Cakil | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Cakil Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Cakil

“HAP, hap, aem!” kata Mbak Lasmi saat menyuapi Giok, adikku. Kami bermain-main di depan panggung gedung pertunjukan wayang orang. Hari masih sore. Ruangan masih sepi. 

Waktu usia lima tahunan aku tinggal di samping gedung pertunjukan Wayang Orang Sri Wanito Semarang. Adik perempuanku masih berumur setahun, sedangkan kakak lakiku selisih setahun dariku. Pembantu yang mengasuh adikku sering mengajak kami ke gedung itu. Pintu belakang gedung persis di samping rumahku. Kalau dilihat dari Jalan Dr Cipto, rumahku berada di belakang gedung, di jalan samping Gedung Sri Wanito.

Sudah biasa bagi kami melihat para anak wayang merias diri. Hampir tiap sore kami ke situ. Saat pementasan, aku paling suka penampilan Buto Cakil yang melompat salto berjempalitan dan berguling-guling. Adegan itu seru sekali. Sayang, kami tidak lama tinggal di rumah itu. Hanya dua tahun. Namun pembantu kami sudah mengenalkan salah satu kebudayaan Jawa.

***
KUCARI Do Drop In Bar & Restaurant di sepanjang Jalan Legian. Kutemui bangunan kecil bermaterial bambu beratap rendah berbahan ilalang. Tertata rapi sejumlah mejakursi bambu di teras. Di salah satu sudut di depan restoran teronggok seperangkat pemanggang sate. 

Imajinasiku buyar. Aku membayangkan bar seperti di komik-komik Zaldy, Jan Mintaraga, seperti night club, ada band dengan penyanyi cantik dan seksi. Belakangan aku baru paham, bar itu tempat minum-minum (biasanya minuman beralkohol), tidak selalu identik dengan night club. Bisa saja di rumah pribadi (private bar) di sudut ruang tamu. 

Aku ke Bali menumpang bus dari Semarang. Harga tiket waktu itu Rp 3.400,00. Berangkat sore hari, transit di Surabaya pagi, berangkat ke Denpasar sore dan sampai esok hari di Terminal Suci. Karena baru kali pertama dan masih bingung, kuputuskan nyarter bemo menuju ke Legian. 

Tahun 1979 Legian belum begitu ramai. Belum padat bangunan. Di sepanjang jalan masih banyak ladang kelapa. Di pantai juga belum ada jalan aspal. Pinggir pantai juga dipenuhi pohon kelapa. Restoran ini milik pelukis Semarang, Tan Hok Lay. Di ruang dalam restoran ada galeri kecil untuk memajang lukisan-lukisan pelukis Semarang dan para murid Dullah. Ketertarikanku pada Bali tumbuh ketika melihat tafril-tafril Bali di lukisan-lukisan Tan Hok Lay. 

Untuk kali pertama aku merasakan suasana turisme. Legian dan Kuta menjadi jantung pariwisata Bali masa itu.

Beragam tingkah para turis melintas di depan mataku, melekat dalam ingatan. Mulai banyak yang kuketahui tentang Bali. Aku banyak ngobrol tentang tradisi dengan karyawan restoran asal Bali. Banyak karya seni kulihat. Lukisan, patung, tarian dengan musik gamelan tak luput dari perhatianku. 

Suara kulkul bulus bertalu-talu malam itu. 

“Ayo, Kur!” ajak Rudi, koki restoran seraya memegang sebilah samurai. 

“Ke mana?” tanyaku. 

“Ronda.” 

Di luar sudah banyak orang berkumpul. Suasana mencekam. Kulkul bulus masih terus berbunyi. Ada kabar seorang laki-laki membawa senjata tajam terlihat di pantai. Kami serombongan menyusuri pantai, tapi hingga berjaga sampai pagi tak menemukan hal mencurigakan. Telah beberapa hari merebak isu ada maling dan rampok. Segerombolan rampok dari dauh tukad menyerbu Bali. 

Hari itu restoran tutup. Sepanjang jalan tak ada toko atau restoran buka. Jalanan lengang, suasana sunyi, tak terdengar suara deru motor atau mobil seperti biasa. Hari itu, kali pertama aku merasakan Nyepi, tahun baru Saka menurut kalender Bali. Tak ada arakan ogoh-ogoh di Legian pada masa itu. Pada saat Nyepi orang Bali melaksanakan Catur Brata Penyepian yang terdiri atas amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). 

Pada malam Nyepi, bersama Rudi dan Mas Pardi (kasir restoran), aku berkunjung ke rumah Made Yeni, tetangga di belakang rumah. Ada jalan tembus yang menghubungkan restoran dan rumah Yeni dan tempat kos Mas Pardi. Kami duduk-duduk di balai-balai bambu di halaman rumah bersama keluarga Yeni diterangi cahaya bulan. Bercengkerama melewati malam. 

