Senggigi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Senggigi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:33 Rating: 4,5

Senggigi

Tak kusangka jika aku tiba-tiba berada di Pantai Kuta. Kutahu dari kawanku Ngurah Parsua bahwa akan diadakan pesta di pantai Kuta. “Pesta apa?” suaraku penuh keingintahuan lewat telepon internasional dari Jakarta.

“Pesta penangkapan ikan nyale,” suara Ngurah dari Denpasar.

“Nyale?” aku belum pernah dengar kata itu. Begitu asing di dalam telingaku. “Diadakan di Pantai Kuta di Bali?” aku terus bertanya lagi.

“Bukan di Bali,” suara Ngurah medok dengan gaya Balinya yang khas. “Masak kau tak tahu bahwa ada Pantai Kuta di Lombok?”

“Kau jangan bikin guyon,” aku merasa dipermainkan. “Kalau Kuta di Bali aku pernah datang sekali. Tetapi Pantai Kuta di Lombok, belum kutahu, Ngurah,” aku berkata dengan dungu, dengan nada rendah.

“Datanglah, kawan,” suaranya penuh tekanan. “Sekalian berlibur, rengsa dari kerja. Jangan forsir tenaga. Kau bisa punya inspirasi untuk menulis puisi.”

“Kau benar-benar tak mempermainkan aku?” suaraku jadi serius. “Pesta apa gerangan yang kau maksudkan?”

“Begini, Hadi,” suaranya mantap lewat kabel saluran internasional dari Bali, “di Pantai Kuta di Lombok ini, setiap tahun diadakan upacara penangkapan ikan nyale yang dikatikan dengan legenda Putri Mandalika. Itulah sebabnya Pantai Kuta di sini dikenal dengan nama Pantai Putri Nyale.”

“Tentu pestanya diadakan secara tradisional?” aku ingin tahu lebih lengkap informasi dari Ngurah. “Akan banyak turis yang datang?”

“Soal turis aku tak tahu,” suara Ngurah terdengar berdesah. “Tetapi mengenai upacaranya sendiri, tentu akan menarik perhatianmu sebagai manusia madatan seni.”

Kudengar suara tawa Ngurah. Tawa seorang kawan setia.

“Agar lebih lengkap dan terperinci, kau datanglah sendiri. Nanti kau pasti akan tertarik menyusuri jajaran pantai yang indah. Hatimu akan terheran melihat Pantai Seger, Tanjung Bunut, dan Tanjung Aan.”

“Tunggulah aku di Bali,” suaraku seperti seorang anak kecil yang menginginkan permainan. “Aku akan segera datang, besok hari.”

Tak kupikirkan bahwa aku bukan penganggur yang setiap saat dapat lepas dari pekerjaan. Bukan juga seorang pensiunan, belum lagi naik jadi boss, hingga dapat setiap saat membolos. Aku hanya seorang kuli tinta, baru seorang kuli biasa. Akan tetapi dengan pengalaman “kuli” ini aku dapat bergerak cepat, terbiasa dengan pekerjaan yang dilakukan secara tergesa-gesa.

Kukatakan pada Ningsih agar aku dibuatkan surat tugas ke Bali dan Lombok. Aku akan meliput upacara “penangkapan ikan nyale”.

“Surat tugas?” sekretaris itu menatapku tak berkedip. “Bapak Pimpinan sudah menyetujui?”

“Belum,” kukatakan dengan jujur, “tetapi aku akan bicarakan. Peliputan ini sangat penting.”

“Tetapi Pak Hadi belum melunasi bon kuitansi waktu perjalanan minggu tadi. Sekarang ada peraturan, sebelum ada pertanggungjawaban, tak ada wartawan yang diperkenankan pergi.”

“Itu gampang saja,” kukatakan sambil tertawa. “Lima menit juga dapat kubereskan.”

Segalanya lancar, hingga aku tiba di Denpasar.

“Kau tahu upacara itu dari siapa?” aku bertanya kepada Ngurah. “Kita berdua ke sana?”

“Aku tahu dari Putu. Kali ini aku tak dapat meninggalkan Bali,” Ngurah menatapku seperti menyesali. “Itu sebabku aku telepon kau. Atau Hadi berangkat bersama Basuki?”

