Nyala Api Kian Membara | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Nyala Api Kian Membara Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:00 Rating: 4,5

Nyala Api Kian Membara

RUMAH baruku itu terletak di lereng sebuah bukit, di tepi sebuah desa, dan di bawahnya terhampar beberapa hektar tanah milikku yang akan kujadikan perkebunan bunga dan ternak ayam.

Tinggal di desa adalah tekadku sedari kecil, yang setelah aku menjadi dewasa, hiruk-pikuk kota yang membosankan, lebih mendorongku untuk memperoleh ketenangan dengan usaha kecil-kecilan di desa.

Desa itu sebuah desa yang hanya dihuni oleh beberapa ratus kepala keluarga, yang sebagian terdiri dari transmigran spontan dari Jawa dan berbaur dengan penduduk asli dari Kalimantan. Sebuah desa yang baru berusia sekitar lima belas tahunan.

Yang menguntungkan bagi usahaku, jalan ke kota telah ada, yang dibangun di bekas jalan usaha perkayuan, hingga dengan mobil dapat dicapai kota dalam waktu beberapa jam.

Untuk memulai usahaku, dengan modal yang kukumpulkan susah payah, dan bantuan seorang teman baikku, Joko, yang juga mempunyai keahlian dalam mesin terutama traktor, serta kredit dari bank. Dari uang tersebutlah kubeli tanah, sebuah traktor pembajak untuk menggarap kebun, sebuah generator untuk lampu, sebuah mesin penggilingan padi, dan modal untuk memulai usahaku. Tenaga pekerja kuambil dari desa.

Rumah itu kuhuni bersama Joko dan dua orang pembantuku. Sedangkan untuk berumah tangga baru akan kupikirkan setelah usahaku ini berhasil, dan untuk itu aku harus benar-benar memilih seorang istri yang mau tinggal di desa. Memang agak sulit untuk mencari seorang wanita yang sedikit terpelajar yang mau meninggalkan segala kesenangan kota. Tetapi itulah keinginanku yang tidak dapat ditawar lagi.

Malam pertama setelah makan aku dan Joko duduk di beranda. Malam itulah malam pertama bukit itu diterangi cahaya lampu listrik sampai ke barak-barak tempat pemeliharaan ayam, serta batas-batas kebun di tepi hutan. Begitu lega hatiku saat itu karena sebagian dari usahaku telah menampakkan hasilnya, hanya tinggal penanaman bibit bunga dan pembelian ayam.

Kami sedang asyik membicarakan pemasangan pagar kawat pada batas-batas tanah kami, ketika tiba-tiba perhatianku beralih kepada nyala sebuah api obor yang tiba-tiba tersembul dari tepi hutan di seberang tanah perkebunanku. Nyala yang bergoyang-goyang itu berhenti beberapa saat, lalu tiba-tiba bergerak melintasi tanah perkebunan, lurus menuju rumahku, terkadang api itu hampir menyentuh tanah, bahkan sekali kulihat obor itu terlempar ke tanah. Mungkin kaki pembawanya tersandung tanah yang telah digarap.

“Ko,” kataku.

Sebelum kulanjutkan, Joko telah berkata, “Ya, Mas, aku pun telah melihatnya.”

Joko tiba-tiba berdiri dan mematikan lampu di beranda, lalu masuk ke dalam. Ketika ke luar dia membawa bedil untuk berburu. Kurasa perasaanku dan Joko sama pada saat itu. Kami agak merasa asing melihat cahaya api yang keluar dari hutan dan dengan gelisah menuju rumah. Dari dalam gelap kami lihat cahaya yang semakin mendekat tanpa berkata sepatah pun.

Ketika pembawa obor itu mulai mendaki menuju rumah, timbul perasaan aneh pada diriku dan tiba-tiba aku berkata, “Ko, pintu pagar belum terkunci.”

“Sudah Mas, aku sendiri yang menguncinya.”

