Membakar Langgar | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Membakar Langgar Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:00 Rating: 4,5

Membakar Langgar

KOSIM mengumpulkan warga. Ketika mereka sudah berbondong-bondong datang, dipandangnya lekat-lekat orang yang berjejer itu. Kosim menghela napas. Lalu tangan kanannya yang sudah membawa oncor membuat kuda-kuda untuk melemparkannya.

Karepmu opo, Sim, gawe geger deso bengi-bengi (Maksudmu apa, Sim, membuat gaduh malam-malam).” Seorang bapak menatap tidak suka pada Kosim. Benci.

Koe pengen kuwalat bakar tempat iki? ngerti, ora!(Kamu ingin mendapat azab dengan membakar tempat ini? Kamu mengerti, tidak!)”

Kosim hanya tersenyum miring. “Lho buat apa dibiarkan to, Pak. Kalau setiap hari hanya dikosongkan. Tidak ada yang menghidupkan tempat ini. Tidak ada manfaatnya. Kata Bapak, apa-apa yang tidak dimanfaatkan lagi, lebih baik dimusnahkan saja. Iya, kan?”

***
SEMUA warga telah disuruh bubar. Juga para pemuda yang memang sudah dipengaruhi kegilaan Kosim. Kini hanya tinggal Kosim dan Pak Lurah yang saling berhadapan. Sungguh tidak habis pikir setan mana yang merasuki Kosim hingga memiliki niat mengerikan itu. Membakar langgar? Sama saja membakar pertumbuhan Islam. Langgar adalah tempat ibadah suci. Pemuda ini sungguh keterlaluan. Entah apa yang membuatnya memiliki pemikiran itu.

Dasar boncah gendeng (Dasar anak gila),” begitulah umpatan dari suara yang tidak lain milih Pak Lurah yang sekaligus pakleknya. Sejak satu minggu setelah Kosim kembali ke desa memang banyak kejadian yang meresahkan warga. Kosim dicap sebagai pembuat ulah. Seperti malam ini yang mau membakar langgar. Dua hari lalu dia juga membuat geger karena mengumpulkan pemuda karang taruna untuk demo guna menggagalkan penggusuran lahan pemakaman yang konon akan dipakai untuk memperluas pertokoan di sana. Dan entah apalagi yang akan diperbuatnya nanti.

Karepmu opo, hah!? (Maksudmu apa, hah!?) Ini ilmu yang kamu dapat dari pondok? Dasar bocah sesat!”

Kosim masih diam. Tidak membantah sama sekali. Membiarkan segala sumpah serapah Pak Lurah terus diucapkan.

“Sabar, Pak.” Suara lain terdengar mengingatkan.

Koe meneng ae (kau diam saja), Bu. Biar aku yang urus anak kurang ajar ini!”
Pak Lurah memerintah.

“Saya hanya mengikuti ajaran Pak Lek. Menghancurkan segala hal yang sudah tidak bisa diambil manfaat. Toh, langgar ini sudah jarang dipakai. Kenapa harus dipertahankan?”

Gigi Pak Lurah bergemeletuk. Matanya melotot. Bocah ini sungguh membuat tekanan darahnya naik. Kapan dia pernah mengatakan langgar bisa seenak udelnya main bakar? Yah, meski langgar itu saat ini jarang diramaikan seperti dulu, langgar tetaplah langgar. Tempat ibadah pada Pencipta Alam.

Wes, to, Le (sudahlah, Nak). Jangan buat masalah. Jangan buat pak lekmu marah.” Seorang wanita setengah baya menyentuh pergelangan tangan Kosim. Mengiba. Menatap lamat Kosim untuk mengalah. Tidak tahan rasanya melihat suami dan keponakannya saling adu pendapat.

Memang sejak orang tua Kosim meninggal karena kecelakaan, dia tinggal dengan keluarga Pak Lurah. Yah Ibu Kosim adalah adik dari Bu Lurah. Kosim dianggap aneh. Ketika disuruh masuk sekolah negeri malah memilih masuk pondokan. Eh, pulang-pulang bukannya melakukan dakwah malah bikin keonaran. Tentu saja hal itu membuat Pak Lurah yang tidak lain adalah pak leknya jadi berang. Bocah tidak tahu diuntung. Itulah sebutan yang Kosim sandang.

“Tobat, Sim. Pikir dulu kalau mau melakukan sesuatu,” sinis Pak Lurah sebelum akhirnya berhasil dibujuk istrinya, untuk meninggalkan Kosim sendirian di ruang tamu.

