Jembatan Charles dan Cerita Pendek tentang Senja | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Jembatan Charles dan Cerita Pendek tentang Senja Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:30 Rating: 4,5

Jembatan Charles dan Cerita Pendek tentang Senja

SUATU saat nanti ... dalam keadaan yang tak pernah kita tahu, kita pun akan belajar meninggalkan.” 

Dan wanita itu pun pergi, meninggalkan kekasihnya. Tepat pukul 5 sore. Ketika senja jatuh di kedua mata mereka. Ketika matahari mulai meredup dan menghasilkan siluet bangunan kota yang menakjubkan. Tak ingin kalah, lampu-lampu di jembatan tua ini pun ikut menghasilkan cayaha, menambah kehangatan bagi orang-orang yang berada di sini, di Jembatan Charles, Praha. Tapi serumit apakah isi hati lakilaki yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya itu? 

Selama senja tetap bergerak, akan selalu ada kisah tentang sepasang peristiwa: meninggalkan dan ditinggalkan. Senja memang selalu terasa singkat. Tapi bulan seakan melambat, ketika menjumpai sepasang kekasih yang terjebak dalam diorama perpisahan. 

Sampai kapan senja akan selalu melahirkan kejadian-kejadian dramatis? Sampai kapan jembatan tua ini menjadi panggung yang selalu ditimbun kenangan? 

Oh, Jembatan Charles, jembatan tua yang berdiri tegap, dengan 30 patung orang suci yang berjajar di sepanjang sisinya, lampu-lampu klasik bergaya vintage yang juga berjajar di kedua sisinya, semua itu adalah bagian dari Kota Praha yang dingin. Sungai Vltava yang pendiam itu tak mudah untuk pergi secepatnya. Begitu pun dengan orang-orang yang selalu melewati jembatan tua ini. Jembatan tua yang antik dan artistik ini adalah penghubung antara Lasser Town dan Old Town: dua kota yang akan selalu mengapit jembatan tua ini, selama-lamanya. Kecuali takdir berkata lain. Tentu saja. 

*** 
TAHUN pun tumbuh dan bergerak. Sepasang angsa yang telah tumbuh dewasa itu pun ikut bergerak, ketika arus pelan-pelan membawa mereka ke tepi. Aroma dedaunan, aroma kayu, dingin batu, dan orang-orang yang selalu berangsur ramai, membuat Jembatan Charles ini menjadi tempat paling nyaman untuk sejenak menghilangkan penat, atau sekadar berlibur. Atau sekadar bercakap-cakap dengan seseorang, atau berbagi pendapat. Dan orang-orang selalu berbicara tentang segala hal yang tumbuh. Segala hal yang menyenangkan, atau sebaliknya. 

Setidaknya ada yang dibuang di sini. Apa saja. 

“Kenapa kau selalu datang ke sini?” tanya seorang laki-laki kepada lawan jenisnya, lima tahun kemudian. Tepat hari ini. 

“Aku suka dengan bentuk lampulampu itu.” 

“Hanya itu?” 

“Ya.” 

Seperti burung-burung yang duduk di sisi tua jembatan ini, mereka mengenal tanpa nama. Laki-laki itu pun mengenal beberapa orang di sini tanpa nama, ia hanya butuh bahasa. Ia hanya butuh mendekat lalu memulai sebuah pembicaraan. Meski, sudah banyak orang yang tidak– sepenuhnya–menanggapi. 

Laki-laki itu selalu berada di jembatan tua ini, sebelum senja. Ia selalu datang tepat waktu. Meski ia tahu, bahwa tak ada yang menunggunya. Hanya siluet menara, patung, lampu-lampu klasik, semua yang menghasilkan bayangan, adalah kesunyian paling indah baginya. 

“Kenapa kau selalu datang ke sini?” tanya laki-laki itu kepada seseorang yang lain. 

“Aku suka dengan atap rumah yang berwarna merah itu.” 

“Hanya itu?” 

“Ya.” 

Dan ia akan selalu seperti itu, sampai senja turun di jembatan tua ini. 

