Bulan yang Menelan Kekasihku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bulan yang Menelan Kekasihku Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:49 Rating: 4,5

Bulan yang Menelan Kekasihku

SEPERTI telah diceritakan dalam kisah yang lebih panjang, tentang sebuah bangku kereta yang selalu kosong, meski ada dalam catatan manifest kereta bahwa kursi itu tiketnya telah terbeli oleh sepasang suami istri. Pasangan yang sama, dari hari ke hari dari tahun ke tahun selalu tercatat sebagai penumpang kereta tersebut dengan nomor gerbong dan kursi yang sama. Tapi bila engkau mendatangi kursi tersebut, engkau hanya akan mendapatkan kursi kosong. Gerbong enam, dengan nomor kursi dua puluh tiga.

Kisah tentang bangku kosong itu jauh dari kesan mistis, karena sudah seperti tradisi turun-temurun, dalam delapan puluh enam tahun terakhir ini pasangan-pasangan muda yang dilanda mabuk asmara akan berebut untuk menempati kursi kosong tersebut. Konon, pasangan yang duduk di kursi tersebut cintanya akan abadi, sementara yang lajang akan bertemu jodohnya di kursi sebelahnya seiring berputarnya roda kereta. Kursi yang dalam catatan manifest kereta selalu terdaftar atas nama yang sama.

***
SENJA mulai berjatuhan pada pucuk-pucuk pinus di luar jendela sana. Aku merapatkan kardigan, secara impulsif saja sebenarnya. Sebab udara dalam ruangan ini tidak dingin sama sekali. Aku tengah duduk di kursi penumpang sebuah kereta ekonomi yang sedang tidak berjalan.

Dan aku tidak benar-benar tahu, apa penyebab tertahannya kereta api Sritanjung tujuan Yogyakarta-Banyuwangi ini. Mungkin kres—istilah orang Banyuwangi untuk menyebut tertahannya kereta yang berilang dengan kereta lain. Atau mungkin seperti jawaban seorang ayah kepada anaknya yang berumur empat tahunan, bahwa ban keretanya sedang kempes.

Stasiun Mrawan, stasiun kereta api yang terletak di antara dua buah terowongan kereta api yang digali menembus tubuh Gunung Gumitir. Ingin rasanya menjadi muda kembali, lalu menikmati senja sambil duduk di badan rel kereta api, menunggu kereta yang dari arah berlawanan, kemudian berlari menuju pintu terdekat kereta, berebut dan berdesakan dengan penumpang lain, karena takut tertinggal kereta. Sayangnya aku sudah terlalu tua, sangat terlalu tua untuk itu. Aku hanya mampu membayangkan hal-hal yang demikian.

Ada banyak hal yang akan selalu tak terjangkau oleh tangan kita. Sama seperti kereta Sritanjung ini, yang setia dengan kelas ekonomi. Tak peduli berapa banyak uang dalam dompetmu, satu-satunya kereta api yang menghubungkan Yogyakarta secara langsung dengan Banyuwangi ya hanya Sritanjung. Kereta ini telah sama legendarisnya dengan namanya, sebab seperti telah diceritakan pada kisah yang lebih tua, Sritanjung adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah masyarakat Blambangan.

***
STASIUN Lempuyangan, pagi hari. Kamis kemarin adik keduaku lahir dengan selamat, anak perempuan pertama dalam keluarga kecil kami. Akhir pekan ini aku pulang untuk menengoknya. Peluit panjang tanda kereta berangkat telah berbunyi. Saat segenap pikiranku tercurah pada kegiatan memasukan bagasi pada tempat yang telah disediakan, seseorang menginjak kakiku yang bersepatu kanvas dengan sepatunya yang ber-hak tinggi lancip. Nyeri pada ibu jari kakiku membuat aku harus terpejam sebentar.

“Maaf, Mas. Gak sengaja.”

Kutolehkan kepalaku pada arah suara, saat itulah aku merasa tersengat lebah. Ketika melihat ekspresi wajahnya yang bimbang antara ingin tersenyum dan khawatir sebab merasa bersalah. Waktu seolah terheti, hingga tak berarti lagi masa lalu dan masa depan, yang ada hanyalah detik ini saat aku menatap di kedalaman bening matanya. Tergagap aku menjawab, “Gak apa-apa, memang kakiku yang menghadang lajur jalan.”

“Bengkak ya kakinya?”

“Biarlah, lagipula sepatu ini kebesaran. Bengkaknya akan membuat ukurannya jadi pas.”