Tiba-tiba di pintu pagar dalam jarak hanya lima meter, tersembul wajah seseorang yang menakutkan. Rambutnya yang panjang tergerai kusut. Tangan kiri memegang obor sedangkan tangan kanannya menggoyang-goyangkan pintu pagar. Matanya yang berkilat liar dalam cahaya obor seolah menghunjam langsung ke ulu hatiku. Terpukau aku memandangnya. Tiba-tiba tangannya ditarik dengan sedikit jeritan kesakitan. Rupanya kawat berduri telah menusuk tangannya. Tangan itu disapukannya ke bajunya. Baju itu meskipun telah robek di sana-sini menandakan dia seorang wanita. Jeritan kecil tadi tiba-tiba berubah menjadi lolongan panjang yang memilukan dan menegakkan bulu roma. Sambil membalikkan tubuhnya dia tergesa-gesa menuruni anak tangga. Dan di sela lolongan anjing-anjingku yang mengamuk di kandangnya, jelas kudengar dia menyebut-nyebut nama seseorang, yang membuatku tersentak. Joko berdiri dan menekan tombol lampu yang menerangi kebun hingga tanah di sekitar sini hanya diterangi oleh cahaya obor yang melintasinya. Aku tahu apa maksudnya. Dia ingin tahu dengan pasti ke arah mana cahaya obor itu nanti akan menghilang.

Kejadian itu begitu cepat berlalu tetapi menyita seluruh perhatian kami. Tiba-tiba cahaya api itu muncul lagi, kembali memasuki tanah perkebunan, tetapi arahnya menuju desa.

“Aku seorang mempunyai firasat buruk tentang wanita pembawa obor itu. Firasatku mengatakan bahwa dia akan ada dalam beberapa waktu di dalam kehidupanku.

“Apakah Mas kenal padanya?” Joko menyela.

“Mungkin tidak, karena dia seorang manusia biasa seperti kita, walaupun dia kurang waras, tetapi sinar matanya itu seolah dipenuhi dendam dan penderitaan yang hebat. Dengar saja nama yang disebut-sebutnya dengan pilu. Mungkin nama kekasih atau anaknya.”

Hampir serentak aku dan Joko menyatakan keinginan untuk pergi ke tepi hutan itu besok pagi.

Di sana kami temui jalan setapak yang menyusup di antara semak-semak menuju hutan. Ketika Joko mencoba mengikutinya segera kucegah.

“Lebih baik kita tanyakan kepada para pekerja dulu,” kataku.

Jawaban mereka yang singkat seolah segan membicarakannya, sangat tidak memuaskanku.

“Yang Bapak maksudkan tentu Girah, perempuan gila yang tinggal di hutan bersama mayat putranya.”

“Bersama mayat putranya? Dan namanya Girah?” kataku lagi dengan tiba-tiba.

“Ya, Girah telah menggali mayat itu dari makam. Bapak tanyakan saja pada Pak Lurah jika ingin tahu lebih banyak tentangnya, karena dulu dia tinggal di sana.”

Aku dan Joko saling berpandangan. Keinginanku untuk mengetahui lebih banyak begitu kuat. Besok pagi aku akan menemui Pak Lurah di rumahnya.

Malam kedua ketika aku dan Joko sedang melahap makan malam, tiba-tiba Mbok yang sedang membawa secawan sop, menjerit nyaring. Cawan itu jatuh dari tangannya dan pecah di ubin. Matanya melotot memandang ke jendela di samping meja makan. Di sana sebuah wajah dengan rambut tergerai kusut, dengan mata merah yang liar memandang rakus makanan di meja.

Kutatap wajahnya dengan seksama. Wajah setengah baya yang bopeng bekas penyakit cacar itu membuatku iba. Tiba-tiba perasaan aneh merayapi diriku. Wanita itu seolah begitu dekat dan akrab denganku.

“Mbok,” kataku kepada pembantuku yang berdiri dengan gemetar dan ketakutan. “Ambilkan plastik.”

Kubungkus nasi dan lauk dan berjalan menuju jendela. Wajah itu tidak sabar menanti aku membuka jendela. Berkali-kali dia bergumam, “Dirja anakku, malam ini kita akan makan dengan lauk yang enak. Ibu akan segera pulang, sayangku.”

Bau yang sangat menusuk tercium dari badannya, tetapi kata-kata hatiku mengalahkan semuanya. Lama aku berdiri di depan jendela memandang api yang semakin menjauh dan menghilang di tepi hutan.

“Mas mari makan,” Joko menegurku yang membuat aku terkejut dari lamunanku.

