Kalau Kau Memandang dengan Mata Terpejam | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kalau Kau Memandang dengan Mata Terpejam Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Kalau Kau Memandang dengan Mata Terpejam

BIRIN mengucek matanya yang merah darah. Semakin dikuceknya semakin perih. Jari-jarinya basah. Agak samar ia melihatnya berwarna darah. Sementara pecahan kaca semakin menempel, perih makin parah. Ibunya yang melihatnya terpekik. Hening sesaat, lalu ia berteriak, “Usuuup!” Rumah lanting berayun, tanda seseorang menjejak dengan kaki yang tergesa. Pamannya itu bereaksi cepat, ia tangkap tangan Birin yang masih mengucek, digendongnya anak kecil itu dan berlari membawanya ke mantri terdekat. Ibunya rebah di atas kaki bertelimpuh, hilang tenaga. Ibu-ibu tetangga datang menghiburnya.

Peristiwa hilangnya penglihatan Birin itu terjadi saat umurnya belum genap lima tahun. Menjelang usia sekolah. Kini ia telah memasuki usia remaja, waktu sepuluh tahun berlalu seperti air sungai mengalir menuju muara. Kadang terasa kadang tidak. Birin menjalaninya dengan tabah. Tapi tidak bagi ibunya. Orangtua yang malang itu sering menangis di malam hari. Suaranya samar-samar ditangkap telinga adiknya, Usup, yang tidur berbatas dinding tripleks kusam. “Ya Tuhan, ambillah mataku ini, penglihatanku ini, dan berikan untuk anakku….”

Doa-doa yang perih itu seiring isak tangis ditahan yang menyayat hati. Wanita separuh baya yang baru menikmati menimang anak di usianya yang menjelang 40 tahun itu kehilangan suaminya saat Birin baru berusia belum dua tahun. Buruh penggergajian kayu di tepi Sungai Jagabaya itu tewas di tempat kerja, saat balok kayu besar yang baru digergajinya separuh jatuh menumbuk kepalanya ketika ia sedang makan siang di sisi panggung penggergajian. Kesedihan wanita itu makin dalam saat menyaksikan anaknya tak dapat melihat seperti anak-anak kebanyakan, dan merelakannya tak dapat sekolah. Setahun lewat berjalan setelah Birin kehilangan penglihatan, wanita penuh kasih itu meninggalkan anaknya semata wayang. Usuplah yang kemudian menggantikannya, menjadi ibu-menjadi ayah bagi anak buta yang tak pernah menangis itu.

Usup sendiri bekerja serabutan. Keterampilannya melukis dan menulis puisi membantunya mendapatkan uang. Bila-bila ia jadi tukang cat dinding, di lain waktu membantu temannya yang pemborong membuat taman. Bila tak ada pekerjaan di luar ia membuat lukisan wajah pesanan, dan saat malam sendirian ia menulis puisi atau cerita pendek.

Suatu hari Birin menegurnya dari belakang. Kemenakannya yang buta itu tidur di kamar dulu ibunya tidur, di sebelah kamar Usup yang sama kecil.

“Paman sedang menulis puisi, ya?”

Usup berpaling memandang wajah kemenakannya yang polos itu. Ia menjawab dengan sepenuh kasih yang dapat diberikannya. “Iya. Kenapa semalam ini kau belum tidur?”

“Aku baru berbincang dengan Kakek Jibu.”

Dahi Usup mengernyit, tapi segera ia acuh. Bukan sekali ini Birin berkata ia baru bertemu atau berbincang dengan Kakek Jibu. Usup sudah terbiasa meski awal-awalnya ia heran juga, siapa Kakek Jibu. Pikirnya, Birin hanya berhalusinasi dan mengisi kekosongan waktunya dengan cerita-cerita yang tak mudah dicernanya itu. Konon, Kakek Jibu adalah jelmaan buaya penguasa Sungai Jagabaya.

“Paman, aku ingin menulis buku. Maukah paman membantu menuliskannya untukku?”

“Sangat mau, nak. Sini, duduk di samping paman,” kata Usup menarik tangan Birin. “Berceritalah, paman akan menuliskannya.”

Anak buta itu duduk perlahan di sisi pamannya. Ia menoleh ke arah pamannya yang telah siap meletakkan jemarinya di atas tombol-tombol huruf. Notebook hasil dari honor beberapa juara lomba menulis puisi itu mendongak ke atas, seperti menantang atap rumah mereka yang tak berplafon.

“Kasih ibu seperti sungai yang menampung deras aliran bawah sungai. Tahukah Kau, arus bawah itu sangatlah kencang? Aku tahu. Kakek Jibu yang mengatakannya padaku. Begitu pula yang kurasakan saat merendamkan kaki di sisi buaya tua itu. Bagaimana Paman, menarikkah kata-kata pembuka ini? Sudah kau tulis bukan.”

“Iya. Teruskanlah!”

