Aroma Kayu dari Norwegian Wood, Haruki Murakami - Koda untuk Chet Baker - Epilog Perjalanan - Gerimis 4/4 untuk Bill Evans - Dengan Peluru - Surau Suatu Subuh - Melankoli Sebuah Kota | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Aroma Kayu dari Norwegian Wood, Haruki Murakami - Koda untuk Chet Baker - Epilog Perjalanan - Gerimis 4/4 untuk Bill Evans - Dengan Peluru - Surau Suatu Subuh - Melankoli Sebuah Kota Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Aroma Kayu dari Norwegian Wood, Haruki Murakami - Koda untuk Chet Baker - Epilog Perjalanan - Gerimis 4/4 untuk Bill Evans - Dengan Peluru - Surau Suatu Subuh - Melankoli Sebuah Kota

Aroma Kayu dari Norwegian Wood, Haruki Murakami

1
aku mengenangmu sebagai aroma kayu di Komagome,
aroma sama yang menguap dari rambutmu.
Meski selalu keliru mengingat wajahmu.

Masih terdengar tetes pada gelap malam itu,
Saat dingin dan jemariku berebut merayapi
bulu-bulu halus tengkukmu.

lalu kuziarahi kuil di tubuhmu,
aku adalah orang pertama yang datang
bersembahyang sekaligus meruntuhkannya.

berkali-kali kutancapkan detak jantung
di dadamu. kau menangis, pelipisku basah.
bukan jantungku yang kau inginkan.

kita selalu gelisah dengan sebuah pertanyaan.
dapatkah kita mengkhianati orang mati.

Naoko,
kenangan mungkin rasa lapar yang menyakitkan,
dan kita tak pernah memberinya roti yang tepat.

hingga pada satu pagi yang sejuk, hutan
yang tenang. jerat temali menggenapkan
usiamu, sementara aku melanjutkan nyerinya.

2
kita selalu belajar bahwa jatuh cinta
hanyalah kekalahan yang perih.
dan kita berulang-ulang menikmatinya.

and when i awoke i was alone
this bird has flown.

kau meneruskan lagu Beatles, selagi aroma
nikotin menyusuri dadamu yang retak.

ketahuilah Reiko, meski menyakitkan
di setiap tempat orang-orang tak akan
berhenti jatuh cinta.

3
Midori, aku ingin menjadi sungai dan mengalir
pelan menuju tempat-tempat sunyi pada kotak
petamu. tempat kau sembunyikan muaraku.

aku datang kepadamu sebagai segenggam
jantung yang sesak dan berdetak.
kita akan membakar lebih banyak malam dan rumah
sambil menikmati aroma hangus dari tubuh kita.

Di mana aku berada.

aku tak tahu di mana aku sekarang.
hanya terlihat koridor panjang, tubuh-tubuh berlalu.
aku kira tempat yang menyatukan kau dan masa lalu.

2017

Koda untuk Chet Baker

hampir biru, katamu. pukul 2 dini hari, musim
menyisakan memar pada sepetak kamar. kau selalu
tahu, seperti seks, orang yang paling menikmati jaz
adalah orang yang paling menderita.

dari jendela lantai dua, kota hanya potongan hitamputih.
sesekali lalu-lalang pejalan terlihat menyeret
bayang-bayang, lalu hilang.

kota telah lama beku. udara begitu berat.

sepagi itu swing terompet mengiringi bunyi hujan
yang jatuh pada bubungan. hampir biru, katamu.
terompet itu kau letakan pada pangkuan, mengalir
liur bercampur kokain di bibirnya.

hampir pukul 3 dini hari. kau selalu memikirkan koda
yang tepat untuk dirimu.

meskipun di kota ini setiap hari adalah hari yang baik
untuk bunuh diri.

2016

Epilog Perjalanan

hingga kapan akan kutuntun sepi?
kini pulang hanya perjalanan panjang
menjauhi rumah.

aku coba menyatukan lagi
angka yang berserak di lembar almanak
dan potongan wajah retak di muka cermin.
masih tersisakah sepotong bibir
bocah yang ranum dan ringan?

perjalanan ini kian mendekati akhir
bahkan sebelum aku menyadarinya.

2016

Gerimis 4/4 untuk Bill Evans

sebagaimana denting lembut
pada bubungan kafe
di tengah malam yang lambat
tinggal sisa kata dan koktail.

sebagaimana asap nikotin
kau embus seumpama
segala yang terbang
sampai lamat menghilang.

sebagaimana titik gerimis
jatuh pada sebidang retak
sisi kiri dadamu
merembesi isinya yang lembap.

adakah kesepian berwarna
seperti memar atau gerimis?
kau terus bertanya lewat denting
piano yang menggigil.

2016

Dengan Peluru

aku cuma
babi buta
dan kau pemburu
yang terburu-buru
dan membabi buta.

hanyalah dadaku
yang selalu rindu
kautembus
dengan peluru.

2016

Surau Suatu Subuh

di suatu subuh
langit menggaris gunung-gunung,
dua-tiga burung gereja mencicit,
pohon-pohon tidak menunduk
begitu juga malam tadi.

angin tergerai membelai lembut
rambut hidupku yang masai.
tuhan bersamaku, mencabuti helai-helai usia.

di sebuah surau dingin dan maut
mengendap-memburu tubuhku.
sementara hanya gigil jam dinding
kutampung pada telapak tangan.

2016

Melankoli Sebuah Kota

barisan lampu kota saat malam hari
adalah taring-taring sepi dengan ludah cahaya
melumat jiwa pengembaraku.

di sudut jalan aku meringkuk
seperti air pada sudut mata ibu,
menunggu pecah dan berantakan.
kelak kelok mana akan mengantarku
pada rumah, sebuah rahim untuk beristirah?

sementara aku selalu gagap
membaca tanda pada papan-papan dingin.
setiap panah seakan mengarah
tepat ke bimbang dadaku.

dan sajak ini kutulis sebagai alamat
menuju tempat-tempat rindu bermuara.

2017

Adhimas Prasetyo, lahir di Cirebon, 13 November 1993. Karya-karyanya telah dimuat dalam beberapa media cetak. Beberapa karya juga pernah dihimpun dalam antologi bersama seperti Nun (2015), Tudgam (Tulisan dan Gambar) Vol.1 (2015), Tudgam (Tulisan dan Gambar) Vol. 2: Aksi Kucing (2016), Koda untuk Chet Baker (2016), Cimanuk, Ketika Burung-burung Kini Telah Pergi (2016), 100 Cerita Kabayan Masa Kini (2016). Saat ini bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) dan Vespoets.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adhimas Prasetyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 29 Oktober 2017

0 Response to "Aroma Kayu dari Norwegian Wood, Haruki Murakami - Koda untuk Chet Baker - Epilog Perjalanan - Gerimis 4/4 untuk Bill Evans - Dengan Peluru - Surau Suatu Subuh - Melankoli Sebuah Kota"