“Saya sudah memikirkan semua masak-masak, Pak Lek,” gumam Kosim lirih.

Dalam perjalannya itu, ingatan yang dimiliki menjelajah ke masa lalu. Ketika tempat ini belum berubah. Ketika suara adzan masing dikumandangkan. Bacaan ayat suci masih dilantukan. Ya, itu kejadian dulu. Saat dirinya masih kecil. Sebelum semuanya berubah. Kosim menghela napas. Lompatan masa lalu masih menggelayutinya.

“Desa ini dulunya ‘bercahaya’. Memiliki banyak penerus bangsa dalam menyiarkan agama. Ada langgar yang sering dijadikan tempat mengaji. Banyak pemuda dan anak- anak kecil mengaji sambil bermain di sini. Tempat ini adalah pusat kegiatan desa dalam segala hal. Tapi, sejak adanya pendatang baru, suasana desa berubah, diramaikan dengan kemajuan teknologi dan perluasan lapangan pekerjaan. Perlhan tapi pasti, langgar semakin ditinggalkan. Jarang yang mengurus dan meneruskan perjuangan simbah-simbah. Nikmat dunia telah melenakan.

Semua kini sibuk mengurusi lahan tani. Mengolah sawah lupa untuk menghadap Ilahi. Atau ada yang beralasan sibuk dalam perdagangan hingga tak punya waktu luang barang sebentar. Sibuk dengan urusan kantor hingga melupakan kewajiban. Anak-anak dibiarkan terjajah televisi dan internet, tidak diajari mengaji. Setiap bakda Magrib keramaian yang terjadi telah tergeser. Tidak ada tilawah huruf hijaiyah yang kerap terdengar. Apalagi shalawat Nabi yang didendangkan. Yang terdengar malah musik hingar-bingar yang sering merusak telinga. Bahkan, sempat beberapa kali Kosim melihat langgar dijadikan tempat maksiat. Miris.

Tempat yang kini ramai dikunjungi adalah toserba yang baru dibuka. Di sana ada wahana permainannya. Juga dibuka bioskop baru. Semua itu memakai tanah lahan kosong diambil secara paksa. Lahan itu bekas rumah keluarga Kosim.

“Kan sudah tidak kamu tempati to, Sim. Lebih baik dijual untuk membuka lapangan pekerjaan baru. Tempat ini strategis,” Pak Lurah membujuk Kosim. Kejadian itu ketika Kosim baru lulus Madrasah Aliyah.

“Kamu yo tinggal di rumah Pak Lek. Nanti hasil penjualan tanah itu bisa kamu tabung. Rumah itu sudah tidak layak ditempati lagi. Otomatis tidak ada gunanya, to, Le. Jadi, tidak apa-apa kalau dihancurkan.”

Yah, seperti langgar yang saat ini ditempati Kosim. Langgar ini sudah jarang dipakai. Paling hanya segelintir orang atau malah hanya si marbot. Kalau pun dipakai itu biasanya ketika Ramadhan dua hari raya saja. Selain hari-hari itu, langgar lebih sering kosong. Tidak ada yang menghidupkan langgar. Katanya shalat di rumah lebih enak. Dan berderet alasan lainnya. Jadi, bukankah langgar itu pun pantas untuk dihancurkan? Dibakar saja? Ini pemikiran yang paling logis. Jika barang tidak digunakan maka dibuang—dihancurkan. Sama halnya langgar yang tak dirawat dan digunakan.

***
ESOK harinya. Warga saling kasak-kusuk membicarakan Kosim. Juga membicaran insiden yang baru-baru ini terjadi. Selain itu, mereka sepertinya penasaran dengan ulah apa lagi yang akan diperbuat Kosim. Tapi sedari pagi hingga menjelang petang pemuda itu tidak kelihatan batang hidungnya.

“Si Kosim tumben tak kelihatan. Biasanya dia itu suka ribut dan cari perkara. Lulusan pondokan yang aneh.” Jali si tukang sayur mesam-mesem.

“Iya, mungkin dia malu, Jal. Atau malah sudah diserahkan ke aparat oleh Pak Lurah. Dia itu tidak waras,” Openg tukang ojek ikut menimpali.

“Tapi, kalau dipikirkan lagi usul Kosim ada benarnya, lho.” Ucapan Manto langsung membuat Jali dan Openg mengeryitkan dahi.

