Melati di Hilir Jordan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Melati di Hilir Jordan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:15 Rating: 4,5

Melati di Hilir Jordan

“bunga-bunga Melati di Yericho …
di hilir Yordan suci …
di sana lahir anak Allah …
Raja surga bumi …”

Terdengar senandung sayup dari dalam Kapel. Kukenal suara itu. Suara yang keluar dari mulut mungil Stella kecil. Suara yang hampir setiap hari menghiburku. Stella tentu sedang menghias Altar bersama teman-temannya. Ah, alangkah riangnya anak-anak itu. Bukankah mereka juga yang akan menjadi Malaikat pengiring Putra Altar pada perayaan Misa conselebrasi malam nanti? Kukira suster Maria telah mempercayakan pekerjaan itu kepada anak-anak yang rata-rata sudah mempunyai tanggung jawab itu.

Aku menyelinap masuk. Langsung saja disambut oleh kicauan mulut-mulut mungil. “Tante Lia … Tante Lia … selamat sore,” sapa Elsa dengan suara lantang yang membuat anak-anak lain menoleh ke arahku. “Tante …. Tabernakelnya sudah selesai dihias, Tante,” teriak si kecil Stella. “Tante, coba lihat kandang natalnya, semua sudah beres. Rumputnya kami ambil dari halaman belakang asrama,” seru Nia tak ketinggalan. “Tante baru pulang ya?” tanya Cesilia seraya mendekat. Aku mengangguk. Senyum. Jongkok di tengah anak-anak yang begitu saja mengelilingiku. “Tante tidak usah membantu kami. Tante masih capek ‘kan?” Kathrin seolah mencegahku begitu melihat tanganku mulai menyentuh bola kaca merah hiasan pohon natal. “Baik! Kalian anak-anak rajin dan pandai. Malam nanti, tentu ada hadiah-hadiah yang bagus,” pujiku diselingi nada janji. Langsung saja mereka bersorak riang. “Horeee … kita dapat hadiah.” Lalu aku melangkah ke luar.

“Bunga-bunga Melati di Yericho …” terdengar lagi senandung Stella. Kali ini lebih menggaung karena anak-anak lain ikut bergabung. Ada rasa haru yang melintas sekaligus membuat aku trenyuh mendengarnya. Lagu itu tidak saja indah tetapi bersejarah. Sarat oleh pujian. Melati liar yang tumbuh di hilir sungai Yordan itu mekar di malam kudus di saat Sang Juruselamat dilahirkan. Betapa indahnya sungai itu. Sungai tempat anak Allah disucikan. Dan betapa bahagianya berada di padang gurun itu. Orang mungkin hanya mengenal gembala-gembala penghuni padang Bethlehem terbirit-birit menyongsong kehadiran Yesus di palungan yang penuh dengan jerami-jerami. Atau tiga sarjana dari Timur yang berpedomankan bintang membawa persembahannya masing-masing. Namun orang tak pernah peduli akan rumpun melati liar yang telah menyebarkan harumnya bagi “bayi kudus” yang lahir untuk menebus dosa umatnya.

Alangkah indahnya kelahiran. Alangkah suci. Orang menganggap kelahiran adalah suatu peristiwa ajaib, buah cinta kasih, dan bakti keagungan Sang Pencipta yang nyata. Tetapi aku. Aku merasa terhina dan tak berarti dilahirkan. Kehadiranku hanya membuahkan cemooh, hinaan, dan rasa jijik sementara orang, bahkan semuanya.

Mama dan Papa saling mencintai. Cinta bagi mereka tak menghalangi dua benua yang berbeda, bahasa, warna kulit dan perbedaan-perbedaan primordial lainnya. Lalu cinta mereka membuahkan aku. Tak lama kemudian mereka berpisah dengan mudah tanpa sempat meresmikan pernikahan mereka, baik secara negara maupun secara gereja. Aku pun terlempar ke asrama. Suster Caroline, biarawati tua itulah yang kemudian menjadi ibu angkatku. Lalu aku harus mengungsi lagi ke panti asuhan—berhubung ibu angkatku itu kembali ke negaranya—ini sampai sekarang. Dan inilah kehilanganku yang kedua kalinya.

Orang tuaku? Aku tak pernah mengenal ujud rupanya. Jejaknya pun tak pernah dapat kutelusuri hingga kini. Aku hanya mengetahui dari Ibu Caroline bahwa aku mempunyai orang tua. Tak secarik kertas pun yang menyatakan aku anak siapa dan kapan dilahirkan. Semuanya hanya kudengar dari keluhuran suster Caroline yang melindungiku.

Statusku yang anak haram inilah yang membuat keluarga Hans tak memandang dengan sebelah mata pun kepadaku. Akhirnya Hans meninggalkan aku dan menikah dengan gadis lain. Begitu sucikah gadis itu untuk kejadahanku?

