Imbu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Imbu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:57 Rating: 4,5

Imbu

KAPAL cepat Sigeri berayun di atas ombak lautan Banda Selatan. Ombak terasa keras menghantam dinding kapal. Rasa mual menjalar di ujung tenggorokan. Aku beranjak ke buritan dan bersandar di dinding kapal. Beberapa penumpang serentak bertepuk tangan saat sekawanan Lumba-lumba berenang mendahului kapal. Apalagi ketika mempertunjukkan atraksinya berloncatan di lautan bebas. Seketika rasa letihku berkurang. 

Perjalanan terasa panjang untuk memenuhi undangan dari seorang sahabat berlibur di Pulau Kaledupa. Setelah penerbangan dari Jakarta berakhir di Bandara Kendari, aku memutuskan untuk bermalam di sebuah penginapan. Keesokan harinya, Arif sahabatku itu, telah menungguku di dermaga. Bersama puluhan penumpang lainnya kami menaiki kapal menuju Kaledupa. 

Arif tinggal bersama orang tuanya di pesisir Pulau Kaledupa. Seperti penduduk lainnya, secara turun temurun mewarisi ketrampilan sebagai nelayan. Kekayaan hasil lautan yang berlimpah membuat rata-rata nelayan di sini hidup berkecukupan. Orangtuanya menyekolahkan Arif di Kendari. Karena kecerdasannya Asrif memperoleh beasiswa sampai tingkat doktoral di universitas terkemuka di Jakarta. 

“Masih berapa jauh pelayaran, Rif?” tanyaku. 

“Tidak lama lagi karena Pulau Wangi-Wangi sudah kelihatan,” kata Arif sambil menunjuk sebuah pulau di kejauhan. 

“Wangi-Wangi adalah ibukota Kabupaten Wakatobi. Wakatobi adalah singkatan dari Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko,” jelasnya. 

Dari brosur yang kubawa tertulis Wakatobi terletak di segi tiga karang dunia dan ditetapkan sebagai Taman Nasional. Sebagian besar wilayah Wakatobi merupakan lautan. Kondisi ini menyebabkan masyarakatnya menggantungkan kehidupannya pada hasil laut. Selain menjadi nelayan juga banyak yang menjadi pedagang antarpulau atau merantau ke Malaysia dan daerah lainnya. 

Tanpa terasa, menjelang senja kapal merapat di dermaga Pulau Kaledupa. Arif mengajakku berjalan kaki menuju rumah orangtuanya. Sinar mentari masih terasa hangat menerpa muka. Jalanan beraspal yang sebagian telah terkelupas menampakkan bayang-bayang semak rumpun matahora. Rumah yang dituju akhirnya sampai juga. Sebuah rumah berhalaman luas. Bergelantungan jaring ikan di batang bambu yang berfungsi sebagai tempat jemuran. 

Kedua orang tua Arif mempersilakan aku masuk ke dalam rumah. Di dinding rumah tergantung foto ketika mendampingi puteranya wisuda di universitas negeri di Kendari. Sorot matanya terkesan keras namun terpancar kebanggaan yang luar biasa. Bagi keluarga pak Madira, pendidikan adalah hal utama yang ditanamkan dalam keluarganya. 

“Supaya anak-anak tidak menjadi nelayan seperti bapaknya,” selorohnya sambil menawarkan minuman. 

“Ah, Bapak bisa saja. Menjadi nelayan kan profesi yang membanggakan dan menuntut keahlian. Apalagi nenek moyang kita kan orang pelaut,” jawabku. 

*** 
MALAM itu selepas salat Isya aku dan Arif berjalan-jalan di sepanjang pantai. Ribuan bintang terlihat jelas di langit. Cahaya bulan memantulkan sinarnya di permukaan laut dan menimbulkan keindahan tersendiri. Di sebuah kios yang menjual peralatan nelayan aku dan Arif menumpang duduk. 

Banyak benar pertanyaan yang ingin kuajukan terhadap Arif. Perkembangan Wakatobi menjadi tempat tujuan wisata tentu mengubah cara pandang masyarakat Wakatobi. Di seputar Wakatobi masih banyak warga suku Bajo yang dahulu hidup dan tinggal di lautan, kini banyak yang beralih pindah membangun rumah di daratan. Ini tentu menarik karena mengubah kebiasaan hidup di lautan dan di daratan pasti jauh berbeda. 

