Tuhan, sebuah truk yang mengangkut tanah untuk pembangunan sebuah gedung pencakar langit yang meluncur sangat cepat menyambar becak dan seperti mimpi saja, tiga manusia, dua peti bir, dan sebuah becak hancur berantakan di depan warung. Aku tidak pingsan tetapi mata yang terbuka seperti tak melihat apa-apa. Kejadian itu membuat aku sangat guncang. Aku diam. Janntungku berdegup kencang dan tidak lama kemudian aku jadi lenyap dari dunia ini. Aku pingsan.

Pingsanku tidak terlalu lama. Ketika aku sadar ternyata aku sudah berada di atas tikar. Orang-orang menanyakan aku, apakah aku mau dibawa ke rumah sakit. Aku mengatakan bahwa aku sudah sehat kembali dan aku menanyakan I’is dan Titin. Orang-orang mengatakan bahwa I’in mengantar jenazah I’is dan Titin ke rumah sakit. Aku bangun dan memberes-bereskan warung, dibantu oleh beberapa tetangga rumah petak kami. I’in meninggalkan surat buatku. Isi surat mengatakan bahwa ia membawa semua uang ke rumah sakit. Aku agak lega mendapat informasi lewat surat itu tetapi jiwaku tak dapat sembuh nampaknya oleh guncangan yang tiba-tiba itu, ya, aku betul-betul guncang.
Musibah itu merobah segalanya. Aku harus mengantarkan jenazah I’is dan Titin ke rumah orang tua mereka di desa. Untunglah keduanya berasal dari sebuah desa di luar kota Sukabumi. I’in dan kedua anak I’is aku serahkan kembali kepada orang tua dan sanak keluarga mereka kemudian aku membawa orang tua I’is ke Jakarta untuk mengurus asuransi kecelakaan. Ini memakan waktu dan uang. Yang terakhir ini hanya bisa aku peroleh dari warung padahal sebagian besar dari kegiatan itu sudah tak bisa berjalan lagi karena musibah yang menimpa I’is. Untunglah ayah I’is bisa membaca situasiku. Ia memberitahukan padaku bahwa selama menunggu ganti rugi kecelakaan ia harus ke desa untuk mengajak I’in dan ibunya. Untuk apa? Untuk membuka kembali warung kaki lima yang sudah dirintis oleh I’is.

Maka tidak lama kemudian datanglah I’in dan ibunya ke Jakarta. Ibu I’in bukanlah ibu almarhumah I’is. Tidak lama setelah ibu I’is bercerai dengan ayahnya, sang ibu kawin lagi dengan orang lain dan memperoleh dua orang anak lelaki dan empat orang anak perempuan. Mereka berpindah ke Jakarta dan tinggal entah di mana. I’is sendiri tidak mengetahui tempat tinggal mereka karena ia lebih dekat dengan ayahnya dan selama berada di Jakarta, sebagai janda ia hidup sendiri dengan kedua orang anaknya tanpa dibantu oleh ayahnya. Maklum sang ayah hanyalah seorang petani lahan kering yang harus memberi nafkah kepada istrinya yang baru dan anak gadisnya, I’in dan tiga orang adiknya.

Kalau I’is dijadikan sebuah skema maka ia adalah sebuah pkok dari sebuah pohon yang terbalik. Pokok itu adalah I’is dan mempunyai dua cabang. Cabang pertama adalah ayahnya dan cabang kedua adalah ibuya. Dari pihak ayahnya ada enam perut baru yang merupakan ranting kehidupan dan dari pihak ibunya ada delapan buah perut yang harus diisi tiga kali dalam sehari. Hitung-hitung ada tujuh belas perut yang digambarkan oleh sebuah skema ‘pohon terbalik’ yang dimulai dari I’is sebagai pokoknya. Inilah pohon yang terjungkir akibat bom demografi.

Petak di sebelahku bukannya berkurang satu dengan meninggalnya I’is tetapi malah bertambah. Selain kedua anak I’is, kini diisi lagi oleh ayahnya I’is, ibu tiri I’is dan I’in beserta ketiga orang adiknya. Ada delapan perut semuanya yang harus hidup dari warung yang aku dan I’is rintis.

Melihat itu, aku tak mau lagi mengadakan perhitungan ekonomis. Tidak ada gunanya mengadakan kalkulasi berapa biaya yang sudah kukeluarkan untuk warung dan berapa keuntungannya setiap hari. Buku yang sudah kutulisi aku simpan saja dan terjadilah semacam ekonomi berenang dalam lautan yang tidak dikenal lagi di mana pantai di mana pulau. Yang penting, masih bisa bernafas.

