Tamu Masa Lalu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tamu Masa Lalu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Tamu Masa Lalu

PRIA itu seperti datang dari masa lalu. Ia hadir dan berdiri di depan pintu gerbang rumah dengan wajah murung pada suatu sore yang tua. Lastari yang menyadari sempat tergeregap, lalu matanya memanas. Lastari mendadak ingin menyatakan suatu hal yang terus dia pertanyakan sepanjang hidup belasan tahun terakhir kepada pria itu. Namun karena rasa tidak percaya atas apa yang dia bayangkan, Lastari tidak dapat mengatakan seluruh kata yang tersimpan. Lastari hanya mendekat, menjabat tangan pria itu, membawanya masuk ke rumah.

Di mata Lastari, laki-laki itu, Tarno, mengalami kemunduran hidup luar biasa. Lastari sudah tidak lagi menemukan sorot mata cerdas Tarno. Tubuh Tarno kurus. Kering. Lastari bahkan bisa melihat tonjolan tulang-tulang di beberapa bagian tertentu. Wajah Tarno terlihat murung. Di wajah itu seakan menggelayut beban berat. Itu Tarno yang dahulu tak pernah kehilangan kata-kata dalam menyatakan sesuatu, kini hanya setia dalam relung kebisuannya. Semua kebaikan dalam diri Tarno seakan telah direnggut. Mungkin semua itu telah dicuri oleh kekuasaan atau kezaliman zaman yang tak bisa dia lupakan.

Bahkan kini terlihat ada sikap hati-hati yang tertangkap dari setiap gerak dan lirik matanya. Seperti ketika Tarno mengawasi setiap benda di dalam rumah Lastari; mengamati setiap sudutnya. Seolah di rumah itu ada mata-mata atau penguping yang mengutit, kemudian kembali merenggutnya dari dunia bebas. Lastari sadar atas semua itu. Lastari tidak mengusik atau menanyakan. Lastari, ketika melihat semua ketakutan Tarno, hanya dapat mengingat peristiwa jauh pada masa lalu. Kejadian yang berusaha Lastari ikhlaskan dan maafkan. Peristiwa mengerikan yang telah mengubah jalan hidup Lastari dan banyak orang di negeri ini, termasuk Tarno.

Lastari menatap wajah Tarno. Kemudian Lastari meraih tangan pria itu. Lastari ingin menyatakan sesuatu. Namun sekali lagi Lastari masih menahan. Lastari malah menundukkan wajah. Mungkin berusaha mengumpulkan kekuatan dalam dirinya. Ketika kekuatan itu terkumpul, dia menatap wajah Tarno lekat. Lastari berujar, “Sudah lama. Dan aku kira, kau….”

Lastari kembali menekuk wajah ke lantai. Pria itu tidak menjawab. Mereka bagai sedang berusaha memaafkan diri sendiri, memaafkan kelaliman zaman setelah kudeta politik 1965.


***
PERTEMUAN ini seperti kutukan yang tak pernah Lastari harapkan. Wanita itu tidak pernah menyangka, Tarno, suaminya yang malang: masih hidup. Lastari mengira Tarno telah menjadi korban dan meninggal tanpa diketahui kuburannya. Karena bisa saja, dahulu, Tarno dibunuh secara keji seperti sering dia dengar. Pada 1965-1969, bisa saja Tarno dibakar hidup-hidup; disembelih lalu mayatnya dikubur di suatu hutan tak bernama di pelosok negeri. Mungkin juga ditembak di tepi sungai dan mayatnya dibiarkan jatuh ke arus air hingga dagingnya habis dikerikiti ikan. Semua itu terbayang jelas di benak Lastari selama bertahun-tahun. Dan Lastari, karena bayangan-bayangan itu, menganggap Tarno sudah lama meninggal: terkubur tanpa nisan dan peziarah.

Lastari tak dapat memungkiri pertemuan ini sebagai mukzizat. Lastari memang tidak bisa mengingkari semua kenyataan pahit itu. Akan tetapi, terus mengenang memori pahit itu adalah cara dia bersetia pada suaminya: Tarno. Karena di dalam hidup Lastari tidak berusaha menghapus semua ingatan muram mengenai kepergian Tarno belasan tahun lalu. Memang kemalangan hidup pada masa yang berat itu; sampai detik-detik terakhir menyedihkan ketika Lastari harus berpisah dari Tarno merupakan pilihan untuk mencintai suaminya. Begitu juga malam itu. Suatu malam yang selalu dikenang Lastari sebagai malam paling murung; malam ketika Lastari terakhir bersama Tarno.

