Ramdhan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ramdhan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:00 Rating: 4,5

Ramdhan

(Bagian 1)

RAMDHAN sedang berdiri di dalam sebuah bus Transjakarta saat ia melihat seorang lelaki berkulit kelam memasukkan tangannya ke dalam tas orang yang berdiri di dekatnya. Seketika detak jantung Ramdhan berdegup kencang. Orang ini harus dihentikan. Bagaimanapun caranya.

Skenario pertama yang terlintas dalam benaknya adalah ia berteriak “Copet!”, lalu semua orang akan beramai-ramai menangkap orang itu. Tapi bagaimana jika semua orang tak mau berurusan dengan hal seperti ini? Berarti skenario kedua adalah menghentikan copet itu dengan tangannya sendiri.

Tapi ia lalu melihat jam. Waktu sebentar lagi menunjukkan pukul 8.00 WIB. Ia teringat bahwa ia harus datang ke kantor tepat waktu atau atasannya akan marah;
lebih marah dari kemarin saat ia terlambat menyerahkan tugasnya.

Menolong orang yang kecopetan? Ah, tiba-tiba Ramdhan merasa itu adalah ide yang sia-sia. Mungkin uang yang berada di dalam dompet itu hanya 20 ribu, sungguh tidak sepadan dengan uang yang akan melayang jika ia terlambat kantor, atau bahkan dipecat dari pekerjaannya.

Mungkin, orang itu benar-benar kelaparan atau mungkin dia punya anak yang sedang sakit panas dengan suhu di atas rata-rata demam yang pernah terjadi di dunia ini; atau mungkin ayahnya baru saja mengalami kecelakaan parah dan harus segera dioperasi.

Dalam keadaan seperti itu, orang bisa hilang akal dan menempuh jalan di luar nalar untuk menyelamatkan orang yang dicintainya. Ramdhan sedang menyusun pembenaran. Bukan pembenaran bagi pencopet itu untuk melakukan aksinya; tapi pembenaran bagi dirinya untuk diam. Untuk memaklumi. Untuk menganggap tidak ada yang salah dengan apa yang dilihatnya.

Alasan-asalan itu berhasil menguasai logikanya. Jadi Ramdhan membiarkan kejadian itu berlalu. Toh semua orang diam. Semua orang bungkam. Untuk apa menjadi orang aneh yang sok pahlawan.

Pencopet itu turun dari bus. Ramdhan hanya sekilas melihat ke arah pencuri tersebut. Pandangan Ramdhan kembali lurus ke depan.


***
RAMDHAN bekerja di depan komputer di kantornya yang tampak lengang. Kepenatan tampaknya mulai menyusup ke tubuh lelaki muda itu. Seperti kedip-kedip di komputernya yang serasa melambat. Ia berdiri, memutuskan untuk pergi ke kantin kantor.

“Kopi ya, Bu,” kata dia.

Ibu penjaga kantin memberinya kopi yang biasa dipesan. Tiba-tiba Ramdhan kebingungan mencari sesuatu.

“Ada apa?” tanya Ibu kantin.

“Eh, anu… eh… mana ya dompetku?” Dada Ramdhan panas. Bagaimana mungkin bisa hilang? Apakah tadi…

“Lha itu?” Ibu kantin menunjuk tangan kiri Ramdhan yang sedari tadi memegang dompet.

“Astaghfirullah.” Ramdhan jadi salah tingkah, lalu cepat-cepat memberikan uang ke Ibu kantin.

Ramdhan tidak dapat membohongi dirinya sendiri. Ia bukan orang yang mudah memaafkan kesalahan dirinya sendiri. Kesalahan karena membiarkan orang lain melakukan kesalahan.


***
TANGAN Ramdhan kecil memegang erat ayahnya. Usianya masih 6 tahun dan dia tampak senang sekali diajak naik bus oleh ayahnya menyusuri Surabaya, kota masa kecilnya. Mereka naik bus Damri yang tidak terlalu ramai. Hanya satu dua orang yang berdiri di lorong bus. Sebagian besar lainnya, seperti Ramdhan dan ayahnya, dapat tempat duduk.

Kondektur dengan santai menerima uang dari penumpang. Namun Ayah Ramdhan tampak tidak senang dengan kondektur itu. Sang ayah memperhatikan bahwa kondektur itu tidak pernah memberikan karcis bus kepada penumpangnya. Sebuah trik lama yang digunakan kondektur untuk mengorupsi pendapatan karcis.

Kondektur itu semakin mendekat. Ramdhan melihat dengan antusias saat ayahnya mengeluarkan uang kertas untuk diberikan kepada kondektur. Baginya uang adalah sesuatu yang ajaib. Sesuatu yang langka. Apalagi uang kertas. Terkadang ia mendapat uang dari ayahnya untuk membeli jajan. Tapi uang kertas adalah benda yang setara dengan barang antik lainnya. “Aku aja, Yah, yang memberikan,” kata Ramdhan. Sebenarnya itu alasannya saja supaya bisa memegang uang itu.

Ayah tersenyum kecil. Lalu memberikan uang ke Ramdhan. Ramdhan langsung memberikan uang itu ke kondektur yang dari tadi berwajah datar. Kondektur menyodorkan uang kembalian yang lalu diterima oleh ayah.