Ya, aku masih bisa makan dari warung dan aku sering ikut-ikut duduk di warung setelah lelah menulis dan menulis. Untunglah, warung itu masih tetap laris, barangkali karena adanya gadis cantik yang bernama I’in dan karena adanya perek-perek yang mangkal secara gonta-ganti. Kalau mereka bosan mangkal di bar, bosan menuang bir dan ikut minum sampai teler doang tanpa tip, mereka mangkal di warung.

Pada suatu malam, ketika aku sedang duduk di warung, datang seorang anak muda yang mengaku bahwa dia seorang oknum tentara prajurit dua. Orangnya ganteng, tegap, pendiam, dan sopan. Ia mendekati aku dan mengajak aku untuk bercakap-cakap jauh dari warung. Kami berdiri di balik pohon dan ia membuka pembicaraan.

“Saya minta maaf, mengganggu abang,” katanya dengan nada yang sopan.

“Tidak, saya tidak terganggu,” kataku.

“Begini, Bang, saya jatuh cinta pada saudara perempuan Abang, si I’in dan I’in sudah menerima cinta saya tetapi ia bilang, ia takut memberitahukan pada ayahnya. I’in sarankan, sebaiknya saya beritahukan dulu hubungan kami kepada Abang,” kata prajurit satu itu.

“O begitu. Baiklah. Kalau adik saya sudah setuju, apalagi yang mesti dikatakan. Satu hal yang saya minta adalah, jangan mempermainkan adik saya. Jadikan adik saya istri syah, istri seorang prajurit,” kataku.

“Terima kasih, Bang, terima kasih,” kata prajurit itu. Ia sangat bahagia, tampaknya. “Saya mohon, Abang menolong kami sebelum saya dan orang tua saya datang melamar I’in. Maksud saya, saya mohon bantuan Abang untuk memberitahukan dulu pada Bapak,” katanya.

“Baik. Setiap maksud baik selalu akan terkabul asalkan kita berusaha,” kataku. “Saya akan menolong adik karena saya ingin agar I’in mendapat jodoh berdasarkan cinta sama cinta, bukan karena pangkat, uang, apalagi paksaan,” sambungku.

“Terima kasih, Bang, terima kasih,” kata sang pemuda yang ganteng itu sambil memeluk aku berjalan menuju warung. I’in tampak berseri melihat kami begitu akrab kembali dari balik pohon.

Malam itu warung sangat ramai oleh perek-perek yang cantik jelita yang entah datang dari mana. Ada yang datang dengan sedan, ada yang turun dari kendaraan umum, ada yang datang bersama cowok, ada yang datang sendiri-sendiri.

Demikianlah. Hari-hari berjalan seperti biasanya setelah musibah. Warung di kaki lima atau di jalur hijau yang dapat menghidupkan sekian perut dan bahkan dapat menyekolahkan anak-anak. Aku makin akrab dengan ayah dan ibunya I’in. Inilah yang menimbulkan suatu masalah. Pada suatu malam, ibu I’in mendatangi petakku dan dengan akrab berbicara panjang lebar tentang nasibku, tentang tikarku, tentang bantal banku dan di atas segalanya ia menanyakan apakah aku sudah punya pacar atau belum. Aku mengatakan padanya bahwa aku sudah punya pacar di kampung tetapi di atas segala-galanya untuk hari-hari yang panjang tunanganku adalah pekerjaanku menulis, mengarang, membaca. “Saya masih belajar, Bu. Soal pacar atau kawin tidak terlintas dalam diri saya. Gadis pilihan orang tua saya di kampung memang manis dan berbudi tetapi kalau ia tak mampu menunggu saya, terserah. Terserah kalau dia mau memilih orang lain untuk suaminya.”

“Biasanya, kalau istri pertama meninggal, orang mengambil adik istrinya,” kata sang ibu.

Aku tahu, bahwa ia mengira aku punya hubungan intim atau mungkin sudah menikah dengan I’is sehingga dalam kesempatan ini ia ingin mendekatkan aku dengan I’in. Aku yakin betul akan apa yang tersirat dalam kunjungan ke petakku.

“Bu, kebetulan. Saya mau memberitahukan pada Ibu bahwa I’in sudah punya hubungan dengan tentara muda yang ganteng itu. Ia sangat baik, sopan. Ia mengira saya abang kandung I’in sehingga pada suatu malam ia memberitahukan hubungan dia dengan I’in kepada saya dan dia minta saya memberitahukan kepada Ibu dan Bapak,” kataku.

“Aduh, tolong beri tahu pada I’in, jangan sembarang pilih. Ingat adik-adiknya yang masih kecil, butuh biaya banyak untuk sekolah. Siapa yang berjualan lagi kalau I’in kawin?” kata sang ibu dengan penuh kekuatiran pada masa depan ekonomi keluarga ini.

Aku diam. “Ibu tidak usah kuatir. Ibu bisa terus berjualan. Nanti kita mencari cewek lain untuk membantu Ibu,” kataku.