“Mbok saya minta Mbok setiap malam menyediakan makanan untuknya. Lauknya harus sama dnegan lauk untuk saya,” kataku.

Kulihat mata pembantuku seolah ingin memprotes tetapi cepat kusindir, “Kalau lauk tidak cukup, bagian saya dan Joko boleh Mbok kurangi, dan lagi sebelum dia datang pintu pagar jangan ditutup.”

Nada protes itu segera menghilang dan dia menunduk membersihkan ubin dari sop dan pecahan cawan.

Ketika aku dan Joko duduk di beranda, cahaya api itu terlihat lagi menuju desa. Joko tiba-tiba berkata, “Mas, kelihatannya perempuan gila itu begitu menyita perhatian dan pemikiranmu. Tentu ada hal yang menyebabkannya.”

“Benar, tetapi aku belum begitu pasti sebabnya,” kataku.

Pagi-pagi sekali aku telah memasuki halaman Pak Lurah. Kutemui dia sedang memberi makan burung perkututnya.

“Tumben Nak Barry, pagi-pagi begini telah datang. Tentu ada hal yang penting yang ingin Anak sampaikan. Apakah Nak Barry betah tinggal di sini?”

“Benar par. Betah sekali. Kekosongan hdup saya selama ini serasa telah terisi. “Begini Pak Lurah,” kata saya lagi, “dua malam berturut-turut seorang wanita telah datang ke rumah saya.”

Pak Lurah meletakkan sangkar perkututnya dan memandang saya dengan dahi berkerut.

“Maksud Anak tentu perempuan sinting yang bernama Girah.”

“Benar.”

“Apakah dia telah mengganggu Nak Barry?”

“Sama sekali tidak. Semalam saya telah memberinya makanan. Saya sangat iba padanya, dan sangat ingin mengetahui keadaannya lebih lanjut.

“Semalam Bapak agak heran juga. Makanan yang Bapak sediakan untuknya tidak disentuh. Dia hanya mengambil obor dan minyak tanah saja. Setiap malam dia biasanya datang mengambil makanan dan minyak.”

“Saya ingin mengetahui kisah hidupnya secara menyeluruh sepanjang yang Pak Lurah ketahui,” kataku.

“Apakah hal ini sebegitu penting untuk Nak Barry?”

Setelah terdiam sejenak, aku menjawab perlahan, “Saya rasa demikian Pak Lurah.”

Pak Lurah bertambah heran memandangku. Aku lalu diajak duduk di beranda. Sambil menikmati kopi dan ubi rebus dia mulai bercerita, “Girah pindah ke desa ini bersama paman dan bibinya beberapa tahun yang lalu. Mungkin karena mukanya yang bopeng bekas cacar, menyebabkan dia belum bersuami, sedangkan usianya pada waktu itu telah lebih dari 30 tahun. Itu kuketahui dari laporan untuk kartu penduduknya. Dua tahun di sini tiba-tiba terjadi keributan. Girah mengandung. Paman dan bibinya mengamuk minta pengakuannya, tetapi Girah tetap bungkam. Penduduk desa menganggap Girah pembawa sial dan mencemarkan nama desa tanpa berusaha mencari biangnya. Keributan begitu hebat, hingga akhirnya Girah diusir bibinya dan minta perlindungan padaku. Aku terpaksa memberi perlindungan karena kasihan padanya. Waktu putranya lahir, Girah memberi nama anaknya dengan nama yang menimbulkan tanda-tanda yang segera tersebar secara berbisik ke seluruh desa. Dirja. Nama yang sama dengan nama pamannya. Bapak berusaha membujuk untuk mengganti nama itu, tetapi Girah tetap berkeras untuk mempergunakannya. Bisikan penduduk dan perasaan Bapak mengatakan bahwa secara tidak langsung Girah memberikan pengakuan siapa telah menodainya. Beberapa tahun dia tinggal bersama kami, dan bekerja dengan rajin. Dia hampir-hampir tak pernah meninggalkan rumah. Kehadirannya sangat meringankan beban istri Bapak, sehingga dia kami anggap sebagai anak sendiri. Anaknya diasuh dengan kasih sayang yang terkadang sangat berlebihan. Lalu beberapa bulan yang lalu terjadi lagi keributan. Putranya kedapatan mati di kebun. Badannya kejang dan mengeluarkan darah dan busa di mulutnya. Orang mengira mati digigit ular berbisa, tetapi yang Bapak ketahui dari singkong yang masih berada di genggamannya, singkong itu dilumuri dengan racun pembunuh babi. Seseorang pasti telah memberikan singkong itu padanya.”

