Kaliska | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kaliska Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:07 Rating: 4,5

Kaliska

Keluarga Kotka

AWALNYA kukira semua keluarga di Kota E sama saja seperti keluarga Kotka. Mereka makan di rumah makan langganannya—rumah makan itu cuma menyajikan menu lalapan tuna bakar, tak ada pilihan lain—seminggu sekali di malam minggu jam enam petang, kemudian pulang ke rumah dan menyetel lagu pop daerah bertempo cepat sekeras-kerasnya untuk berjoget sampai salah satu tetangganya yang jompo melempari atap rumah dengan kerikil berkali-kali.

Ternyata perkiraanku keliru. Keluarga lain, boleh dibilang sebagian besar dari warga kota, tidak memiliki kebiasaan ini. Memang banyak yang gemar berjoget, atau gemar makan di rumah makan, tapi tak ada yang menggabungkan keduanya—makan bersama lantas berjoget—menjadi sebuah ritual yang harus dilaksanakan berurutan terus-menerus selama tiga belas tahun, tanpa adanya pengecualian, penundaan, bahkan pergantian urutan acara.

Lagu yang diputar pun sama dari tahun ke tahun. Sebuah lagu berjudul Lagu Sare, artinya lagu yang molek, berkisah tentang sepasang kekasih yang baru saja putus dan saling memaki satu sama lain. Seluruh syair lagu itu berisi kata-kata mesum dan cacian semata sehingga lagu itu dilarang beredar, pencipta lagunya dikirim ke penjara dengan tudingan menyebarkan ideologi berbahaya dan kedua penyanyinya dipaksa kawin karena telanjur menyebut alat kelamin lawan jenisnya dalam lirik lagu. Tiga hari setelah kawin, kedua penyanyi itu bercerai.

Peristiwa ini terjadi tiga puluh tahun lalu, tapi masih sering dibicarakan orang-orang di Kota E dalam berbagai kesempatan. Dari acara pernikahan di mana mereka bersyukur karena pengantin tidak bernasib sama seperti sepasang mantan kekasih dalam lagu yang saling memaki juga kedua penyanyinya dan si pencipta lagu, hingga pada upacara kematian di mana lagi-lagi mereka bersyukur karena meskipun seseorang akhirnya mati ia tak mengalami nasib semalang dua mantan kekasih yang saling memaki juga kedua penyanyinya dan si pencipta lagu.

Keluarga Kotka terdiri atas Pak Kotka, Ibu Kotka, dan si kembar Kalinka dan Kaliska yang berumur empat belas tahun. Pak Kotka kelihatan berusia tiga puluh tahun meskipun usia sebenarnya empat puluh. Tubuhnya gendut cair, wajahnya bundar, dan rambutnya dipotong ala tentara yang sedang dalam masa latihan perang. Kulitnya putih Cina, dan hidungnya pesek. Keseluruhan penampilannya menyerupai Kim Jong-il, hanya ia tak tahu di mana letak Korea dan tidak tertarik pada dunia politik.

“Politik itu permainan iblis neraka, hanya merusak dan menghancurkan. Ya…ya… kau boleh saja tidak percaya, tapi coba ingat bagaimana rasanya setelah kau membaca berita politik di koran atau menonton berita politik di televisi, sakit kepala, kan? Itu buktinya. Iblis hanya gemar membikin manusia sakit kepala!”

Selain tak tertarik pada dunia politik, Pak Kotka tidak menyukai jam dinding, jam tangan, kalender, atau apa pun yang berfungsi sebagai penunjuk waktu. Di rumahnya tak ada jam dinding dan kalender, di tangannya tidak melingkar jam tangan. Tentang ketidaksukaannya ini, ia tak punya alasan pasti. Ia hanya menjelaskan bahwa ia tak menyukai hal-hal yang tidak ia sukai karena memang ia tidak menyukainya. Sama seperti ia mencintai hal-hal yang ia cintai karena memang ia mencintainya. Tentang dari mana dorongan rasa tidak suka dan cinta itu berasal, Pak Kotka termasuk tipikal orang yang tak mau ambil pusing.

