Terkutuk | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Terkutuk Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:30 Rating: 4,5

Terkutuk

DARI pertama kali melihatnya, aku tahu ada yang aneh di dinding belakang rumah ini. Dinding yang mengarah ke gudang bawah tanah itu adalah satu-satunya dinding yang tak disemen, hingga bata-batanya yang menghitam dapat terlihat dengan jelas, bagai bata-bata yang telah sekian lama terbakar api! 

Dari situlah aku melihatnya tangan-tangan muncul: tangan-tangan keriput berwarna gelap dengan kuku-kuku panjang yang dipenuhi darah kering! Persis seperti tangan-tangan monster yang ada di film-film horor. Mereka—jumlahnya mungkin 10 atau 12 tangan—seperti hendak menggapai-gapai sesuatu, bagai tangan orang-orang yang meminta tolong saat tengah tenggelam.

Dulu, saat pertama kali melihatnya, aku berteriak ketakutan. Kuceritakan apa yang kulihat pada ayah. Tapi ia hanya tersenyum sinis, “Anak gila! Kau persis seperti ibumu!”

Aku segera sadar kalau salah bertindak. Tak seharusnya aku menceritakan pada monster ini. Ini akan selalu membuatnya mengait-ngaitkan pada ibu. Padahal aku tahu, aku sama sekali tak persis ibu. Badanku besar, persis seperti ayah. Wajahku juga bundar, persis seperti ayah. Ibu begitu berbeda denganku. Ia kurus, dan tubuhnya hanya seperti tinggal tulang dan kulit. Ia juga tak pernah bicara, kesibukannya setiap hari hanyalah satu: menghitung garis-garis yang memenuhi salah satu sisi kamarnya. Dulu, ia sendiri yang membuat garis-garis itu dalam satu malam, entah untuk apa. Mungkin ia menganggap hidupnya di sini sama seperti dalam penjara. Sekarang, ia tinggal menghitungnya saja. Itu adalah satu pekerjaan yang tak pernah selesai.

Pada ibu, aku tak bisa berharap banyak. Tapi untunglah ada kakek. Walau ia aneh, tapi setidaknya ia selalu menanggapi semua ceritaku. Sayangnya, setahun lalu, ia meninggal. Tubuhnya kutemukan di atas pembaringannya masih dengan mata terbuka. Entah apa penyebabnya. Namun walau sudah meninggal setahun lalu, sampai sekarang tubuhnya masih bisa kutemui terbaring di situ. Memang sedikit kaku dan berbau aneh. tapi setidaknya aku masih bisa melihat wajahnya seperti dulu.

Aku tak tahu kenapa bisa begitu. Yang aku tahu, tubuh orang mati seharusnya membusuk. Tapi tubuh kakek tidak. Mungkin ini karena ayah telah menyiramkan 1 jeriken cairan kimia pada tubuhnya. Ya, selepas kakek ditemukan tak bernyawa, ayah pergi sejenak dengan mobil rombengnya. Tak lama kemudian ia pulang dan langsung menuju kamar kakek untuk menyiramkan 1 jeriken cairan kimia—yang entah apa namanya—ke seluruh tubuh kakek.

Tentu awalnya aku terganggu oleh aroma cairan kimia yang menusuk, hingga kerap membuatku hampir muntah. Tapi lama-kelamaan aroma itu lenyap. Aku pun bisa kembali mendekat pada kakek dan duduk di tepi pembaringannya. Aku bisa bercerita padanya tentang apa saja, terutama tentang tangan-tangan yang muncul di dinding belakang rumah ini. Tapi kali ini, kakek hanya bisa diam.