Tiba-tiba kuingat kawanku Basuki. Dahulu semasa kuliah, kawanku itu amat getol menggoda para mahasiswi yang jelita. Akan tetapi setelah ia bertugas di universitas, kudengar ia telah bertobat. “Kau mau berangkat bersama Basuki?” Ngurah menatapku menanti jawaban. “Atau cukup bersama Putu?”
Ya, kuingat sudah. Putu ada di Lombok. Atau Kusuma? Dahulu, kuingat kawanku Kusuma, masih turunan ningrat dengan gelar Lalu. Paling akhir kudengar ia telah menjadi orang, setelah lama kuliahnya tergantung, karena tiba-tiba ia mengangkat dirinya menjadi nabi.

Kuingat, kawan-kawan di Yogya pada tertawa, bagaimana seorang mahasiswa psikologi tiba-tiba mengangkat dirinya menjadi nabi? Apakah ia telah miring ke kanan atau ke kiri? Kalau ratusan tahun yang lalu terjadi, mungkin tak apa, tetapi ini, sekarang ini, di abad teknologi. Bagaimana mungkin lahir seorang nabi?

Namun syukur, kudengar, Kusuma, telah mapan di Cakranegara. Akankah aku ke sana bersama Putu? Atau aku cukup menemui Ni Luh Sukesi, teman kuliahku dari Bali yang sekarang ini menetap di Mataram?

Dengan Garuda gampang saja aku mencapai Rembige. Tadi kawanku Ngurah melepaskanku di Ngurah Rai, sambil melambai, suaranya sayup kudengar, “Jangan lupa mampir ke rumah Ni Luh Sukesi.”

Teringat Kesi segera kuingat surat-suratnya yang hangat. Sekali waktu ia menulis, “Mengapa Mas Hadi hanya sampai di Bali? Mengapa tak mau sampai di Lombok dan Sumbawa? Di Lombok ini akan tampak wajah Bali, tetapi tak akan Mas Hadi temui wajah Lombok di Bali.”

Kutulis balasan, “Aku lebih suka menatap wajah Kesi.”

“Wajahku akan berubah menjadi tua,” tulisnya kemudian. “Tetapi wajah Smbawa akan selalu tetap muda. Kapan Mas Hadi kemari? Kita dapat pergi ke Puncak Rinjani, melihat Segara Anak. Atau kita terbang ke Brangbiji?”

“Jangan seenaknya saja kau menyuratiku, Kesi. Kau tak memikirkan perasaan suamimu. Anakmu sekarang berapa?” suratku yang kulayangkan kemudian. “Bagaimana dapat kautinggalkan Mas Kamdi dengan anakmu? Bagaimana mungkin kita dapat pergi berdua saja? Kutakingin ada sesuatu yang berantakan!”

“Justru Mas Kamdi yang memintaku mengundang kau kemari, Mas Hadi. Sejak dahulu, kau sudah kami anggap saudara sendiri. Mengapa tiba-tiba bercuriga?” surat itu melenyapkan keraguanku. “Kalau bukan aku atau Mas Kamdi, ‘kan kau sudah banyak teman di sini, Mas Hadi.”

Tak kurasa jika aku telah berada di sini, di Suranadi bersama Kesi dan Mas Kamdi. Pura yang menawan, mata air dan ikan tuna yang menggelepar dalam kolam di kawasan pegunungan berhawa sejuk. Siliran angin yang isis bersama panorama yang molek dilihat mata. Tadi telah lewat Gunung Pengsong dan kulihat di sana ada pura pada puncak bukit yang cukup tinggi. Panoramanya yang berhiaskan ratusan kera merupakan keunikan tersendiri.

Kemarin telah berlalu upacara “nyale” yang unik. Aku senang dengan apa yang dapat kulihat di tanah air. Betapa kaya tatanan budaya bangsa yang aneka rupa. Sehingga kusimpan slide dan kurekam bahasa yang tak kuketahui artinya. Terdengar lucu jika pita kaset kuputar, sebagaimana terdengar lucu saat aku memutar suara belian yang kurekam di kampung Mantar di pedalaman Kalimantan. Kubuat foto berwarna dengan sudut ambil yang berbeda-beda, sebagaimana kuambil foto menhir di pedalaman Sumbar dan Sulteng. Namun selepas upacara “nyale” di sini, di Batu Bolong, pantai yang mengingatkan aku pada Donggala. Namun di sini ada pura, dalam senja, matahari seperti termenung kalau dilihat dalam bayangan Gunung Agung.