Tiba-tiba I’in datang dari warung untuk mengambil tambahan gelas karena ada banyak tamu yang minum. Percakapan kami terhenti.

Malam itu aku terus menulis sampai pagi.

Aku menulis terus di malam-malam berikutnya sambil sekali-sekali mengontrol barang-barangku yang laku dan segera aku berbelanja ke agen. Kotak rokok, sabun, mi, roti, odol, sikat gigi. Obat-obat, bir, dan lain-lain selalu terisi penuh. Patungan kami masih seperti semula ketika I’is masih hidup. Ada memang sedikit keuntungan tetapi belum menutup pengeluaran tak terduga yang terjadi akibat musibah yang menimpa I’is.

Pada suatu malam, aku menulis sampai pukul dua belas malam. Aku ke luar rumah untuk beristirahat dan minum kopi di warung. Ada beberapa wanita muda dan cantik duduk. Ada yang sudah menjadi langganan, ada yang masih baru.

Ketika aku sedang menikmati kopi dan pisang goreng, aku dengan seorang jelita malam sedang ngoceh. Barangkali ia mabuk, melihat gelagatnya. Ia berbicara keras.

“Sia-sia, sia-sia, sia-sia …” katanya keras.

“Sia-sia menjaring angin,” sambung temannya, seorang wanita muda yang juga cantIk.

“Angin malam masih bisa dijaring dengan hidung, dengan napas, dengan paru-paru, tetapi sia-sia, sia-sia menjaring pengkhianat cinta kasih seorang wanita,” kata si jelita pertama. “Kalau ada pengarang di sini, aku minta dia menulis riwayat hidupku, riwayat percintaan sejati yang tumbuh dari hati yang suci,” kata jelita pertama.

“Bukan dari lumpur perperekan?” sambung jelita kedua sambil tertawa.

“Bayangkan. Di bangku SMA aku sudah memberi segala-galanya kepadanya. Begitu tamat SMA, aku banting tulang mengorbankan diri, cari uang untuk beli dia punya celana-celana jin, baju jin, baju dan celana biasa, rokok dan sebuah sepeda motor untuk dijadikan ojek. Selama tiga tahun aku banting tulang ….”

“Banting daging, bukan tulang …” teriak jelita kedua.

“Tega, tega sekali mengkhianati cinta yang suci, cinta yang penuh pengorbanan.”

“Makanya jangan percaya pada cinta kalau sudah terjun payung. Baca dulu bukunya Takdir Alisyahbana, Layar Terkembang,” kata jelita kedua sambil memandang padaku. “Itu ada pengarang yang mendengar kita bual,” sambung jelita kedua. “Jelek-jelek nasib kita, pernah belajar sastra di SMA. Kalau aku pengarang aku akan membuat novel berjudul ‘Terjun Payung’. Soalnya terjun payung dari SMA, jatuhnya di bar!” kata jelita kedua.

Jelita pertama tampak serius saja menghadapi minuman dan nasi goreng. Serius kepada sesuatu dan sesuatu itu adalah dalam kata-katanya. “Saya bukan kambing. Kalau kambing bisa saja disembelih tanpa berontak.”

Jelita kedua membujuk, “Sudahlah, sudah ada gantinya kok masih dendam.”

“Dendam itu sebuah dunia yang lahir dari pengkhianatan. Ini bukan kata-kata dalam novel. Ini pengalaman seorang wanita tamatan SMA yang jatuh ke bar. Biar sudah jadi perempuan yang hina begini tapi masih bisa berpikir dan mempunyai perasaan kemanusiaan. Eh, perasaan keadilan. Sungguh tidak adil pergi begitu saja, melamar perempuan lain untuk dinikahi secara syah. Tega benar,” kata jelita pertama kepada piringnya tetapi semua orang mendengar namun tidak menaruhnya di hati.

“Pengganti yang baru, lebih ganteng, lebih matang umurnya, lebih berpangkat dan lebih kaya. Orang penting lagi,” kata jelita kedua.

“Dia punya istri. Orangnya baik terhadap saya. Masih menganggap saya manusia. Dia bapak angkat saya,” kata jelita pertama.

“Zaman pengusaha kecil dapat bapak angkat, niye!” kata jelita kedua.

“Ya, saya pengusaha kecil, mandiri. Saya cari bapak angkat pejabat untuk mengusir para pedagang kaki lima yang menghancurkan cinta saya. Lihat saja nanti. Tunggu tanggal mainnya. Saya bukan perempuan yang mau menyerah kalah begitu saja kepada lelaki yang berkhianat kepada saya,” kata jelita pertama.

Aku mendengar semuanya dengan asyik.

“Kenal sama cewek itu?” tanyaku pada I’in.

“Tidak. Dia baru pertama kali ke sini. Tapi kok omongnya agak aneh. Saya takut, Bang,” kata I’in.