Sebenarnya laki-laki itu hanya ingin bercakap-cakap dengan siapa saja yang ia temui di sini. Ia hanya ingin sekadar berbagi kenangan. Sebab ia selalu mengingat ucapan terakhir kekasihnya, “Suatu saat nanti ... dalam keadaan yang tak pernah kita tahu, kita pun akan belajar meninggalkan.” Setiap kali ia memulai sebuah pembicaraan kepada orang lain, setiap kali ia ingin menanyakan, “Apakah kau punya kenangan di sini?” sebelum pertanyaan itu muncul, semua orang yang pernah ditemuinya itu sudah pergi meninggalkannya. 

“Aku selalu ingat fragmen ini: ketika kau, yang mungkin berjalan menjauh ke arah barat, di hadapan senja yang selalu menyayat.” 

Sampai kapan ia terus mengingat yang sudah? Sampai kapan ia terus menunggu kekasihnya? Dan sampai kapan ia mendapatkan jawaban tentang pertanyaan-pertanyaan yang terus melayang di kepalanya? 

Selama senja tetap bergerak, perntanyaan-pertanyaan seperti itu tak lagi berguna untuk dijawab. 

“Apakah kau punya kenangan di sini?” Akhirnya laki-laki itu berhasil bertanya kepada sesorang yang berada di ujung timur jembatan tua ini. 

Tentu saja seseorang itu adalah wanita. Mengenakan topi kelasi berwarna abu-abu. 

“Pertanyaan itu sudah sering aku dengar.” 

“Benarkah? Dari siapa?” 

“Kau selalu bertanya kepadaku. Setiap hari, setiap senja.” 

“Oh maaf jika aku terlampau sering bertanya.” 

“Tidak masalah. Aku paham.” 

Sebenarnya, wanita itu hanya ingin tahu, mengapa laki-laki itu selalu berada di jembatan tua ini, sebelum senja. Tapi laki-laki itu sama sekali tidak menyadari bahwa ada seseorang yang–ternyata–masih peduli kepadanya. 

“Lalu, apakah kau tak ingin menjawab pertanyaan yang sering kutanyakan itu?” 

“Pertanyaanmu tak perlu dijawab.” 

“Lalu?” 

“Karena setiap orang pasti memiliki kenangan.” 

“Tapi yang kutanyakan adalah tentang kenangan di jembatan ini.” 

“Ya, tetap saja sama. Setiap orang yang datang ke sini, pasti memiliki kenangan. Maka kau tak pertu bertanya seperti itu.” 

Kenangan memang seperti senjata yang luar biasa ampuh untuk membunuh waktu yang berada di luar lingkaran masa lalu. Lupa adalah salah satu bagian dari kematian penggunanya. Ketika seseorang terjebak dalam lingkaran kenangan, ia akan lupa tentang segalanya, hanya ada kenangan. Tak ada yang lain. 

“Dan apakah kau ingin berbagi kenangan?” 

“Lagi-lagi pertanyaanmu tampak klise.” 

Sejenak, laki-laki itu terdiam. Tapi wanita itu tibatiba tertawa riang. 

“Tidak perlu kaku seperti itu. Kita hanya butuh sepotong senja untuk saling mengerti tentang sebuah kenangan.” 

“Tidak usah terlalu dramatis.” 

Dan mereka tertawa lepas, dengan nada yang tak sama. Seketika mereka tampak begitu akrab. Seperti sepasang kekasih yang baru saja kembali dipertemukan setelah sekian lama telah terpisah.

Mungkin mereka seterusnya akan seperti itu. Bercakap-cakap, berbagi pendapat, sampai senja datang. Kita tahu, untuk saling mengenal, kita tak butuh sebuah nama. Atau tatapan. Lagi-lagi kebutuhan kita hanyalah bahasa. 

