Pasangan Bahagia | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pasangan Bahagia Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:41 Rating: 4,5

Pasangan Bahagia

IA tidak mengerti bagaimana dapat hidup bersama orang yang selalu ingin melihatnya bahagia. Aku tak ingin bahagia, itu yang sering ia katakan, tanpa pernah bosan, dan tanpa sekali pun ada yang mau paham. Setiap ia berkata begitu, orang-orang justru terpingkal dan mengatakan betapa lucu dan menghibur apa yang ia katakan, tapi tetap mengkritik selera humornya itu seperti mereka memberi tahu kesalahan-kesalahannya dalam memilih jenis aksesori dan terus-menerus berusaha meyakinkannya bahwa di dunia yang sempurna ini tak satu pun orang (selain kamu, Tali!) yang berani bermain-main dengan kehidupan.

Aku tidak bermain-main dengan kehidupan, itu kemudian yang ia katakan saat suaminya memandanginya dengan mata dipenuhi pertanyaan. Ia jengah dipandangi oleh mata yang serupa cahaya malaikat itu setiap pagi, setiap ia habis minum segelas air putih untuk membasahi kerongkongannya yang kering, setiap ia mencelupkan telunjuknya ke dalam sisa air di gelas, lalu mengusapkannya ke kelopak mata—sebuah kebiasaan baru yang sangat senang ia lakukan di meja makan.

Lantas apa yang kau kerjakan selama ini? tanya suaminya begitu tenang. Lelaki itu meletakkan sendok—dan itu nyaris tanpa bunyi—di pinggir piringnya yang telah kosong. Ia memang selalu sarapan tepat pukul tujuh dan selesai sepuluh menit kemudian.

Hanya melakukan apa yang kuinginkan. Hanya mau merasakan hidup tidak bahagia. Ia mencelupkan telunjuknya lagi dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedikit emosional. Jangan memaksa dirimu mengerti kalau kau memang tidak bisa.

Suaminya tidak tertawa seperti orang-orang lain. Ia lelaki paling baik hati di dunia dan tidak pernah menertawakan orang lain seolah-olah orang itu memang pantas menjadi bahan tertawaan. Ia juga bukan lelaki yang sembarang menganggap sesuatu sebagai humor kecuali orang itu memang sengaja berdiri di panggung atau memakai baju badut untuk menghibur dan itu harus dibayar dengan selayaknya. Mengapa itu yang kauinginkan? tanya suaminya lembut tanpa bermaksud menyindir atau menyudutkannya sekaligus tanpa benar-benar menuntut jawaban. Setelah satu menit tanpa ada yang bicara, lelaki itu berdiri dan pergi ke kamar untuk memasang dasi sebelum nanti berangkat ke kantor. Hidup lelaki itu sangat tertata. Semua diatur dengan ketat. Berapa lama ia menghabiskan waktu di luar dan berapa lama kehidupannya milik keluarga. Ke mana saja ia akan pergi dan kapan harus kembali. Ia tak pernah melakukan sesuatu di luar jadwal-jadwal yang telah ia buat. Lelaki itu tak sekali pun mengingkari janji—kecuali kalau ada pertemuan mendadak dan ia akan memberi tahu dengan cara sebaik-baiknya tanpa membuat orang merasa diabaikan atau merasa tidak berarti. Ia tidak tahu apa itu sebuah keberuntungan atau sebaliknya. Namun, yang ia rasakan, ia tak pernah benar-benar ada dalam kehidupan bersama lelaki itu. Ia tak bisa menerima kesempurnaannya. Semakin ia mendapat kebaikan lelaki itu, maka ia kehilangan kesempatan untuk merasakan sesuatu yang lahir dari dalam dirinya sendiri.

Ia mengangkat wajahnya dan memperhatikan punggung yang telah menjauh itu. Sepertinya punggung itu lebih lebar dua senti dari biasa dan ia tidak tahu sejak kapan mulai terjadi (betapa payahnya kamu, Tali). Padahal, di punggung itu ia sering menempelkan kepala saat ia benar-benar merasa pikirannya amat berat. Di punggung itu ia kerap berkata, Kenapa ya aku bisa-bisanya berpikir tidak ingin bahagia? Lelaki itu akan balik bertanya, Apa kau merasa kehidupanmu yang ini sebuah kesalahan, Tali? Kau mau membantuku untuk memahami ini semua? Apa kau tetap bisa bersamaku meski bukan ini yang sungguh-sungguh kauinginkan? Apa yang belum kuberikan kepadamu? Namun, setelah sekian lama, pertanyaan-pertanyaan itu tak lagi ia dengar. Suaminya lebih banyak membiarkannya saja, sebab lelaki itu mungkin berpikir, memang tak ada lagi yang bisa ia lakukan, semua sudah diberikan, tak ada yang kurang sama sekali. Hidup mereka sempurna.