Berbeda dengan Ibu Kotka. Selain punya koleksi jam tangan, jika tak menyukai sesuatu, ia akan menyelidik hingga ke akar penyebabnya sebelum menimbang apakah ketidaksukaannya patut dilanjutkan atau mesti dihentikan. Sekali waktu, ia tiba-tiba membenci bunga mawar. Diselidikinya mengapa ia membenci bunga mawar. Ia menanyakan tujuh lapis mengapa kepada dirinya sendiri; Mengapa kau benci mawar? Karena ia berwarna merah. Mengapa kau membenci mawar karena ia berwarna merah? Karena ia berwarna merah maka ia terlihat cantik. Mengapa kau benci mawar karena ia berwarna merah dan karenanya ia terlihat cantik? Karena orang-orang mengaguminya. Mengapa kau benci mawar karena ia berwarna merah dan karenanya ia terlihat cantik sehingga orang-orang mengaguminya? Karena ia berduri. Tidak nyambung—sistemnya memperingatkan. Ia mengetuk cermin sebanyak tiga kali.

“Kita ulangi,” ujarnya kepada sosok di cermin. Matanya sipit berair, memerah. Mata babi. Atau, mata seseorang yang sedang terkena radang selaput mata dan baru bangun dari tidurnya. Orang itu membersihkan tahi mata dengan tergesa-gesa dan terkejut mendapati matanya telah memerah, perih, dan berair. Ia dengki kepada Kalinka yang mewarisi mata kejora ayahnya. Dan Kaliska yang punya mata kucing. Apa saja selain mata babi. Dan wajahnya yang bulat, dan kulitnya yang mulai keriput dan tubuhnya yang gembrot tak pernah kurus. Ia membenci mawar. Atau, ia membenci… bukan mawar tapi dirinya sendiri karena ia bukan Mawar. Ia tubuh; tulang, daging, lemak, darah, dan saraf.

“Empat porsi nasi dan tujuh potong ikan bakar!” Kaliska selalu jadi yang memesan sejak usianya baru tiga tahun. Pelayan menatap ke pupil matanya, mata kucing, dan bergidik ngeri lantas mendesis, “Anak terkutuk,” ujar si pelayan, perempuan berusia sembilan belas tahun yang memang gemar menilai penampilan orang lain.

Kaliska meloncat ke atas meja dan tertawa terbahak-bahak. Ayah dan ibunya menimpali dengan tawa yang lebih girang. Sementara Kalinka menggaruk-garuk hidung, mencubit telinga dan menggigit kuku jari tangannya buru-buru. Orang-orang datang menyaksikan seperti hendak menonton pertunjukan topeng monyet. Salah seorang penonton, M, seorang pedagang sayur-mayur di pasar yang kebetulan lewat, berbisik kepada PAL, putrinya yang gemar menangisi hal-hal tak penting termasuk kematian seekor semut yang terinjak kaki seseorang yang tak ia kenal, “Masih untung nasib kita tidak seperti mereka.” Penonton lain yang ikut-ikutan mendengar bisikan itu berkata-kata; ya… ya…, untung nasib kita tak seperti keluarga Kotka.

Putrinya menangis.


PAL

DICERITAKAN bahwa ritual keluarga Kotka berawal dari ribut-ribut antara Pak Kotka dan Ibu Kotka menyoal seekor kucing betina bernama Belang. Si Belang dipungut dari jalanan empat belas hari sebelum Pak Kotka menikah. Namun, sehari setelah pernikahannya, Ibu Kotka minta kucing itu diusir. Bulu dan liur kucing bisa menyebabkan mala jika ia hamil. Pak Kotka menolak mengusir Si Belang karena kasihan. Tanpa sepengetahuannya, tiba-tiba Ibu Kotka memotong ekor si kucing dengan parang. Si Belang yang kesakitan kabur. Ia sering didapati menangis di depan altar gereja meratapi nasib ekornya dan menyampaikan sakit hatinya kepada Tuhan. Selama beberapa minggu setelahnya, warga sering melihat seekor kucing berwarna kuning-oranye dengan bekas luka belum kering benar pada ekornya duduk menghadap altar dengan mata tertutup seolah berdoa.

Tulah menimpa keluarga Kotka.

