Dilema | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dilema Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:26 Rating: 4,5

Dilema

KARTU ucapan ulang tahun yang paling indah yang pernah aku lihat selama ini, masih tergeletak di atas meja tulisku. Budi masih tetap seperti dulu, di kala kami sama-sama kuliah di perguruan tinggi. Dia senantiasa memperhatikan hari-hari yang berarti dalam kehidupanku. Setiap malam, sebelum tidur rasanya ingin aku mengenang dan membuka kembali lembaran kenangan bersamanya.

Dia adalah kakak tingkatku dari jurusan seni rupa yang masih satu fakultas denganku. Usianya hanya terpaut dua tahun denganku. Orangnya termasuk pendiam namun memiliki kharisma dan wibawa. Mungkin ini berlebihan, namun aku adalah salah seorang yang mampu menaklukkan hatinya. Ya, sedikitnya aku merasa bangga. Bangga karena aku telah dapat mengalahkan saingan-sainganku yang ingin menggaet idola kami semua. Bagai dalam novel remaja saja, aku mengalami bagaimana menghadapi gadis-gadis yang kenes dan agresif yang memberikan perhatian yang berlebihan kepada Budi di hadapanku. Aku agak mangkel juga, karena aku memang pencemburu. Kadangkala aku malu sendiri apalagi kalau kuingat dia menanggapi mereka secara wajar saja sebagai teman.

Setelah hubungan kami berjalan satu tahun, aku merasakan hubungan yang semakin intim. Tidak ada lagi rahasia di antara kami berdua. Kecuali pertemuan dengan kedua orang tuaku. Hal ini masih aku hindarkan karena kurasa belum saatnya bagi kami untuk melangkah lebih jauh sebelum kami menyelesaikan kuliah.

Waktu terus berjalan dan senantiasa mengitari hari-hari kami berdua. Selama itu yang paling kuingat adalah kebiasaannya. Dia selalu mengirim bunga setiap kali ia bertamu ke tempat kostku. Waktu pertama kali ia mengirim bunga, rasanya aku malu sekali dan tak mampu berbuat lain untuk menyambutnya. Ketika itu aku hanya bisa tersipu. Namun, setelah berulang kali terjadi akhirnya hal itu merupakan sesuatu yang selalu aku harapkan, sehingga membuat iri teman-teman sekostku.

“Wah lain kali bawa bunganya yang banyak dong, kita kan berlima,” olok si Lita temanku yang agak kenes yang membuat kami tergelak.

“Iya deh lain kali kalau nggak ada Weni boleh ‘kan bunganya digilir?” selorohnya sekali lagi.

“Wah, mudah-mudahan nggak terjadi deh,” kilahku sambil melirik Budi yang masih tersenyum.

“Ya doakan saja mudah-mudahan uang sakuku senantiasa lancar dan tak kurang apa-apa sesuai dengan jumlah yang ditargetkan orang tuaku,” timpal Budi dengan jujur.

Sejak saat itu rasanya tiada hari yang tak indah bila duduk bersamanya. Masih kuingat wajahnya yang oval dengan tulang rahang yang kuat serta mata yang tajam. Kekerasan wajahnya diimbangi dengan kelembutan hati yang terlihat dari garis-garis halus pada bibirnya. Aku bangga mendapatkan pria yang berpenampilan kokoh namun berhati lembut selembut salju. Aku belajar jujur, setia, tegas dan teguh pendirian, singkatnya belajar jadi dewasa darinya.

Kesetiaannya yang begitu besar, menambah cintaku pula padanya. Kuteringat bagaimana ia membantu mengetik skripsi ketika aku hampir putus asa karena terdesak ujian sidang yang sudah di ambang pintu. Dia mengetik sampai larut malam tanpa menghiraukan kesehatannya yang agak terganggu.


AKU merasa sangat berdosa ketika pada hari wisuda, Budi tak kuberitahu ke tempat kerjanya. Ya, dengan berat hati aku sengaja melupakannya. Melupakannya karena ada pendamping lain yang telah lebih dahulu disediakan oleh orang tuaku.

Kembali mengingat itu semua kepalaku terasa berat. Dua kutub yang berbeda, yang keduanya harus aku daki karena keduanya harus aku hadapi. Entah mana yang lebih berat timbangannya. Namun yang pasti, cintaku yang pertama merupakan cinta yang berdasarkan kewajiban, sedangkan yang kedua timbul dari ketulusanku. Ya Tuhan, aku tak mampu menghadapinya sendiri.