“Ibuku adalah wanita yang teguh. Seperti sungai yang tebing-tebingnya luruh, ia tetap menjagaku sepenuh hatinya….”

Malam itu luruh bersama cerita Birin. Usup mengetik setiap kata dengan sabar. Air matanya merembes dari ujung kelopaknya. Perlahan, tangis tanpa suara, tanpa sengguk, tanpa jeda. Waktu sekian jam habis untuk satu bab cerita, enam halaman. Tertulis di sana tepat 2.100 kata.

“Mengapa paman menangis?”

“Ah, kata siapa paman menangis.”

“Aku merasakannya. Setiap tetes di pipi paman aroma asinnya sampai ke hidungku.”

“Ah, itu perasaanmu saja. Aku tak menangis.” Usup menyapu pipinya. Tiba-tiba tangan Birin juga menyeka air matanya, Usup terkejut, seketika itu langsung memeluk kemenakannya.

“Paman tak perlu malu untuk menangis. Setiap tetesnya membasuh luka di hati kita. Semua orang, tak besar tak kecil menangis, paman. Orang kaya menangis, yang miskin pun menangis. Yang berilmu menangis, yang bodoh begitu pula. Alasannya bisa berbeda, namun tangis menjadi obat bagi sesak di dada.”

“Bagaimana kau bisa tahu sebanyak itu, anakku?”

“Aku tak pernah berdusta.”

“Benarkah?” Usup menarik tubuhnya, tangannya tetap memegang pundak Birin. Ia mengambil jarak, benar-benar merasa heran. “Sekali pun kau tak pernah berdusta?”

“Ya, aku tak pernah berdusta. Juga tentang Kakek Jibu, meskipun paman tidak memercayainya.”

Kali ini Usup benar-benar kagum sekaligus penasaran. Kemenakannya ini seperti tahu isi hatinya.

“Paman ingin kukenalkan dengan Kakek Jibu? Kemarilah!”

Kali ini Usup yang dituntun Birin. Mereka membuka pintu rumah lanting yang menghadap ke sungai. Kaki Usup yang ragu terasa berat, namun tetap diikutinya langkah kecil di hadapannya. Setiap jejakan iramanya mengayun rumah kecil di atas sungai itu.

Dua beranak paman dan kemenakan itu duduk mencangkung di atas papan yang disangga bambu dan batangan pohon berlumut itu. Tangan Birin menepuk-tepuk permukaan sungai, mulutnya memanggil lirih, “Kakek Jibu, Kakek Jibu, datanglah. Pamanku ingin berkenalan denganmu.”

Waktu melambat bagi Usup. Pikiran dan perasaannya di antara percaya dan tidak percaya, tapi ia mau bersabar kali ini. Tak berselang lama, permukaan sungai bergelombang. Sebuah benda sebesar batang ulin berdiameter sehampir satu meter menyembul dari bawah sungai. Tepatnya, seekor binatang. Buaya! Warnanya persis batang taradam dengan lumut-lumut hijau tua.

Usup hampir terjatuh dari jongkoknya. Refleks tangannya menahan tubuhnya yang terasa berat. Ia benar-benar percaya, namun tak sepenuhnya ingin percaya. Matanya dikuceknya. Birin menahan posisi pamannya yang ingin berdiri. “Jangan takut, Paman. Kakek Jibu baik, ia tidak memakan manusia. Kitalah manusia, yang sering menakut-nakuti makhluk selain kita. Kemarikan tanganmu, belailah ia!”

Usup benar-benar percaya, meski tak ingin sepenuhnya percaya. Telapak tangannya membelai kepala sebesar ember itu. Binatang itu diam, matanya yang nyalang. Usup seperti mendengar suara yang menjalar lewat tangannya.

“Namaku Kakek Jibu. Kau mungkin sudah sering mendengarnya dari kemenakanmu. Aku pun tahu nama dan kebaikanmu darinya. Aku makhluk Tuhan Yang Esa, sepertimu. Kau mungkin heran, tapi percayalah kuasa Tuhan yang mengalir lewat kepolosan hati kemenakanmu. Aku adalah penjaga keluargamu. Datukmu yang bernama Harun, seorang Paaliran, yang pertama memeliharaku. Sampai ke generasi ayahmu, tak ada lagi yang mau bersahabat denganku. Kakak ayahmu yang tertua yang telah menalak persahabatanku dengan keluargamu. Tak mengapa bagiku.

Aku paham zaman telah berganti. Orang-orang tak perlu lagi persahabatan dan perlindungan makhluk semacamku. Tak mengapa bagiku. Cukuplah kasih dan pemberian keluargamu hingga kakekmu.

Karena kebaikan merekalah, kini aku menemani kemenakanmu. Sebenarnya aku tak benar-benar menjaganya. Aku hanyalah perantara, karena kasih dan kebaikan yang mengalir lewat tangan orang-orang yang baik hati, kasih dan kebaikan Tuhan Yang Esa menjaga keturunan mereka.”

