Rumah Pahlawan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Rumah Pahlawan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Rumah Pahlawan

"APAKAH semua pahlawan punya rumah, Pa?” tanya makhluk mungil bermata kelinci itu kepadaku. Sosok Superman yang tadi malam kami tonton bersama kembali melintas dalam benak. Kemudian disusul Batman, Kura-Kura Ninja, bahkan juga Naruto dan Son Goku yang sering dijejalkan televisi sebagai pahlawan bagi anak-anak itu-termasuk anakku.

Aku hampir saja mengangguk sebelum kemudian teringat Papa yang tempo hari meneleponku, menyuruhku pulang ke Kradenan. Kami—anak-anaknya—pun kemudian mengatur jadwal untuk bergantian menjaga beliau di sana. Apalagi Paklik Han sudah mengibarkan rambu menyerah dalam hal mengurus kakaknya itu lantaran ia sendiri juga mulai butuh diurus. Paklikku yang masih perjaka hingga di umur kepala lima ini sudah sering mengeluh sakit-sakitan.

“Kenapa kau menanyakan itu?” sengaja kubalik pertanyaan sembari mencari jawaban yang tepat untuknya.

“Adakah pahlawan yang tak punya rumah? Yang kesepian dan kedinginan setelah selesai menolong banyak orang?”

Keningku berkerut, “Kenapa kau menanyakan hal itu juga?” merasa bahwa pertanyaan itu terlampau mendahului umurnya.

“Kalau semua pahlawan juga punya rumah, itu berarti mereka juga sering merasakan ketakutan,” ujarnya polos, seolah kalimat itu adalah kalimat biasa yang tak berarti apa-apa. “Batman kalau kalah kan pulang ke rumahnya dulu, Pa. Kura-Kura Ninja juga,” ujarnya lagi, membuatku ingin tertawa. Tapi kemudian aku tertegun menyadari kebenaran analisisnya.

“Ada apa, Pa?” tanyanya, seolah tahu bahwa aku telah tertawan kalimatnya tadi.

“Papa pernah kenal seorang pahlawan yang tak punya rumah. Entah ia pulang ke mana setiap selesai menolong kami.”

Anak itu menatapku tanpa kedip.

“Besok, pas ke rumahnya Opa, akan kuceritakan banyak hal tentang pahlawan yang ini.”

“Kenapa harus pas ke rumahnya Opa?”

“Karena di sanalah semua hal tentangnya masih bisa dikenang dengan baik.”


KETIKA sampai di rumah masa lalu, kupunguti sisa-sisa perasaan sebagai sekumpulan orang yang pernah terasing dari para tetangga. Meski Papa sudah tak segempita seperti biasanya ketika menyambutku, beliau tetaplah pusar dari segala kenangan itu. Beliau bahkan memanggilku dengan nama “Kiem”.

“Kiem siapa, Pa?” tanya bocah bermata kelinciku itu. Sebuah pertanyaan yang menggiring pada kesedihan. Terlebih Opa yang seharusnya bisa menjadi mata air atas pertanyaan itu sudah tak mengenal kami lagi.

“Dialah pahlawan yang dulu sering menolong kami di rumah ini?”

“Menolong Opa dan Oma?”

Aku mengangguk, “Kami semua.”

“Lalu di mana pahlawan Kiem sekarang berada?”

Aku menggeleng.

“Bagaimana Papa bisa tidak tahu? Apa Opa juga tidak tahu?”

“Apa di Gotham, para warganya tahu di mana rumah Batman? Apa semua warga Smallville juga tahu di mana letak rumah Superman? Mereka bahkan tidak tahu siapa sebenarnya orang yang berada di balik topeng Batman dan Superman.”

Ia terdiam dalam jeda waktu yang cukup lama. Di teras rumah, pandangannya menyapu ke segenap penjuru, seolah tengah mencari jejak-jejak yang bisa dihubungkan dengan Kiem sang pahlawan.

“Apa dulu Papa dan Opa punya musuh?” tanyanya tanpa kuduga, membuatku tersenyum kecil dalam suasana haru.