Aku rindu kakek yang hidup. Kakek selalu punya ide cemerlang. Ia humoris, walau sebenarnya sangat kejam. Dulu waktu aku mengeluhkan perlakuan ayah yang sering memukulku dengan kursi, kakek berbisik, “Kau mau agar bajingan itu tak lagi bertingkah?” matanya berkilat mengerikan, “Saat ia tidur, kau tusuk saja ia dengan belati dapur. Lalu gelindingkan tubuhnya ke jurang di belakang rumah, tapi jangan lupa mengambil hatinya lebih dulu untuk anjing buduk yang sering kencing di depan pintu rumah kita. Ia layak mendapat hati busuk itu, karena sudah 4 kali bajingan itu menembaknya…”

Aku hanya bisa ikut menyeringai dengan aneh. Tentu saja, aku tak akan berani melakukan ide gila itu. Walau bentuk fisikku seperti ayah, hatiku seperti ibu. Pendiam dan pasrah serta tak suka melawan. Aku tak mungkin nekat melakukan apa pun pada ayah. Bisa kubayangkan, ayah pasti dengan mudah akan membantingku, walau ia setengah tak sadar sekalipun. Tak hanya itu, ia juga memiliki senapan panjang yang selalu ditentengnya ke mana-mana. Memang hanya senapan angin untuk berburu tupai saja, tapi aku tahu dengan senapan itulah, ia sudah menembak beberapa orang di sekitar rumah ini.


BELAKANGAN ini aku merasa keadaan rumah semakin mengerikan. Tangan-tangan di dinding itu semakin sering muncul. Tak hanya sesekali seperti dulu, tapi kini hampir setiap malam. Suara samar yang selama ini hanya kudengar lamat-lamat pun, kini mulai terdengar lebih jelas. Seperti suara-suara orang yang merintih-rintih meminta tolong.

Ini membuatku ingin sekali pergi dari rumah. Tapi tentu aku tak bisa melakukannya. Bagaimanapun ada ibu di sini. Ia tak bisa kutinggalkan. Pernah dulu aku mengajaknya kabur. Tapi saat kutarik tangannya, ia malah menepisnya dengan kuat, dan tetap melanjutkan menghitung garis-garis di dinding kamarnya.

Aku sedih melihat ibu. Tapi tak bisa melakukan apa-apa. Setidaknya, ayah tak berbuat jahat padanya. Kupikir ia mencintai ibu. Tapi aku tak yakin. Tapi setidaknya ia membutuhkan ibu dalam hal-hal tertentu. Karena beberapa hari sekali, aku tahu ia memandikan ibu, lalu memakaikan pakaian yang bersih. Bisa kutebak, diam-diam ia akan bercinta dengan ibu. Suara lenguhannya yang seperti babi ngorok bisa kudengar sampai kamarku.

Selain soal tangan-tangan yang muncul di dinding belakang rumah, masih ada masalah lain di rumah ini. Semua tentu karena ulah ayah yang seenaknya. Kemarin seorang polisi sampai datang ke rumah untuk menemuinya. Ia mendapat laporan, ayah baru saja menembak kaki seseorang tetangga. Seketika ayah berubah menjadi begitu ramah. Ia menawari polisi itu minum minuman kaleng dingin. Lalu saat polisi itu lengah, ia memukulnya dengan kursi yang biasa digunakannya untuk memukulku. Setelah itu, ia melemparkan tubuh polisi itu begitu saja ke jurang, yang ada di belakang rumah.

Aku hanya bisa diam melihatnya. Semakin hari, ayah memang menjadi monster yang semakin mengerikan. Aku tak pernah bisa menebak apa yang dipikirkannya. Sama seperti selama ini, aku tak bisa menebak apa pekerjaannya. Yang kutahu, setiap ia pergi, entah sebentar atau sampai berhari-hari, ia akan pulang dengan membawa banyak uang. Ia bahkan pernah membeli makanan sampai mobilnya penuh sesak. Selebihnya yang kutahu, ayah akan tidur di depan jendela kamarnya melihat ke jalanan di bawah sana.

Aku menebak, ayah telah merampok, atau mencuri. Kupikir orang dengan tabiat sepertinya tak mungkin bekerja baik-baik. Apalagi yang didapat bukan uang sedikit. Aku pernah melirik kamarnya, dan lembaran uang berhambur di atas kasurnya, bagai daun-daun kering yang tak berharga.