Lastari masih dapat mengingat jelas peristiwa itu. Belasan tahun lalu. Ketika hujan serta badai menggempur kota. Tidak tertinggal wajah lusuh Tarno. Pria itu pergi karena namanya masuk daftar pencarian orang yang harus ditumpas. Sebenarnya Tarno berat meninggalkan Lastari. Namun karena tidak ingin membuat Lastari dan anaknya yang masih balita masuk liang kutukan, ia memutuskan meninggalkan mereka. Tarno dan Lastari tahu: keluarga anggota partai yang dianggap sesat oleh negera akan ditumpas sebagai wujud “bersih lingkungan”. Setelah berdebat sengit, Lastari akhirnya mengikhlaskan Tarno pergi; meninggalkan rumah untuk kepastian yang tidak menentu, ke sebuah kezaliman lain yang mungkin jauh lebih mengerikan. Lastari hanya bisa berdoa agar suaminya selamat hingga konflik politik redam.

Akan tetapi mengharapkan semuanya baik, sama seperti mengharapkan hujan di tengah gurun kering. Bahkan Lastari, secara tidak langsung, merasakan penderitaan Tarno. Sepeninggal Tarno, Lastari mengalami krisis yang benar-benar parah. Lastari juga sering didatangi prasangka mengerikan mengenai keadaan Tarno. Hampir setiap hari di kompleks rumahnya selalu diembuskan kabar muram mengenai anggota partai terlarang itu. Lastari mendengar banyak nama mati tertangkap dan terbunuh setiap hari. Lastari hanya bisa berharap pada sang nasib agar nama Tarno tidak pernah disebut dalam deretan anggota yang tertangkap dan terbunuh.

Saat waswas terkadang Lastari tidak habis mengutuk penguasa. Lastari tidak pernah tahu apa kesalahan suaminya. Tarno, yang Lastari kenal, adalah pria baik. Bahkan soal anggota partai yang dianggap tak beragama, Lastari tidak menemukan satu konteks yang tepat untuk mengaitkannya. Dalam ingatan Lastari, Tarno guru mengaji yang baik. Tarno ayah dan imam yang terhormat. Ketika Tarno dianggap sebagai pembelot ajaran moral, Lastari tidak bisa memahami semua itu. Lastari menganggap penguasa saat itu sedang mabuk. Penguasa sedang ingin bermain-main dengan rakyat. Permainan maut yang menciptakan sungai darah di mana-mana.

Beberapa kawan Tarno misalnya, yang Lastari tahu, meninggal secara tragis. Suto contohnya. Dokter tua baik hati dan tak pernah punya pamrih itu mati kehabisan darah setelah alat kelaminnya dipotong dengan alat-alat kedokteran yang dahulu dia gunakan menolong orang. Tukul, penyair yang acap datang ke rumahnya untuk sekadar duduk dan menikmati kopi, mati setelah dua bola matanya dicabut dan lidahnya dipotong. Kini, Tarno yang hanyalah guru agama di desa kecil, dirampas. Masih banyak memang hal keji lain terjadi. Tidak tertutup kemungkinan juga suatu malam Lastari diciduk seperti istri anggota partai. Namun apabila itu terjadi, Lastari bersedia mati demi suami yang dia cintai. Kenyataan yang ditunggu-tunggu Lastari tak datang. Malah yang datang hal lain. Suatu pagi datanglah sahabat Tarno: Supri. Pria itu datang dari kota untuk mengabarkan pesan titipan Tarno kepada Lastari. Dengan rasa cemas menggelegak dahsyat, Lastari menunggu kabar yang disimpan Supri. Supri menyatakan pada Lastari, lebih baik tak usah menunggu Tarno lagi. “Tarno berpesan untukmu: lebih baik melupakannya dan menikah lagi. Mungkin Tarno tidak akan pernah kembali.” Pesan itu membuat hancur hati Lastari.

Begitulah akhirnya. Lastari pelan-pelan mulai mengikhlaskan Tarno. Lastari mencoba hidup tanpa Tarno di sisinya. Namun bukan berarti Lastari melupakan Tarno. Lastari tetap bertahan dalam pilihannya untuk merasakan penderitaan Tarno di luar. Karena Lastari tahu, penderitaanlah yang mendidiknya untuk tetap kuat sampai hari ini. Lastari mencoba kembali membangun keluarga kecilnya seorang diri; merawat putri kecilnya tanpa suami yang membantu. Kenyataannya Lastari benar-benar hidup melata. Lastari terombang-ambing dalam kehidupan yang berat. Sampai di kemudian hari datang kembali salah seorang sahabat Tarno ke rumah. Pria itu adalah Sukram. Pemuda alim, putra seorang kiai di desa seberang. Saat itu Sukram membawakan kembali kabar dari Tarno.

“Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepadamu, Tari,” katanya dengan wajah pucat. “Tiga bulan lalu setelah meletus konflik politik, aku bertemu Tarno di jalan. Ia berpesan kepadaku agar menikahimu. Aku bingung, tapi mencoba menepati keingian Tarno. Semua jawaban terserah padamu.”

Mendapat kabar Tarno masih hidup, Lastari bahagia. Namun ketika medapat kabar Tarno menyuruhnya melupakan, Lastari benar-benar hancur. Lastari dipaksa menganggap suaminya cepat atau lambat juga mati. Dan dengan cara menikahkan Lastari dan Sukram, Lastari bisa memulai hidup yang baru. Lastari tahu semua siasat Tarno. Namun Lastari tidak bisa melakukan pernikahan itu. Pun akhirnya, setelah mendengarkan kabar dari Sukram, Lastari limbung meninggalkan ruang tamu. Lastari mengurung diri di kamar. Sampai ibunya membujuk.

“Tarno mungkin melakukan itu demi kau dan anak kalian. Tarno ingin kalian tetap selamat di tengah zaman yang gila ini.”

“Tapi aku bisa merawat diriku sendiri,” balas Lastari.

“Ah, mungkin pilihan Tarno adalah bentuk cinta dan perhatiannya untuk menjaga kalian. Ini mungkin cara satu-satunya yang dimiliki Tarno untuk menyelamatkan kalian.”

Akhirnya Lastari menikahi Sukram karena rasa “cinta” dan “patuh” pada Tarno. Dan Sukram seperti tetap menganggap Lastari adalah istri dari kawan baiknya. Sukram tak pernah menuntut hubungan badan setelah menikah. Hingga beberapa bulan kemudian datang kabar mengerikan mengenai pembantaian massal di seluruh negeri. Dikabarkan pula tak ada lagi yang tersisa dari anggota partai. Beberapa bulan kemudian menyusul kabar mengenai pembuangan anggota partai ke sebuah pulau. Di sana mereka disiksa pelan-pelan tanpa diadili. Sejak kabar murung itu datang silih-berganti, tak pernah terdengar kabar mengenai Tarno. Pria itu seakan mati. Pun sejak saat itu, seperti pesan Tarno Lastari memulai hidup lagi. Lastari membaktikan diri kepada Sukram: sebagai istri. Hingga Lastari memiliki seorang anak laki-laki kecil dari pernikahan kedua. Sampai detik terakhir, Lastari memang berusaha tetap setia pada suaminya: Tarno.


***
KINI, setelah bertahun-tahu tidak bertemu, Tarno seperti datang dari suatu negeri dongeng. Sangat jauh dan melelahkan. Tarno duduk dengan tenang. Sesekali pria itu menatap Lastari. Seakan ingin menyatakan sesuatu kepada istrinya itu. Lastari kebingungan memulai percakapan. Lastari sudah menganggap Tarno tiada karena konflik 1965. Dia tak tahu harus melakukan apa. Hingga kebekuan itu pecah ketika seorang pemuda umur 19 tahun keluar membawakan minuman ke ruang tamu. Tarno melirik ke bocah itu. Lastari lekas paham lirikan Tarno.

Lastari mengucap, “Ini anak keduaku setelah menikah dengan Sukram. Putri kini sedang bersama ayahnya. Nanti sore mereka pulang. Kalian harus bertemu.”

Tarno menggeleng, kemudian bangkit dari kursi. Tarno melangkah keluar. Lastari tak tahu harus menghalangi atau membiarkan. Lastari hanya mengikuti dari balik punggung Tarno. Pria itu menoleh. Ada sesuatu yang ingin dia katakan pada Lastari. Namun sesuatu itu dia pendam. Tarno melenggang. Lastari hanya bisa menatap Tarno kembali pergi. Karena, jauh di dalam hati, Lastari berpikir Tarno sudah mati. (44)

Jakarta-Berlin-Yogyakarta, 2013-2016

Risda Nur Widia, belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. Juara II sayembara menulis sastra mahasiswa se-Indonesia UGM (2013), unggulan Sastra Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013), penerima Anugerah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2015). Masuk tiga besar buku sastra terbaik Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Yogyakarta 2016. Buku cerpen tunggalnyaBunga-Bunga  Kesunyian (2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Risda Nur Widia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 17 September 2017

1 Response to "Tamu Masa Lalu"

Ahmad Azwar said...

great banget cerpen ini!!