“Tenang saja. Tunggu saja pacarmu. Kalau dia datang barulah tanya padanya mengenai wanita itu,” kataku.

Jelita itu menoleh kepada kami berdua dan berkata, “Berapa semuanya ini, Bang?”

I’in berkata kepadaku. “Semuanya lima ribu rupiah,” dan ia mendorong aku untuk mengambil duitnya.

Setelah jelita itu membayar, ia meninggalkan warung menuju sebuah mobil sedan kecil. Duilah, dia duduk di belakang setir dan kawannya jelita kedua duduk di sampingnya. Tiba-tiba si jelita yang ngoceh tadi, yang sudah duduk di belakang setir itu, melambai aku, “Bang, sini dulu, Bang.”

Aku mendatangi sedan itu. “Bang, kalau mau jadi pengarang, jangan menulis sandiwara begitu, sandiwara yang bertema, penjualan istri sendiri kepada oknum demi keamanan kaki lima. Sandiwara yang demikian itu akan digusur dari jalur hijau ini,” kata jelita itu lalu menancap gas meninggalkan aku berdiri terbengong-bengong.

Benarlah. Selama dua minggu, pacar I’in tidak muncul-muncul dan selama itu terjadilah kejutan maut atas warung kami. Tibum datang membongkar semua warung tenda termasuk warung tenda plastik kami.

Ketika kami lagi kebingungan di petak kami masing-masing tiba-tiba muncullah pacar I’in. Semua kami menanyakan keadaan yang sebenarnya. Pacar I’in mengaku terus terang bahwa ia pernah berpacaran dengan jelita yang mengancam itu dan benar jelita itu punya hubungan dekat dengan banyak pihak. Maklum, wanita demikian banyak berkenalan dengan lelaki. Ia meminta maaf padaku dan pada orang tua I’in dan memohon sangat bahwa ia harus kawin dengan I’in, gadis baik-baik yang seorang. Masa seorang prajurit seperti dia kawin dengan perempuan nakal, katanya.

Orang tua I’in, apalagi I’in sendiri dapat menerima segala pengakuan yang jujur dari prajurit itu. Dengan demikian maka segalanya berlalu dengan mulus. Warung diusir tetapi menantu ganteng, prajurit muda belia datang. Ringkas cerita, mereka menikah di kampung I’in di Sukabumi. Setelah pernikahan itu, orang tua I’in tidak lagi kembali ke Jakarta. Lahan kering mereka yang cukup luas digarap di samping membuka warung di kampung halaman sendiri.

Tinggallah aku sendirian di petakku. Sendiri dengan pengalaman yang demikian padat dalam waktu yang relatif singkat. Aku menulis dan menulis terus pengalamanku di rumah petak dan di warung, sampai semuanya habis ditulis. Sampai bahan dan imajinasiku serasa habis. Aku rasa, karanganku belum selesai dan inilah yang menggelisahkan aku tetapi aku harus tabah menghadapi keadaan keuanganku yang makin hari makin tipis sedangkan karangan belum selesai.

Pada suatu malam, ketika pikiran dan imajinasiku buntu, aku menggeletakkan kepalaku di atas ban. Aku tak tahu lagi apa yang harus aku buat. Ada semacam kelelahan mental, tampaknya, dalam diriku. Bayangkan, waktu aku mengambil keputusan untuk menjadi pengarang, begitu optimistisnya aku, begitu beraninya aku meninggalkan pekerjaanku yang telah memberi jaminan gaji tetap setiap bulan. Pada waktu itu aku yakin sekali bahwa aku bisa hidup sebagai pengarang di Jakarta karena aku akan selalu berkonsultasi dengan pengarang yang aku kagumi selama ini. Ternyata pengarang itu sudah berada di luar negeri. Sekarang barulah aku bertemu batunya. Uang yang aku bawa dari Sumatra sudah ludes semuanya karena dipergunakan buat proyek cari makan yang pada gilirannya bukan untuk cari makan tetapi lebih berupa ‘cari’ bahan untuk mengarang. Oh, bahan sudah berlimpah tetapi mengapakah imajinasiku jadi buntu begini?

Mentalku jadi lumpuh sudah rasanya dengan adanya kesulitan bertubi. Bukan, bukan lumpuh. Mentalku, jiwaku bukan lumpuh tetapi terasa diulek-ulek oleh pencipta kehidupan sehingga menjadi sebuah campuran yang aneh. Ya, barangkali begitu. Sudahlah, berbaringlah kalau apa yang disebut mental itu lumpuh, atau hancur, atau lelah akibat digojlok kehidupan di daerah kumuh, di antara orang-orang miskin semiskin aku. Aku pun meluruskan badan ke atas tikarku dan menggeletakkan kepala di atas ban ….