Selalu aku asyik dengan apa yang kusuka. Jika kuingat kerjaku, sering aku termenung sendiri. Kawan-kawan sekolahku banyak menduduki berbagai jabatan enak dan menyenangkan, tetapi aku tetap melayang dalam angin, melangkah dari satu tempat dan daerah, ngelayap bagaikan rayap di tempat-tempat lengang dan penyap. Di antara dentuman perang dan desingan peluru, kadang aku sangat menyabung nyawa, membuat aku sering heran ternganga, mengapa aku demikian berani bertaruh terhadap kesukaan yang tak berupa. Kadang naik oto atau sepeda, tidak jarang aku berjalan kaki, mengarungi pulau dan benua, kadang ikut airbus yang mewah ke tempat-tempat unik kujelajah. Hingga aku kehabisan selera dan terhenyak lelah!

Kemarin, kisah Putri Mandalika sangat merangsang impianku pada legenda. Kuikuti segala upacara, kutahu bahwa semuanya hanya berhenti pada tradisi, melukiskan suatu adat dan kebiasaan, tetapi aku suka pada yang antik dan kuno. Juga aku suka pada yang hidup, pada gerakan ke depan, sehingga aku suka pada alam rekreasi. Kunikmati Pantai Sire di sini, di samping Pura Miru di Cakranegara, Taman Narmada, dan Taman Mayura.

Semuanya baru kulihat. Meskipun aku sering bepergian, tetapi baru kini aku berkesempatan menikmati Pulau Lombok. Menikmati tenunan tradisional di Sukarare dan Rambitan. Menikmati musik Genggong, meliuk dalam Tarian Gandrung serta berbicara dalam kelantangan pertunjukan Cupak Gerantang.

Ah, semuanya membayangkan keindahan tanah air tercinta. Begitu kaya dengan segala nilai budaya. Sebagaimana kayanya hati yang sedang mencinta.

Duilah!

Kukejar gadis penari yang rasa-rasanya pernah kukenal beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi begitu cepat ia pergi selepas menari, tak sempat kukenal, tak sempat kudengar suaranya. Ia begitu saja menyelinap di antara pengunjung dan hilang di balik panggung. Tak kutampak lagi ia muncul, sementara seleraku jadi hambar menikmati segala pertunjukan yang disuguhkan kemudian.

“Siapa penari Gandrung barusan?” aku bertanya kepada salah seorang pengunjung. “Orang sini?”

“Namanya Ni Luh Suwandari. Orang sini ….”

“Ni Luh Suwandari?” aku serasa disengat kalajengking. “Ia sekarang menetap di Mataram sini?”

Beberapa pasang mata memandang kepadaku dengan curiga.

Hatiku berdetak dengan hebat.

Mungkinkah ia Ni Luh Suwandari yang kukenal dahulu?

Ah. Lebih dari sekadar kenal. Ia adalah kekasih. Bahkan lebih dari kekasih. Ia dapat kusebut istri. Bukan! Calon istri. Kuingat saat mulai ia kukenal, saat ia menari di Karta Pustaka. Hatiku seperti disiram dengan bensin yang disulut api, jadi marak menyala, hingga kudatangi sehabis ia melukiskan gerak akhir dari kisah cinta yang diliukkan dengan gerakan tangan. Kujabat jemarinya yang lentik halus, kukenalkan namaku, dan kuingin tahu namanya.

“Ni Luh Suwandari,” mulutnya yang mungil itu berucap bergitu merdu, semerdu petikan gitar, semerdu lagu-lagu cinta yang ditulis dalam baris-baris puisi balada.

Kulebih kenal ia saat kami sama-sama bermain dalam sandiwara gereja. Sebagai Maria ia membopong boneka putih dan aku mendukungnya untuk naik kuda. Rasanya ingin kudukung ia terus, sehingga adegan jadi kacau, dan sutradara berteriak membentak aku.

Aku tak merasa malu karena adeganku yang berantakan, sebagaimana juga aku tidak merasa malu bertandang ke rumah Ni pada esok hari.

“Sebagai orang Bali bagaimana kau dapat menghayati peran Maria?” aku bertanya sembari memandang wajahnya. “Peranmu dapat kau mainkan dengan sempurna, Ni.”

“Apa pun dapat dilakukan dalam sandiwara. Kecuali kehidupan,” suaranya tiba-tiba sangat serius. “Mengapa Mas Hadi juga mampu menjadi Yusuf dalam sandiwara gereja?”

“Aku sering menjadi Yusuf, dan aku bosan jadi Yusuf di sandiwara. Kuingin Yusuf sungguhan,” aku berkata sambil tertawa.