Di titik inilah aku percaya bahwa Tuhan telah menyiapkan cinta untuk kita, hanya masalah waktu, bahkan tanpa kita sadari bahwa ia menanti kita di sepanjang umurnya. Kubaui wangi tubuhnya yang dihantar angin kepadaku, wangi yang selalu kucium semasa kanak dulu. Tak diragukan lagi.

Angin yang sama berbelok dan menggebah pohon besar di luar jendela sana, pohon dengan seribu dahan dan seribu daun di setiap rantingnya, hingga bunga-bunganya yang kuning mungil menghujani gerbong kereta. Perlahan, pohon dengan seribu dahan itu menjauh, kemudian lenyap dari pandangan. Ritme gerit roda pada sambungan rel yang melambat membuatku terjaga. Puri lelap pada salah satu bahuku. Gerak itu rasanya selalu sama sejak aku kecil: terdiri dari tujuh ketukan dan pada hitungan keempat jatuh hentakan terkuat, berasal dari gerus roda di bawah kursiku dengan sambungan rel. Dan goncangan pada gerbong yang membuat bahuku berayun kanan-kiri, juga gemerutuk gelas pada meja dan sendok logam pada piring aluminium, serta ngilu menahan kencing, bau mulut yang lama mengatup adalah rasa yang abadi setiap perjalanan 1. Dan aku percaya, bahwa cinta pada pandangan pertama itu bukanlah mitos belaka.

“Puri.”

“Hmmm…”

“Pernah baca Louise MacNeice?”

“Aku baru dengar namanya darimu.”

“Aku hafal beberapa syairnya malah.”

“Bacakan satu untukku.”

“September telah tiba, bulannya. Yang semangat hidupnya melonjak di musim gugur, yang lebih menyukai pepohonan tanpa daun serta perapian yang menyala. Maka kupersembahkan bulan ini dan berikutnya. Walau seluruh bulan dalam tahunku mestinya sudah jadi miliknya yang telah mendatangkan begitu banyak hari-hari yang tak tertahankan dan membingungkan, namun sekaligus begitu lebih banyak kebahagiaan. Yang telah meninggalkan suatu aroma dalam hidupku. Menari berulang-ulang dengan bayang-bayangnya. Yang uraian rambutnya membebat semua air terjunku. Yang meninggalkan kenangan akan kecupan-kecupan yang tak terlupakan di segenap penjuru kota London.” 2

Dan sepanjang jalur kereta Yogyakarta-Banyuwangi kala itu penuh oleh kenangan akan kecupan-kecupan yang tak terlupakan.

***
“SAMUEL Kristianson Hartono, saya serahkan buah hati kami, Puri Victoria Tarko yang akan mendampingi hidupmu baik dalam suka maupun duka. Sayangilah dia, cintailah dia, dengan segenap hati dan pikiran, sama seperti kamu menyanyangi kedua orang tuamu. Kasihilah dia sama seperti Tuhan Yesus telah mengasihi kamu,” kata Papa.

Setelah menjalani ibadah, tiba saatnya kami mengucapkan janji pernikahan. Kami pun berdiri menuju depan altar. Dengan didampingi Pendeta dan majelis gereja, aku dan Puri bergantian mengucapkan janji pernikahan.

“Apakah saudara-saudara siap menjalankan pernikahan dalam iman Kristen?” tanya Pendeta.

“Kami bersedia,” jawab kami bersamaan.

“Saudara Samuel Kristianson Hartono, di hadapan petugas negara, perkawinan kalian sudah dicatat dan sah di muka hukum,” kata Pendeta.

“Saya Samuel Kristianson Hartono, saya berjanji kepadamu, Puri Victoria Tarko, akan menikahimu dan menyayangimu sekarang sampai selama-lamanya sebagai istri satu-satunya. Saya siap mengasihimu seperti Tuhan Yesus mengasihi saya. Saya akan setia dan menghormatimu sebagai pendampingku,” ucapku sambil terbata-bata.

“Saya Puri Victoria Tarko, berjanji di hadapan Tuhan dan saudara seiman, saya menerima Samuel Kristianson Hartono sebagai suami satu-satunya mulai saat ini hingga selamanya,” timpal Puri.

“Apa yang telah disatukan Tuhan, tidak bisa diceraikan oleh manusia. Dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus,” Tegas Pendeta yang berarti telah mengesahkan pernikahan kami.

