Ego | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ego Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Ego

DARI penampilan, kamu tak banyak berubah. Kecuali lebih tinggi dan berkacamata dengan setelan kemeja berpadu jeans. Tetap saja kurus, rambut tipis, dan ceria. Meski beberapa kali ada kontak telfon seadanya, dua puluh tahun berlalu, acara perpisahan kelas enam sekolah dasar, rasanya masih seperti kemarin. Itulah hari terakhir kita bersua. Tiba-tiba saja kamu menelpon dan minta dijemput di Bandara Hasanuddin.

“Kita ke mana?” Tanyaku sambil menyetir roda empat meninggalkan bandara kebanggaan Sulsel.

“Pusat kota. Hotel C. Tau kan?” Jawabmu sambil membuka lembaran sejenis peta. Secarik kertas terjatuh di samping saya. Tertulis tiket seminar internasional. Cepat-cepat diambilnya.

“Ya taulah. Saya kan besar di kota tercinta ini, Makassar.” Balasku seperti membacakan proklamasi. “Urusan apa nih? Kayaknya penting sekali?”

“Bisnis.”

“Apa nih? Bagi-bagi proyek dong”.

“Memang itu yang sangat saya harapkan.”

“Oh ya? Peran saya apa?”

“Saya hanya minta kamu mengantar dua hari ini. Pokonya kamu akan dapat bagian sangat besar. Tolong yah?”

“Tapi saya harus berkantor”

“Minta izinlah.”

Saya masih coba berkelit, tapi kamu sudah menepuk pundakku penuh senyum. “Ok sobat?” Sambungmu. Kalau senyum itu sudah keluar, rasanya tak kuasa menolak, sejak dulu.

***
“ANAK-ANAK, hari ini kelas empat punya teman baru. Pindahan dari Makassar karena ikut orangtuanya yang bekerja di Pabrik Gula Takalar, pemilik sekolah ini. Nama teman kalian ini adalah Rangga Alisyahbana. Panggilannya Rangga. Ayo semua salaman dan berkenalan.” Setelah bu guru selesai, kamulah orang pertama yang maju menyalamiku.

“Teguh Wahyu. Panggil saya Ego.” Senyum pertama di kelas itu adalah awal episode petualangan-petualangan kita. Hanya tiga tahun di sekolah dasar, sangat berkesan. Saat ada tugas kerajinan tangan membuat pot bunga, kita menelusuri aliran sungai yang curam mencari tanah liat, hingga nyaris tenggelam ketika terperosok di tebingnya. Untunglah seorang pencari ikan menolong kita. Namun hasilnya luar biasa, pot bunga buatan saya disusul milikmu yang terbaik di sekolah.

Lain waktu ada pekerjaan rumah membuat hiasan dinding dari bambu. Tugas yang mengantarkan kita ke desa seberang Ko’mara, mencari bambu yang asli masih tertanam. Tekad ini mewajibkan kita harus melewati perkebunan tebu yang luas. Benar kata orang, banyak ular yang kerap muncul ke jalan setapak, karena dua bocah sepuluh tahun ini harus menunggu satu jam sampai hewan berbisa itu kembali masuk ke hutan tebu. Lagi-lagi, saat hasil kerajinan tangan itu diumumkan, kita yang unggul. Kali ini kamu yang posisi pertama.

Suatu waktu murid kelas enam mendapat tugas melukis dengan cat minyak di kanvas. Kita pun sepakat bersepeda menempuh sepuluh kilometer ke pengrajin kayu di daerah Parrannuangku. Di sana kita mendapat kayu-kayu sisa potongan meubel untuk menjadi gagang kanvas dan bingkainya.

Ketegangan muncul saat pulang. Karena takut kemalaman, kita melewati jalan kompas di daerah perbukitan sekaligus perkebunan tebu yang akan melintasi bagian belakang pabrik gula. Di pertengahan jalan, ban sepeda saya bocor. Akhirnya harus didorong bergantian sambil menggendong kayu. Tak lama, ban sepeda kamu yang bocor. Kita berdua pun mendorong roda dua tak bermesin itu.

Menjelang dekat pabrik saat malam telah pekat, muncul gerombolan anjing hutan sekitar 9 ekor. Berlari tentu tindakan yang tak menguntungkan. Jongkok dan mengumpulkan batu menjadi tindakan. Perang pun dimulai. Bergantian saya dan kamu melemparinya.

Semakin kita melemparinya makin menggonggong pula mereka, meski kerumunan itu tak berani juga lebih dekat akibat serbuan batu. Akhirnya sambil melempari kita berlari ke arah pabrik yang sudah dekat, hingga mendapati tangga bagian mesin gilingan. Langsung saja kita berlomba naik hingga di bagian tertas dari gedung bertabur besi itu. Di sanalah malam itu dalam lapar dan terlelap. Pagi hari dibangunkan oleh karyawan. Setelah mengambil sepeda, kita diantar dengan mobil perusahaan ke rumah.