“Maksud Bapak telah diberikan oleh Pak Dirja?”

“Bapak tidak mengatakan demikian tetapi hal itu pasti disengaja, karena orang tidak akan begitu bodoh menyebarkan racun pembunuh babi di dekat rumah. Girah bagai tak percaya putranya telah mati. Ketika turut mengantar anaknya ke makam dia hanya berdiam diri, tetapi Bapak khawatir melihat matanya yang menjadi liar. Waktu makam mulai ditimbun dia menerjunkan dirinya ke sana. Dalam keadaan mengamuk hebat dia kami bawa pulang. Malamnya tanpa sepengetahuan kami, waktu kami tertidur dalam kelelahan, dia pergi meninggalkan rumah. paginya bersama dengan beberapa penduduk kami mencarinya ke makam. Lubang makam telah menganga, dan mayat itu telah menghilang bersama dengan Girah. Beberapa hari desa dilanda kegelisahan dan Girah tetap tak terlihat. Malam keempat desa menjadi panik. Wanita-wanita banyak yang pingsan. Rumah-rumah segera dikunci rapat, karena tiba-tiba Girah telah muncul dengan bau badan dan wajah menakutkan, disertai tangis yang melengking nyaring. Di pintu pagar itu dia berteriak memanggilku, sehingga istriku turut pingsan. Pak Lurah, berilah Girah dan Dirja makanan. Kami telah beberapa hari kelaparan. Bapak bungkus nasi dan membuka pintu dengan hati berdebar. Bapak hampir tidak mengenalnya. Bajunya telah robek di sana-sini, dengan bau yang menusuk. Ketika pergi dicabutnya obor yang terpampang di pagar. Bapak dan beberapa penduduk yang berani, mengikutinya dari jauh. Cahaya api itu akhirnya hilang di tepi hutan. Selang beberapa lama penduduk menjadi terbiasa oleh keadaan ini, karena Girah tidak pernah mengganggu mereka.”

“Pak,” kataku tiba-tiba. “Kalau boleh, saya ingin tahu berapa umur Pak Dirja?”

“Hampir tujuh puluh kurasa,” kata Pak Lurah sambil mengingat-ingat. “Tetapi badannya yang tegap dengan kumis dan rambut yang masih hitam membuat orang takut padanya. Kata orang dia mempunyai ilmu hitam yang ampuh.”

Hampir dua jam aku dan Pak Lurah berbincang dari soal Girah sampai usahaku dan rencanaku selanjutnya.

Dalam perjalanan pulang segera kurencanakan beberapa hal. Kukatakan kepada Joko bahwa aku ingin ke kota untuk membeli beberapa barang yang kuperlukan. Joko begitu heran memandang apa yang telah kubeli di kota. Beberapa lembar baju murahan untuk Girah. Baju itu akan kuberikan nanti malam. Sampai jauh malam kami menanti tetapi cahaya api itu tak kunjung muncul. Malam besoknya pun cahaya itu tak terlihat, hingga membuatku semakin gelisah.

“Ko,” kataku ketika kami akan pergi tidur, “kalau malam besok dia tidak muncul aku ingin mengajakmu mencarinya ke hutan.”

“Baiklah, dan aku akan membawa bedil. Mungkin kita akan bertemu binatang buruan di sana.”

Malam besoknya ketika dengan gelisah aku berdiri di ambang jendela, nyala api itu tiba-tiba muncul dan berhenti di tepi hutan.

“Ko, lihatlah, dia telah datang,” kataku setengah berteriak. Joko segera berdiri di sampingku. Lama kami menanti, tetapi cahaya itu tetap di sana. Cahayanya tidak seperti biasa. Redup, mungkin Girah hampir kehabisan minyak.

