Mata yang Menyiksa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mata yang Menyiksa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Mata yang Menyiksa

SUDAH beberapa minggu perempuan bermata sedih itu tinggal di rumah pengembaraan, di sebuah kota di mana kabut lebih sering muncul. Apa yang disedihkan perempuan itu adalah kesedihan tentang seorang lelaki yang wajahnya berlumuran darah karena membutakan matanya sendiri. 

Kota yang lebih sejuk dan sore terasa lebih cepat tiba pada senja menambah kuat ingatannya selalu pada lelaki itu, di mana dia terus pergi mencarinya dari satu kota ke kota lainnya. Sembilan tahun sudah dia melewati gugus waktu dalam kesendirian. 

Saat dia membeli tanaman tanaman hutan yang menjalar dan anggrek kesukaannya di sebuah tepi jalan, sore yang sedang dihujani merah tembaga matahari sebelum disapu kabut dia melihat seorang lelaki bertongkat berjalan seorang diri, lelaki itu buta, dan dia sungguh terkejut melihat caranya berjalan yang sangat ia kenal, rambut sebahu ikal ciri khasnya, warna pakaiannya masih seperti warna warna yang disukainya dulu. Ranu! 

Ah, di kota ini akhirnya dia temukan lelaki itu, lelaki yang wajahnya pernah berlumuran darah kala dia membutakan matanya sendiri. Sepasang mata tampan yang tak melihat itu tentu saja tak bisa mengungkapkan lagi cinta dengan sinarnya. Dia tampak berjalan pelan dan tertatih tatih dengan tongkatnya itu menyusuri sore ke arah matahari terbenam, dulu dia seorang lelaki yang gagah, kekasihnya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri saat mereka telah bertunangan dan waktu pernikahan sudah ditetapkan. Mau ke mana dia seiring senja jatuh? Ranu. 

Suara tongkatnya terdengar memukuli kerikil tepi jalan. Dia mencoba mengikutinya beberapa puluh meter, air matanya deras berjatuhan, dia tak sanggup untuk menyapa dan akhirnya berbalik arah, pulang tergesa, menjatuhkan dirinya di ranjang yang sepi. 

*** 
KATA orang-orang di tikungan ujung perumahan di kaki bukit sejuk itu, biasanya dia ke kedai kopi langganannya untuk merokok, bertemu teman temannya dan ngobrol dengan siapa saja yang mampir ke kedai kopi itu, lalu dia melanjutkan pergi ke tepi danau, bekerja menjaga beberapa petak ladang bunga. 

Dia pernah cerita kepada orang orang, menikam kedua matanya sendiri karena melihat perselingkuhan calon istrinya, di malam acara pelepasan lajang perempuan itu, yang tak bisa menolak bujuk rayu bekas pacar di masa lalu, cinta yang pernah membutakan jiwa mereka. Beberapa temannya membawa botol botol minuman, berpesta agak liar, jauh di luar keinginannya dan nyaris mereka semua minum hingga terjadi perselingkuhan itu. 

Ranu, tunangannya yang sengaja tak diundang datang, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri di kamar pesta itu, dan mereka tak memiliki alasan untuk khilaf. Ranu, lelaki yang sangat dirindukannya itu, bertahun tahun sudah dia mencarinya, dia membutakan matanya karena tak sanggup melihat petaka itu, berdarah darah di malam pesta, pemandangan yang mengerikan. Pemandangan yang tak pernah pergi dari pikirannya. 

Setiap sore dan senja turun hingga malam dia berdiri menunggu lelaki itu kembali lewat di depan taman penjual bunga bunga hutan dan anggrek, tapi saat lelaki itu muncul mengayun tongkatnya, dia yang sudah dekat di belakang mengikuti hingga puluhan meter tak berani menyapa sedikitpun, apalagi mengeluarkan suaranya yang terisak, bahkan dia takut lelaki itu akan mengetahui kehadirannya. 