Bila hatinya sedang baik, ia hanya akan menyeringai padaku, dan menyuruhku mengambil beberapa lembar. Uang darinya sampai sekarang kusimpan baik-baik. Kupikir bila tiba waktunya aku pergi nanti, uang itu akan sangat bermanfaat. Jadi sedikit saja yang kupakai, paling hanya untuk membeli pakaian dan membeli semen dan cat.

Ya, semen dan cat. Dinding di belakang rumah itu memang selalu masih menggangguku. Kupikir bila disemen dan dicat, mungkin tangan-tangan dan suara-suara mengerikan itu tak lagi muncul.

Maka dengan takut-takut, aku mendekat ke dinding itu di siang hari bolong. Saat seperti itu biasanya tak terjadi apa-apa. Tangan-tangan itu memang hanya muncul di malam hari. Aku segera mengambil adonan semen, dan melemparkannya di dinding. Tapi adonan itu ternyata tak bisa menempel di situ. Setiap aku melemparnya—dengan takaran berapa pun—ia selalu jatuh ke lantai.


SEMAKIN lama aku seperti terjebak di rumah terkutuk ini. Aku benar-benar merasa sendirian di sini. Bila sudah seperti ini, aku memilih masuk ke kamar kakek, dan mengeluh padanya.

“Aku harus bagaimana? Aku semakin takut tinggal di sini?” kupegang tangan kakek yang kaku. Aku ingat, dulu waktu pertama kali tangan-tangan itu muncul, hanya kakek yang datang mengeceknya ke belakang, Waktu itu sudah tengah malam, ia dengan berani menghampiri dinding itu. Masih kuingat tubuhku yang beku saat itu, saat melihat kakek begitu dekatnya dengan tangan-tangan di dinding itu.

Tapi kakek hanya diam di situ. Ia mengambil rokoknya yang masih separuh terhisap, dan menyerahkan pada salah satu tangan yang terdekat. Komentarnya padaku setelah itu, “Mereka tak suka rokok. Jadi jangan terlalu kau pikirkan!”

Aku tak tahu apakah saat itu kakek mencoba menghiburku. Namun yang pasti, ulahnya sedikit-banyak membuat ketakutanku berkurang.

Sungguh, bila mengingat kejadian itu, air mataku pastilah menggenang. Namun, kini tentu saja kakek tak bisa apa-apa lagi.

Aku terus memikirkan untuk pergi. Keinginan itu tak bisa lagi kutahan saat ayah tengah pergi dari rumah. Jadi hari ini kugunakan untuk merawat ibu. Kumandikan ia dan kupotongi kukunya yang hitam. Aku tahu ini pekerjaan yang percuma. Kuku-kuku itu akan selalu kembali hitam sehari kemudian. Aku tak tahu apa yang dilakukannya hingga bisa seperti itu.

Aku merasa sedih akan meninggalkannya. Tapi melihat perlakuan ayah padanya, aku bisa sedikit lebih tenang.

Di kamar, aku menghitung uang yang kusimpan. Kupikir uang ini cukup untuk membeli tiket kereta menuju kota terjauh. Asal pergi dari kota ini, aku yakin akan bertahan hidup. Aku bisa bekerja apa pun. Pekerjaan kasar sekalipun.

Tapi sehari sebelum aku pergi, aku dikejutkan oleh teriakan ibu. Ibu ternyata berjalan hingga ke bagian belakang rumah. Padahal selama ini, ia tak pernah keluar dari kamarnya. Tangan-tangan yang muncul di dinding itu pun dengan mudah menarik tubuhnya. Aku masih sempat melihat tangan ibu menggapai-gapai lantai. Tapi kedatanganku terlambat.

Yang kulihat kemudian, dinding itu seperti berubah menjadi sebuah lorong gelap. Dan tubuh ibu menghilang di sana, disusul lenyapnya tangan-tangan yang meraihnya..

