Malam Terakhir di Solo - Merugi - Merahap Namamu - Biarkan Laki-laki Bertelur | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Malam Terakhir di Solo - Merugi - Merahap Namamu - Biarkan Laki-laki Bertelur Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:00 Rating: 4,5

Malam Terakhir di Solo - Merugi - Merahap Namamu - Biarkan Laki-laki Bertelur

Malam Terakhir di Solo

Ia segera menuntaskan malam terakhir di Solo.
Kemudian Jalan Slamet Riyadi yang memanjang semakin
riuh menjauh menggiring kendaraan ke arah barat;
pergi membawa sebuah rencana.
Barangkali lampu taman yang tinggi depan patung
Slamet Riyadi akan terjaga sepanjang malam hari.
Sebab bayangan pengendara yang menarik napas satu
per satu tampak membenarkan gelapnya Solo, gumamnya.
Solo malam hari memekikkan pelukan disertai letupan air
yang menggumpal dalam tawa dan awan kemudian jatuh
tak menentu dari beberapa mata sesaat setelah tubuh
saling bertangkup di sela-sela pemberontakan terhadap
pertemuan.
Waktu tak akan memberanikan diri menghirup seluruh
kecupan pertemuan terkecuali kenangan akan kota yang
mengecap dalam kening beberapa pendoa di tengah
tempat ibadah.
Waktu juga telah berjanji memberikan detik yang lebih
untuk Solo dan beberapa orang yang mencintainya
untuk segera memakamkan air mata masing-masing
yang mulai beterbangan.
Di peron Stasiun Purwosari tercium perasaan saling
mencintai kepulangan dalam ransel-ransel yang terpenuhi
nama-nama yang bersetia di balik pintu rumahnya
lalu cita-cita menanggalkan kenangan dalam peron
tua semakin nyata.
Perjalanan akan membawa ribuan raga kepada beberapa
detik peristiwa untuk dikenang menjadi abadi dalam
benak para perantau yang pensiun dari statusnya.

Merugi

Mata memerah tersambar likat petir yang melilit memanjang
di sekujur urat tenggorokan dan mencekik daundaun
telinga. Seketika kilat kehilangan hujan lebat serta
hutan yang saling menindih dan meneduhkan; pula
menyedihkan. Mereka kekal di dalamnya.


Merahap Namamu

Tiba-tiba namamu meraba,
dalam tangkupan tangan.
Baru saja setelah Aku selesai,
menanggalkan amin yang menapak
di depan punggung wajah.

Seluruh harapan tumpah dan
berlarian di tubuhmu. Begitu pun
airmata yang saling mencari
cara paling sederhana untuk mencintai.

Mungkin ada yang menggigil membiru
dalam tangkupan tangan. Ia adalah
ingatan dalam jumlah besar terhadap
senyuman dan dentuman berbagai harapan;
perihal kenangan.

Sebab, dalam ingatan yang bergegas menjadi permohonan.
Namamu selalu saling bertangkupan dalam telapak
tangan.


Biarkan Laki-laki Bertelur

Jongkoknya yang dalam dan panjang membuat kaki
Parjo terpekik dari balik pintu penuh kejutan begitu juga
kenangan; kemenangan. Pelor menembus pembuluh
cerna dan merajam seisi ruangan tersebut. Tiba-tiba
ingatan menyeret Parjo pada beberapa waktu sebelumnya.
Ia bersijingkat dari tempat tidur, tergesa, belingsatan,
dan bergegas memulai peperangan. Usai berlaga ia
segera mendobrak pintu dan meninggalkan aroma
kemenangan di balik pintu.

Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997, dan besar di tanah kelahiran, Wonogiri, Jawa Tengah. Dia mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret Surakarta. (44)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arif Tunjung Pradana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 29 Oktober 2017

0 Response to "Malam Terakhir di Solo - Merugi - Merahap Namamu - Biarkan Laki-laki Bertelur"