Setiap malam selama ia hamil, Ibu Kotka bermimpi dikejar ratusan kucing betina, semuanya bersenjata parang umpama laskar perang, yang bergerak di bawah komando Si Belang. Mereka mencakar, menggaruk, mencabik, dan mencacah telapak kaki Ibu Kotka hingga darah menganak sungai dan daging dari telapak kakinya yang terlepas ke tanah jadi seperti daging cincang kalengan.

Dalam mimpinya, ia memiliki ekor pendek seukuran jempol tangannya sendiri, sementara Kotka memiliki ekor yang lebih panjang dari yang ia ingat—kira-kira seukuran lengan orang dewasa. Kotka mengeong gemas ke arah ekor Ibu Kotka. Dikejarnya Ibu Kotka hingga tertangkap. Selalu, dalam mimpinya, ia terbangun ketika Si Belang menangkapnya. Air mata, keringat, ingus, dan air liur menempel di wajah Ibu Kotka. Setelah terbangun, ia berdoa kepada patung Maria, bersyukur karena ia tak tertangkap dalam mimpi. Jika tertangkap, ia yakin, ia akan mati. Bukan cuma mati di dalam mimpi, tapi juga dalam kenyataan.

Ia ceritakan mimpinya kepada suaminya dan tak diacuhkan. Ia bercerita kepada salah satu tetangganya yang bekerja sebagai perawat. Si perawat berusia tiga puluh tiga tahun itu menyarankan Ibu Kotka mencari Si Belang di gereja untuk minta maaf. Ketika usia kehamilannya sudah enam bulan, setelah tak tahan dikejar mimpi yang sama, pada jam tujuh pagi Ibu Kotka mencari Si Belang. Ia duduk di bangku gereja paling depan, menggenggam rosario dan berdoa sembari kupingnya mendengar suara sekecil apa pun. Saat merenungkan peristiwa Maria mengunjungi Elisabeth, saudaranya, ia mendengar suara mengeong. Si Belang duduk menghadap altar. Ekornya telah jadi pendek seukuran jempol orang dewasa. Ekor itu tegak, bekas lukanya tertutupi bulu-bulu halus. Seketika ia berteriak, “Maaf!”

Tubuhnya gemetar karena takut ketika Si Belang berbalik, berjalan lurus menuju pintu keluar gereja dan menghilang tanpa jejak. Malamnya, ia bermimpi duduk berhadap-hadapan dengan Si Belang di sebuah meja yang tampak seperti meja perjamuan makan dalam perayaan pesta pernikahan. Ada macam-macam hidangan daging, minuman, dan buah-buahan. Si Kotka memiliki ekor panjang, sepanjang lengan orang dewasa.

“Kita kan sama-sama makhluk, betina,” Si Belang berkata. Suaranya terdengar persis seperti suara Ibu Kotka sendiri. Si Belang mencomot ikan dari piring di depannya, mencabik, mengunyah, dan menelan makanannya seperti tingkah seseorang yang belum makan selama dua hari.

Ibu Kotka hendak menjawab. Otaknya telah berhasil mengumpulkan kata kunci semacam; virus, penyakit, cacat, takut. Tapi kata-kata itu seolah huruf-huruf berwarna putih bercahaya yang melayang-layang di dalam sebuah ruang gelap. Ia berhasil menarik huruf-huruf itu, menjadikannya kata-kata tapi gagal menaruh kata-kata itu pada posisi yang benar. Ia mencari-cari subyek, tapi tak ada huruf yang membentuk subyek. Otaknya kelimpungan. Ia mengambil apa yang tampak seperti segelas air putih, tapi ketika diminumnya terasa bahwa isi gelas itu adalah udara kosong. Udara kosong masuk ke mulutnya, kerongkongannya, dan mencekik saluran napasnya.

“Nyonya? Mengapa kau menyakiti aku?”