***
TAK ada yang lebih menyakitkan ketimbang rindu yang tak terungkap. Tak ada yang lebih pedih dibanding cinta satu malam. Pernikahan yang hanya berusia satu malam. Bahkan kami belum sempat menikmati malam pengantin ketika gawai Sam berdering, memecah keheningan kamar pengantin. Memutuskan ciuman panjang yang aku dan Sam rekatkan kepada bibir yang lain.

“Hand phone sialan!”

Mimik wajah Sam agak memucat ketika obrolan dimulai, aku memeluknya dari belakang, “Ada apa, Sam?”

Sam merapatkan telunjuk pada bibir sebagai jawaban. Lalu perlahan melepaskan pelukanku, berjalan menuju pintu, membukanya, melangkah keluar dan mengayunkan pintu menutup yang diikuti bunyi cklik. Itulah terakhir kali aku menghirup aroma tubuh suamiku. 14 Mei 1998, aku masih ingat betul tanggalnya. Dan sekarang, aku telah demikian dekat dengan kematian. Duduk menikmati senja, yang dihadirkan sebuah jendela kereta. Malam itu hadir kepadaku melalui mimpi-mimpi. Aku tetap pengantin tak terjamah, menunggu suami yang raib kepada entah.

Di mana kamu, Sam? Empat puluh sembilan tahun bukanlah waktu yang sedikit untuk sebuah penantian dan pencarian. Mimpi yang selalu berulang, di mana aku melihatmu menatapku di balik jendela kereta api yang melaju pelan menjauhiku, bibirmu berusaha menyampaikan sesuatu, tapi kereta telah menjadi lebih laju sebelum sempat kucerna gerak bibirmu.

Usiaku telah habis dimakan penantian, satu demi satu ubanku lerai ke tanah. Hari ini hari ulang tahun ke empat puluh sembilan pernikahan kita, aku setia menunggumu di gerbong kereta Sritanjung yang mempertemukan kita ini. Karena aku percaya, kau tak akan mengecewakanku. Tak peduli dalam keadaan hidup dan mati, kau akan selalu menepati janji.

“Suatu saat nanti, bila kau merindukanku, tunggulah aku di gerbong kereta ini. Aku akan datang, tak peduli sebagai manusia ataupun setan.”

Senja telah berganti malam. Kereta belum juga berjalan. Aku merasakan dingin yang tak ada hubungannya dengan cuaca. Dari kaca jendela terpantul cahaya stasiun kecil itu, aku tak bisa ingat lagi berapa kali aku melewati stasiun ini, sama seperti aku tak bisa lagi mengingat berapa pincuk [3] pecel Garahan yang telah aku pindahkan ke dalam perutku dalam empat puluh sembilan tahun pencarian-penantianku.

Kututup jendela kereta yang terbuka, berderit. Keras. Jendela ini agak macet. Tapi gerakan fisik sekecil itu pun ternyata sudah terlalu berat untukku, secara naluri aku meraih sandaran bangku dan duduk perlahan. Kepalaku agak limbung dan rasanya mau pingsan. Lalu seketika, rasa sakit itu mencengkeram dadaku seperti tusukan besi panas.

Aku memejam menahan rasa sakit, kubuka mulutku untuk menjeritkan rasa sakit ini, tapi sepertinya suaraku tak pernah benar-benar keluar dari mulutku. Aku merasa keberadaanku kini telah menyusut menjadi segumpal rasa sakit ini saja, panas yang menelanku sepenuhnya. Sayup-sayup aku mendengar suaramu, Sam. Lalu dengan mengendap-endap, muncullah bebauan dan suara lain.

Aroma angin yang bertiup saat pertama kali kita bertemu di gerbong kereta ini, saat aku tak sengaja menginjak kakimu. Sebuah pohon dengan seribu dahan, dengan seribu ranting pada tiap dahan dan seribu daun pada tiap rantingnya. Kenangan yang tak akan pernah hilang. Aku membuka mata, rasa sakit sudah lenyap. Di luar sana, matahari telah benar-benar ditelan malam. Tidak apa, tidak penting.

Dia datang. Menjemputku.

Sam, ia ada di sana.



Payakumbuh, 2017

1. Ayu Utami, dalam Larung.
2. Salah satu sajak Louise McNeice, dalam Autumn Journal.
3. Pincuk adalah tempat makan pengganti piring yang dibuat dari daun pisang yang dilipat dengan cara tertentu dan direkatkan dengan tusukan lidi.

Majenis Panggar Besi, terlahir di Banyuwangi.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Majenis Panggar Besi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu, 22 Oktober 2017 

0 Response to "Bulan yang Menelan Kekasihku"