Sudah dua bulan terakhir ini aku menghindar diri dari Budi. Begitu kuliah selesai aku menutup diri. Sudah sepuluh surat termasuk kartu ucapannya belum aku balas. Aku belum dapat memutuskannya dengan pasti.

Pagi ini dia mengharapkan aku datang menemuinya, di kota tempat kami kuliah dulu. Dia tak mengatakan keperluannya, namun aku menduga pasti ia ingin membicarakan tentang kelanjutan hubungan kami. Rasanya belum ada jalan terang untuk menemuinya.


KUKETUK pintu kamar kakakku, untuk mengajak berbincang dan meringankan segala beban pikiranku. 

“Ada apa, Wen?” tanyanya.

Kulihat wajah kakakku yang nampak lebih tua dari umur yang sebenarnya. Wajahnya kusut menunjukkan penderitaan. Beberapa waktu yang lalu ia telah ditinggalkan tak menentu oleh suaminya dengan beban seorang anak yang masih kecil.

Lama aku terpana.

“Hm, o … tidak,” sahutku ragu sambil meninggalkan kakakku yang kebingungan.

“Weni, ada apa?” terdengar suara kakakku sedikit berteriak.

Aku tak mampu menjawab dan kembali ke kamar bersama kesendirianku. Aku tak tega dan merasa percuma menceritakan segalanya kepadanya. Raut wajahnya tadi telah menunjukkan jawaban yang aku tanyakan.

Beberapa tahun yang lalu dia mengalami dilema seperti yang kualami saat ini. Tapi menuruti kata hatinya, dia memilih untuk menikah dengan pilihannya sendiri tanpa menghiraukan pendamping yang telah disediakan oleh orang tuaku. Akhirnya ia mengalami tragedi seperti itu. Dengan memelas dia kembali lagi ke rumah orang tuaku yang menerimanya dengan keakraban yang berbeda dari sebelumnya. Aku kembali merasakan keterasinganku.


JAM di kamar berdenting delapan kali. Aku berkemas dan berbekal kebingungan walaupun akan pergi diiringi doa restu kedua orang tuaku.

Selama perjalanan aku mencoba menenangkan diri. Aku mencoba menutupi keriuhan hati yang berlomba dengan gemuruhnya suara kereta api. Aku memantapkan keputusan untuk lebih mencintai kedua orang tuaku. Bagaimanapun juga aku hidup di lingkungan mereka. Mereka telah membesarkanku dengan susah payah sehingga aku kini menjadi sarjana. Kapan lagi aku dapat berbakti pada mereka? Kakakku telah menjadi bukti segalanya. Aku tak kuasa mengecilkan arti orang tua. Kubulatkan semua tekad.

Suara kereta api semakin lama semakin pelan. Perlahan sekali dan akhirnya berhenti menyentakkan lamunanku. Kucoba menelusuri wajah-wajah penumpang lain.

Wajah-wajah yang ceria dengan semangat yang menyongsong di kota. Orang dewasa berbekal harapan bahwa kota memiliki segalanya dan dapat memenuhi impian keluarga di kampung. Sedangkan anak muda memancarkan semangat menggebu untuk dapat memetik harapan yang diangankan orang tuanya.

Aku melangkah turun ke peron. Sambil berjalan, aku mempersiapkan diri, apa yang harus aku katakan, salam dari orang tuaku, bersikap konsekuen bahwa aku patuh pada pilihan orang tuaku. Aku melangkah mantap.

“Weni,” tiba-tiba terdengar panggilan yang mendebarkan jantungku. Lututku terasa lemas ketika kumenoleh.

“Budi …” hampir tak keluar suaraku, “kau … kau ada di sini?”

Desis kereta yang berjalan dan hirukpikuk orang banyak tak kuasa menahan gejolak hatiku. Dan hatinya; karena ia segera menghampiri dan memelukku. Ya, Tuhan, kudengar detak nadinya senada dengan detak nadiku. Apakah serenada yang mengalun dua bulan lalu akan terulang lagi? Entahlah 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kaniti
[2] Pernah tersiar di "Kharisma Elida" tahun V No. 2 Juli 1986

0 Response to "Dilema"