“Begini, Kang,” Manto yang memang paling muda itu mencoba menjelaskan.

“Langgar itu kan memang sudah jarang dirawat. Bahkan jarang dipakai untuk ngaji. La shalat jaamaah saja jarang. Biasanya yang ngisi cuma Pak Husain, si tukang marbot.” Manto mengela napas. “Ditambah lagi, akhir-akhir ini, langgar itu kerap dijadikan tempat mesum karena cahaya redup yang tidak mencolok,” Manto menambahi. Dia mengelus dada.

“Jadi …?” Jali dan Openg mengejar.

“Yah, si Kosim marah. Langgar kan harusnya digunakan untuk ibadah, tapi nyata tidak to? Eh, malah ada gosip miring itu. Jadi sekalian dibakar saja, biar tidak membuat perkara.”

Jali dan Openg mengangguk. “Kalau begitu kamu mendukung ya kalau langgar dibakar?”

Manto tertawa. “Tentu saja tidak, Kang. Kita harus mencari Kosim dan mendiskusikan cara terbaik agar langgar tetap berdiri dan ramai dikunjungi seperti sedia kala.” Mereka pun bergegas pergi mencari alumni pondokan itu.


***
KOSIM mendongkak. Menatap langit. Sebenarnya bukan tanpa alasan kenapa Kosim melakukan ini semua. Dia memang sengaja membuat marah warga dan memancing mereka. Yah, Kosim punya tujuan. Ada hal yang ingin dia tunjukkan. Sebuah tujuan yang sejak dulu selalu diharapkanya. Ini tentang sebuah misi yang di embannya; sebuah perjuangan. Dia hanya ingin mengingatkan warga di tempatnya akan kembali pada jalan yang benar. Meski bisa dibilang cara yang dia lakukan agak kasar.

Yah, sejak desanya berubah, Kosim selalu memikirkan cara untuk mengajak penduduk untuk kembali ke jalan Allah. Kosim terus berpikir dan berpikir. Hingga akhirnya timbul keinginan untuk memancing warga. Tapi setelah dia pikirkan lagi, cara itu mungkin akan memiliki dampak yang akan membuatnya menyesal.

Dia teringat dengan nasihat pak kiai dulu. “Kau tahu, Sim. Dakwah yang baik itu dengan paksaan apalagi sampai mendatangkan pertumpahan. Tapi rengkuhlah dengan kasih sayang dan kesabaran. Peperangan adalah cara terakhir jika memang sudah tidak ada pilihan.”

Kosim menghela napas, terdiam cukup lama. Menatap lamat bangunan langgar yang kini sungguh mengenaskan.

“Sepertinya aku memang harus melakukan dengan cara lain.” Kosim tersenyum. Dia mulai mengambil apa-apa yang diperlukan.

“Tunggu, Sim!”

Berbondong-bondong warga tiba-tiba datang. Bahkan Pak Lurah alias pak leknya. Menatapnya dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Kosim hanya tersenyum.

Ealah tak kira langgar jadi kamu bakar. Soalnya ada asap mengepul dari sini. Ternyata kamu bersih-bersih langgar, to. Membakar sampah. Sini tak bantu.”

Kosim hanya mengangguk. Ya, dia tidak akan membakar langgar. Dia akan memugarnya, agar layak ditempati sebagai rumah ibadah dan dijadikan tempat mengais ilmu. Dia akan mengajak warga kembali menegakkan tiang agama—shalat dan mengajarkan anak-anak mengaji. Itulah cara pertama yang akan dijadikan jalannya. ❑ 

Cerpen dan resensinya pernah dimuat di berbagai media. Buku solonnya, Bingkai Kasih Khazanah Jiwa (Quanta—Elex Media Komputindo, 2016), Dongeng Fantasi Pembentuk Kepribadian Baik (Visi Mandiri, 2017), Seri Pembentuk Karakter “Belajar Bertanggung Jawab” (Visi Mandiri, 2017). Buku antologinya, antara lain Ramadhan in Love (Indiva, 2015), kumpulan puisi Luka- Luka Bangsa (PMU, 2015), Lot & Purple Hole (Elex Media Kompuntindo, 2015), The Power of Believe (Diva Press, 2016). Alumni Unisnu Jepara. Bisa dihubungi di akun FB Ratna Hana Matsura. Atau blog http://tulisanelratnakazuhana.blogspot.co.id

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ratnani Latifah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu, 1 Oktober 2017

0 Response to "Membakar Langgar"