Cahaya itu tiba-tiba merendah. Girah tentu telah duduk di sana. Hatiku segera berkata, “Mengapa dia tidak datang kemari? Apakah dia menantikan kedatanganku?”

“Mbok cepat ambilkan makanan dan kaleng minyak tanah itu,” kataku.

Aku segera masuk. Kuambil bedil dan kusandang di bahu. Bungkusan dan senter kupegang di tangan.
“Mas akan ke mana?” Joko bertanya heran.

“Akan menemuinya di sana,” kataku.

“Aku ikut Mas.”

“Kurasa tidak perlu. Aku ingin berbicara sendiri dengannya. Kalau aku dalam bahaya, kuletuskan bedil ini dan kau harus segera datang.”

Joko mengangguk, masih menatapku heran. Dengan cepat aku berjalan melalui tanah perkebunan menuju nyala api yang semakin redup. Girah kutemui duduk dengan obor yang ditancapkan di sampingnya. Badannya menggigil.

“Engkau sakit, Girah?” tanyaku, sambil mendekat. Dia tetap diam sambil memandangku.

“Aku membawa makanan, baju, dan minyak tanah untukmu,” kataku lagi.

Tiba-tiba Girah berkata perlahan, “Makanan? Yah, itulah yang kuperlukan untuk Dirja. Beberapa malam aku tidak dapat pergi mengambil makanan. Malam ini kupaksakan untuk berjalan. Aku dan Dirja sedang sakit. Aku khawatir kami kena wabah cacar, wabah yang menyerang dan memusnahkan keluargaku dulu. Mungkin aku dan Dirja pun akan musnah.”

“Kau hidup sebatang kara, Girah?” tanyaku perlahan.

Mata Girah tiba-tiba menjadi liar kembali. Dengan susah payah dia bangkit, sambil meraih kaleng minyak, bungkusan, serta obor. Tertatih-tatih dia berjalan masuk hutan dengan ratapan yang baru ini kudengar dan membuat aku terpukau, “Kustiyah, begitu tega kau tinggalkan aku seorang diri!”

Suaranya akhirnya lenyap, dan aku masih terduduk dalam keharuan.

Malam besoknya dan empat malam lagi berturut-turut, nyala api itu tidak terlihat. Ketika aku berdiri di beranda dan memandang ke arah tepi hutan, seseorang memberi salam di pintu pagar. Pak Lurah kulihat berdiri di sana. Kami berbincang tentang rencanaku memberikan penerangan lampu untuk desa dengan pembayaran seminim mungkin. Akhirnya kutanyakan tentang Girah, dan beliau pun heran karena telah lama tidak melihatnya. Kuceritakan tentang pertemuanku enam malam yang lalu, dan rencanaku menemuinya besok.

Pak Lurah lagi-lagi tertegun memandangku dan aku segera berkata, “Kalau Pak Lurah tidak berkeberatan, demi kemanusiaan, saya ingin mengajak Pak Lurah beserta beberapa penduduk menengoknya.”

Setelah agak lama terdiam dia berkata, “Baiklah, kita akan pergi besok pagi.”

Aku, Joko, dan Pak Lurah beserta beebrapa pekerja berjalan menyusuri jalan setapak menuju ke tempat Girah. Belum juga kami berjalan masuk hutan, bau yang menusuk memenuhi rongga hidung. Semua tiba-tiba berhenti dan berpandang-pandangan sambil menutup hidung. Semua seolah ingin berkata apa yang telah terjadi dengan Girah, dan enggan meneruskan perjalanan.

“Baiklah, jika kalian enggan meneruskan perjalanan, kembalilah dan tunggu saya di tepi hutan. Saya akan pergi sendiri.”

“Saya ikut Mas,” kata Joko.

“Saya ikut juga,” kata Pak Lurah setelah terdiam sejenak. Mungkin dia ikuti secara terpaksa karena malu padaku. Kami tutup hidung dengan saputangan lalu meneruskan perjalanan.

Meskipun aku telah menduga apa yang akan kami temui di sana, jantungku seolah berhenti melihat apa yang kami temui. Sebuah onggokan terlihat di tanah di tepi anak sungai, di bawah sebuah pohon besar. Di atas onggokan itu tergantung sebuah buaian, aku tahu apa isi buaian itu …. Dan yang paling menyayat hatiku bahwa di antara ulat-ulat yang bergerak itu kulihat kain yang berwarna merah jambu. Baju pemberianku untuk Girah.