Empat

TIBA-TIBA aku jadi satu dengan ban. Kesatuan ini begitu manunggalnya sehingga aku menjadi ban. Ban yang dahulu menggelinding ratusan bahkan jutaan kilometer tetapi sekarang menjadi sebuah ban luar bekas yang dibuang-buang. Untung tidak segera dibakar atau terbakar. Untung aku mengambilnya, mencucinya dan aku, demi penghematan, memakainya untuk bantal dan untuk meletakkan sebuah papan dan di atas papan itu aku timbun sampai ketinggian tertentu sehingga dapat menulis, mengarang.

Aku adalah ban itu sendiri.

Riwayatku sangat panjang dan hampir tidak mungkin ditulis dalam keadaan keparat begini. Namun, maafkanlah aku kalau aku mengatakan di sini beberapa segi yang baik dari diriku di samping segi-segi atau pengalaman-pengalaman buruk yang menghina, bahkan merusak, membunuh manusia kongkret dan kemanusiaan pada umumnya.

Aku terbuat dari karet alam. Sudah tentu alam Indonesia. Sebagian dari tubuhku berasal dari pohon-pohon karet di Sumatra, Kalimantan, bahkan berasal juga dari pohon karet alam yang sudah meliar tak terpelihara baik di Sulawesi Selatan. Kalau diusut sampai ke Merauke maka darahku memiliki campuran karet yang ditanam beberapa puluh kilometer di sebelah timur Merauke. Bukan sombong, akulah itu percampuran darah Indonesia yang sebenarnya.

Aku tumbuh tidak jauh dari sungai-sungai besar dan kecil. Di Sumatra dan Kalimantan, aku dibawa dalam wujud getah lewat sungai. Dalam perjalanan itu aku lihat bahwa tanpa manusia pedagang perantara yang membuat toko dan gudang-gudang di pertemuan dua atau tiga anak sungai, aku tidak akan menjadi ban. Petani Dayak, Melayu, Sulawesi, dan Irian hanya menanam pohonku, menoreh kulit tubuh pohonku dan getahku menetes, menetes, menetes terus, untuk kemudian dikumpulkan di ember-ember dan warnaku demikian putih bagaikan susu yang dapat menghidupkan dunia. Air susu dari pohonku diolah menjadi karet dan kemudian, sebagian diekspor dan sebagian dimasukkan ke dalam pabrik dalam negeri lalu keluar menjadi ban. Akulah ban yang secara ajaib menampung kekuatan dari angin untuk menjelajah dunia dengan kecepatan yang membuat menjadi dinamis tetapi sayangnya juga statis, bahkan sadis karena seperti pengalamanku berputar di atas ribuan bahkan jutaan kilometer aku sudah membunuh langsung beberapa puluh ribu manusia di jalan raya maupun secara tidak langsung, membunuh manusia lewat mobilku, knalpotku yang menyemprotkan racun yang merepotkan lapisan ozon. Oh, tetapi maaf, bukan sombong, aku akan menceritakan juga perikemanusiaan yang lahir dari ban.

Aku ingat, waktu kelaparan di Ethiopia, akulah ban tempat bergantung jutaan nyawa manusia yang kelaparan. Akulah ban pada pesawat terbang yang membawa makanan, akulah ban pada truk-truk yang mengangkut makanan menembus padang pasir berdebu Afrika. Akulah ban yang mengemban buah dada para ibu Afrika sehingga mereka bisa mendapat makanan, sehingga buah dada mereka kembali berisi asi.

Akan tetapi aku sendiri tidak mungkin mengerti, mengapa setelah aku membawa makanan bagi ibu, bayi dan lelaki Afrika, aku harus menggelinding di gurun Iran dan Irak, menjadi ban truk pembawa senjata, menjadi ban mobil berlapis baja tahan peluru. Di saat itu, aku tidak bisa jadi netral seperti kata orang bahwa ban seperti aku tidak memiliki rasa bersalah yang dalam, karena aku hanyalah alat. Aku harus mengutuk para pengambil keputusan untuk berperang, orang-orang atau sistem, atau negara-negara, atau bangsa yang mencetuskan peperangan. Barangkali petani Melayu dan petani Dayak, atau petani Sulawesi dan Irian yang menanam pohon karetku tidak akan berpikir ke sana, bahwa suatu hari aku, ban karet, akan menggelinding melindas bangkai-bangkai, mayat-mayat.

Di Israel, sehabis aku dipakai untuk memuat serdadu dan senjata untuk menindas orang-orang Palestina, aku dibakar dalam gerakan intifadah. Apiku, asapku bauku dapat menghalangi gerakan serdadu, untuk sementara, tetapi dengan demikian, aku, ban yang dibakar di jalan raya menggerakkan kamera wartawan televisi. Mereka merekam apiku, memberitahukan kepada dunia bahwa aku telah membantu sebuah gerakan kemerdekaan. Aku bisa menjadi api, semangat kemerdekaan itu sendiri walaupun dalam tubuhku hanyalah angin.