Aku lalu memulai cerita dari ketika Papa mengumpulkan rupiah pertama di sebuah pabrik kapuk di Semarang. Dulu, pohon kapuk randu masih mudah ditemukan, terutama dari daerah Grobogan dan pesisir utara Jawa. Pada masa inilah Papa kemudian bertemu dengan calon istrinya yang merupakan anak pemasok kapuk dari Jepara.

Pernikahannya kemudian berhasil mendewasakan lima anak yang komposisinya terdiri atas tiga anak lelaki dulu dan dua anak perempuan di belakang. Aku sempat menikmati masa-masa jaya Papa sebagai pegawai tetap gudang kapuk yang menyambi sebagai pedagang barang-barang selundupan, sebelum semuanya berakhir ketika huru-hara Lintang Kemukus memporandakan semuanya.

“Apa itu Lintang Kemukus?” dia menyela ceritaku.

“Bintang terang yang terlihat berpindah tempat kala siang hari.”

“Lalu, huru-haranya?”

“Opamu sudah menduga bahwa kemunculan Lintang Kemukus kali itu akan membawa huru-hara besar yang membuat susah banyak orang. Pabrik kapuk Opa yang sebelumnya mampu mengirim bahan benang tersebut ke Eropa mulai kacau. Beliau juga mulai tak bisa mengambil susu dan sabun selundupan dari pelabuhan, lantaran gerak-gerik beliau selalu diawasi….”

Aku mulai merasa berjalan ke arah lorong gelap nan jauh, yang seharusnya belum boleh diberitahukan kepada anak seumurannya. Bahwa hidup yang lapang ini kadang kala bisa menjadi begitu sempit hanya lantaran sebuah lorong bernama SARA.

“Sejak terjadinya kerusuhan besar itulah pahlawan Kiem diam-diam sering menolong kami. Diam-diam, tanpa sepengetahuan orang-orang, dia sering mengirimi kami makanan.”

“Saat itu Opa tak punya pekerjaan lain?”

“Bekerja, apa pun yang bisa menghasilkan uang, pasti beliau lakoni. Tapi kondisi saat itu memang terlampau sulit. Jika bukan lantaran kebaikan-kebaikan Opa sebelumnya terhadap orang-orang sekitar, kamu pun bahkan mungkin tak akan lahir ke dunia ini.”

Ia terdiam sejenak sebelum kemudian bertanya lagi. Seperti sudah bisa merasakan aura kemuraman pada ujung ceritaku, sehingga kemudian memilih berbelok ke arah pertanyaan lain.

“Seperti siapa rupa pahlawan Kiem itu, Pa?”

Pertanyaan ini justru melumerkan air mataku. Tak bisa kuhentikan bahkan saat menceboki Papa yang bahkan dengan kotorannya sendiri pun sudah tidak begitu hirau. Bagaimana tak? Sebab, setiap kali melihat wajah yang sudah tampak layu oleh kerut-merut itu, yang tampak adalah juga seraut wajah yang datang hanya saat malam telah melelapkan semua.

Seperti kepulangan pertamanya sejak kepergiannya yang entah ke mana. Ia datang dengan mengetuk pintu belakang rumah. Jantungku berdetak keras tiap kali melihat sekarung makanan yang ia bawa. Entah ia dapat dari mana.

Yang aku harapkan pertama kali keluar dari mulutnya, sebenarnya adalah selalu bagaimana kabarnya? Di mana ia tinggal selama ini? Apa yang ia lakukan selama ini? Apakah di sana lebih nyaman daripada di desa ini, sehingga ia lebih memilih tidak pulang?

Tapi yang keluar dari sela bibirnya hampir selalu saja tentang bagaimana kabarnya anggota Pemuda Rakyat? Bagaimana nasibnya keluarga Kamituwo? (yang dulu rumahnya sering ia jadikan tempat pidato dalam pertemuan-pertemuan pengenalan visi-misi partai) Apa saja yang dilakukan para tentara belakangan ini? Serta apakah kalian baik-baik saja selama ini?