Hingga suatu ketika lelaki itu menghentikan langkahnya, mematung, perlahan dia memalingkan wajah ke belakang, ke kiri dan ke kanan, dia mungkin sudah tahu sejak pertama perempuan itu mengikutinya beberapa hari lalu, aroma tubuh perempuan itu pasti terendus hidungnya bercampur bau anggrek hutan kegemarannya, Lelaki itu tampak acuh saja kemudian melanjutkan perjalanan. 

Sepetak ladang bunga itu mulai mekar di bawah bulan, tak ada angin berhembus kecuali hening, serangga serangga kecil mengisi kesunyian menikmati aroma bunga bunga. 

Ketika terdengar suara kokok ayam dia pun pulang, kicau kicau burung beraneka suara mengiringi langkahnya, rumahnya hampir lima kilometer dari petak petak ladang ladang bunga itu, di tepi lembah yang berbatu batu. Melewati kembali tikungan yang agak sedikit ramai dengan deretan penjual bunga segar tempat dia biasa singgah sekejap minum kopi dan merokok sebelum istirahat memejamkan mata di rumah, mata yang tak melihat apa pun sejak peristiwa berdarah itu, kecuali kegelapan cintanya yang dikhianati. 

**** 
MEMPERHATIKAN dan mengikuti laki laki itu beberapa kali lalu akhirnya terisak pulang kini perempuan itu sampai di ladang bunga, Mereka sama sama tiba di sana, duduk berjarak beberapa meter. Lelaki itu menyadari sudah begitu sering dia terus diikuti. Dia pernah yakin tak akan pernah berjumpa lagi dengan gadis yang pernah bertunangan dengannya itu. Dia yakin itu Mayan. Apa yang dicarinya datang ke tempat ini? Bukankah semua sudah berlalu? 

Setelah mereka hanya membisu Mayan akhirnya tak bisa lebih lama lagi membeku. “Aku ingin buta seperti juga kau Ranu, aku merindukanmu, sangat merindukanmu” Mayan terisak. 

Angin malam berdesir, bunga bunga mulai bermekaran dinihari berlomba menjumpai pagi “Apa yang kau cari lagi, Mayan?” 

Lelaki itu bangkit, berjalan ke tengah ladang bunga dan memetik beberapa Rose, memberikannya kepada Mayan. 

Ini ladang bibiku, aku hanya menjaganya sebelum pagi dipetik untuk dibawa ke pelelangan 

“Terima kasih.” Mayan menghirup serumpun Rose mekar dalam dalam. Butakanlah mataku dengan tangkai tangkai mawar ini Ranu biar kita menjadi sepasang kekasih buta. Aku lama mencarimu. Aku menderita sejak melihat darah itu. Aku sungguh menyesali semua itu.” 

Tak boleh Mayan, mata tak berguna tanpa cahaya. 

Aku merindukanmu hidup bersama. Aku tahu khianat manapun tak ada yang bisa menandingi kecewamu, aku akan mengobati lukamu, mengabdi padamu. 

Sudah terlambat Mayan. 

“Aku ingin buta bersamamu Ranu, aku sudah lama mencarimu, Ranu.” 

Mayan memeluk Ranu sekuat tangannya. 

Lalu bunga bunga bermekaran. 

Dan Pagi hari mereka pulang, diiringi mentari, Mayan ikut ke rumah Ranu. Mereka disambut seorang perempuan dengan sepotong tongkat seperli Ranu dan matanya buta. Mayan tercekat! 

“Dia istriku, namanya Layonsari, kami sudah kenal lama di daerah ini, dia membutakan matanya sendiri karena melihat perselingkuhan suaminya, lalu dia datang menemuiku dan kami saling membutuhkan, mencintai dalam kebutaan, seiring waktu kami merasa mata kami tidak buta, cinta kami bercahaya.” 

Mayan dilibas cemburu. Perempuan buta itu mendekati Mayan, merabai wajahnya, menelusuri bahu dan rambut Mayan. 

“Kau perempuan yang cantik,” dengusnya tak suka. 