Kami tertegun beberapa lama sambil berpandangan.

“Mari pulang,” kataku. Di tepi hutan kami berhenti untuk berunding. Kami sepakati untuk kembali lagi sebulan kemudian.

Selama sebulan itu aku lebih banyak termenung, dengan pikiran yang kacau. Pengawasan pekerjaan kuserahkan sepenuhnya kepada Joko. Aku sering melakukan perjalanan ke desa, dan berbincang dengan penduduk. Beberapa kali aku telah bertemu dengan paman Girah, dan jika bertemu pandang kutatap dia dengan tajam. Joko selalu memaksaku untuk menceritakan keadaan yang sebenarnya tetapi selalu kujawab, “Akan kau ketahui juga nanti sebabnya,” kataku.

Sebulan kemudian pada waktu pemakaman tulang-tulang Dirja dan Girah telah selesai, di hadapn seluruh laki-laki dan penduduk desa yang turut mengantar, kuucapkan terima kasihku atas bantuan yang telah mereka berikan. Saat itulah kulihat seorang lelaki tua yang bertubuh tegap itu berdiri jauh di belakang para pelayat lainnya. Kuraih bedil yang sengaja kuletakkan di samping makam. Kemudian kata-kataku kusambung lagi, “Jika kelak tanah ini telah padat, akan saya bangun makamnya dari batu marmar, dan di sana akan saya tuliskan kata-kata: DI SINI TELAH DIMAKAMKAN GIRAH DAN PUTRANYA YANG SAYA CINTAI.”

Semua mata memandang heran padaku, termasuk Joko dan Pak Lurah. Kupandang mereka berganti-ganti. Ketika pandanganku tertuju pada lelaki berkumis itu kata-kataku segera kusambung lagi, “Saudara-saudara sekalian. Tidakkah kalian sadar bahwa di antara kalian pada waktu ini hadir seorang lelaki yang telah menghancurkan kehidupan seorang wanita tak berdosa. Lihatlah ke sana. Lelaki jahanam itu bernama Dirja!”

Semua mata memandang kepadanya. Dirja menyorotkan sinar mata yang penuh kemarahan kepadaku. Dia melangkah maju sambil menyisihkan orang-orang di sampingnya, sambil berteriak nyaring, “Kurang ajar, kau pendatang busuk, ingin membuat onar di sini, ya!”

“Mendekatlah, kalau kau ingin benakmu hancur oleh peluruku,” kataku sambil mengangkat bedil dan menujukannya ke kepala Dirja. Dia terhenti. Joko tiba-tiba telah berdiri di hadapanku dengan muka yang tegang.

“Mas ingatlah, sadarlah. Apa yang telah kaulakukan?” katanya terheran-heran.

Kusisihkan Joko ke samping. Lalu dengan penuh ejekan aku berkata lagi kepada Dirja.

“Kau masih ingat pada Kustiyah bukan? Dia juga keponakan istrimu dan kakak dari Girah, yang juga telah menjadi mangsamu.”

Dirja ingin membuka mulutnya, tetapi ketika bedilku tergoyang, niatnya diurungkannya. Mukanya menjadi merah padam.

“Masih ingat tidak!” kataku membentaknya.

“Kau tak perlu turut campur urusan keluargaku,” katanya dengan suara yang bergetar.