Semakin hari karirku semakin menanjak karena konsentrasiku tak pernah terbagi untuk urusan hidup lainnya, seperti laki-laki atau berkeluarga. Hari-hari kulalui bersama komputer, map, kertas, juga tak ketinggalan lipstick. Aku cukup sibuk dengan jabatan sekretaris direktur. Sedangkan di waktu senggang, aku menggeluti program Bisnis Management untuk mengimbangi kegiatan Direkturku. Di ambang 31 tahun ini aku masih tetap sendiri dan cukup puas dengan hidup dan tinggal di panti asuhan bersama anak-anak senasib. Aku bahagia? Aku sendiri tak tahu persis apa bahagia itu. Tidak sedikit lelaki yang mendekatiku. Dan kalau saja aku mau … ah … beberapa manager yang sering jumpa di seminar-seminar itu sudah pasti telah menjadi suamiku.

Terus terang aku cukup cantik dan menarik. Itu karena aku selalu memelihara dan menjaga tubuhku. Aku tak pernah lalai untuk membersihkan kuku, kulit, dan rambut. Aku tak punya rasa cinta? Juga tidak. Buktinya aku sangat mencintai diriku, pekerjaanku, dan anak-anak sepanti asuhan. Tujuanku hanya satu: bekerja keras untuk mendapat banyak uang. Dan dengan uang itu kugunakan untuk kepentingan dan kesejahteraan seluruh keluarga panti asuhan di mana aku hidup. Itulah kebahagiaanku yang tak ada duanya.

Pulang kantor aku mampir ke supermarket. Aku sengaja membeli hadiah natal yang bagus-bagus untuk adik-adikku seasrama. Aku dapat membayangkan bagaimana wajah-wajah mereka tatkala menerima hadiah itu. Kami pun berkumpul dan membuat semacam pesta kecil. Stella kecil membawakan lagu malam kudus diiringi piano yang dimainkan Cesilia. Setelah itu kami makan-makan dan mengakhiri perayaan natal dengan permainan dan pembagian hadiah.

“Terima kasih Tante Lia, terima kasih Tante,” ucap mereka satu per satu seraya mencium pipiku. Air bening menggantung di pelupuk mataku kemudian jatuh menetes. “Yesus, aku cukup bahagia malam ini,” gumamku dalam hati. Suster Maria yang sejak tadi mendampingiku memeluk erat, mengelus rambutku tanpa mengeluarkan sepatah kata. Apakah dia merasakan perasaanku? Ah, aku tak berani memandang wajah tua yang lembut dan keibuan itu.

Ruangan mulai sepi. Anak-anak harus tidur cepat agar tengah malam nanti bisa menghadiri misa besar.

Aku dan suster Maria sedang membereskan ruangan ketika Suster Ana memberitahukan ada tamu menungguku. Sepanjang koridor menuju ruang tamu aku tak habis-habisnya menduga. Apakah Stevani? Ah, rasanya tak mungkin. Dia toh sudah pergi berlibur ke kampung halamannya. Atau suster Caroline, ibuku yang sudah lama tak berkirim kabar?

Hampir pingsan ketika aku melihat siapa yang duduk di ruang tamu itu. Lelaki itu amat kukenal dan tak mungkin kulupakan walau telah berpisah tujuh tahun. “Hans!” kata itu keluar saja dari mulutku. “Lia, maaf, aku mengganggumu,” katanya seraya berdiri. Kami sama-sama diam.

“Aku datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun untukmu Lia.” Aku terkejut mendengarnya.

Sekian lama tak pernah kuingat lagi hari kelahiran itu. Hari yang mengingatkan siapa diriku. Anak haram, anak hasil hubungan gelap. Aku, gadis yang diusir keluarga Hans yang kaya raya itu, lebih dari pengemis? Mengapa dia harus datang dan menggurat luka yang hampir kusembuhkan ini?

“Selamat ulang tahun, Nathalia,” katanya membangunkan lamunanku. “Ada sedikit hadiah dari istri dan anak-anakku. “Terima kasih,” jawabku singkat. Kami diam lagi beberapa detik kemudian Hans memohon pulang. “Salam untuk istri dan anak-anakmu,” pesanku ketika dia hendak pulang.

Suster Maria yang hampir jompo itu terhuyung-huyung menyongsongku. Sudah kukuatkan hatiku untuk memandangnya, tapi akhirnya aku menangis juga. “Tabahkan hatimu, anakku,” hiburnya. Yah, aku berjanji untuk tabah. Tabah menerima keberadaanku.

Orgel di Kapel mulai mengalun. Sayup-sayup terdengar lagu-lagu pujian dalam Biara. Lagu Melati di hilir Yordan kembali terngiang-ngiang. Kali ini terdengar sangat lembut.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Marina Nilaningsih
[2] Pernah tersiar di "Kharisma Elida" tahun V No. 4 Desember 1985

0 Response to "Melati di Hilir Jordan"