Jerit Anak Pepohonan - Bara Terakhir di Mulut Bidadari - Di Matamu Aku Tertidur - Tujuan Hidup - Aku Tak Ingin Kau Cepat Mati | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Jerit Anak Pepohonan - Bara Terakhir di Mulut Bidadari - Di Matamu Aku Tertidur - Tujuan Hidup - Aku Tak Ingin Kau Cepat Mati Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Jerit Anak Pepohonan - Bara Terakhir di Mulut Bidadari - Di Matamu Aku Tertidur - Tujuan Hidup - Aku Tak Ingin Kau Cepat Mati

Jerit Anak Pepohonan

Kami harus bagaimana lagi
Supaya hidup ini tak ada duka
Lihatlah manusia-manusia itu
Wajahnya enak dipandang
Tetapi hatinya penuh kekejaman

Perkampungan kami semakin hari semakin
ngeri
Mendengar mesin mengaum, wajah kami pasi
Kami tidak bisa lari, diam pasrah menunggu
mati

Ayah-ayah dibunuh hingga ke akarnya
Ibu-ibu dibelah tanpa ampun tubuhnya
Bujang-bujang di kampung ketakutan
Gadis-gadis histeris menjaga keperawanan

Kami harus bagaimana lagi, Tuhan?
Hanya pada-Mu kami curhatkan

Lihatlah generasi kampung ini yang begitu
memprihatinkan
Setiap hari hidup dalam ketakutan
Kawan-kawan sepermainanku
Tubuh-tubuhnya menjadi hiasan
Kadang ada yang dibawa pulang oleh mereka
Dibiarkan usang di halaman rumah
Ditampar terik, tak diberi minum dibiar
tercekik
Beruntung jika dibawa oleh yang mulia
hatinya
Bocah seperti kami dijaga
Dirawat hingga dewasa
Walau ujungnya kelak, juga akan dibunh tega
Tetapi tak apa, setidaknya kami merasa
bagaimana hidup diperhatikan

Kami harus bagaimana lagi, Tuhan?
Apakah hidup sebegini adanya
Jika begini terus, gunung-gunung tak akan
ada lagi perkampungan rimbun
Itu berarti, bersiaplah, segala perkara
bencana akan segera tiba

Banda Aceh, September 2017


Bara Terakhir di Mulut Bidadari

Bara terakhir menari penuh kemesraan: di
mulut bidadari
Kepul kenikmatan
Membentuk lingkar kecantikan

Ia terus menarik hisapan goda
Tanpa peduli mawar merah cemburu tanpa
jeda
Bahkan sajakku pun tiada dipeduli
dan tatapan mereka tak diambil hati

Aku bertanya padanya:
antara gincu dan bara itu,
mana yang akan kau pilih mencium bibirmu,
bidadari?

Seperti biasa
Ia menjawab dengan senyuman
untuk kemudian melempar sebuah jawaban:
aku akan memilih pangeran berkuda tanpa
bara di mulutnya

apakah ia rela bibirnya yang perjaka itu
disentuh panas bara dengan bibirmu?
Tanyaku memburu: ia memandangku, dalam
sekali, menembus ulu hati

Kemudian ia berfatwa:
bara ini adalah yang terakhir
kelak, aku akan merinduinya
seperti merindui nasihat pangeran berkuda
itu kepadaku
untuk segera membunuh bara di mulutku

September 2017

Di Matamu Aku Tertidur

di matamu yang teduh itu
kuhempaskan kantuk yang megutuk
dan biarkan insomia
tak lagi bisa bekuasa

di matamu yang jeli itu
kulepaskan lelah yang seharian mencercah
dan biarkan gadang meradang
mengelepak menjumpai hilang

di matamu yang indah itu
kuingin terlelap lama
memulas tanpa ada yang mengganggu

di matamu yang menggoda itu
izinkan aku tidur di sana
menikmati pelukan malam
dengan mimpi-mimpi tak bertepi

September 2017

Tujuan Hidup

Kau bertanya kepadaku
“Apakah hidup ada tujuannya?

Aku menjawab, jelas ada
Kau tanya lagi, “apa?”

Mati!
Kataku.

Kau bertanya lagi
“Jika aku, apakah jadi tujuan hidupmu?”

Aku menatapmu tajam
Pertanyaanmu sungguh dalam

“Iya, kau tujuan hidupku juga.”
Kataku sekena saja
“Jadi, aku juga akan kau bunuh?”
Aku terkejut dengan apa yang kau kata

“Jika tujuan hidup adalah mati, dan aku
adalah tujuan hidupmu, maka aku akan
kau temui dalam kematian, bukan? untuk
mendapat tujuan hidup itu.” Sambungmu.

Aku menelan ludah
Kulihat semesta ternganga

“Tujuan hidupku yang sejati adalah puisi,
dan kau adalah puisi bagiku.”
Kataku sembari tersenyum padamu
Alis matamu naik, tanda kebingungan melirik

“Karena puisi abadi. Dan kau akan abadi.
Sekalipun Izrail membawamu tanpa peduli,
kau ‘kan tetap abadi: karena kau adalah puisi,
yang selamanya abadi
di hati.”

Kau tersenyum
Semeta tak lagi bingung

Banda Aceh, 2017

Aku Tak Ingin Kau Cepat Mati

Berulangkali kukatakan padamu,
jangan membunuh diri sendiri
hatiku tak seluas semesta untuk tamuan duka.

Mendengar ucapku: kau tersenyum.
Melempar pandang,
Jagat bergoyang.

Kukatakan lagi,
berhentilah membakar bibir, kekasih.
Aku tak ingin kau cepat mati.
Kau tak peduli.
Tetap menikmati nikotin membara sambil
melagukan cinta.
Kepul goda melayang ke angkasa.
Membentur lubang hidung langit renta:
terbatuk-batuklah ia di usia senja.

Kali terakhir, aku berhenti.
Tak lagi kukatakan: jangan membunuh diri
sendiri,
atau aku tak ingin kau cepat mati.

Kau memandangku, tersenyum.
Kau ayuhkan batang berasap yang masih sisa
setengah di jemari.
Kau bunuh kejam di asbak berkudis,
yang meringis menahan siksa panas
bertahun-tahun.

Aku memandangmu:
kita tersenyum.
Asbak menangis.
Bara menangis.
dan langit renta mengucap lega,
karena tak lagi harus terbatuk di usianya
yang senja.

Banda Aceh, Agustus 2017

Ricky Syah R atau RSR, lahir di Labuhan Haji, Aceh bagian selatan. Menulis sastra dan motivasi. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai media massa (cetak dan online), serta abadi di berbagai antologi lokal dan nasional. Puisi-puisi RSR sering dimusikalisasikan dan didramatisasikan mahasiswa Unsyiah dalam berbagai pementasan. Ia alumnus Program Penulisan Mastera Puisi 2017. Buku terbaru RSR berjudul Sabda Cinta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ricky Syah R
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 8 Oktober 2017

0 Response to "Jerit Anak Pepohonan - Bara Terakhir di Mulut Bidadari - Di Matamu Aku Tertidur - Tujuan Hidup - Aku Tak Ingin Kau Cepat Mati"