Hari yang Kosong | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Hari yang Kosong Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Hari yang Kosong

HANING tidak tahu pasti berapa lama ia menghabiskan waktu di kamar mandi memandang keran yang bocor. Mungkin sudah sepagian ini. Atau malah baru beberapa menit saja. Beberapa waktu terakhir, ia seperti mengalami disorientasi.

Tes... tes... tes...

Suara tetesan air yang berirama menjadi latar yang sempurna untuk kekosongan yang terasa kental di sekitarnya. Haning berusaha mengingat-ingat, apa yang membuat sekelilingnya terasa begitu muram dan sunyi. Mungkin semua ini dimulai sejak Una, putrinya, berpamitan sambil menitipkan pesan-pesan.

’’Hari ini aku pulang sore, Ma. Ada pelajaran tambahan di sekolah. Kalau Mama tidak repot, aku ingin sekali makan puding cokelat buatan Mama sepulang sekolah nanti.”

’’Jangan lupa obat dan vitaminnya diminum, ya, Ma!”

Wajah gadis berusia 14 tahun itu berkilau terkena cahaya matahari pagi. Ia mendekatkan wajahnya, berusaha menelisik hati Haning.

’’Mama tidak boleh sedih sendirian. Berjanjilah Mama akan menungguku pulang dulu sebelum mulai menangis untuk nenek.”

Haning tertawa kecil. Ah, gadis itu selalu mengerti apa yang ia rasakan.

Setiap menjelang hari kepergian ibunya, Haning akan mulai demam sehari sebelumnya. Begitu saja, tanpa ia rencanakan dan harapkan. Lalu, ia akan mengajukan izin cuti selama dua hari dari kantornya. (Haning tak pernah mengajukan cuti kecuali untuk momen ini). Dan sudah berapa lamakah ritual itu berlangsung? Una pasti akan langsung bisa menjawabnya dengan cepat.

’’Tiga tahun, Ma. Nenek pergi tiga tahun yang lalu.’’

Tak tahan dengan suara tetesan air yang terus menyeret perasaan langut, Haning bergegas keluar dari kamar mandi menuju ayunan kursi kesayangannya. Ia berpikir akan langsung menelepon Pak Muji saja. Pria tua, tukang langganan keluarga mereka, yang akan dengan senang hati merapikan apa-apa yang membutuhkan sentuhan tangannya di rumah itu. Tentu saja ia senang hati. Sejak dulu, Haning termasuk royal dalam memberi upah. Pernah Haris memprotes nominal yang Haning berikan kepada pria tua itu atas jasanya memperbaiki pintu kamar mereka yang tak bisa ditutup.

’’Lain kali aku saja yang memperbaiki pintu atau apa pun yang rusak di rumah ini.’’

Haning menatap Haris datar. ’’Aku akan dengan murah hati mengalokasikan dana perawatan rumah kita padamu, asal kau bisa menjamin pekerjaanmu selesai sebelum salah satu anggota keluargamu datang mendadak lagi.’’

’’Apa maksudmu?” Ada nada terhina dalam suara pria itu.

Perempuan itu mengalihkan pandangan sebelum berbicara lagi seolah tak peduli.

’’Kau tahu, kali terakhir adik lelakimu datang ke sini, aku sedang mengganti bajuku di kamar yang terbuka. Hari itu ia sedang berinisiatif menjemput Una di sekolah dan mengantarnya ke rumah. Kalau kau tak siap untuk memperbaiki apa pun kerusakan yang timbul di rumah ini, lebih baik kau serahkan saja urusan itu padaku.’’

Wajah Haris menggelap, namun ia tak berkata apa-apa lagi.

Ah, Haning mulai mengerti, mengapa ibunya selalu melarangnya untuk mengingat-ingat masa lalu. Diperlukan energi yang besar untuk melakukannya. Bila ia tak siap, ingatan itu akan mengisap seluruh kesadarannya. Dan, sebagai akibatnya, menghadirkan perasaan kosong yang menyedihkan.

