Laki-laki Penggali Lubang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Laki-laki Penggali Lubang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:17 Rating: 4,5

Laki-laki Penggali Lubang

NAMANYA Tumijan, laki-laki itu berumur lima puluh empat tahun. Dia meninggal karena sakit. Tidak jelas sakitnya apa, konon komplikasi dari gula darah, ginjal, darah tinggi dan entah apa lagi. Mungkin bagi penduduk desa Sendang, orang meninggal itu sudah biasa. Entah karena sakit, kecelakaan, atau karena sebab yang lain. Jenazah akan segera diurus. Mulai dari dimandikan, disalatkan, dan dikubur. Namun tidak demikian halnya dengan jenazah laki-laki ini,. Tidak satu pun tetangganya yang mau mengurus jenazahnya.

***
DI Surabaya Tumijan bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Dia berjualan jus buah-buahan di SMA swasta. Ternyata Jus buatan Tumijan disukai anak-anak sekolah itu. Jusnya laris manis. Sukengsi pun merasa tenang karena Tumijan mempunyai penghasilan lumayan sehingga bisa menabung untuk biaya kelahiran anak pertamanya.

Anak pertama Tumijan lahir normal, jenis kelaminnya laki-laki dan diberi nama Gandrung. Ya, karena bayinya itu lahir karena dia gandrung kepada Sukengsi. Jadi dengan nama itu dia berharap cintanya kepada Sukengsi akan tetap menyala.

Hari itu Sukengsi merasa badannya pegal-pegal setelah melahirkan, dia memanggil dukun urut. Ternyata mbah dukun itu tidak hanya mengurut badannya yang pegal-pegal namun juga mengurut bagian perut, “Ini untuk menaikkan rahim yang kendur karena habis melahirkan.” Sukengsi hanya diam saja meskipun sebenarnya dia khawatir rahimnya diurut dengan keras. Akibatnya Sukengsi pendarahan, saat dibawa ke dokter tidak tertolong. Sukengsi pun meninggal dunia.

Sejak kematian istrinya Tumijan seperti orang linglung. Ibu Sukengsi prihatin melihat kondisi menantunya. Begitu juga dengan cucunya yang tidak terurus. Gandrung pun diambil oleh ibunya Sukengsi, saat itu Tumijan tidak bereaksi dia hanya diam saja. Bahkan saat ibu kandungnya meninggal pun dia hanya bengong tidak ada ekspresi sedih di wajahnya.

“Kasihan ya Tumijan, ibunya meninggal saja dia tidak bereaksi. Benar-benar stres berat.” Ibu-ibu yang melawat berbisik-bisik.

Cukup lama Tumijan stres namun karena adiknya terus berusaha mengupayakan penyembuhan bagi Tumijan, mulai paranormal sampai ke rumah sakit jiwa. Akhirnya, berangsur-angsur Tumijan sembuh. Suaidah sebagai satu-satunya saudaranya sangat senang karena kakaknya sudah normal kembali. Mereka hidup berdua di rumah satu-satunya peninggalan ibunya. Mereka berdua bahu membahu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tumijan mengajar lagi bahkan mushola milik keluarga yang terletak di pekarangan dan di samping rumahnya mulai ramai. Banyak anak-anak yang belajar mengaji di sana. Tumijan rajin mengajari anak-anak usia empat sampai dua belas tahun mengaji. Suaidah bersyukur karena saudara satu-satunya sudah kembali menjalani hidupnya.

Hingga pada hari itu, Bik Siti mendatangi Tumijan.

“Le, kebun bambu yang di dekat sawah sebelah Barat kok tinggal setengah. Padahal mau tak jual nanti kalau mau buat gudang tembakau.”

“Oh…itu ya Bik, aku yang jual karena butuh uang untuk perbaikan mushola. Lagi pula itu kan kebun bik Siti sama emak. Kalau ngak salah nyai mewariskan kebun itu untuk berdua, sedangkan lik Giman dapat bagian kebun yang di sebelah Selatan.”

“Memang sih, itu milik berdua dengan yu Sus tetapi kalau mau jual bambu kamu mestinya bilang dulu sama bibi.”

“Untuk apa bilang dulu sama bibik, kan itu milik berdua dengan emak.”

“Pantas-pantasnya kan sebagai anak muda minta izin dulu sama yang lebih tua.”

Adu mulut antara Tumijan dengan bibiknya itu semakin memanas. Karena malu, Siti mengalah. Meskipun bibiknya itu sudah tidak ada, Tumijan masih mengomel.

