Luka yang Abadi - Ranting Pohon Kehidupan - Sunyi yang Perih - Rintik Gerimis yang Merdu - Gugur Mawar di Atas Dada Sunyi - Berbagi Laut Kepadamu, Weisku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Luka yang Abadi - Ranting Pohon Kehidupan - Sunyi yang Perih - Rintik Gerimis yang Merdu - Gugur Mawar di Atas Dada Sunyi - Berbagi Laut Kepadamu, Weisku Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Luka yang Abadi - Ranting Pohon Kehidupan - Sunyi yang Perih - Rintik Gerimis yang Merdu - Gugur Mawar di Atas Dada Sunyi - Berbagi Laut Kepadamu, Weisku

Luka yang Abadi

berdirilah di depan Cermin, untuk beberapa
saat
jangan kerjapkan matamu, oke, apa yang
engkau Lihat
: cinta yang menua dengan Luka, atau
rindu yang membatu atau bayang rasa muak
yang Berkelebat setelah Senja melupakan
kemilau matahari

dan sekarang engkau hendak memasuki
labirin Senja
dengan kanvas, kuas, dan tinta Jiwa
akan kaulukis segala yang Ada dengan puitis
Sepenuh imaji, sepenuh estetika: Dinding
dinding
senyap Berlumut, aroma yang asing
dan seberkas Cahaya yang melintas
menyepuh lukisan
menjadi Luka yang Abadi!

Cirebah, 15 Juni 2017

Ranting Pohon Kehidupan

di lautku tak ada yang harus Kau rindukan
terumbu karangnya, rumput lautnya, deru
ombaknya

amis kelatnya juga buih yang memecah,
sampan yang rapuh
dan Mercusuaryang senantiasa menerpa
Sajak-sajakku

apa pun, bagaimana pun, Lautku tak akan
kausuka
taklah apa, lautku sudah terbiasa Luka, sudah
terbiasa Luka!

“karena engkau Laut, aku tenggak seluruh
airnya
aku telan seluruh Karangnya”

karena sudah sangat sering kaupungut
ranting
pohon Kehidupanku juga sajak-sajak Lautku,

kaubakar juga tumpukan ranting itu
kaubenturkan juga ke tebing Karang sajaksajak
itu

lalu kubiarkan engkau berteriak Sekeraskerasnya
: “ranting pohon Kehidupan, sajak-sajak Laut,
selamat tinggal!”

aku diam, aku diam, aku Diam.

Cirebah, 14 Juni 2017

Sunyi yang Perih

sesering apa Engkau merasakan
sunyi yang Perih?
yang seperti Menohok-nohok
rongga Dadamu?

sesuatu yang membuat Senja
jatuh dengan hambar
serupa rindu yang Berkarat,
langit yang Lindap

dan Waktu pecah menciptakan
Sajak-sajak yang retak

yang membuatmu kian berharap pada Senja
yang Gemerlap penuh sentuhan kasih
malam pun Luruh,

sujud terakhir berderai Airmata
: ”aku sebutir Debu, aku tiada Jiwa
tiada Makna di ujung rambut Mu
aku sebutir Debu dalam genangan Senyap!”
sering engkau ingin meninggalkan
Sunyi yang perih
yang suka Menjengkelkan dan memuakkan
tetapi bukankah Hidup selalu saja
mengajari untuk bersabar, menjaga Logika
dan mengharapkan Kesenangan?

Cirebah, 09 Juni 2017

Rintik Gerimis yang Merdu

setelah menuruni bukit dan lembah
Cangkring, Igir Salak,
Darmakradenan, Karang Bawang, sepagi ini
sudah kulewatiperempatan terminal Wangon,
terus melaju
ke selatanke pelabuhan Tanjung Intan, di
dermaga—
seorang yang belum lama kukenal
menyambutku
dengan Senyuman dan dari balik
punggungnya
ia ulurkan seikat Edelweis yang tumbuh di
sela batu karang
: “pertemuan ini menjadi kenyataan, Tuan
penyair,” bibirnya
bergetar-getar”dan lihatlah Pelangi jatuh
begitu gerimis reda!”

danpagi berurai dengan Rintik gerimis yang
merdu
yang membasahi bukit-bukit dan lembahlembah
: “hidup harus kita nikmati, Tuan penyair
sepahit segetir apa pun, di pagi Gerimis ini
mari kita rayakan kebersamaan sederhana ini
dengan harum Mawar!”

seorang yang belum lama kukenal tubuhnya
perlahan
berpendaran Cahaya, begitu cemerlang!

Cirebah, 02 Juni 2017


Gugur Mawar di Atas Dada Sunyi

ada kelopak-kelopak Mawar gugur
di atas dada Sunyi
Chin, engkau tahu gugur mawar
itu serupa Sembilu?
aku Mengenang seluruh pertemuan
denganmu
serupa kelopak-kelopak Mawar yang gugur itu

akhirnya Engkau tarik napas dalam-dalam
lalu hembuskan perlahan, dan Engkau
relakan gugur Mawar

menjelma belati paling Sunyi!

Jaspinka, 22 Mei 2017

Ctt: Jaspinka= Jaringan Sastra Pinggir Kali.


Berbagi Laut Kepadamu, Weisku

tentu aku ingin berbagi Laut kepadamu, Weisku
selagi Camar melayang dan hinggap di
Sampanku

“debar ini, Debur ini senantiasa
Memabukkanku!” jeritmu

aku pun membiarkanmu mencebur ke Lautku
laut yang bergelora dengan Karang-karang
runcingnya!

tetapi hanya sampai dermaga Sleko aku
mengantarmu
tak bisa ikut ke Kampung Laut
memecah Matahari dari atas perahu

: “hidup menderu-menderas, di atas Alun
Gelombang
dengan Asin-kelat dengan kelepak Camar
Tuhan, beri Ombak yang menghempas
berupa Segala kesenangan dan kebaikan!”

dan dari ketinggian menara Mercusuar,
aku lihat
perahumu terombang-ambing membelah Selat
apa yang Kaubawa
dalam perahumu yang Gemerlap
adakah ribuan kuntum Edelweis atau ratusan
sajak Jingga yang harus kupahami
ou, merapatlah perahumu ke Dermaga,
aku segera
menjemputmu dan memelukmu
sepenuh Rindu.

Jaspinka, 24 Mei 2017

Eddy Pranata PNP, sejak 2004 lalu mengelola Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat, Indonesia. Sehari-hari beraktivitas di Disnav Ditjenhubla di Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), SajakSajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016). Memo Anti Terorime (2016), Pasie Karam (2016), Matahari Cinta Samudera Kata (2016), Memo Anti Kekerasan Terhadap Anak (2016), Negeri Awan (2017), Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata (2017), Seutas Tali Segelas Anggur (2017), dan lain-lain.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eddy Pranata PNP
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 22 Oktober 2017

0 Response to "Luka yang Abadi - Ranting Pohon Kehidupan - Sunyi yang Perih - Rintik Gerimis yang Merdu - Gugur Mawar di Atas Dada Sunyi - Berbagi Laut Kepadamu, Weisku"