Aku seperti baru tersadar saat suasana kembali hening. Aku hanya bisa menangis pilu. Kuambil linggis. Lalu kucoba memecahkan dinding. Tapi linggis pun ternyata tak cukup bisa melakukan apa-apa pada dinding itu. Sampai habis tenagaku, aku hanya bisa terpuruk.


AKU membatalkan kepergianku. Setidaknya aku harus mengatakan kejadian ini pada ayah lebih dahulu. Baru setelah itulah aku akan pergi.

Tapi ayah pulang dalam kondisi mengerikan. Tubuhnya penuh darah. Dapat kulihat jelas kalau dadanya tertembak. Dengan kekuatan dan keberaniannya, ia mengeluarkan peluru di tubuhnya itu hanya dengan modal sebotol alkohol dan sebuah penjepit.

Sementara, di luar rumah, mulai kudengar suara sirene mobil polisi meraung-raung. Dari jendela, kulihat barisan massa juga tengah mendekati rumah. Obor-obor mereka berderet panjang. Aku menebak, ayah pastilah telah melakukan sesuatu hal yang membuat orang-orang itu begitu marah.

“Manusia-manusia terkutuk!” seru ayah sambil mengisi senapan anginnya.

“Kau bawalah ibumu ke belakang!” teriaknya.

Tapi aku hanya diam di ambang pintu. “Ibu sudah tak ada. Tangan-tangan yang keluar di dinding itu sudah menariknya ke sana!”

“Apaaa?” teriakan ayah terdengar melengking. “Dasar anak tak berguna!” ia hendak menghantamkan kursi padaku, tapi aku dengan cepat berkelit. Ia tentu tak menyangka kalau kini aku tak lagi pasrah dengan perlakuannya.

Ayah setengah berlari ke belakang dan menatap dinding itu. Saat ia melihat linggis yang tergeletak di situ, segera diayunkannya ke dinding itu. Tapi yang dilakukannya tak jauh berbeda dengan apa yang kulakukan. Semua sia-sia.

Sementara di luar sana, polisi sudah berkali-kali memintanya keluar. Warga yang tampak marah sudah melemparkan obor ke rumah kami. Aku melihat semuanya dengan kalut. Kulihat api mulai membesar di sisi samping rumah.

Kulihat ayah menggeram marah. Ia mengambil senapannya dan mulai menembak ke luar. Aku tak tahu apa tembakannya mengenai sasaran atau tidak. Yang kutahu, api semakin membesar. Langit-langit kamar ibu sudah dilalapnya.

Aku berlari ke ruang belakang. Tapi api seperti mengejarku. Suara tembakan kudengar berkali-kali. Juga teriakan panjang ayah. Aku merasa seseorang telah berhasil menembaknya, karena setelah itu aku tak lagi mendengar suara tembakan dari kamar ayah. Saat itulah aku seperti mendengar suara-suara samar di antara teriakan orang-orang di luar sana. Mataku kemudian menatap ke arah dinding di belakang rumah. Tangan-tangan itu rupanya telah kembali muncul di sana.

Sementara api makin membesar, mendekatiku. Rasa panas seperti mulai membakarku. Dan tangan-tangan itu tak henti menggapai-gapai. Suara-suaranya semakin keras. Api seperti membuatku terseret ke sana. Lalu, di satu detik yang paling menakutkan, tangan-tangan itu merenggut tubuhku dan menariknya ke dalam lorong yang gelap itu….


Yudhi Herwibowo. Aktif di buletin sastra Pawon, Solo. Novel karyanya Halaman Terakhir, sebuah novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng (Noura); dan Cameo Revenge(Grasindo).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yudhi Herwibowo 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 23 - 24 September 2017 

1 Response to "Terkutuk"

hamzah arif said...

dulu tampilan kliping sastra ga gini, sekarang jadi sempit ga enak bacanya