Nafas Mayan memburu. “Kau pasti perempuan yang bernama Mayan itu” Limbo pernah menceritakanmu. Hh, kau ternyata!” 

Mayan terpatung, Layonsari mundur beberapa langkah. 

“Aku tak mau berjumpa lagi dengan Koko!” Tiba tiba dia histeris. “Dia jahat, dia tak boleh mencariku ke sini hanya karena suatu saat nanti dia menyesali perbuatan selingkuhnya, seperti perempuan ini, yang membuat kekasihnya membutakan matanya sendiri lalu dia datang mencarinya mengatakan dia sangat bersalah! Tidak! Pergii kau!! pergi!” 

Mayan bergidik ngeri mendengar ucapan perempuan itu, perempuan yang pasti sangat membenci lelaki yang membuatnya membutakan matanya sendiri, seperti juga bencinya Ranu dulu padanya. Lalu perempuan itu tampak menggapai gapai ke arah Ranu, begitu dapat tubuh Ranu langsung dia peluk dengan erat. 

Mayan bergetar melihat pasangan buta itu, dilibas rasa cemburu. 

“Butakanlah mataku, aku sangat cemburu! Itulah balasan yang pantas untukku! Aku tak akan menyesal!” Mayan mendekatkan wajahnya ke arah Layonsari sambil dia mengulurkan tangkai tangkai Rose yang panjang berduri. 

Ranu menggapai gapai mendekati Mayan. 

“Pergilah Mayan, tolong pergi dari sini, jangan ganggu kami.” 

Mayan makin dilibas cemburu, Ranu mengusirnya, yang lama dia cari bertahun tahun. Mayan merasa hancur berkeping! Merasa sangat pantas jika dia membutakan mata sedihnya, itu setimpal dengan kemarahan Ranu dulu, tak perlu lewat tangan mereka, tapi dengan kedua tangannya sendiri. Tapi jika dia membutakan matanya sendiri bukankah Ranu sudah tak bisa melihat darah darah itu, tak bisa. Jadi percuma saja karena Ranu tak akan melihat pengorbanannya. 

*** 
LIMBO dan istrinya melewati jalan ke arah matahari jatuh, bergandengan tangan, istrinya itu pasti tak membiarkan lagi suaminya pergi sendiri, juga tak ingin kekasihnya dari masa lalu datang lagi mendekat membawa penyesalan, ujung tongkatnya ia sambarkan ke sana ke mari. 

Mayan terisak, sudah beberapa sore mereka memamerkan cinta dan kemesraan itu, tak memberinya lagi kesempatan sedetikpun didekati. Mayan melemparkan tangkai-tangkai rose berduri dan bergegas lari. Ranu beruntung menemukan lagi sosok yang dicintanya, sedang dia akan mengembarai lorong, tempat sunyi, dengan sepasang mata sedihnya yang tanpa cahaya kecuali air mata. Air mata yang terus mengalir deras. 

Menjelang malam, di tikungan jalan, Mayan mulai tergoda, ayo segeralah butakan matamu, segeralah. Dengan ranting yang dipungutnya di pinggir jalan mayan pun membutakan sebelah matanya, sebelah saja. Darah mengalir, sakit terasa, bagaikan cinta yang disakiti begitu lama. Ia pun termenung dengan hanya sebelah mata buta, tapi ia masih bisa melihat, membutakan kedua matanya serasa ia tak sanggup. Ia tertatih tatih hanya dengan sebelah mata kini, perasaan kehilangan, cinta, dan luka itu tak bisa terbang terbang dari jiwanya, agaknya Mayan harus membutakan sebelah lagi, agar ia dapat kembali berjalan menemui Ranu.*** 

Sejumlah karya Ganda Pekasih sudah dimuat di sejumlah media massa. Bukunya Al: Maha Suci Cinta-Mu dan Bidadari-Bidadari Bumi. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ganda Pekasih
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu, 1 Oktober 2017 

0 Response to "Mata yang Menyiksa"