Sejak pertengkaran itulah hubungan mereka terputus. Tumijan tidak mau bertegur sapa dengan adik ibunya itu. Begitu juga Siti, dia tidak sudi berbicara dengan Tumijan. Keponakannya itu dianggapnya tidak mempunyai rasa hormat terhadap orang yang lebih tua darinya.

Satu bulan setelah itu tiba-tiba Siti sakit keras. Perutnya buncit, menurut dokter ada mium di rahimnya. Khawatir miumnya semakin membesar, Siti menjalani operasi. Namun baru dua minggu operasi perut Siti buncit lagi.

“Bawa saja ke dukun, sakitnya Siti tidak wajar. Siapa tahu dia itu disantet orang.”

Mbah Suro yang berambut keriting dan berewokan itu menatap tajam wajah Siti. Kalau tidak sakit dan ingin sembuh, mungkin Siti sudah kabur dari tadi. Mbah Suro masih menatap tajam ke wajah Siti, bulu kuduk Siti bergidik. Mata mbah Suro seperti mata burung elang yang siap menyambar mangsa yang diincarnya. Setelah cukup lama menatap Siti, dia menyuruh Siti mendekat kemudian memegang perut Siti.

“Wah, kamu kena santet! Berat ini, yang nyantet kamu terus kirim barang.”

“Bagaimana mbah supaya saya bisa sembuh?”

“Nanti akan saya obati.”

Dengan serius Siti menunggu mbah Suro menyiapkan proses pengobatannya. Mbah Suro mengeluarkan baskom berisi air dan kembang setaman. Dia membaca jampi-jampi. Dia lantas mengambil air tersebut dan memercikkan ke wajah Siti. Setelah itu Mbah Suro memberikan wejangan.

“ Kamu cari air sumur yang tidak kena matahari, kemudian airnya dicampur dengan air laut, kemudian masak air itu sampai mendidih dan taruhlah daun kelor, daun bawang, merang kerang hitam, daun sirih temu rose, daun kemangi. Kemudian aduklah sampai rata sehingga sampai membuih kemudian minumlah air tersebut, dan sisanya dibuat mandi.”

Dengan takzim, Siti mendengarkan resep dari Mbah Suro. Dia percaya bahwa apa yang dikatakan Mbah Suro pasti benar sehingga semua santet yang diterimanya bisa disembuhkan.

Namun setelah Siti melakukan ritual seperti yang diperintahkan oleh Mbah Suro, perutnya tetap buncit. Dua hari kemudian Siti meninggal setelah terlebih dahulu muntah darah.

Saat mendengar bibiknya meninggal Tumijan bergeming. Dia tidak mau melayat. Jangankan melayat, dia malah pergi ke kota. Pulangnya malam setelah semua kegiatan yang menyangkut pemakaman bibiknya rampung. Sikap Tumijan yang seperti itu membuat suami dan anak-anak Siti geram. Mereka semakin yakin kalau Tumijan itu tukang santet.

Waktu terus berlalu…

Tumijan melakukan sesuatu yang aneh. Dia menggali lubang di depan rumah dan di sekeliling mushola. Para tetangga bergunjing.

“Tumijan sudah tidak waras ya? Untuk apa dia menggali lubang di halaman rumah dan sekitar mushola?”

“Dasar orang gila! Apa sih maunya?”

“Aku semakin yakin kalau dia itu tukang santet!”

Meskipun para tetangga ramai menggunjingkan Tumijan. Namun tidak ada yang berani melawan dan berhadapan langsung dengannya. Kata beberapa orang yang pernah menegur Tumijan, saat bertatapan mata ada sesuatu yang aneh, “Aku merasa linglung dan mengantuk Kang…” Begitu kata Narto kepada kakaknya.

Sejak Narto mengatakan hal itu, tidak ada satu pun tetangga yang berani menegur Tumijan. Semakin hari lubang yang digali Tumijan semakin banyak.

***
PAK RT tepekur di depan jenazah Tumijan. Tidak ada satu pun tetangga yang melayat. Sungguh malang nasib Tumijan, sudah menjadi mayat pun tidak ada orang yang mau memaafkannya. Tiba-tiba Parno teringat dengan keluarga bu Siti, bagaimana pun keluarga tidak mungkin tega.

“Bagaimana Man? Para tetangga tidak ada yang mau memakamkan jenazah Tumijan.”

Suami bik Siti tepekur. Meskipun tidak bisa dibuktikan kalau istrinya meninggal karena diduga disantet oleh Tumijan namun Man Badri merasa sakit hatinya. Apalagi jika ingat ketika Tumijan memaki-maki istrinya. Bahkan saat istrinya meninggal pun Tumijan tidak melayat.