“Siapa yang melarang?” suaranya begitu tenang. “Tinggal pilih Mas Hadi. Yang cantik jempolan seperti bidadari.”

“Kalau yang kupilih itu Ni Luh Suwandari?” suaraku kutenangkan sendiri, meskipun sebenarnya dadaku penuh debaran.

“Mas Hadi jangan berolok dan menghina,” ia berkata sambil tertawa. “Seburuknya Ni, wanita yang sesungguhnya wanita ingin sesuatu yang bukan sandiwara.”

“Kukatakan ini di rumahmu, Ni. Bukan di aula tempat kita latihan sandiwara gereja. Kukatakan sebenarnya, Ni. Kau sendiri mengapa bisa berada di gereja?”

“Kukenal Pendeta Benda. Kau sendiri kenal dengan beliau?”

“Kukenal pimpinan pemuda. Pada pendeta, kutahu juga. Kau sendiri bukan jemaat di situ?”

“Aku Hindu Bali.”

“Aneh, Ni. Kau mahasiswi apa?”

“Sastra ….”

Demikianlah kukenal ia lebih dari aku mengenal Ni Luh Sukesi. Jika pada Kesi aku mengenal sebagai kawan biasa, tidak demikian pada Suwandari. Kurasa aku menemukan siapa yang kuidamkan untuk menjadi teman sepadan.

Itulah sebabnya jika lama kemudian aku dengan penuh keberanian menyampaikan lamaran.

“Kuingin kau menerima sepenuh diri,” suaraku terdengar pasti. “Bukan karena kita pernah bermain dalam sandiwara gereja?”

Kulihat wajahnya murung.

“Hatiku menerima semenjak pertemuan pertama,” suaranya seperti tanpa nada. “Tetapi persoalanku sangat berbelitan. Aku takut Mas Hadi jadi terlibat dalam masalah yang bukan masalah Mas Hadi.”

“Apa saja kita selesaikan berdua,” suaraku seperti suara seorang pahlawan kesiangan. “Apa sesungguhnya persoalan yang menimpa?”

Ni berdiam diri dan terus diam hingga aku minta diri. Lama kemudian kudengar dari Sukesi, orang tuanya tidak setuju hubungannya denganku. “Kalian berlainan jalan,” Kesi berkata kepadaku. “Lagi pula Ni sudah dijodohkan dengan sepupunya sendiri.”

“Soal jalan tidak sulit diselesaikan,” aku berkata dengan penuh tekanan keberanian. “Juga soal pertunangan. Bukankah kami sudah cukup dewasa, disebut pula mahasiswa?”

Akan tetapi persoalanku tak pernah selesai hingga kuliah kami sama-sama selesai. Kami saling mendesak, tetapi tak ada jalan keluar yang benar, hingga sesuatu yang tak direncana terjadi. Bukan karena aku diusir sebagai anjing kurapan, tidak juga karena aku dibinasa sepupu Ni yang telah dijodohkan, tetapi karena aku ingin membuktikan bahwa aku memang jantan dan pasti akan menemukan pekerjaan.

“Kau tidak menyesal atas kejadian pada kita,” aku berkata seperti aku berkata kepada diriku sendiri. “Ni punya jalan dan pilihan?”

“Kalau kau menyesal, aku juga. Kalau tidak, ya, sama-sama tidak. Padaku hanya ada dua pilihan, ya atau tidak. Dan aku tak pernah menyesal kemudian,” suaranya jadi begitu jantan. “Aku penari yang meliuk dengan hati.”

Kukecup ia dengan kecupan keberanian. “Aku juga takkan lari dari kenyataan,” aku berkata dengan gagah berani. “Jika besok aku ke Jakarta, aku merintis jalan untuk kita.”

Sekali lagi kukecup Ni.

Surat-suratku tak satu pun yang dibalas dan saat tiga bulan kemudian aku menginjak rumahnya di Yogya, aku disambut dengan gamparan ayahnya. “Anjing berani lagi kemari?” suara itu benar-benar mengagetkanku. “Pergi! Pergi sebelum kubunuh mati!”

Tak kutahu persoalan sebenarnya, walau memang kutahu mereka tidak menyukaiku. Rasa asin pada lidahku, menandakan bahwa bibirku berdarah. Aku melangkah ke rumah Kesi.

“Ni Luh Suwandari telah dikucilkan. Karena kamu,” suara Sukesi sambil menatap wajahku yang membiru. “Kau baru habis berkelahi?”

Kukatakan bahwa aku dibencana.