Sayangnya, setiap tahun, ia terjebak untuk kembali berbuat hal itu. Hari kematian orangorang yang ia cintai selalu menjadi pemicunya. Ibunya adalah perempuan dengan banyak teori di kepalanya. Buah pikirannya selalu ia jejalkan ke dalam hari-hari Haning setiap ada kesempatan. Dan filosofi ibunya tentang pernikahanlah yang paling Haning ingat saat ini.

’’Perhatikan kerusakan-kerusakan kecil di dalam rumahmu. Jangan dibiarkan hingga bertambah besar.’’

Haning mengingat ibunya yang selalu penuh perhatian pada bak kamar mandi yang bocor, pagar yang berdecit karena karatan, atau kaca jendela yang retak. Ibunya tak pernah membiarkan kerusakan-kerusakan itu bertahan lama.

’’Kerusakan kecil yang kau biarkan, akan membawamu pada kerusakan yang lebih besar. Bila sudah demikian, akan semakin mahal harga yang harus kau keluarkan untuk memperbaikinya. Bila para pria tak ada waktu, kita yang harus menyelesaikannya sendiri, Haning.”

Haning sangat menyadari itu. Dalam kesendiriannya kini, betapa Haning ingin memutar waktu. Kembali ke saat kerusakankerusakan di dalam rumahnya masih kecil dan lebih mudah diperbaiki. Mungkin, entah bagaimana caranya, perbaikan tidak akan menghabiskan begitu banyak usaha.

’’Jangan terlampau mencintai suamimu. Cintai sewajarnya saja.’’

Tawa tersemburdari mulut Haning saat mendengar nasihat ibunya itu di malam pernikahannya.

’’ Ya ampun, Bu, aku tak mungkin menikahi Haris jika tak teramat mencintainya.’’

Ibunya tersenyum tipis. Seperti menyesali kenaifan Haning.

’’Kau harus menjaga hatimu juga, Haning. Jangan kau biarkan seluruh hatimu terisi cinta untuknya. Karena, hati adalah organ tubuh yang paling mudah berubah. Jika kau tak terlampau mencintai, kau tak akan mudah sakit hati.”

Selama 25 tahun ting gal bersama orang tuanya, Haning bersumpah bahwa ibunyalah yang berada dalam posisi teramat mencintai ayahnya. Ia menyaksikan bagaimana ibunya memuja ayahnya. Melakukan semua hal di dalam rumah mereka secara sempurna. Namun, cinta ibunya yang posesif telah membuat jarak tak kasatmata dengan ayahnya yang pendiam itu. Haning merasakan rumah mereka semakin rapi, semakin sempurna. Namun, beku.

Ibunya semakin sering menghabiskan waktu dengan lemarinya. Ya, lemari bajunya. Ia menjadi begitu gemar membongkar isi lemari, untuk kemudian merapikannya lagi dengan gaya berbeda. Suatu waktu, baju-baju ayahnya akan terurut berdasarkan gradasi warna. Di lain waktu, berdasarkan motif dan coraknya: mulai dari yang polos hingga abstrak. Bahkan, pernah berdasarkan urutan terbaru, atau terusang.

’’Lemari baju adalah tempat yang termudah untuk menemukan cinta dan bahagiamu, Haning. Kau mencuci dan menyetrika pakaian suamimu. Merapikannya. Menyentuhnya. Mencium aromanya. Maka, kau akan selalu bisa mencintainya sekali lagi. Percayalah!”

Satu hal yang ibunya tak pernah sadari bahwa Haning kerap memergokinya menangis diamdiam di hadapan baju-baju ayahnya yang tersusun rapi itu. Begitu terus, hingga saat ayahnya berpulang, tak lama setelah kelahiran Una. Entah dimulai sejak kapan, Haning mulai memikirkan nasihat ibunya tentang kerusakan-kerusakan di dalam rumahnya tidak secara harfiah semata. Mungkin, retaknya komunikasi di antara dirinya dan

Haris pun telah luput dari perhatiannya. Perlahan berupa lubang kecil. Hingga, semakin lama semakin membesar.