“Bagaimana, Man? Saya rasa orang yang sudah meninggal tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai umat beragama kita maafkan saja dia. Saya kan tidak mungkin sendirian mengurus jenazah Tumijan. Sebagai ketua RT, saya mohon dengan sangat Man Badri mau berlapang dada memaafkan Tumijan.”

Setelah pak RT cukup lama membujuk Man Badri, akhirnya Man Badri setuju untuk membantu pak RT mengurus jenazah Tumijan. Pak RT, Man Badri, dan dua anak laki-lakinya mengurus semuanya. Mulai dari memandikan jenazah, membungkus jenazah dengan kain kafan, dan menyolati jenazah. Namun saat jenazah sedang diusung dan melewati depan rumah Tumijan yang penuh dengan lubang itu, tiba-tiba jenazah memberat. Keempat orang yang mengusung jenazah itu tidak kuat menahannya. Mereka lantas meletakkan keranda di tanah.

“Ayo kita angkat lagi keburu Magrib.”

Pak RT memberi semangat. Man Badri dan kedua anak lelakinya mengangguk. Mereka berempat mengangkat keranda jenazah Tumijan kembali. Namun meskipun sudah mengerahkan segenap tenaga keranda tersebut terasa sangat berat seperti berisi batu ratusan kilogram. Keringat pun berleleran di tubuh keempat orang itu. Sementara langit di ujung Barat sana mulai memerah pertanda siang akan berganti malam. Akhirnya dengan susah payah keranda itu terangkat. Buru-buru mereka menggotong keranda supaya masih ada matahari. Saat menghindari lubang di dekat pohon nangka di sebelah Barat halaman Tumijan, Man Badri yang menggotong di posisi depan kanan terantuk batu. Laki-laki tengah baya itu kehilangan keseimbangan. Man Badri limbung dan terjatuh. Kerandan itu pun ikut terjatuh dan terguling. Jenazah Tumijan keluar dari kerandan dan masuk ke dalam lubang sepanjang dua meter dan selebar satu setengah meter.

“Wah! Bagaimana Man? Hati-hati kalau jalan. Ayo segera kita angkat!”

Pak RT segera turun ke dalam lubang. Wajah Man Badri pias, dia merasa ada yang tidak wajar. Tadi tiba-tiba saja jenazah Tumijan berat seperti batu, kini kakinya terantuk dan jenazah Tumijan masuk ke dalam lubang yang digalinya sendiri. Dan di lubang ini dulu ada dua anak kecil yang terperosok di dalamnya dan meninggal. Kata dokter, kepala kedua bocah itu mendapat benturan yang keras. Anehnya kedua bocah tersebut muntah darah sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Ingat kejadian itu. Bulu kuduk Man Badri bergidik.

“Ayo cepat kita angkat!” Pak RT berteriak.

Man Badri dan kedua anaknya langsung turun ke dalam lubang. Mereka berempat segera mengangkat jenazah Tumijan. Saat sedang berusaha mengeluarkan jenazah tiba-tiba turun hujan lebat. Langit yang semula cerah berubah menjadi kelabu. Keempat laki-laki yang berada di dalam lubang itu tampak panik. Bagaimana tidak? Dalam keadaan terang saja susah apalagi hujan begini. Tanpa dikomando keempat laki-laki itu langsung menempati posisinya untuk mengangkat jenazah Tumijan. Namun jenazah Tumijan semakin membatu, lebih berat dari sebelum masuk ke dalam lubang.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, mereka berempat berusaha keras untuk mengeluarkan jenazah itu. Tiba-tiba hujan semakin lebat. Dalam hitungan detik air menderas ke dalam lubang. Keempat laki-laki itu kontan segera naik. Tiba-tiba halilintar menggelegar, sesaat langit benderang. Tiba-tiba saja tanah di sekelilingnya longsor dan masuk ke dalam lubang. Dalam sekejap jenazah Tumijan terkubur di dalam lubang yang digalinya sendiri. Sekali lagi halilintar menggelegar, secercah kilat menyambar pohon nangka yang hanya berjarak dua meter dari lubang. Pohon nangka itu hangus dan roboh tepat di atas lubang dimana jenazah Tumijan terkubur di dalamnya…. ***

Pudji Isdriani K, alumni Fakultas Sastra Indonesia, UNS 11qa Maret dan Universitas Indonesia. Ketua Umum Masyarakat Sastra Jakarta, Pengurus Wanita Penulis Indonesia Pusat (WPI Jakarta) dan Ketua Umum Ikatan Istri Bank Daerah NTB (ISBANDA).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Pudji Isdriani K
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Sabtu, 14 Oktober 2017 

0 Response to "Laki-laki Penggali Lubang"