Aku bisa menjadi tunggal. Bisa menjadi satu ban, tetapi bisa menjadi jamak. Ada berapa banyak ban di bola planet dunia ini? Barangkali sebanyak orang Cina, barangkali lebih dari itu—sebanyak manusia berkulit hitam, cokelat, kuning, putih. Pendek kata, banyak, banyak sekali. Oleh karena demikian banyaknya, maka untuk menjaga kedinamisanku menggelinding, peradaban jalan raya muncul. Jalan desa, jalan kecamatan, jalan kabupaten, jalan negara, jalan tol, termasuk jalan layang dan jalan terowongan bawah laut segala.

Kota-kota yang terbentuk di kulit planet bumi ini ibarat jantung yang makin lama makin banyak dan yang sudah ada pada mulanya merupakan jantung yang kecil tetapi pada akhirnya menjadi jantung yang besar. Jalan raya ibarat pembuluh nadi dan akulah yang memompakan butir-butir darah ke seluruh penjuru dunia. Aku, seperti sudah kukatakan, selain membawa makanan juga bahan kebutuhan lain seperti obat-obatan dokter dan paramedis kepada manusia yang kena bencana alam. Oleh karena itu, janganlah kutuk aku. Tataplah kenyataan kehidupan (kenyataan eksistensial) bahwa kebaikan dan keburukan berada dalam tubuhku sampai kapan pun, sampai ada yang mengatakan padaku bahwa aku cumalah karet yang dapat memadatkan angin menjadi kekuatan, uang, dan kekuasaan yang tidak mungkin dapat menyelesaikan persoalan kerinduan manusia mencari sebuah surga. Aku pun, sering tidak mengerti, mengapa sudah berjuta jarak yang aku tempuh, tetapi tidak bisa sampai ke tujuan, kecuali menggeletak sepi di timbunan sampah.

Tidak mengapa. Aku adalah karet. Seorang pengarang seharusnya seperti aku, karet. Biar diinjak-injak oleh seorang pengusaha baja yang beratnya sepuluh ton, karet akan menipis tetapi bila sang pengusaha besi itu mengangkat kakinya dari atas punggungku, maka karet itu akan kembali ke keadaannya semula. Segar kembali, elastis kembali, menggelinding kembali mencari kemerdekaan, kedamaian, kebenaran, dan kebaikan yang sempurna.

Tidak! Aku bukanlah perfeksionis. Kesempurnaan mutlak, baik dalam sebuah rumah tangga, baik dalam sebuah negara, tidak mungkin bisa dicapai oleh manusia yang tidak sempurna. Hanya Tuhanlah yang mutlak sempurna. Seorang Hitler, seorang Stalin yang mengira bahwa ia sedang berusaha membawa rumpun-rumpun manusia ke perfeksionisme mutlak akan mempertuhankan perbuatannya, mempertuhankan tangan besinya. Tangannya akan penuh dengan kekejaman dan darah. Celakanya aku jadi terlibat. Sebagai ban, aku menggelinding membawa tengkorak-tengkorak untuk ditimbun menjadi gunung, menjadi monumen dari sebuah mimpi buruk dalam sejarah.

Tidurlah, wahai calon pengarang yang berbantal ban. Aku akan memberimu mimpi buruk agar dari mimpi buruk itu engkau terkejut dan bangun mencari matahari dan bulan di hati manusia. Kau telah menemukannya di rumah petakmu dan dalam diri I’is, perempuan muda, janda Indonesia yang tidak sempat mencari rial di Arab Saudi, kecuali tip-tip kecil di pantat botol-botol bir bar. Kau adalah aku dan aku adalah kau di kala tidur dan di kala mabuk, di kala imajinasimu buntu sehingga ayunan penamu terhenti. Akan tetapi kalau kau bangun di pagi hari, perhatikanlah bahwa ban itu terdiri dari angin dan karet, seperti lelaki dan perempuan, Jangan percaya kalau orang mengatakan bahwa persenggamaan antara makhluk Tuhan di muka bumi ini adalah kemanunggalan mutlak, langgeng. Tidak. Belajarlah dari ban. Ada angin ada karet, ada lelaki dan perempuan. Perliharalah jarak. Pemimpin adalah pemimpin dan rakyat adalah rakyat, seperti karet ban dan angin. Hanya karena pecah ban dan angin menghembus ke luar sajalah maka terjadi kenyataan tunggal, yaitu karet doang. Akan tetapi lihatlah. Mobil terbalik dan korban sudah berjatuhan.

