Keinginan Angin | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Keinginan Angin Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:30 Rating: 4,5

Keinginan Angin

TERUS saja kupandangi perempuan itu. Rambutnya yang juntai bak jembatan bambu keropos membentang sungai obsesi seorang pemimpin sejati. Lalu, kerutan tipis-tipis di wajahnya yang terlalu dini menampak bagai gumpalan mendung yang mengusik pesona jingganya senja. Sesekali gigil mencuat dari gemetarnya bibir mungil yang mulai ungu dan jari-jemari tangannya mencengkeram mencari perlindungan dari rasa pahit yang membeku. Pandangannya kosong. Namun, tajam. Sejenak mata itu binar-binar. Meleleh butiran-butiran bening nan mutiara. Aku selalu menghormati perempuan itu, meski ia memutuskan untuk menangis.

Aku menyuruh Mega menggendong Jagad, lalu kuhisap dalam-dalam rokok yang tadi sore kupungut dari jalanan sepulang mulung. Sambil kupijat pelan kaki perempuan yang sepantasnya aku panggil kakak. Namun, hampir tiga bulan ini aku sapa dia dengan sebutan ibu. Aku temukan jejak-jejak perih di telapak kakinya. Hanya senyum yang sesekali terpaksa ia lemparkan untuk menutupi setiap tikungan pedih dalam menapaki kehidupan yang misteri. Karena bagi kami ketenteraman hidup dalam kehidupan adalah jauh lebih nikmat dari pada hidup dalam kemewahan hasil penjarahan.

***
HARI sudah mulai malam, Kudengar derap langkah-langkah tergegas waktu. Balik merehatkan tubuh. Ada juga yang bermula menanam mimpi-mimpi. Dari seberang jalan nampak, Banyu dan Bumi menuju ke kediaman kami yang remang-remang oleh biasan lampu jalan.

Kedua bocah yang kupanggil adik ini seperti ketakutan, wajahnya memerah, matanya elang yang siap menikam mangsa, jantungnya bersuara tanpa jeda. Nelungsep di pinggiran ketiak ibu.

“Banyu. Bumi, ada apa? Apa kalian dikejar-kejar segerombolan srigala!” Tanya ibu sambil memposisikan tubuhnya setengah duduk setengah tiduran, bersandar pada tembok kediaman kami.

“Tii…Tidak bu, kami menemukan dompet sewaktu mandi di MCK samping Masjid Gede, dan ini bu.” Kalimat Banyu mengalir tak lancar bagai kali hitam penuh limbah yang tersumbat segelintir pejabat tak punya adab, meraba untuk kelanjutan yang tidak terungkap.

Ibu membuka dompet yang berpenghuni, dua lembar ratusan ribu dan kartu identitas hak milik. Kurasa malam ini perut kami akan terisi makanan yang mengenyangkan dan nikmat. Bukan makanan yang lezat. Orang seperti kami memimpikan makan makanan yang lezat adalah suatu kedhoifan. Cukup, bisa makan kenyang dan bercanda sedikit sebelum nyenyak dalam tidur adalah surga yang terkirim lebih awal buat kami.

Oh…Ternyata persepsiku salah, setelah melihat dua lembar ratusan ribu, Ibu membagikan satu-satu kepada mereka yang menemukannya dan mengatakan besok mau dibelikan jaket di pasar loak agar kalau tidur tidak kedinginan.

Mereka semua sudah pada lelap. Desir sepoi menggerayangi kulit menerobos ke tulang kaki lalu naik ke seluruh tubuh kurusku. Sesekali kulirik perempuan itu dalam ketenangan tidurnya. Ada kejanggalan yang mengusik hati dan otak ini. Padahal kejanggalan semacam ini selalu muncul dan selalu pula aku bisa meredamnya. Entah, kenapa malam ini sesuatu yang mengusik isi batin serta otakku seakan-akan makin berpacu menyeruak bersama dinginnya malam. Napasku putus-putus, jantungku tak punya ritme. Aku coba untuk melangkah keluar, menepis gejolak yang menganga mengalihkan pandangan mata ke ruas jalan nan sunyi menggulita. Namun, beberapa jenak, derasnya hasrat tak lagi tertangkis. “Akankah risalah baru tumpah malam ini, bagai hujan yang dirindukan petani.” Perang dalam batinku bertalu-talu.