’’Mengapa berbicara denganmu menjadi begitu sulit sekarang?” Haris pernah berkata dengan sorot mata lelah, usai debat berkepanjangan yang kembali terjadi di antara mereka. Pada suatu waktu, entah untuk keberapa kali.

Ya. Haning pun tak mengerti, mengapa begitu sukar memahami pria itu kini. Ia juga mencoba mengingat, dimulai sejak kapan cinta menggebu-gebu yang ia miliki di awal pernikahan perlahan mulai menyusut kadarnya. Pudar serupa kaus putihnya yang terlalu sering dicuci.

Mungkin, retakan-retakan di dalam rumahnya yang tak kunjung ia perbaiki --mereka perbaiki, semakin merenggangkan hubungan mereka. Menjadikan mereka sepasang orang asing yang tak kunjung menemukan lintasan jalan yang sama. Ia berjalan ke utara, sementara Haris ke selatan. Dan di dalam perjalanan mereka masing-masing, sementara ia masih tersesat, Haris telah bertemu dan beririsan dengan orang baru. Seseorang yang, tiba-tiba saja, masuk ke dalam jalan Haris. Mengiringi langkahnya. Menjauhkan jarak mereka. 

’’Apakah kau pernah sungguh-sungguh mencintaiku?’’ Haning gantian bertanya dengan sorot mata lelah.

Haris menatapnya lama tak bersuara. Sementara Haning masih mencoba mencari apa yang masih tersisa di mata pria itu. 

’’ Bukankah aku yang seharusnya bertanya itu?” Haris berkata tegas. ’’Kau menarik cintamu perlahan dariku. Kau seperti takut untuk mencintaiku utuh. Aku tak pernah bisa memahami dirimu, Haning.”

Rasanya, sudah sangat terlambat bagi Haning untuk menceritakan ketakutanketakutannya. Bahwa ia takut terlampau mencintai pria itu dan berakhir sama merananya seperti ibunya. Karena itu juga, ia berusaha sekuat mungkin untuk mandiri. Ia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan kantor, tak ingin seperti ibunya yang menghabiskan se panjang hari berurusan dengan lemari. Ia melaju tinggi dalam karirnya. Begitu sibuk. Sekaligus begitu rapuh. Ia terus (berusaha) meyakinkan dirinya bahwa ia perlu melakukan semua itu agar memiliki pertahanan diri yang cukup. Tapi, ia tahu, yang menyedihkan dari semua itu adalah ia tak pernah bisa merasa cukup. 

’’Mengapa harus perempuan itu, Haris?” Ia pernah mencoba mengonfrontasi pria itu. Bayangan gadis lugu dan sederhana, penjaga toko bunga langganan mereka, mengirimkan sengatan yang berdenyut-denyut di sekujur tubuh Haning. 

Haris menatapnya tajam. ’’Kau terlalu tinggi untuk kuraih, Haning. Kau tegak berdiri, seakan tak membutuhkan diriku. Kau mengatasi semua masalah di dalam rumah --masalah kita, tanpa pernah melibatkanku dan membiarkanku merasa berarti sebagai pria. Bersamanya, aku tahu rasanya dibutuhkan...’’ 

’’Jangan mengada-ada!” Ia mulai histeris. ’’Kau yang sejak awal mengabaikan semua kerusakan dan masalah di rumah ini!” 

’’Itu karena kau tak pernah memberiku kesempatan untuk memperbaikinya! Tidakkah kau sadar? Aku suami. Dan aku punya harga diri!”

’’Kau suami. Tapi, kau juga seorang ayah! Jika itu memberimu sedikit pemikiran untuk hubungan kita selanjutnya.” Haning membenci nada ancaman dalam kalimatnya. Namun, ia tahu, Una adalah segalanya baginya. Terlebih, bagi pria itu.

*** 
SUARA tetes air dari keran di kamar mandi belum berhenti. Haning mengerjap. Tubuhnya meringkuk pada ayunan kursi yang menempel di dinding dekat jendela. Ia seakan baru tersadar dari sebuah mimpi panjang. Apakah ia sempat tertidur? Sudah berapa lama ia duduk di sini? Matahari semakin turun ke barat. Langit yang mulai kemerahan dan angin yang berangsur sejuk membuat Haning teringat pesan Una saat berpamitan. Oh, bagaimana ia bisa lupa tentang puding cokelat itu?