I’is dengan dua anaknya adalah suatu peristiwa ban pecah yang parah. Di dunia ini banyak wanita yang bernasib seperti I’is. Aku ini ban yang mengetahui banyak karena aku pernah kenyang mengangkut I’is-I’is dari desa ke kota dan aku telah menggiling terlalu banyak I’is di jalan raya setelah aku membawa wanita-wanita baik-baik yang bekerja di pabrik, kantor pemerintah, wanita yang jadi Tentara Nasional Indonesia, wanita yang jadi dokter, hakim, wartawati, penyiar televisi, biarawati, pendeta, istri, dan yang baik-baik lainnya.

Berbahagialah kau, kepala seorang calon pengarang yang berbantalkan ban seperti aku. Berbahagialah kau yang mencari sang guru di Jakarta dan tidak menemukannya sehingga kau terdampar di daerah kumuh, di petak ujung, bertetangga dengan I’is yang kena musibah dilindas ban ketika menyeberang bersama Titin, jelita bar yang sedang hamil dan ngidam bawang putih. Mereka adalah gurumu yang sejati, termasuk aku, sebuah ban yang penuh dengan penyesalan karena di luar kemauanku telah membunuh I’is dan Titin.

Berbahagialan kau, calon pengarang yang setiap hari masih rajin menulis, padahal uangmu makin hari makin habis. Berbahagialah kau ….

Ternyata aku bisa menulis sepanjang malam setelah aku menggeletakkan tubuh di tikar dan kepala ke ban. Dalam keadaan kacau, aku bangun dan menulis. Aku seperti ngawur saja menulis. Betul-betul aku ngawur. Apakah yang aku tulis ini mimpi buruk? Entahlah. Tiba-tiba perutku sakit, sakit sekali. Aku terpaksa harus mengakhirinya di sini. Aku harus menjualnya untuk ongkos ke rumah sakit. Betul-betul saat ini aku sakit. Berjalan pun susah tetapi aku harus melangkah ke petak sebelah sana untuk menjualnya kepada Pak Pijat buta yang sering aku lihat, ia dengan penuh keasyikan mendengarkan anaknya atau istrinya membacakan novel atau cerpen baginya. Oh, Tuhan, tolonglah aku …. Moga-moga Pak Pijat buta itu punya uang dan terutama punya rasa persaudaraan terhadapku.

Lima

ITULAH karangan yang ditulis oleh anak muda di petak paling ujung itu. Aku membaca bagian terakhir setelah dibacakan oleh kedua anak Pak Pijat. Yang terakhir ini manggut-manggut di kursinya setelah pembacaan selesai.

Anak itu dirawat di Rumah Sakit Pusat Dr. Cipto Mangunkusumo, di ruang psikiatri. Aku dan Pak Pijat sibuk mengunjunginya dari kartu penduduknya kami mengetahui kampung halamannya di Sumatra dan coba memberitahukan pada lurahnya agar lurah menghubungi orang tuanya.

Beberapa lama kemudian kedua orang tuanya datang dengan menumpang pesawat Merpati Nusantara Airlines. Ternyata kedua orang tuanya kaya raya. Soalnya, begitu ibunya melihat petaknya, begitu melihat anaknya tidur berbantal ban, ia menangis tersedu-sedu mengomeli anaknya. Ayahnya menggeleng-geleng kepala, sambil berkata, “Inilah anak lelaki saya di antara anak-anak saya yang jadi dokter, insinyur, dan direktur pabrik, yang paling membikin malu keluarga.”

Sang ibu, sambil tersedu berkata, “Sudahlah, kalau dia mau tinggal di sini, kita beli saja seluruh rumah petak ini ….”

Tidak lama kemudian saudara perempuannya, seorang gadis cantik yang sudah menjadi dokter muncul dan ketika ia melihat kamar saudara lelakinya, ia hanya berdecak kemudian mengucapkan satu kata, “Gila!”

Ketika Pak Pijat menyerahkan naskah tulisan tangan itu kepada sang ibu, sang ibu bertanya, “Apakah dia menulis semua ini untuk Bapak?”

“Tidak,” jawabku. “Barangkali untuk majalah dan surat kabar tetapi karena ia jatuh sakit mendadak maka ia menjualnya kepada Pak Pijat.”

“Dengan harga berapa?” tanya sang ibu.

“Tidak banyak, Bu. Kebetulan saya punya uang lima ribu rupiah. Saya beli naskah ini,” kata si tukang pijat buta.

“Bisa kami beli kembali naskah ini?” tanya si dokter jelita.

“O kalau bisa ambil saja. Eh, difotokopi saja.”

Sang ibu merogoh tasnya. Ia mengeluarkan uang lima puluh ribu untuk si buta yang telah menolong anaknya. Sang ibu menarik tangannya dan menaruh uang yang masih baru itu ke tangan si buta. Ia meringis saja menerima uang itu.

“Banyak terima kasih. Bapak telah menolong anak kami. Sebenarnya, di kota kami, dia dirawat di rumah sakit jiwa tetapi ia lari tak tentu rimba setelah agak sembuh,” kata sang ibu.