Jam terpojok di angka 5. Orang-orang berangsur pergi meninggalkan jembatan tua ini. Kehangatan senja sudah bersetubuh dengan Kota Praha. Sepasang burung dara duduk di sisi tua jembatan. Mereka bercakap-cakap, mungkin. Mereka berbagi kehangatan di bawah senja yang ramah. Kemudian salah satu burung mengepak sayapnya, lalu terbang menjauh. Melewati sepasang manusia yang sejak tadi bersandar di sisi tua jembatan bagian timur. 

Selama senja tetap bergerak, segala cerita yang singgah di jembatan tua ini akan selalu menjadi baru. Sebab senja tak ingin, jika ia selalu melihat berbagai peristiwa lama yang selalu diulang-ulang. Dan cerita ini, mungkin sudah ada sebelumnya. Tapi sepasang manusia yang baru saja terlihat akrab itu tak ingin pergi begitu saja dari cerita ini. 

“Senja sudah datang.” 

“Ya.” 

“Akankah kau merindukanku di waktu yang lain setelah ini, seperti kau merindukan kekasihmu itu?” tiba-tiba wanita itu bertanya. 

Laki-laki itu tampak kaget. Laki-laki itu terdiam. Dan ia berpikir cukup lama. Tentu saja. 

“Kau dan jembatan tua ini adalah kenangan tersendiri bagiku,” timpal wanita itu lagi. 

“Kenapa seperti itu?” 

“Tunggu saja sampai senja selesai, kau akan mengerti. Lalu kau boleh pergi, dan kau boleh tak mengingatku lagi setelah ini.” 

Laki-laki itu tampak kebingungan. Lagi-lagi, dua kata yang tepat adalah “tentu saja”. 

Dan di saat seperti ini, mungkin pertanyaan yang begitu sulit dijawab adalah, kenapa senja begitu cepat berlalu? Tapi senja akan selalu bergerak kembali, esok atau sebuah hari setelah hari ini. Ia akan melihat kembali berbagai peristiwa di muka bumi, tentu bukan hanya perihal sepasang kekasih. Karena terlampau banyak peristiwa lain yang ia lihat secara bersamaan di waktu yang begitu singkat. 

Sejenak suasana di sisi tua jembatan ini tampak lengang. 

“Sepertinya senja sudah selesai,” ucap laki-laki itu. 

“Sudahkah kau mengerti?” 

“Tidak. Bagaimana aku bisa mengerti, sedangkan sepasang mata ini menolak senja itu masuk ke dalamnya.” 

“Aku tidak bisa melihat senja itu, atau kepergian keksasihku di masa lalu.” 

Tentu saja. 

“Seperti kau menatapku, hari ini. Kau tak perlu sepasang mata. Yang kaubutuhkan hanya sebuah rasa. Cukup kaurasakan kehadiranku, saat ini.” 

“Sesederhana itukah?” 

“Ya.” 

Selama senja tetap bergerak, jembatan tua ini akan selalu menjadi penghubung antara ingatan dan kenangan. 

Dan hari ini, senja memang telah jatuh di dua pasang mata itu. Tapi adakah yang mengetahui bahwa laki-laki itu adalah seorang tunanetra, selain wanita itu? Laki-laki itu menekan kedua lengannya pada sisi tua jembatan ini. Ia tertunduk ke arah sungai, dengan segala ingatan yang mengalir dari kedua matanya. Dan wanita itu tertegun ketika melihat senja yang tiba-tiba bergerak di sepasang mata itu. 

Kemudian malam memasang ruang, bersama sepasang peristiwa: meninggalkan dan ditinggalkan. (*)

 *Cerita ini terinspirasi dari sepotong sajak yang ditulis oleh Goenawan Mohamad yang berjudul, “Jembatan Karel, Praha” 

Jember, 20 September 2017 

Alif Febriyantoro, kelahiran 23 Februari 1996. Asal Situbondo. Menulis cerpen dan puisi. Kini berdomisili sementara di Jember, sebagai mahasiswa. 60 Detik sebelum Ajal Bergerak (Karyapedia Publisher, 2017) adalah buku kumpulan cerpen pertamanya.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alif Febriyantoro
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu, 15 Oktober 2017 

0 Response to " Jembatan Charles dan Cerita Pendek tentang Senja"