Sudah sering aku mendengar mitos yang terdapat pada masyarakat yang tinggal di pesisir. Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Yogyakarta, kuceritakan pada Arif tentang Nyai Roro Kidul. Mitos tentang keberadaan Nyai Roro Kidul yang menguasai laut selatan. Lantas bagaimana Panembahan Senopati jatuh asmara melihat kecantikan Sang Ratu Kidul dan muncul hasrat untuk memperistrinya. Namun diingatkan bahwa hasrat sang Panembahan sulit diwujudkan, karena antara Sang Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul beda alamnya. 

“Apakah masyarakat pesisir di sini juga mempercayai mitos tentang lautan?” tanyaku. 

Arif tersentak dari rasa kantuknya. Sebagai seseorang yang menaruh perhatian terhadap tradisi yang ada di pulaunya, Arif merasa senang dengan pertanyaanku itu. 

“Mitos yang diyakini masyarakat Wakatobi adalah sosok yang disebut imbu,” tuturnya. 

Angin laut terasa semakin dingin. Kerlip lampu bagan di tengah lautan membuat suasana sepi menyentuh perasaan. 

“Seperti apakah sosok imbu. Apakah seperti Nyai Roro Kidul yang berwajah cantik tapi misterius?” tanyaku tak sabar mendengarkan ceritanya. 

“Imbu adalah mahluk gaib yang mirip dengan gurita,” jelasnya. 

Aku semakin penasaran mendengar kisah selanjutnya. Mitos selalu ada di berbagai daerah, namun tentang mitos berupa mahluk mirip gurita baru kali ini aku dengar. 

“Berbeda dengan gurita yang memiliki delapan lengan. Sosok imbu konon memiliki sembilan lengan,” lanjutnya. 

“Sembilan lengan?” tanyaku antusias sambil merapikan sarung. 

“Ya, selain memiliki sembilan lengan, sosok imbu berukuran besar layaknya raksasa. Imbu memiliki kekuatan yang besar sehingga mampu merusak atau menenggelamkan kapal yang dikehendakinya. 

Aku bergidik membayangkan jika di tengah lautan tibatiba muncul sosok imbu. Kenangan indah saat melihat sekawanan Lumba-lumba dalam pelayaran menuju Pulau Kaledupa berubah menjadi seperti mimpi. 

“Sosok imbu banyak yang meyakini sebagai saudara kembar manusia. Meski diyakini sebagai saudara kembar namun wujudnya berbeda karena tempat tinggalnya di laut,” kata Arif. 

Ingatanku melayang ke daerah asalku di lereng Gunung Merapi. Masyarakat di sekitar tempat tinggalku juga meyakini adanya sosok penunggu Gunung Merapi. Sosok yang disebut danyang ini di antaranya Eyang Sapu Jagad, Sapu Angin, Kyai Megantara, Kyai Petruk. Bahkan pernah ada yang melihat awan panas menyembul dari puncak Gunung Merapi yang menyerupai bentuk kepala Petruk, lelaki berhidung panjang. Munculnya awan berbentuk Petruk ini diyakini, letusan Merapi akan besar dan agar masyarakat di lereng gunung Merapi berhati-hati. Oleh karena itu, setiap tahun Kraton Yogyakarta mengadakan upacara Labuhan Merapi yang merupakan upacara religius dan dimaknai jalinan hubungan yang harmonis. 

“Tapi banyak juga yang meyakini imbu berasal dari bongkahan darah kotor seorang ibu yang baru melahirkan. Darah kotor yang tidak menyatu dengan tanah dilarungkan ke laut disertai sesajen dan batata,” lanjut Arif membuyarkan lamunanku. 

“Bagaimana caranya untuk mengenali kehadiran imbu?” tanyaku. 

“Jika gelombang laut tiba-tiba membesar diluar kewajaran atau bahkan menghilang saat nelayan mengharapkan hembusan angin, hal itu merupakan penanda datangnya imbu,” ujarnya. 

Arif menceritakan bahwa kehadiran imbu dapat diartikan agar manusia tidak mengusik alam laut. “Oleh karena itu masyarakat melarungkan sajen. Berdoa agar kesalahannya dimaafkan dan agar terhindar dari bencana akibat kemarahan imbu,” lanjutnya. 

“Jadi kehadiran imbu adalah pemahaman kearifan lokal dalam menjalani kehidupan sehari-hari masyarakat di sini?” tanyaku. 

“Begitulah. Kehadiran imbu membuat kesadaran masyarakat setempat untuk selalu menjaga dan merawat kelestarian laut,” ujarnya. ❑-e 

Catatan: 
Gurita: Onychoteuthis engulata 
Batata: pernyataan atau pengharapan seseorang yang sungguh agar harapannya terkabul (doa)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bambang Widiatmoko
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 15 Oktober 2017 

0 Response to "Imbu"