Setiap ke pantai, 100 meter di belakang restoran, aku selalu lewat pintu belakang restoran, melalui tegalan rumah Yeni, melewati kamar mandinya yang berada di luar, tanpa atap, berdinding sebatas leher. Sering kali kujumpai dia sedang mandi saat aku lewat, mengakibatkan adrenalinku melonjak. Made Yeni, gadis Legian berambut panjang, suka naik motor trail, rambutnya tergerai. Dia masih SMA waktu itu. 

Aku sering nongkrong di artshop Pak Ketut yang menjual patung dan lukisan tradisional. Kami ngobrol tentang seni dan budaya. Ketertarikanku pada seni makin kuat. Pak Ketut juga bertutur tentang kasta. Dia berkasta sudra. Dia juga menyinggung dharma, adharma, karma. Sekali waktu dia berbicara soal reinkarnasi. Dia ceritakan cucu lelakinya adalah titisan adik perempuannya. Aku tak mengerti. Pada waktu itu aku belum membaca buku Reinkarnasi tulisan Vicki Mackenzie yang mengisahkan bocah Spanyol bernama Osel yang diyakini titisan Lama Thubten Yeshe, guru spiritual Tibet. Osel melewati serangkaian ujian sebelum dinobatkan dalam sebuah upacara sebagai Lama. 

Menjadi kebiasaan di Bali pada hari ke-12 setelah kelahiran, orang tua membawa bayinya ke balian atau jero dasaran (orang pintar) untuk menanyakan siapa yang menitis atau turun manumadi ke diri si bayi. Reinkarnasi bersifat “roh”, tidak berkait genital yang bersifat “wadag”. Bisa terjadi sang dumadi yang dalam kehidupan terdahulu adalah wanita, dalam kehidupan berikutnya menitis pada diri laki-laki seperti dalam kasus cucu Pak Ketut. 'Bagi sang dumadi reinkarnasi bertujuan menyempurnakan karmanya. 

Tiga bulan aku mengenyam dinamika turisme, pertemuan lokalitas dan budaya asing sebelum kabar duka datang dari Semarang. Aku harus pulang, ayahku berpulang menghadap Sang Khalik. 

Aku serasa mimpi saat-saat prosesi pemakaman ayahku. Benak diliputi ingatan tentang Bali. Mungkin karena baru kali pertama aku mengunjungi negeri seribu pura itu. 

“Kurniaaaa!” 

Yeni melambaikan tangan dari dalam mobil yang dipenuhi keluarganya. Mereka hendak sembahyang di Pura Agung Besakih. Aku tengah berjalan menuju pura. Kawasan Besakih di Kabupaten Karangasem dipenuhi pemedek dan turis mancanegara dan domestik. Hari itu dilangsungkan upacara besar Eka Dasa Rudra yang digelar 100 tahun sekali. Kulihat pelukis Maria Tjui sedang melukis on the spot. Beberapa pelukis mengabadikan peristiwa itu, antara lain Rudiyat. 

Bau dupa dan wangi jepun menyebar di sekelilingku. Pura, kecak, legong, suara gamelan, tawa turis, gadis Legian berambut tergerai dan kain tersingkap menunggangi motor trail, menggetarkan ingatanku. Dua minggu aku hidup dalam imajinasi sebuah negeri dongeng dengan tradisi dinamis. Entakan-entakan laras gamelan, prosesi ngaben, suara “cak” mencerminkan itu. Ingatanku melayang... hinggap di Gedung WO Sri Wanito, pada Cakil yang jempalitan kena pukul atau tendangan lawan. Aku tersenyum.

***
AKU ke Sobokartti mau belajar menari. Ini hari pertama. Sudah banyak yang hadir. Ada anak-anak, juga remaja. Kami dipisah sesuai dengan usia. Dilatih beberapa guru. Pelajaran dasar dulu yang diberikan, yaitu sikap dan gerak dasar tangan, kaki, dan kepala. Kami mengingat dan berlatih apa dan bagaimana ngithing, ngrayung juga ukel, gerakan memutar pergelangan tangan berlawanan dengan arah jarum jam. Kemudian kebyak, gerakan tangan menggunakan selendang yang disentakkan sehingga selendang lepas dari pergelangan tangan. Gerakan itu didahului menyentakkan selendang, sehingga nyangkut di pergelangan tangan yang disebut kebyok. Ada juga nggroda, mendak, srisig, gerakan lari-lari kecil dengan jinjit dan lutut ditekuk. Selanjutnya kedet yang menggerakkan kepala seolah menarik dagu, gerak dasar lain gedug, gilek, gejug. 

