Honey Politics | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Honey Politics Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:00 Rating: 4,5

Honey Politics

ALIDA kaget. Malam itu saat gerimis mengguyur, ia mendapat surat dari mantan kekasih, Dulni. Alida membuka amplop surat itu perlahan. Jemari lentiknya gemetar. Bibir tipis merah merona itu langsung mengeja huruf demi huruf. “Alida, maaf jika aku menganggu. Pada bulan penuh kasih sayang ini, aku meminta padamu. Pintaku sederhana, Alida. Memang dulu kau pernah menolak lamaranku untuk memperistrimu.

Permintaan itu terlalu berlebihan dan kurang ajar, Alida. Tak pantaslah lelaki sepertiku menjadi pendamping hidupmu. Alida, kini pintaku sederhana. Meski kau tak memilihku sebagai suami, tolong kali ini pilihlah aku sebagai gubernurmu. Ini lebih sederhana dan tak memberatkanmu, Alida. “Alida, jika nanti aku menang pada pilkada dan menjadi gubernur, tentu aku sangat bersyukur. Namun kemenanganku itu akan kusesali jika kau tak mendukungku. Alasanku sederhana, mereka yang memilihku tak lebih tahu darimu.

Mereka hanya melihatku dari topengku. Adapun engkau, Alida, ya engkau lebih tahu tentangku lebih dari siapa pun. Jika kau memilihku, itu berarti....” Alida tak melanjutkan membaca surat itu. Dulni sebelumnya sudah terlupakan dari ingatan Alida. Namun malam itu, sebuah surat datang dan mengingatkan semua. Memori Alida bangkit dari tidur panjang.

Surat itu bagai alarm yang membangunkan. “Huh! Dasar lelaki gombal! Hanya mencari dukungan!” ujar Alida pada surat yang terkulai lesu itu. Gadis itu berjalan cepat menuju ruang tengah. Ia masih memasang muka cemberut. “Ada apa, Nak?” tanya Tante Jeni curiga. “Dulni menggangguku lagi, Ma.” Tante Jeni mengernyitkan dahi sesaat. Ingatannya samar-samar. Ia meletakkan kue di atas meja. Lalu berbisik, “Dulni?” “Dia mencalonkan diri jadi gubernur, Ma!” ujar Alida pada sang mama. Tante Jeni kini mengingat kembali.

Dulni lelaki kurus kerempeng itu pernah ia siram saat duduk di taman rumahnya. Lelaki itu pula yang membuat onar karena malam-malam melompati pagar rumahnya. Tante Jeni teringat kembali telah membentak- bentak pemuda itu. Ia campakkan. Waktu itu Tante Jeni begitu kesal. Kekesalan itu bermula saat Dulni menghamili Alida. Dengan marah, Tante Jeni menyuruh Alida menggugurkan kandungan. “Bukankah para calon gubernur itu tak ada yang bernama Dulni?” tanya Tante Jeni kesal dan penasaran.

“Memang nggak ada, Ma. Dulni itu nama saat ia jadi anak jalanan. Dulni itu bernama asli Darsun!” Tante Jeni terperanjat kaget. Ia baru mengetahui Darsun adalah nama lain Dulni. “Pantesan, ketika nonton dia di televisi Mama seperti kenal. Tapi kenapa dia makin santun? Dia juga sering mengutip ayat-ayat kitab suci!” ujar Tante Jeni. “Kan semua calon gubernur begitu, Ma. Wajarlah!” Wanita paruh baya itu kini menyesali perbuatan pada masa lalunya pada Dulni alias Darsun.

Ia tak menyangka lelaki yang pernah ia siasiakan itu mencalonkan diri jadi gubernur. Kue di atas meja ia ambil kembali. Tante Jeni berpikir keras. “Wah bahaya, Nak!” “Bahaya apa, Ma?” “Jika Darsun menang, keluarga kita pasti tak aman. Lelaki itu pasti menaruh dendam pada keluarga kita, Nak,” ujar Tante Jeni ketakutan. “Nggak mungkin, Ma. Aku tahu siapa Darsun. Dia bukan pendendam. Lagipula lelaki itu masih mencintaiku,” ujar Alida terkekeh. Tante Jeni sedikit tenang.

***
DI mata teman-temannya, Alida perempuan yang konsisten terhadap ucapannya. Selain itu, ia dikenal berpendirian keras. Pernah suatu ketika, saat masih menjalin asmara dengan Dulni, ia bersumpah di hadapan teman-teman kuliah. Alida bersumpah tak akan menerima Dulni menjadi suami. Hanya sebatas pacar. Saat itu Dulni begitu malu. Kali ini, Alida sudah masuk di bilik suara.

Ia memandang gambar kedua calon gubernur di kertas suara dengan mata cuek. Alida bimbang. Antara memilih Dulni atau memilih calon lain. Gadis itu teringat isi surat minggu lalu yang ia baca. Ia memandangi mata tulus Dulni di gambar. Tanpa sadar, tangannya mengarahkan paku ke gambar itu. “Sialan!” gumam Alida kesal. Tante Jeni menunggu di depan posko. Kipas bambu itu terus ia gerakkan naik-turun.