Pertanyaan terakhir itu jelas mengandung ironi, mengingat kamilah yang seharusnya bertanya balik seperti itu. Tapi dia justru seperti tak peduli akan dirinya sendiri. Berlagak seperti Robin Hood, padahal posisinya jelas tengah menjadi pelarian yang diburu di sana-sini.

“Kau jangan pergi lagi ya, Kiem?” Papa memeluk erat diriku setelah kubantu mandi dan mengenakan pakaian. Mengingatkanku bahwa pertanyaan serupa dulu juga pernah dilontarkan untuk anak kesayangannya itu.

Aku mengangguk dengan senyum. Rencana mengajaknya menghirup udara segar di luar semakin mendapat angin segar tatkala bocah bermata kelinciku itu tersulut lagi oleh rasa penasaran.

“Mengapa Opa memanggilmu dengan nama Kiem, Pa? Bukankah itu nama pahlawan yang Papa bilang tadi? Bagaimana bisa…?”

“Seorang pahlawan bisa saja dianggap sudah mati oleh orang lain yang menganggapnya penjahat, Nak. Tapi seorang pahlawan akan tetap hidup di hati dan pandangan mata orang-orang yang menganggapnya pahlawan.”

“Jadi, apa pahlawan Kiem masih hidup?”

Kuputar ulang ingatanku mundur ke belakang. Ke masa tatkala rasa persaudaraan kami si lima bersaudara benar-benar diuji. Tan Kian Kiem, Tan Kian Swan, Tan Kian Lian, Tan Kian Nio, dan si bungsu Shianawati yang lahir setelah kami semua memiliki nama pribumi, yang kadang-kadang kami benci lantaran mengingatkan kami akan kerbau-kerbau yang harus tunduk pada tali cucuk.

Desember 1960 adalah bulan ketika Papa dan Mama resmi memilih menjadi warga negeri ini setelah setahun sebelumnya pemerintah mengeluarkan peraturan perihal dwikewarganegaraan. Ketika kami bertanya tentang nama-nama baru kami itu, Papa selalu bilang demi keamanan. Meski begitu, Kiem tetap saja luput, dan enam tahun kemudian Papa tetap kena stempel ET (lantaran sebuah celana warna hijau yang kerap ia pakai saat ronda dulu, padahal beliau tak pernah terpaut dengan pergerakan partai apa pun).

“Para tentara itu menyangka Papa adalah anggota Pemuda Rakyat,” ujar beliau sepulang dari wajib lapor setelah penggeledahan paksa.

Hingga kemudian kami mulai tahu siapa yang sebenarnya mereka incar.

Namun Papa bilang bahwa kami harus tetap jaga diri. Dari nasihat-nasihat beliau berikutnya aku mulai bisa menerka bagaimana nasib Kiem, yang tak pernah kembali untuk memastikan keadaan kami, betapa pun Papa sering membohongi kami, dan terutama dirinya sendiri, dengan ucapan, “Dia sudah aman dan enak di rumah barunya.”

“Jadi, pahlawan Kiem masih sering kemari menjenguk Opa, ya Pa?” bocah bermata kelinci itu kembali mengulangi pertanyaan yang menyesakkan itu.

Tapi toh kumaklumi jua dengan mengucek rambut lidinya, “Masih, masih. Bahkan dia sudah tinggal bersama Opa, di sini,” kutunjuk dadaku. Betapa pun, saat kulihat Papa, ia seperti sudah kehilangan segala-galanya. Bahkan dirinya sendiri.

Kalinyamatan – Jepara, 2017

Adi Zamzam lahir pada 1 Januari 1982, tinggal di Desa Banyuputih, Kalinyamatan, Jepara, Jawa Tengah. Selain menciptakan cerpen, ia menulis esai dan resensi buku. Bersama kawan-kawannya, saat ini ia sedang aktif mengawal berdirinya sekolah kepenulisan Akademi Menulis Jepara.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adi Zamzam 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 9 - 10 September 2017 

0 Response to "Rumah Pahlawan"