Para siswa Sobokartti acap kali mendapat kesempatan menari di Gedung WO Sri Wanito yang bersebelahan. Sobokartti, yang berarti tempat berkarya, dirancang arsitek asal Belanda, Herman Thomas Karsten, dibangun pada 1930, sedangkan Gedung WO Sri Wanito dibangun 1945. Perkumpulan WO Sri Wanito didirikan oleh dua kembar bersaudara, Juk Hwa dan Kong Hwa, pada 1935. Sebelum ke Semarang, grup wayang orang itu menggelar pementasan di Temanggung, Jawa Tengah. 

Aku grogi. Menggambar alis meleset terus. Akhirnya aku minta tolong Mbak Pur. Malam ini aku menari di Sri Wanito. 

“Alisku mencong. Nggak pas terus. Malah seperti preman!” 

“Grogi ta?” 

“Iya, Mbak. Demam panggung. Mbak Pur dulu juga begitu?” 

“Ya iyalah. Namanya pengalaman pertama.” 

“Aku sebenarnya lebih suka jadi Cakil.” 

Walah! Nggantengmu nggak kelihatan dong kalau jadi Cakil.” 

Aku menari sendirian. Menarikan Gatotkaca Gandrung. Kursi sudah dipenuhi penonton. Gatotkaca Gandrung mengisahkan ksatria Gatotkaca putra Bima yang kasmaran pada Dewi Pergiwa, putri Arjuna. Meski gagah perkasa, Gatotkaca tak berani mengungkapkan perasaan sehingga dia sangat gundah gulana. Malam itu aku cukup mendapat aplaus. Tepuk tangan penonton terngiangngiang sampai ke dalam tidurku. Tepukan tangan seorang anak kecil makin keras ketika Buto Cakil melompat salto berjempalitan. Mimpi itu terus hidup di benakku.

Meski keluarga raksasa, perawakan Cakil tidak sebesar raksasa umumnya. Tokoh Cakil hanya ada dalam pewayangan Jawa. Dia tidak ada dalam kitab Mahabharata. Ia memiliki beberapa nama sesuai dengan lakon. Bahkan sang dalang adakalanya memunculkan tokoh baru dengan meminjam sosok Cakil. Cakil jadi semacam simbol, mewakili sifat buruk, sisi lain dari sifat manusia seperti pada dua sisi keping mata uang. 

Eee... Ladalah! Ditanya kok ganti bertanya! Aku Cakil, ksatria Kerajaan Gondomayit! Hentikan langkahmu dan kembalilah! Ini perintah rajaku!” 

“Aku Arjuna. Aku tetap akan melanjutkan perjalanan, apa pun yang terjadi.” 

“Lah... lah... lah...! Arjune... Arjune..., pulanglah, Cah Bagus! Kau harus kembali atau mati di tanganku!” 

Buto Cakil bersiap tarung ketika melihat Arjuna bersikukuh. Malam ini aku menarikan Perang Kembang, cerita tanding saat Buto Cakil mencegat Arjuna yang baru keluar dari pertapaan di hutan belantara. Akhirnya aku memerankan Buto Cakil, figur yang tersimpan di memoriku sejak kecil. Buto Cakil adalah dunia kanak-kanakku. 

Seorang anak kecil bersorak-sorai setiap aku berjempalitan, melompat salto. Dia duduk di barisan depan. Ditemani adik perempuannya, lelaki kecil itu bertepuk tangan keras sekali. Matanya berbinar-binar. Dia tertawa lebar melihat tingkah lakuku. Cakil dilukiskan suka bercanda dan cengengesan.

Sebuah sumber menyebutkan Cakil gambaran rakyat biasa yang siap di garis depan, patuh dan tunduk kepada penguasa dan juga menjadi korban demi kepentingan penguasa. Bocah laki-laki itu terus bersorak riang, bertepuk tangan diikuti adik perempuannya. Aku tersenyum melihat tingkahnya. 

*** 
“GIOOOK!” teriak seorang anak kecil berlari menyusul adik perempuannya yang berusia belum genap dua tahun yang menyeberang jalan raya. Sebuah mobil kencang melaju. 

“Braaak!”(44)

Catatan:
Kulkul bulus: titir
Jepun: bunga kemboja
Dauh tukad: luar Bali
Sang dumadi: yang menitis
Balian: dukun
Pemedek: umat yang hendak sembahyang

Pejeng, Juli, 2017

- AS Kurnia, perupa asal Semarang yang tinggal di Bali.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya AS Kurnia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 15 Oktober 2017

0 Response to "Cakil"