Ia terbangun, selalu kehausan dan akhirnya minum air berkat yang dimintanya dari seorang pastor. Setiap malam setelahnya, Si Belang selalu hadir dalam mimpinya, membawa pertanyaan yang sama. Ia berdoa setiap malam agar terhindar dari mimpi buruk, namun hasilnya nihil. Sehari sebelum melahirkan, tiba-tiba saja suasana mimpinya berbeda. Si Belang muncul menggigit keranjang mini berisi dua gantungan kunci berbentuk boneka perempuan ketika ia sedang berdiri di teras rumah. Anehnya, dalam mimpi itu, ia seolah menunggu Si Belang pulang dari sebuah perjalanan panjang yang menyedihkan. Si Belang menyodorkan keranjang itu dan Ibu Kotka yang menang seperti sudah menunggu mengambil dua gantungan itu.

“Salah satunya akan punya mata seperti mataku. Segera setelah umur mereka satu tahun, ia akan meminta hal yang aneh. Turuti, atau seseorang akan mencongkel paksa matanya sehingga ia buta.”

Ketika Kalinka lahir, segalanya wajar. Ketika Kaliska lahir, bidan menjerit dan memalingkan wajahnya kemudian berkata, “Mata setan.”

Setahun kemudian, pada hari ulang tahun si kembar di malam minggu, Kaliska bersuara; inan, nuna, inan, am, inan, nuna, am. Apa yang diterjemahkan ibunya sebagai ikan, tuna, makan. Segera si kembar dibawa ke rumah makan langganannya. Beberapa ekor kucing kuning-oranye muncul di sekitar rumah makan, seperti mengawasi seseorang dari kejauhan dan ketika kenyang Kaliska mengeong. Ibunya tertawa keras-keras, agar suara mengeong Kaliska tak kedengaran. Sejak itu, setiap malam minggu, pada jam enam sore, Kaliska merengek minta inan, nuna, dan am.


Kaliska

IA cuma punya satu teman di kota, dan orang itu bukan Kalinka kembarannya. Ia tahu ia berbeda, dan ia tak pernah berharap agar orang-orang lain menerima dirinya sebagaimana mereka mudah saja bergaul dengan orang asing. Ia punya mata aneh, mata yang bisa melihat jiwa orang, meneliti kebaikan dan keburukan yang mereka miliki dan mencerna apa yang mereka rasakan. Pupilnya berwarna kuning terang, membesar dan mengecil di luar kontrolnya.

Ia melihat tujuh spektrum sinar matahari membentuk warna yang menyelimuti benda-benda dan orang-orang. Ada benda yang hijau, ada orang yang biru, ada hewan yang merah dan semua tumbuhan umumnya kuning. Setiap bercermin, ia melihat dirinya yang oranye terang. Kalinka hijau, ayahnya biru, dan ibunya yang seperti tanaman itu selalu kuning.

Orang-orang takut menatap matanya sebagaimana ia juga gemetaran menyaksikan jiwa dan warna mereka. Tapi tidak dengan temannya, PAL.

PAL ungu dan gemar menangisi hal-hal yang tidak perlu. Keduanya bertemu saat sama-sama berusia empat belas, tujuh belas tahun lalu di sebuah rumah makan. Saat itu ia sedang melakukan sebuah pertunjukan—ibunya yang diam-diam melacur sedang jarang mendapat pelanggan dan bapaknya yang terang-terangan germo belum mendapat kembang baru—menari-nari seperti anak kucing di atas meja makan seolah sedang kesurupan.

Pemilik rumah makan yang telah tahu soal pertunjukan ini secepat kilat menghidangkan makanan dan tidak menagih pembayaran. Kepada para penonton yang menyaksikan ayah dan ibunya membagikan selebaran; anak ajaib! Mampu meramal masa depan, meningkatkan rezeki yang seret, dan menambah kesuksesan. Konsultasi setiap malam Minggu dari jam tujuh malam, diiringi musik dan acara berjoget yang meriah sebagai bagian dari ritual penyembuhan.

PAL menangis melihatnya, PAL menangis ketika membaca selebaran itu, PAL menangis ketika ibunya berkata; untung, nasib kita tidak seperti nasib mereka. Tapi, ia tak menangis karena sedih, atau terharu. Ia menangis karena lega, akhirnya ada seseorang yang mungkin bisa melihat dunia seperti dirinya.