Hari itu, Pak Pijat dan aku diajak oleh keluarga kaya itu untuk makan di restoran yang bagi kami restoran gila. Mengapa? Tiap orang membayar seratus ribu rupiah. Ini berarti sekali makan, uang sewa petak untuk lima bulan, ludes.

Waktu makan, aku bertanya-tanya apakah sang anak calon pengarang itu gila atau pemilik restoran itu. Karena terlalu berpikir tentang makanan seharga sewa petak selama lima bulan ludes maka lidahku tergigit dan sakit sekali tetapi aku harus menahan kesakitan itu di depan orang kaya Sumatra itu.

“Mula-mula kami mengira dia adalah gendak si I’is karena ia membuka warung bersama perempuan itu, tetapi ternyata tidak. Ia hanya menolong wanita bar yang miskin itu. Kemudian, ketika wanita itu ditabrak mobil dan orang tua serta anak-anak dan saudara I’is pulang ke kampung membawa seorang menantu tentara, ia hidup sendiri lagi. Semua uangnya dibawa oleh orang tua I’is, barangkali,” kataku.

“Orang gila saja yang mengira dunia ini surga,” kata sang ayah yang kaya itu.

“Selama dia tinggal di petak itu apakah ia pernah kumat?” tanya sang ibu.

“Tidak pernah, tampaknya,” kataku. “Baru-baru ini saja, ketika ia ditinggal pergi oleh orang tua I’is dan I’is. Anak-anak tetangga selalu mengintip dia menulis di kamarnya dari lubang-lubang di dinding gedek. Capek menulis ia menggeletak di tikar di lantai berbantalkan ban lalu komat-kamit kemudian tenang, kemudian tertidur dan tiba-tiba waktu diintip kembali ia telah berjalan mengelilingi ban itu terus-menerus beberapa jam.”

Ada dua atau tiga hari dia begitu. Hari-hari pertama ia diam saja mengelilingi ban berjam-jam, kemudian duduk menulis. Tampaknya ia menulis puisi, kemudian puisi itu dibacakannya keras-keras sambil terus-menerus mengelilingi ban itu. Suaranya menarik perhatian semua tetangga tua dan muda tetapi karena pintunya dikunci, tetangga hanya mengintip diam-diam dari lubang dinding gedek.

“Di mana puisinya?” tanya sang ibu.

“Barangkali dalam tas saya, coba ambilkan,” kata Pak Pijat menyuruhku mengambilnya.

Kebetulan puisi yang ditulis tangan dan tak berjudul itu ada dalam tas tetanggaku tukang pijat buta itu. Aku menyerahkannya pada sang ibu dan yang terakhir ini menyuruhku membacakannya.

Aku adalah karet
Beratus hektar
Yang ditanam ayahku
Di atas minyak bumi dan gas
Di samping kelapa sawit

Di sana gunung
Di sini lembah
Di sana minyak di sini
Nyak
Nyak
Nyaaaaaaak, Minyak
Suara berjuta
Pedagang keliling
Minyak tanah
Non, non, no, fff
Fffooooooooooooooorrr
mal (as)u (ngan).

Ayahku harimau
Ayahku raja rimba
Yang ditangkap dari
Hutan Sumatra
Dan
Dimasukkan ke …
Dalam kerangkeng emas.

Betapa jinaknya dia,
Berdasi, makan nasi
Berkuasa, raja jinak ….

Setiap orang mengelus ayah
Harimau Sumatra
Tapi ada anak lelaki
(Akulah itu)
Dari luar kerangkeng
Mengkili-kili ketiak
Ayahku jantan
Penguasa
Sejati
Ih!

Hanya karena telunjuk
Anak kandung mengkili-
Kili
Harimau
Yang tampak jinak
Marah besar
Menyambar tangan
Dan jari-jemari
Anak kandung
Sendiri
Lalu mengunyah
Lalu menelan
Mmmmmm ….

Dengan ambulans
Anak kandung
Dibawa ke Rumah Gila.

Tapi aku adalah karet
Ban.
Diinjak tipis
Kembali mekar
Bila kaki diangkat.

Tapi aku adalah roda
Berputar
Berpuisi
Pusss
Puss
Pus

Seekor kucing
Memasuki
Rumah kumuhku
Lalu kuusap
Mesra
Dengan
Tangan Buntungku

“Stop!” seru sang ayah. “Dulu otaknya sudah dironsen di luar negeri. Terpaksa harus berangkat lagi ke tempat yang dahulu untuk segera dioperasi ….”[]

Jakarta, 1, 2, 3 April 1990

HABIS

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Gerson Poyk
[2] Pernah tersiar di "Majalah Sarinah" No. 207/27 Agustus s.d. 9 September 1990

0 Response to "Otobiografi Sebuah Ban"