***
DENGAN jutaan rasa, aku belai pelan rambutnya mengumal, lalu jemari ini berenang di pipi dan mungil bibirnya, saat tangan ini ingin menyelam ke dasar gundukan salju. Tanganku tak bergerak, mukaku merah saat dingin kurasa meremas jemariku.

“Aak akk aku, aku,” mulutku tertutup jarinya. Kemudian ia duduk dan menawarkan air mineral setelah ia minum. Kugelengkan kepala tanpa kata, jutaan rasa masih memumpa jantung tak berirama.

“Surya, tak usah kau malu, apa yang kau rasakan sebenarnya juga sama selama ini saya pendam.”

Napasnya terasa hangat saat kalimatnya mengurai. Tapi, di setiap kali aku mau ngomong, mulutku selalu ditutup jemarinya. Ia meyakinkanku. Badannya sudah pulih, kuat dan segar, sesegar mukanya yang terbasuh air. Beberapa jenak kami tanpa kata, hanya pandangan mataku tak mau sekedip pun lepas dari apa yang ia lakukan. Sesaat, aku di buat nyinyir, ngeri olehnya. Kulit muka yang sengaja di kelupas tak membuat dia mengaduh.

“Lihat ini Surya!” sobekan kulit di tonjokkan di hatiku.

“Kenapa kau lakukan itu?”

“Tamati wajah saya dan pengang sobekan kulit ini,” pintanya sambil mengusap-usap basah wajahnya dengan kaos yang dipakainya.

“Kenapa saya lakukan hal demikian,” jelasnya dalam kepekatan malam yang mulai memuncak, pipinya basah lagi, kali ini bukan oleh air dalam botol minuman, tapi karena embun kepedihannya tak kuasa terbendung, dalam kalimatnya yang terbata-bata, ia mengurai kepedihan-kepedihannya: Pertama, kepedihan yang amat sangat perih saat ia didustai kekasihnya, mengorbankan harum kelopak bunganya hambar sebelum waktunya merekah. Kepedihan yang sengaja ia kelupas seperti kulit mukanya tadi adalah saat ia memutuskan untuk lari dari rumah memilih mengadu nasib di ibukota. Namun, Nahas, sepulang kerja di perkosa pemuda berandalan.

Ia berhenti sejenak, mukanya lebam memerah, hanya jeritan hatinya yang kudengar menyayat-nyayat saat ia mendekap penuh kasih di tubuhku.

“Apakah kau masih ingin tahu kepedihan saya, Surya?”

Aku hanya diam. Rambutnya pun basah oleh tangisku juga.

“Sakitnya sembilu menusuk jantung mungkin tak seberapa dari pada kepedihan saya saat pimpinan srigala berpura-pura baik membebaskan dari operasi orang-orang gelandangan semacam kita, malam ini pimpinannya, lalu malam berikutnya anak buahnya, hari selanjutnya temannya. Mereka, srigala-srigala itu menikmati saya semaunya, sebebas makhluk menghirup angin, maka itulah nama saya menjadi Angin dan saya tembel lem pada wajah ini seperti dalam peran para aktor atau aktris di televisi.” Tangisnya kembali tumpah, isyaknya yang tertahan memuncratkan darah dari seseguk batuk tekanan, malam menjadi merah.

***
IZINKAN malam ini saya nyaman di pangkuanmu. Angin meminta saat tangisnya reda, setelah menghabiskan minum dan membersihkan mulutnya.

“Inilah kediaman kita, mulai detik ini kau jangan panggil saya ibu, karena kita adalah serpian debu dunia yang berwujud manusia gelandangan yang kebetulan dipertemukan, kau dulunya bukan siapa-siapa saya, Bumi dan Banyu saya temukan saat ia merengek kelaparan di stasiun, Jagad adalah balita yang selalu digendong perempuan tua di bawah lampu merah. Perempuan itu menyerahkan kepada saya saat ia menemui ajalnya. Sedang Mega, kamu yang membawanya.”