“Itulah yang membuat Ni pergi. Mungkin sekarang ia ada di Bali.”

Aku berlari ke Denpasar, tetapi tak kutemukan gadis kekasihku itu. Tak juga di Singaraja dan Buleleng. Kucari di Amlapura dan Jemrana, tetapi tak kutemukan pada seluruh alamat yang diberikan Kesi. Sampai aku balik ke Yogya, sampai aku pulang ke Jakarta. Enam tahun lamanya tak kudengar kabar berita. Kecuali dahulu, surat Kesi mengatakan bahwa, “Ni dikucilkan dua kali. Pertama karena kau, kedua karena ia menjadi pengikut Benda.”

Aku jadi sangat penasaran. Kasihan gadis yang begitu ayu dan cerdas, gadis yang berkata-kata lewat bunyi dan gerak. Yang meliuk dalam ayunan musik dalam tarian, mesti menemukan nasib yang tak berketentuan. Semuanya karena aku. Karena kami bertemu pada sandiwara gereja.

Tak kusesal pertemuan, yang kusesal mengapa nasib dan takdir membawa kami berpisahan. Mengapa hati yang saling bertemuan harus dipisahkan oleh hati lain yang berkerut keberatan? Mengapa bukan kami sendiri yang menentukan?

Akan tetapi kini bagiku sendiri rasanya peristiwa silam menjadi tuah, karena tak seorang pun yang dapat mengikatku. Dapat saja aku merayap tanpa gendala, jika ingin terbang, aku akan melayang bagaikana burung menempuh lautan awan. Aku dapat pergi semau diri, bahkan aku tak punya ketakutan jika sekali waktu aku di-PHK karena aku lebih banyak menuruti ke mana hati suka. Sebagaimana perjalananku ke Bali dan Lombok kali ini?

Karena Kamdi dan Kesi tak dapat menemaniku, aku terpaksa berangkat sendiri ke Senggigi. “Upacara penangkapan ikan nyale dan rekreasi telah kutuntaskan,” aku berkata pada Mas Kamdi. “Slide dan foto berwarna telah banyak kupunya. Kali ini Senggigi. Tinggal hanya Senggigi yang belum kunikmati.”

“Hanya dekat saja, Mas Hadi,” suara Kesi di dekat pintu kamar mandi. “Maafkan, kami tak dapat mengantarkan.”

Aku berangkat sendirian.

Memang indah Senggigi. Kilauan pasir putih yang tertimpa cahaya surya seperti memantulkan impian masa muda. Gosong-gosong karang menciptakan irama ombak bagaikan irama kecapi surga. Antara angin dan suara segara, seperti musik yang dipetik tangan dan jemari para dewa. Ada lantunan yang menggebu, ada deburan yang bersuitan, ada desahan yang mengandung desau. Semuanya bersatu dalam harmoni alam yang terus memetik dawai-dawai tak kelihatan.

Aku menyusur tepi dan terus memoto sesuka hati. Beberapa orang saling tak menghiraukan, beberapa penjaja makanan mencoba menawarkan dagangan. Belum lapar sesungguhnya aku, akan tetapi aku tertarik pada seorang bocah mungil berpita merah. Wanita lain di dekatnya, mungkin ibunya, dan mulut bocah itu menderukan lagu, seperti bersaing dengan deburan ombak lautan. “Di sini kami, Ibu dan aku. Di sini kami, di tepi lautan biru.”

Suaranya begitu sendu.

“Menyanyi lagi anak manis. Menyanyi lagi,” sembari kudekati mereka berdua. Wanita itu menatap laut. Tak acuh. Matanya seperti menatap sesuatu yang kosong dan jauh tak terjangkau.

Aku terus melangkah dan mataku terus memandang, sementara lagu bocah ayu terus menderu bersama deru lautan biru.

Astaga!

Saat mataku bertemu dengan mata wanita itu, kami sama-sama merasa seperti jatuh dari langit. “Kau di sini, Ni?” aku seperti berteriak, meski suaraku tersekat di kerongkongan.

“Kau juga, Mas Hadi? Mengapa kau menemui aku di sini? Mengapa tidak di Yogya atau di Singaraja?”

“Tak kutemukan, Ni. Tak kutemukan. Aku sudah mencari. Enam tahun aku mencari, tetapi tak pernah kulihat bayanganmu pun, Ni.”

“Aku dibuang di Mataram!”

“Dibuang?”