Lalu kondektur itu beranjak pergi. Senyum dari wajah Ayah pudar. Berganti sebuah wajah tegas. Bukan seperti wajah orang yang dikuasai emosi atau bara api. Sebuah wajah tegas yang memancarkan ketenangan dan kematangan dalam berpikir dan bertindak. Ayah lalu memegang tangan kondektur itu dengan tenang sembari berkata dengan santun, “Maaf, Pak. Karcisnya?”

Kondektur itu tampak tidak senang dengan sikap Ayah Ramdhan. Tapi sepertinya dia memilih untuk tidak menolak permintaan Ayah Ramdhan. Toh dia sudah punya banyak karcis yang tidak dia berikan. Kehilangan 2 karcis saja tidak masalah baginya. Kondektur itu menyobek 2 karcis dan menyodorkan ke Ayah. Dalam gerakan hampir bersamaan, Ayah akan mengambil karcis itu ketika ternyata kondektur itu melepaskan karcis itu di udara, lalu jatuh di pangkuan Ayah Ramdhan.

Bagi kepala keluarga itu, tujuan menghentikan ketidakjujuran kondektur itu sudah tercapai. Jadi masalah etika kondektur itu bukan prioritas utamanya.

Ramdhan tidak mengerti apa yang terjadi. Dia mengambil 2 karcis Damri itu dari pangkuan ayahnya, lalu melihatnya dengan penuh kekaguman. Sebagaimana uang kertas yang adalah barang langka baginya. Tiket bus adalah barang langka yang patut disimpan.

Ramdhan kecil terus saja memandang tiket itu, lembaran kertas kecil yang tampak baru dan bernilai.


***
TIKET itu kini tampak tua, namun terlihat masih rapi, hanya sedikit lipatan di sisinya. Kini Ramdhan dewasa melihat ke tiket itu dengan berbagai perasaan di hatinya. Perasaan rindu pada ayahnya yang kini memilih pindah untuk tinggal di desa semakin menguat. Tapi itu tak bisa mengalahkan perasaan yang membuat hatinya berdegup kencang setiap melihat ketidakadilan. Ayahnya telah mengajarkan untuk bertindak sesuai prosedur dan aturan, dan menegakkan keadilan. Hal tersebut diajarkan langsung dengan teladan, bukan hanya kata-kata.

Ramdhan menarik napas panjang. Jika pun ingin menghentikan kejahatan, ia butuh persiapan. Ramdhan meletakkan tiket itu ke dalam buku catatan harian yang kertasnya sudah menguning, lalu ia berdiri, mengambil double stick yang berada di dinding kamar. Lalu ia tenggelam dalam latihan. Berbagi jenis gerakan ia latih kembali.

Serpihan-serpihan kilas balik melintas dengan cepat di kepalanya, kilasan tentang saat-saat ia pertama kali belajar bela diri di pondok bersama Fakhri dan Falah, teman seperguruannya. Serta bersama Ustaz Fauzi, guru silatnya. Ia teringat saat ia berpeluh melakukan push-up saat latihan di pondok. “Arba’ah wa sittin… khomsah wa sittin…” Ramdhan menghitung dalam bahasa Arab.

Ia pun saat ini sedang melakukan push- up. Enam puluh enam… enam puluh tujuh…

Pull-up yang kerap dikerjakan saat di pondok kini juga dikerjakannya. Antara masa lalu dan masa kini berkait-kelindan.

Tempo latihan mulai mereda. Ramdhan sedang melakukan pendinginan saat tiba- tiba hp-nya berbunyi.

“Baik, Pak,” kata Ramdhan pada orang di seberang telepon. “Sudah saya kerjakan, Pak.”

Ramdhan mendengarkan sejenak, lalu, “Baik, Pak. Jam 8…. eh… baik, Pak. Jam 8 pagi bisa saya serahkan, Pak.”


***
RAMDHAN duduk di halte. Ia meraba sejenak tasnya. Dari luar ia bisa meraba lekukan double stick yang berada di dalam tasnya. Tak lama kemudian bus datang.

Suasana bus Transjakarta pada jam itu sama saja seperti hari-hari sebelumnya. Hal terburuk dari kejahatan adalah jika berhasil melakukannya sekali maka penjahat pasti akan mengulangi hal sama. Jika pencopet yang kemarin belum insaf, hari ini setan pasti menyokongnya untuk mencuri lagi.

Lalu hal itu terjadi. Pencopet itu hanya sekitar dua meter di depan Ramdhan. Dada Ramdhan bergemuruh. Tangan pencopet itu tampak sudah memutuskan, dompet mana yang akan ia ambil. Insaflah, wahai pencopet. Insaflah. Ingat Allah. Bisik Ramdhan dalam hati. Berharap pencopet itu bisa mendengar bisikan dalam hatinya untuk menghentikan aksinya. Jika pencopet itu mengurungkan niatnya maka tidak perlu ada keributan yang terjadi.

Namun hati pencopet itu tampaknya tertutup. Tangannya mengambil dengan cekatan dompet di sebuah tas cangklong. Ramdhan baru saja akan meneriaki copet itu ketika tiba-tiba hp-nya berdering kencang. Suasana kalut membuat dering itu seolah berteriak. Dari raut wajah Ramdhan, jelas itu adalah orang yang meneleponnya semalam.

Bus berhenti, copet itu turun dengan langkah cepat. Ramdhan tahu ia masih akan bisa turun untuk mengejarnya. Tapi hp yang masih berdering di tangannya… dan janjinya semalam. Ramdhan harus mengambil keputusan. Dia tidak punya banyak waktu… (bersambung)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Taufiq Affandi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu 17 September 2017

0 Response to "Ramdhan"