“Oh ya, apa yang menyebabkanmu memilih kehidupan seperti ini, Angin?”

“Saya tak pernah memilih. Tapi aneh, di setiap saya mengiat-ingat masa kecil, kepala ini berat rasanya lalu pingsan, pernah saya coba mengingat siapa kedua orang tua saya, lagi-lagi pingsan. Dan anehnya lagi, saya ingat peristiwa yang menyakitkan itu, tapi alamatnya di mana, saya eror. Apa kamu masih ingat masa kecilmu, Surya?” Tanyanya balik.

“Masih, aku sering tidur di pasar-pasar, maling jajanan, bahkan pernah dipaksa….”

“Dipaksa apa, kok tidak dilanjut omongnya, Surya?”

“Emm…mm…dipaksa menindih mbak-mbak, tat, tt, tapi, tapi, waktu itu jika aku tidak melakukan aku dihajar Abang-abang gendeng itu.” Jelasku malu.

“Kok sama saya, kamu anteng. Kamu jijik ya dengan saya, kamu….” Angin memotong kalimatnya lalu membalikkan tubuhnya dan mendekapku, kemudian berbisik lirih dalam tangis yang kesekian kali, kalau dia tidak akan pernah bisa memberi keturan karena pernah aborsi yang mengakibatkan kefatalan di kandungannya yang harus disterilis tobektomi. Aku hanya diam lalu kualihkan perhatiannya. Jujur aku tak kuasa melawan kesedihannya yang secara perlahan membahur di otak dan meredam nafsu kelakianku.

“Tapi kita nyamankan di kediaman bawah jalan tol yang bertembok beton ini?”

“Nyaman. Saya cukup nyaman bersandar dalam dekapmu. Karena, tak akan pernah ada satu orang pun yang mau memedulikan kebahagiaan atau kepedihan dari orang-orang gelandangan semacam kita. Kalau tidak kita yang menciptakannya sendiri keindahan ini lantas siapa lagi, Tuhan pun rasanya lupa kepada kita. Betulkan Surya?”

Tanpa ku balas, aku seakan terhipnotis kalimat-kalimatnya. Di kejauhan kudengar kebisingan kendaraan mulai merangkak. Musik yang dari tadi samar-samar entah dari cafe atau diskotek yang sempat mampir di telinga, kini sudah redup tak terdengar.

“Kalau kamu, menginginkan apa, Angin?” Tanyaku.

“Hehe…Saya hanya ingin hidup layak seperti pada umumnya manusia.” Tawanya hampa. Suaranya pelan sekali. Saat kutanya, apakah mulai mengantuk, hanya gelengan kepala dan batuk-batuknya berkejaran dengan suara angkutan kota. Bolehkah saya memimpikan? Kita bertempat tinggal di rumah yang layak walau masih mengontrak, Surya. Tapi kapan?

Jujur, aku terenyuh dengan keinginan yang mulia itu. Aku mendongakkan kepala sambil melepas keras napas ini. Lama kupandangi langit yang hitam tanpa kerlip satu bintang pun.

Dingin kembali menampar muka, kurasakan genggaman Angin tak lagi sekencang tadi. Lunglai tanpa rasa, kepalanya tak lagi tegak di dadaku.

“Angin! Angiin..! Bangun Angiiin..!” Darah terus kelur dari mulutnya. Puluhan kali kugoncang-goncang tubuhnya, hanya darah dan darah yang tanpa henti mengalir.

“Angiiiiiiiiiin……!” Teriakku disusul jerit tangis adik-adikku. [*]

Demak, 2017

Istafid Al Mubarok, lahir dari sastra Pesantren Mutakhorijein Ponpes Raudlotus-Salikin, Buko-Wedung-Demak.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Istafid Al Mubarok
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu, 29 Oktober 2017 

0 Response to "Keinginan Angin"