Tapi mungkin pengalaman paling menggelikan saat musim mangga tiba. Seperti biasa, jika buah harum itu di pepohonan rumah sudah berkurang, anak-anak kompleks perusahaan mulai gentayangan mencari mangga penghuni seperumahan. Sebagian warga cuek saja, mungkin karena buah itu sudah tumbuh sebelum mereka mengisi rumah-rumah dinas, tapi sebagian lagi menggelar perang terbuka dengan memagari rumah, membungkus buah yang mulai menguning, hingga memasang papan pengumuman; buah ini jangan diambil tanpa izin pemiliknya.

Tantangannya, buah-buah yang diamankan inilah yang paling tinggi derajat spesies mangganya, enaknya hingga harganya, sehingga rasa takjub, penasaran, dan kriminal pun menyatu. Hasil kesepakatan tercapai, target; mencuri mangga. Di luar dugaan, saat operasi malam yang dirancang sangat rapih itu, berantakan seribu persen ketika kita sudah berada di atas pohon sambil asik memasukan mangga ke kantong plastik, tiba-tiba dari bawah sinar terang menembus dahan-dahan menyemprot kami dengan jelas, sebuah senter besar. Karuan saja kami diam tak berkutik.

“Nah, ini dia yang sudah lama saya tunggu. Menangkap basah pencuri mangga.” Suara pemilik terdengar jelas dan garang. Atas kejadian itu kita dihukum di sekolah dengan menjemurkan diri di lapangan selama dua jam.

Suatu kali menjelang penamatan kelas enam, sambil menikmati jagung yang ditanam petani di belakang sekolah, kita bicara tentang cita-cita.

“Kalau sudah besar, kamu mau jadi apa Rangga?”

“Insinyur. Teknik Elektro. Saya ingin ke bulan.” Jawabku enteng. “Kamu?”

“Sama dong. Tapi saya mau ambil nuklir.”

“Ha? Buat apa?”

“Kalau ada yang menjajah Indonesia, saya mau hancurkan seperti Nagasaki dan Herosima.”

“Kalau misal tak lulus, jadi apa?” Selidikku.

“Mmm, jadi James Bond. Indonesia kayaknya nggak punya detektif sehebat dia.”

“Ha ha ha. Kalau saya mungkin jadi tentara saja.”

“Jangan jadi tentara.” Protesmu.

“Kenapa?”

“Pertama, kamu pendek. Kedua, tentara itu capek siap. Ha ha ha.”

Sore merah itu membuai impian dua anak bangsa. Ceria. Lepas.

***
MAKASSAR gempar. Semalam tokoh Indonesia yang juga pemimpin umum sebuah partai politik dan ratusan perusahaan, tertembak dalam sebuah seminar internasional yang berlangsung di Hotel C. Seminar itupun langsung bubar.

Mendengar sayup-sayup berita di tv itu, kontan saya kaget. Hotel C? Tempat Ego. Melihat waktu dipergelangan menunjuk angka tujuh, teringat untuk segera menjemput. Hari ini kamu ingin berkunjung ke Celebes Convention Center dan beberapa pusat perbelanjaan.

Pemeriksaan sangat ketat saat memasuki halaman Hotel C. Di berbagai sudut tampak kepolisian berjaga. Beberapa bagian hotel di tandai dengan batas melintas berwarna kuning. Kamu tampak siap saat saya memasuki kamar di lantai tujuh hotel berbintang lima.

“Ok. Ayo!” Ajakmu mempersilahkan saya ke luar kamar.

“Langsung ke tripel C?”

“Kita cari sarapan dulu. Saya rindu coto nih.”

“Bisa aja kamu. Kita ke Jalan Gagak kalo begitu.”

Pemandangan tegang nyaris terlihat di semua bagian gedung. Mata para pengguna jasa hotel hingga pelayan seakan menyimpan curiga kepada siapa saja yang mereka temui. Sesekali terdengar jelas pembicaraan mereka seputar penembakan tokoh nasional itu.

“Kamu di mana saat kejadian?”

“Di kamar. Saya juga baru tahu tadi pagi saat pihak berwajib memeriksa semua penghuni kamar.”

“Wah, masalah ini akan mengubah peta politik dan posisi Indonesia di dunia. Bayangkan aja Go, yang tertembak tokoh nasional bahkan internasional.”

“Benar juga Ngga. Imbasnya ke Makkassar. Bisa jadi membuat investor undur diri dari sini. Syukurnya kan belum mati. Masih koma kata tv.”