“Karena ulah kita. Lihat sendiri, Mas Hadi. Bocahmu, lima tahun usianya. Lihat wajahnya. Wajahmu sendiri ….”

Hatiku menangis. Bocah begini manis mengapa menemui nasib pengucilan? Tahukah ia aku ayahnya?

Kuangkat dagunya dan kulihat bola matanya.

“Memang wajahku sendiri, Ni. Siapa suamimu?”

“Mas Hadi. Yang lain tak akan pernah ….”

Kupegang tangannya. “Kau masih sungguhan?”

“Seorang penari berkata dengan gerak. Dan gerak sesungguhnya gerak adalah hati. Ni selalu berkata dengan hati.”

Kutuntun ia pada pantai berpasir putih. “Masih banyak jalan bagi kita. Tiba-tiba saja aku datang dari Jakarta karena upacara nyale. Tiba-tiba saja kita bersua di sini di Senggigi. Tiba-tiba saja kau akan segera kusebut istri.”

Kurasa pegangan tangannya seperti dahulu, saat mesra di Yogya. “Kau menangis? Mengapa kau menangis? Tak pernah aku datang untuk menyakitkan, Ni. Tidak!”

“Aku selalu membuat salah, Mas Hadi. Ayah Ibu selalu tak pernah memahami hatiku. Tak pernah memahami pilihanku.”

Kutuntun ia kutuntun putriku.

“Aku belum memiliki dan dimiliki siapa-siapa. Kini kutemukan milikku. Dua milik sekalian.”

Kurasakan getaran senggukan.

“Kau masih menerimaku?”

Tak kudengar suara selain deburan ombak. Akan tetapi getaran senggukan makin terasa keras.

Bahkan hingga senja, saat kuajak ia dan gadis berpita merah untuk pulang, tak kudengar satu pun kata jawaban. Yang kurasakan adalah getaran seperti dahulu, getaran bunyi tanpa suara. Getaran tarian seperti saat kujabat tangannya di Karta Pustaka. Dahulu, ya, dahulu sekali, saat mataku pertama melihat ia menari.

Matahari yang susut pada laut menciptakan suasana begitu teduh dan peka, seperti menciptakan mimpi pada dataran hati. Kugenggam tangan wanitaku, dan kugandeng gadis mungil, gadisku sendiri. “Kungin kita segera bersatu di depan penghulu,” suaraku kudengar sangat meyakinkan. Kuingat kawanku Kusuma di samping Kesi dan Kamdi. “Sebelum kuboyong Ni ke Jakarta, kita akan bersatu. Banyak kawan di sini akan membantu ….”

Waktu seperti penyap dan terbanting.

Yang kurasakan, ada sesuatu yang menghentak, dan segera membuat kepalaku pusing. Dunia serasa dipenuhi gulita. Lamaaaaa. Lama sekali. Sampai kurasakan sesuatu yang putih merata.

Ya, Allah!

Mengapa aku di sini, di kamar putih. Kurasakan badanku remuk redam. Ingatanku seperti dituntun pada senja puisi Pantai Senggigi. Beberapa orang menyerangku, dan menyerang Ni serta gadis mungil. Tak mampu kulawan karena kawanan bersenjata itu mengayunkan palu godam pukulan dengan kayu dan benda tajam. Sempat kulihat Ni berkutet membela diri. Selebihnya kutaktahu lagi.

Kurasakan badanku sangat kaku.

Ya, Allah! Tangan dan kakiku terantai besi!

Aku sedang bermimpi? Ada apa dengan diriku ini?

Tak sempat aku berpikir, tiba-tiba telingaku menangkap suara seorang pasien di ujung, di dekat jendela mengucapkan kalimat-kalimat dari koran lokal dengan nada keras, seperti ditujukan pada pasien lain.

“Sungguh ngeri kejadian dua hari yang lalu. Seorang wanita dengan anaknya dibunuh mati oleh kawanan perampok bersenjata di Pantai Senggigi. Anak itu bernama Meti dan ibunya bernama Ni Luh Suwandari. Untung salah seorang perampok dapat dibekuk karena perlawanan wanita yang pernah belajar ilmu bela diri. Sekarang perampok yang tertangkap sedang dirawat di salah satu rumah sakit di kota ini. Namanya: Hadi!” Kurasa tubuhku sangat lemas.

Gelap.

Sekitarku jadi sangat gelap gulita ….”[S]

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Korrie Layun Rampan
[2] Pernah tersiar di "Majalah Suasana" edisi No. 09/JANUARI/1988

0 Response to "Senggigi"