Dua hari setelah ia lahir, ibunya melihat bisul di punggung PAL. Bisul itu seukuran jerawat. Si ibu mengira itu jerawat, sehingga ia menaburi sedikit bedak di sekitar daerah berjerawat itu. Namun, lama-kelamaan bisul itu terus membesar hingga seukuran mata ikan mas koki. Tampak matang seperti mau pecah ketika usianya tujuh hari.

Berbekal intuisi, semacam bisikan gaib yang ia peroleh ketika berdoa, Si Ibu mengambil jarum pentul dan memecahkan bisul itu. Bayi PAL menangis tak karu-karuan ketika bisulnya pecah mengeluarkan nanah kuning matang dan puluhan ekor cacing kremi. Ibunya mengelap punggung PAL hingga bersih, membunuh cacing kremi itu satu-satu dengan cara mengutiknya seperti cacing kremi itu kutu rambut.

Sejak hari itu, ia terbebas dari keharusan memikul urusan yang tidak perlu di punggungnya; belajar berkata-kata, belajar berjalan, dan belajar membedakan dirinya dari dunia. Pada usia tiga tahun, ia langsung lancar bicara bahasa yang tak dimengerti orang lain. Pada usia empat tahun, ia langsung berlari mengejar-ngejar apa yang tak tampak, dan pada usia lima tahun dunia seolah menjadi satu dengan dirinya. Celakanya, matanya cuma melihat kesedihan, sebab dunia memang berisi kesedihan.

Ibunya yang bekerja dari subuh hingga malam sebenarnya menghindari cibiran orang karena suaminya kabur ke Malaysia dengan perempuan lain dan anaknya dicap blo’on kalau tak mau dibilang cacat gara-gara ia sempat minum obat untuk menggugurkan kandungan. Tetangganya yang suka mabuk-mabukan sebenarnya takut mati. Tetangga lainnya lagi yang gemar membaca sebenarnya takut berhadapan dengan pikiran-pikirannya sendiri yang berisi hal-hal aneh semacam gedung yang bisa menceritakan rahasia memalukan orang-orang yang tinggal di dalamnya dan vas bunga yang bosan menjadi vas bunga dan hendak membanting dirinya sendiri agar segera ia pecah berantakan.

“Tolong buat dia berhenti menangis,” ujar Si Ibu di hadapan Kaliska. PAL yang ungu bergerak-gerak gelisah, mengirimkan pikiran kepada orang yang melihat dunia sama seperti dirinya, “Aku cuma ingin bisa memandang kebahagiaan, seperti aku memandang kesedihan.”

“Meski kebahagiaan itu palsu?”

“Aku ingin tidak bisa membedakan yang mana palsu dan yang mana asli, aku ingin tidak bisa melihat motif tapi merayakan gerak.”

“Kau ingin jadi orang yang berbeda.”

“Ya.”

“Maaf, saya hanya bisa membaca masa depannya. Anak ibu akan menikahi seorang pangeran dari negeri jauh dan hidup bahagia selamanya.”

Meski kebahagiaan ibunya itu palsu, PAL dan ibunya berjoget juga diiringi lagu daerah yang kata-katanya terdengar jujur di telinga; perempuan dan lelaki saling memaki setelah barangkali pernah mencicipi tubuh masing-masing.


Percakapan Terakhir

“Aku ingin melihat dunia yang utuh. Seperti kamu,” PAL berkata. Kaliska tahu temannya ingin mencongkel kedua biji matanya, dan menaruh biji mata itu sebagai ganti matanya sendiri. Namun, ia juga tahu bahwa temannya seorang penakut, ia tak akan tega melakukan hal sadis semacam itu. Yang ia khawatirkan justru tetangga PAL yang gemar membaca, sebab ia selalu merasa si kutu buku itu mengawasi setiap langkahnya. Si kutu buku itu ingin melihat apa yang bisa ia lihat untuk membuktikan bahwa isi pikirannya sendiri, yang telah terpengaruh buku-buku yang ia baca, sebenarnya baik-baik saja.

(2017)

Fransiska Eka saat ini berdomisili di Ende, Nusa Tenggara Timur. Ia gemar membaca dan sesekali menulis.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fransiska Eka
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 21 - 22 Oktober 2017 

0 Response to "Kaliska"