Dengan cepat Haning mengambil bahanbahan dari kulkas yang sudah ia siapkan sejak tiga hari lalu. Agar-agar, susu, cokelat bubuk, hingga cokelat batang yang dengan segera ia lelehkan terlebih dahulu. Sejak dulu, baik Una maupun Haris, tak pernah bisa menolak manisnya puding cokelat yang ia buat. Puding cokelat yang sama seperti yang biasa ibunya buat untuknya di masa silam.

’’Ini adalah waktu favoritku. Aku, Mama, Papa, dan puding cokelat!” Una pernah berkata dengan kegembiraan yang tak ia tutup-tutupi. Matanya bersinar saat mereka duduk bertiga di meja makan mungil, menghadap gelas puding masing-masing. Haning ingat betapa lembut tatapan Haris kepada Una dan dirinya saat itu. Betapa mudah mereka bahagia dulu.

Aroma cokelat yang manis memenuhi seisi rumah. Cairan puding cokelat itu sudah mengisi gelas-gelas bening, tinggal menunggu dingin dan memadat. Haning menyadari, sudah beberapa kali Una memintanya membuatkan makanan kesukaannya itu. Tapi, lagi-lagi, kesibukannya di kantor selalu memberinya alasan untuk selalu menunda dan mengingkari janjinya. Kali ini ia akan memastikan Una tersenyum saat memasuki pintu rumah.

Detik waktu menyeret matahari tenggelam, membawa gelap merambat pada dindingdinding rumah. Haning sengaja tidak menyalakan lampu-lampu. Ia menatap tiga gelas puding di hadapannya. Menghirup aromanya perlahan. Menunggu. Lalu, mulai menangis begitu saja. Mendadak, Haning ingin bisa memercayai satu saja dari filosofi ibunya tentang pernikahan. Ia berjalan cepat ke kamarnya, menuju lemari bajunya. Ia ingin menyentuh baju-baju Haris. Mencium aromanya. Lalu, jatuh cinta sekali lagi pada pria itu.

Di hadapan pintu lemarinya yang terbuka lebar, Haning akhirnya menyadari mengapa kekosongan hari itu terasa begitu pekat. Pria itu telah membawa pergi semua pakaiannya. Tak ada lagi yang tersisa di dalam sana. Ia dan Haris telah gagal, dan rasanya teramat menyakitkan. Bukan, bukan karena gadis lugu dan sederhana itu. Ia rasa, mereka berdua telah terluka sama hebatnya sejak kepergian Una.

Dan sudah berapa banyak terang dan gelap berlalu sejak Una tak pulang ke rumah? Ia masih mengalami disorientasi.

Mungkin, itu dua tahun yang lalu. Saat ia mulai demam menjelang hari kematian ibunya, Una pamit sambil menitipkan pesan-pesan. Mengingatkan Haning untuk tidak bersedih sendirian dan menunggunya pulang bila ingin mulai menangis. Hanya saja, gadis itu tak pernah bisa menagih janji Haning. Bayangan wajah Una yang berkilau terkena sinar matahari pagi adalah yang abadi terpatri di dada Haning. Sebuah sepeda motor menghantam tubuh Una saat menyeberang jalan sepulang sekolah. Maka, mengingat hari kematian ibunya sejak itu akan selalu diawali dengan mengingat hari kematian putrinya. Juga, hari kepergian Haris setelahnya.

Sepi yang bergulung-gulung mencengkeram hatinya. Suara tetesan air di kamar mandi serupa nada lagu sedih yang tak memiliki akhir. Haning sudah memutuskan, Pak Muji tak perlu terburu-buru menghentikannya. Ia membutuhkan hiburan itu saat ini. *** 

Pasuruan, Agustus 2017 

Yulina Trihaningsih, menulis cerpen, cerber, dan artikel ringan yang termuat di beberapa media nasional.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yulina Trihaningsih
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 1 Oktober 2017

0 Response to "Hari yang Kosong"