Tangan Birin masih memegang tangan pamannya. Ia turut mendengar suara itu.

“Birin, ini mungkin akan menjadi pertemuan terakhir kita. Setelah ini, pamanmu yang akan sepenuhnya menjagamu sampai kau kembali ke pangkuan ibumu. Selesaikanlah ceritamu, sampaikan kisah tentang kasih dan cinta kepada manusia.”

Birin mengangguk-angguk, ia tampaknya paham maksud pembicaraan itu. Bibir pamannya hanya sanggup menyuarakan “iya”, meski ia tak tahu, “iya” untuk apa dan ke mana maksud tujuan pembicaraan dari suara yang menjalar di tangannya.

Sejak malam itu dua beranak paman dan kemenakan itu tenggelam dalam ketik kata dan suara lirih yang keluar dari mulut kecil penuh cinta itu.

Dari kata-kata yang seperti aliran sungai itu ia baru menyadari, ternyata banyak sekali yang ia tak dapat rasakan dan tahu sementara kemenakannya lebih memiliki kesadaran. Cerita tentang keluarga mereka yang pedih. Tentang ayahnya, Haji Isam, juragan kayu yang bangkrut bahkan jauh sebelum peraturan larangan illegal logging diterapkan pada masa Presiden SBY, karena ditipu. Ya, ia tahu ayahnya dulu orang kaya. Tapi ketika itu ia masih remaja dan tak mau ambil peduli keadaan mereka, mengapa mereka kemudian harus pindah ke rumah lanting yang dihibahkan rekan kerja ayahnya, persis di belakang rumah mereka yang besar di darat. Ia hanya tahu ayahnya meninggal tak lama setelah bangkrut. Ibu tirinya meninggalkan mereka, hingga Isah, kakaknya satu-satunya bersama suaminya, ayah Birin, yang menggantikan ayahnya.

Umar, ayah Birinlah yang bekerja sementara kakaknya membuat anyaman tanggui untuk membantu penghasilan suaminya yang tak seberapa dari memburuh di bekas penggergajian kayu milik ayah mereka. Usup terlalu asyik dengan teman-temannya yang seniman. Ia hanya merasa pedih sesaat dan kemudian tak mau ambil peduli lagi. Ia menjalani hidupnya seperti arus sungai mengalir di bawah rumah mereka.

Tepat pada malam ke-40 cerita Birin selesai. Pandangan anak kecil yang buta matanya itu ternyata lebih dewasa dibandingkan Usup sendiri. Setiap cerita yang didengarnya direkamnya begitu kuat, dan detail. Termasuk cerita ngalor-ngidul di warung tentang keadaan masyarakat dan politik negeri ini. Dan untuk itu semua, Birin hanya punya satu kata: Cinta. Sesederhana itu saja, meski tak sesederhana itu menurut Usup.

Malam-malam berikutnya adalah malam yang penuh panas demam bagi Birin. Keadaan itu tak juga membaik meski Usup telah mencoba membawanya ke mantri atau puskesmas terdekat. Obat telah diminum, tapi kesehatan Birin terus memburuk. Perlahan Usup mulai paham maksud pembicaraan Kakek Jibu. Mungkin, inilah kesudahannya. Birin meninggalkan Usup, untuk selamanya, di pangkuannya.

Orang-orang datang melayat dan membantu penguburannya. Remaja buta yang selalu membawa keceriaan di mana saja ia bersinggungan dengan tetangganya itu diantar orang banyak sekali. Usup bahkan tak menyangka akan sebanyak itu yang datang dan membantu. Ia baru tahu, ketika ditinggal bekerja, ternyata Birin sering keluar rumah beramah-tamah dan membantu orang-orang. Ia yang kecil dan seolah tak berdaya, bahkan lebih kuat dari Usup yang tua membujang itu.

Ketika membaca kembali tulisan Birin, yang dipikirkannya akan diusahakannya dicetak jadi buku ke temannya yang penerbit, Usup berhenti pada dua kalimat, dan benar-benar merenungkannya:

“Kalau kau memandang dengan mata terpejam, akan lebih banyak hal yang dapat kau lihat. Terutama kasih yang datang dari cinta kepada sesama, semuanya memenuhi semesta.”

Catatan:
Paaliran: Pawang buaya
Batang tarandam: Kayu gelondongan yang terendam di sungai
Tanggui: Caping khas Banjar yang biasa digunakan para pengayuh perahu


Hajriansyah, menulis puisi dan cerpen, tinggal di Banjarmasin. Karya cerpennya sudah dibukukan dalam Angin Besar Menggerus Ladang-ladang Kami (Frame Publishing, 2009) dan Kisah-kisah yang Menyelamatkan (Tahura Media, 2016). Ia mengikuti program Kelas Cerpen Kompas 2017.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hajriansyah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Minggu 29 Oktober 2017

0 Response to "Kalau Kau Memandang dengan Mata Terpejam"