“Oho, tentu saja aku harus turut campur, dan kalian semua warga desa, dengarkanlah mengapa aku harus turut campur urusan jahanam ini. Lebih dari tiga puluh tahun yang lalu sebuah desa dilanda wabah cacar. Sebuah keluarga turut musnah. Yang tertinggal hanya dua orang anak. Seorang bernama Kustiyah dan yang terkecil bernama Girah. Girah dapat sembuh dari sakitnya dengan meninggalkan bekas cacar di tubuh dan mukanya. Mereka lalu ditampung oleh bibinya yang bersuamikan lelaki ini. Kemudian Kustiyah digagahi oleh lelaki ini, hingga dalam usianya yang baru empat belas tahun dia mengandung dan diusir oleh bibinya. Terlunta-lunta di kota selama beberapa hari akhirnya dia ditampung oleh sebuah keluarga. Keluarga itu adalah orang tua saya sendiri. Dua tahun yang lalu ketika Ibu saya sedang sakit, saya dipanggilnya. Betapa sedih, terharu, menyesal, dan dendam memenuhi rongga dada saya ketika Ibu berkata, ‘Anakku. Kau sebenarnya bukan putra Ibu. Kau putra seorang wanita bernama Kustiyah. Ibumu yang datang dari desa, telah mengakhiri hidupnya tiga hari setelah kelahiranmu. Dia menggantung diri di kamar belakang. Ketika akan melahirkanmu dia berpesan kepada Ibu, untuk memeliharamu sebagai anak sendiri, jika dia tidak sempat membesarkanmu. Hanya pesannya yang harus kusampaikan padamu kalau kau sudah dewasa, bahwa ibumu telah mati karena tak tahan menanggung derita dan malu atas kedurjanaan seorang lelaki bernama Dirja. Carilah lelaki itu dan hapuskanlah arang yang tercoreng di dahi Ibu. Sesudah itu carilah seorang wanita bernama Girah dengan cacat bekas penyakit cacar di mukanya. Dia bibimu.”

Aku terdiam sejenak. Seluruh yang hadir seolah terpukau. Tak terasa air mataku jatuh perlahan mengalir di pipi. Dengan agak tersendat dan penuh kegeraman aku berkata lagi, “Sebenarnya saya tidak bermaksud lagi mencari mereka karena saya anggap dalam waktu yang begitu lama dan tanpa petunjuk-petunjuk yang jelas sukarlah bagi saya untuk menemukan mereka, tetapi nama-nama itu tetap selalu berada di benak saya. Tetapi dengan tak diduga, ya, Tuhan, rupanya di desa inilah babi tua itu bersembunyi. Dan lelaki ini … lelaki ini, lihatlah kalian semua, meskipun wajahnya mirip dengan wajah saya, dia tak saya akui sebagai seorang ayah. Lihatlah,” kataku dengan nyaring sambil berjalan perlahan mendekati Dirja. Mata-mata yang hadir hampir tak berkedip memandang kami silih berganti.

“Lelaki ini,” kataku lagi, “darahnyalah yang akan menghapuskan arang di muka almarhumah ibuku!”
Kuangkat lagi bedil dan kusentuh picunya, tetapi tangan Joko dengan cepat mengacungkan ke atas dan suaranya yeng menggelegar membuat panik. Aku bergulingan di tanah dalam rangkulan Joko dan Pak Lurah. Ketika aku telah berdiri dengan rontaan, Dirja telah menghilang. Aku dituntun Joko dan Pak Lurah pulang.

Malam hari Pak Lurah datang membawa kabar bahwa Dirja dan istrinya telah pergi meninggalkan desa dengan hanya membawa sedikit barang yang diperlukan. Rumahnya ditinggalkan begitu saja.

Paginya tanpa sepengetahuan Joko, diam-diam aku menyelinap menuju mobil. Bedil kusembunyikan di belakang jok. Dengan cepat mesin kuhidupkan dan melarikan mobil ke jalan. Dari sana aku berteriak memanggil Joko, “Ko, aku akan pergi ke kota sekarang. Mungkin untuk beberapa hari.”

“Mas apakah bedilnya dibawa?” Joko bertanya dengan terkejut.

“Ya, harus. Karena seekor babi telah lari dari desa dan masuk ke kota semalam, aku harus segera memburunya.”

“Mas ingatlah, demi Tuhan janganlah menjadi hakim sendiri. Aku mau ikut Mas.”

Aku tidak menghiraukan teriakan Joko yang memohon. Mobil segera kutanpa, hingga debu kering di jalan mengepul tebal di belakangku. Joko pasti segera menyusulku ke kota, dan berusaha mencegahku. Aku tidak perduli, akrena sebuah perburuan akan kumulai hari ini.

Nyala api di tepi hutan telah tiada, tetapi nyala api di hatiku semakin membara.()

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Barry K.
[2] Pernah tersiar di "Sarinah" No.207/27 Agustus s.d. 9 September 1990

0 Response to "Nyala Api Kian Membara"