Pekak - Pekok - Selendang - Buku Sangat Tua - Gambir Pagi Buta - Bunga Kenikir - Pemakaman - Pada Suatu Malam | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pekak - Pekok - Selendang - Buku Sangat Tua - Gambir Pagi Buta - Bunga Kenikir - Pemakaman - Pada Suatu Malam Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:00 Rating: 4,5

Pekak - Pekok - Selendang - Buku Sangat Tua - Gambir Pagi Buta - Bunga Kenikir - Pemakaman - Pada Suatu Malam

Pekak

Bunyi di ranting pohon bilang : tidak
mengapa kau tak bisa tirukan
dalam teduh
daun-daun basah

bebal di lipatan kuping
mendesak angka decibel
duhai ternyata pekak dan tuli itu
sahabat kembar
yang membatu menjadi curek
coklat tua, apek baunya

jangan coba teriak-teriak di depan kantor
dan area pemakaman
jika lupa sampaikan salam
pernahkah kau dicolek menjadi kawan :?

maka sebaiknya mulailah kau menulis
dengan huruf kapital
supaya tubuh dan nyalimu juga ikut besar

Pekok

Ada yang berjalan tanpa arah
ada yang menunggu tanpa arloji
dan berebutan mencari kunci
Padahal ia bertapa di goa kelelawar
sehingga temannnya kelelawar dari segala usia
namun lelaki ini mengidap penyakit
lupa dan pekok
yang dipiaranya sampai kepalanya botak

Selendang

Selendang dari ibu
dipakai untuk jagong dan menari
kala aku ditidurkan di bahunya
selendang ibu membesarkan pikiranku

bahwa ibu tak hanya pandai menari
tapi kuat mendorongku menjadi
orang yang bisa bicara:
tidak dan tidak


Buku Sangat Tua

: ayah
cukup dengan buku, sangat tua
aku mengenalnya lebih dari sekedar tahu
bahwa hidup yang menyala itu
tidak meski membakar kayu api
cukup seperti sampul buku sejarah Tiongkok
berkarakter tapi tetap sederhana

ayahku bukan pemahat prambanan
tapi ia melukisi aku dan saudaraku
layang-layang berkertas putih
terbang di awan yang membentang
tapi tahu jalan pulang itu tak sesat

ayahku juga bukan penyair
sehingga tak punya tabungan kata-kata
tak gampang tergoda untuk mimpi
apalagi geram menjadikannya fiksi

Gambir Pagi Buta

Apalagi kalau bukan kereta
jika bicara soal gambir dan jakarta
ia nama tempat sekaligus kata benda
yang mendahulukan hasil
daripada rencana

aku di gambir selalu diajaknya lari
melawan jakarta yang semakin
congkak dan kocak

jika seperti pagi yang kemarin
aku menidurkan mata di peron stasiun
itu sejatinya kesalahan fatal orang urban
seperti aku, yang terbang
tanpa sayap yang lengkap

Bunga Kenikir

pemilik kuning itu, tua
membawanya ke kearifan
tapi langu yang ditebar
bukan tanda bahagia

kenikir melubangi hidung-hidung
orang yang lewat di depan rumah
mereka tak tahu kecuali
daun-daunnya punya cara
menjinakkan kemauan atau sepenggal
kepentingan

aku biakkan kau sampai tujuh turunan
sebab kau telah mengalirkan harapan
seperti petang yang tak pernah punya pagi

Pemakaman

setelah jazad melebur pada leleh siang
ia membujurkan tubuhnya , ramping
sebentar lagi ada suara terakhir menyapa
“hai ke mana setelah lupa jalan nanti “
ia menjulurkan rangka dan tangan, lalu sedekap
sebelum para pelayat membawanya pergi
ke rumah terakhirnya, istana batu putih
tanpa jendela, tanpa nyala api


Pada Suatu Malam

: Fajar Suharno
tak ada casting dan akting malam itu
gagak dan burung malam saja kedinginan
dengkurnya mengoyak daun-daun bambu
mulut dan pikiran tak boleh menyalahkan

hidup di jaman batu itu, Den
tak butuh telinga, katamu
sebab kata-kata telah menjadi najis
yang airnya diminum anjing-anjing
kampung, untuk merayakan pesta kekalahan

Budhi Wiryawan, lahir di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Buku puisi tunggalnya terkumpul dalam Sripah ( 2009). Buku kumpulan puisi lainnya Spring Fiesta (Penyair 9 negara, 2013), Menyisir Senja (5 penyair, 2013), Lintang Panjer Wengi di Langit Jogja ( 90 penyair, 2014), Pengantin Langit (antologi puisi menolak terorisme, 2014), dan Parangtritis (55 penyair, 2014).

[1] Disalin dari karya Budhi Wiryawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 17 September 2017

0 Response to "Pekak - Pekok - Selendang - Buku Sangat Tua - Gambir Pagi Buta - Bunga Kenikir - Pemakaman - Pada Suatu Malam"