***
DUA mangkuk makanan khas Makassar sangat lahap masuk ke tenggorokanmu. Seakan baru kali ini lagi mendapatinya. Suasana warung coto yang sangat terkenal itu cukup padat sejak pagi. Beberapa orang dengan pakaian dinas tampak turut menikmati.

“Rangga, kita harus pergi sekarang.” Ajakmu dengan berbisik.

“Lho, saya masih makan nih.”

“Rangga, plis. Sekarang juga.” Kamu beranjak cepat mengambil kunci mobil dan menyimpan lembaran ratusan ribu di meja.

“Bayar ya. Saya tunggu di Mobil!”

Beberapa orang terlihat turut berdiri saat saya ke luar dari warung itu. Mobil telah berbunyi, berarti kamu yang akan menyetir.”

“Cepat naik!” Teriakmu.

“Apaan sih.” Tergopoh-gopoh saya membuka pintu. Mobil melaju sedikit kencang.

“Ikut saja. Saya mau ke bandara sekarang. Beri petunjuk. Cepat!”

“Belok kiri lalu lurus terus saja. Ego, ada apa sebenarnya?”

“Kita gantian menyetir ya. Tapi mobil tak perlu berhenti.” Sambil menyetir kamu berdiri dan berpindah ke sisiku. Tak sempat menjawab saya sudah posisi kemudi. “Kencang sedikit ya.”

Mobil yang tadinya kencang langsung saja saya hentikan di tepi jalan.

“Ego! Jawab saya. Apa sebenarnya semua ini?”

Kamu membuka tas dan mengambil sesuatu di dalamnya. Pistol.

“Angga. Tolong jalankan cepat.”

“Tidak, saya butuh penjelasan.”

Terdengar sirine mobil patroli polisi dari belakang kita. Detik berikutnya terdengar pecahan kaca mobil. Sebuah tembakan.

“Jalankan Angga, ayo!” Jawabmu sambil membuka kaca mobil dan menembak ke arah belakang. Langsung saja mobil kulaju kencang dengan dada berguncang.

“Kita ke mana?”

“Hindari mereka.” Pecahan kaca-kaca spion di sampingku yang terkena peluru berhamburan.

Kecepatan mobil sangat tinggi membelah Kota Daeng. Berputar-putar hingga masuk ke area pelabuhan. Mobil yang mengejar kini dari dua arah dan semakin banyak.

“Ke tepi pelabuhan. Dekat pantai.” Perintahmu kuikuti begitu saja.

“Dengarkan Angga. Kamu akan ditangkap sesudah ini, tapi yakin saja itu tak lebih dari dua hari. Sesudah itu kamu akan dilepas tanpa tuduhan apa pun. Nanti periksa rekeningmu, ok?” Senyummu menutup kalimat. Pintu mobil lalu terbuka dan kamu berlari kencang hingga melompat masuk ke dalam laut. Belasan mobil polisi mengelilingiku.

“Angkat tangan!” Sebuah pistol mengarah ke kepalaku.

***
DUA hari berikutnya aku benar-benar bebas dari Rumah Tahanan Negara tanpa pernah diiterogasi. Sebuah surat diserahkan petugas rutan padaku.

Singkat saja Sobat.

Terima kasih atas bantuan kamu selama saya di Makassar.

Sebenarnya kejadian kemarin tak perlu ada, sekiranya salah satu dari tim saya tidak ceroboh dalam mengungkap kasus penembakan.

Tokoh yang tertembak itu sebenarnya juga musuh utama negara, karena dialah bos mafia perdagangan obat dan kriminal terbesar di Asia tenggara. Dia pun banyak diincar mafia yang lain. Rencana penembakan itu sudah tercium kepolisian, namun data intelejen kurang akurat pihak siapa yang akan melakukannya. Saat pengungkapan kasus, salah satu anggota saya menyebut nama saya sebagai bosnya ke penyelidik lain.

Dalam kepolisian, mafia itu juga punya orang. Dialah yang membusukkan jika saya terlibat penembakan. Makanya saya dikejar. Tapi semua sudah diselesaikan Mabes. Terus terang, ketegangan dikelilingi sembilan ekor anjing hutan di malam gulita masih lebih hebat.

Terakhir Sobatku yang baik. Saya yang akhirnya jadi polisi, sekaligus James Bond, agar tidak capek siap. Hhh. Ttd: Ego

Tut tut. Dering sms hp. Pesan dari istriku; Ayah di mana? Rekening Bunda bertambah Rp 25 jt. Ayah yang isi? Duit apa?

Fahruddin Ahmad lahir di Bulukunyi (Sulsel), 6 Agustus 1978. Aktifitas Literasi: Ketua FLP Sulsel. Tinggal di Maros, Sulsel.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fahruddin Ahmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu, 22 Oktober 2017

0 Response to "Ego"