Angin menerpa wajah penuh keringat Tante Jeni. Cemas. “Ayo cepat pulang,” ujar Tante Jeni sambil menyeret Alida menuju mobil silver di area parkir. Tante Jeni terburu-buru. “Kau tadi pilih siapa?” tanya Tante Jeni sambil melangkah cepat. Alida diam. Ia pun merasa kesal atas pilihannya.

***
“SIAL. Dia menang, Nak,” ujar Tante Jeni lantang. Alida langsung berlari ke ruang tengah. Di depan televisi itu, wajah sang mama penuh keringat. Gadis itu justru tersenyum. Menyesal, bangga, cemas menjadi satu dalam pikiran Alida.

Perlahan ia membalikkan badan, lalu berjalan ke luar rumah menuju taman. Tiba di taman, ia memandang kursi ayunan yang bergoyang-goyang oleh terpaan angin. Tatapan Alida menerawang jauh ke empat tahun lalu saat bersama Dulni. Tiba-tiba hape Alida bergetar. Panggilan masuk. Ia mengangkat panggilan itu. “Halo?” “Ya, halo. Ini aku, Dulni.

Aku ingin tanya apa kau memilihku? Kau menyumbang suara untukku?” ujar lelaki itu tergesa-gesa. Alida kikuk tak percaya. Perkiraan Alida salah. Surat yang ia baca minggu lalu itu ternyata bukan gombalan semata. “Alida?” “Iya aku memilihmu,” ucap Alida jutek. “Yeaaaahhh. Oke Alida, nanti malam aku ke rumahmu. Melamarmu.” “Hei, gila!” jawab Alida terperangah kaget. “Iya! Beneran aku akan ke rumahmu.” Sambungan telepon itu terputus. Alida berlari menuju ruang tamu. Jantung gadis itu berdetak kencang.

“Ma, Dulni mau ke rumah kita.” Mendengar suara itu, Tante Jeni langsung pingsan. Ia jatuh tersungkur di lantai. Alida berupaya menyadarkan, tetapi sang mama diam. Tubuhnya terkulai tanpa daya. Alida mencoba membopong tubuh penuh keringat itu, tetapi tak mampu. Kepala Tante Jeni berbantal paha putih Alida. “Alida,” tiba-tiba Tante Jeni memanggil lirih.

“Ma, Dulni ke sini itu mau melamarku,” ucap Alida ke telinga Tante Jeni. Spontan tubuh terkapar itu bangun dan berdiri. Tante Jeni lalu berkata, “Benarkah?” Alida mengangguk seraya tersenyum. Tante Jeni bergairah kembali dan bangga. Lalu ia jatuh pingsan kembali. Pingsan bahagia.

***
SORE hari, semua makanan telah siap. Di depan rumah telah terpasang spanduk bertuliskan “Selamat Datang Gubernur Pilihanku”. Kursi-kursi telah rapi berjajaran di halaman rumah. Beberapa satpam telah berjaga di depan pintu gerbang rumah Alida.

Sementara beberapa orang masih sibuk menyapu lantai. Tante Jeni mengenakan gaun sutera. Sementara Om Gunadi memakai jas hitam mengilap dengan dasi merah di leher. Sepatu kulit menjangan. “Anakku, benarkah kau mencintai Dulni?” “Iya, Ayah. Entahlah, semenjak ia menjadi gubernur aku justru terpana. Ia menjadi ganteng. Aku menerima sepenuh hati, Yah,” jawab Alida dengan mata berkaca-kaca. Bahagia. “Baiklah,” timpal sang ayah dengan nada berwibawa sembari membenahi dasi.

Tante Jeni hanya tersenyum bahagia. Telah berjam-jam keluarga Om Gunadi menunggu sang gubernur terpilih. Namun tamu agung itu tak kunjung tiba. Keluarga itu gelisah. Mereka tak sabar. Jam demi jam berlalu. Om Gunadi cemas. Berkali-kali ia melihat jam tangan. Namun hingga malam makin larut tak ada tanda kedatangan sang gubernur terpilih. Keluarga Om Gunadi menunggu. Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Sang gubernur terpilih Dulni alias Darsun tak pernah datang ke rumah Alida.

Sementara spanduk bergambar Dulni masih terpampang di depan rumah Alida. Gambar Dulni di spanduk dengan senyum merekah. Alida kini mendapat kabar. Kabar bukan dia seorang yang mendapat surat itu. Darsih, Sulastri, Intan, Maya, Nia, dan perempuan lain di kota ini mendapat surat pula dari Darsun. Ia geram sambil berbisik, “Honey politics!” Melihat sang anak bersedih, Om Gunadi mendekat. Ia mengusap-usap rambut hitam Alida. Ia menenangkan. “Agama saja dijadikan alat dan tunggangan untuk menjadi penguasa.

Apalagi mantan kekasih,” ujar Om Gunadi pada Alida. Tante Jeni mendekati Alida. Ia nimbrung. “Agama yang suci saja dijadikan alat menjadi penguasa. Apalagi mantan kekasih yang sudah dinodai kesuciannya,” ujar Tante Jeni bermuram durja. Mereka bertiga saling berpandangan. Kecewa. (44)

Semarang, 15 Februari 2017

-Danang Cahya Firmansah menulis puisi dan esai, bergiat di Lingkar Studi Kebudayaan Indonesia (LSKI).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Danang Cahya Firmansah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 1 Oktober 2017

0 Response to "Honey Politics"