Mereka tidak pernah bertengkar. Sekali saja tidak. Lelaki itu bilang, Begitulah harusnya hidup pasangan yang bahagia. Dua anak mereka tumbuh ceria dan nyaris tanpa mengalami masalah apa-apa. Mereka dua bocah lelaki yang periang, baik di rumah maupun di sekolah. Mereka seperti kendaraan yang melintas di jalan bebas hambatan, tumbuh tanpa kendala, selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Ia sama sekali tidak iri kepada dua anak lelakinya itu. Masa kecilnya juga sama seperti itu. Ia lahir dalam keluarga yang memberi segalanya. Seorang bapak yang memastikan ia tidak kekurangan apa-apa. Seorang ibu yang mengatur segala sesuatu yang terbaik bagi masa depannya. Ibu dan bapaknya pasangan paling bahagia dibanding orang tua teman-temannya. Pasangan yang membuat orang terkagum-kagum dan sering memuji mereka. Dulu ia bangga sekali memiliki orang tua seperti itu. Ia merasa betapa beruntungnya ia ketimbang keluarga teman-temannya yang punya banyak masalah. Ia merasa satu-satunya tujuan orang hidup di dunia ini adalah mencari kebahagiaan dan ia bahkan tak perlu melakukan apa-apa lagi untuk mendapatkannya. Kau cukup menurut dan jadi anak manis, Tali, kata ibunya sambil mengelus rambutnya. Ia tahu apa yang pertama sekali harus ia lakukan: jangan membantah. Seorang anak yang suka membantah, bisa membuat ia kehilangan segala-galanya, suara ibunya jernih dan hangat. Aku tak akan melakukannya. Bagus, Tali. Kau akan bahagia seumur hidupmu.

Ia kembali mencelupkan telunjuknya ke dalam gelas, lalu mengusapkannya ke kelopak mata yang berat. Sudah bertahun-tahun ia mengalami kesulitan tidur. Seolah-olah otak abu-abunya ditumbuhi anak-anak rumput yang berimpitan dan semakin bersesakan dari hari ke hari. Ia kembali belajar menggambar dengan maksud menenangkan pikiran. Namun, ia menyerah di bulan pertama, tangannya tak pernah dengan baik menjalankan apa yang ia perintahkan dan hampir semua kertasnya berisi gambar anak-anak rumput dalam bentuk dan ukuran yang sama, dalam sebuah keteraturan yang dibencinya.

Jika kau akan pulang malam lagi, jangan lupa bawa baju hangat dalam tasmu, hujan sering turun pada sore hari, suaminya muncul kembali dengan pakaian kantor yang sudah lengkap dan rapi.

Ia mengerjapkan matanya bagai bocah yang baru terbangun di tempat tidur pada pagi hari dan menerima kecupan buru-buru di kening dan mendengar langkah teratur lelaki itu menapaki lantai rumah menuju pintu utama. Setelah bunyi mesin mobil lelaki  itu meninggalkan garasi, rumah kembali sunyi. Dua anak lelakinya sudah diantar ke sekolah oleh sopir pagi-pagi sekali. Dua orang pekerja rumah tangga berada di ruang belakang, bersiap membersihkan segala sesuatu. Ia sendiri tidak benar-benar tahu apa yang ingin dilakukan hari ini selain keluar rumah dan menjauh dari kehidupan yang bahagia, dari semua yang menampakkan kesempurnaannya.

Kenapa orang begitu sulit memahamiku? Ia bertanya-tanya sambil mulai memasukkan potongan-potongan buah ke dalam mulutnya. Ia hanya ingin hidup normal.

Hidup normal itu memangnya yang seperti apa lagi? tanya teman bisnisnya. Bagi temannya itu, bila kau bisa menikah dengan orang kaya dan kau dapat membeli apa yang kauinginkan maka tak ada hidup yang lebih normal itu. Ia menggigit bibirnya yang sekarang beraroma buah. Bukan, sama sekali bukan itu yang ia inginkan tentang hidup ini. Kau hanya perlu menurut dan tidak membantah, Tali, kata ibunya dan kata-kata itulah yang membuat ia menikah dengan lelaki itu sebab ia tahu apa pun yang diberikan ibunya pasti sesuatu yang baik dan itu memang benar adanya, lelaki itu selalu ingin membahagiakannya dan tak sekali pun menyakiti hatinya.

Ia menusuk-nusuk potongan buah dengan garpu dan merasa putus asa. Ke mana lagi ia harus berlari dari kehidupan bahagia ini? Di manakah ia bisa mendapatkan luka? Cukup beberapa buah luka. Sesulit itukah ia mendapatkannya?

Kalau mau, kau boleh ikut bersamaku, kata anak lelaki yang berdiri dengan satu kaki dan sebelah badannya ditopang oleh tongkat kayu. Anak lelaki itu tinggal tidak jauh dari rumah mereka dan sering mengikutinya saat ia main sepeda. Kata ibunya, Tali, hati-hati dengan anak itu, dia bukan orang baik, dia bisa melukaimu. Ia tidak melihat ada yang salah dengan anak lelaki itu, tapi ia tahu apa yang dikatakan ibunya pasti benar. Ia tidak pernah lagi main sepeda. Lelaki itu berhenti menantinya di pinggir jalan. Ia meneruskan hidupnya yang bahagia dan berteman dengan orang-orang yang sempurna. Bahagia selamanya, doa ibu dan bapaknya di hari pernikahannya. Bahagia selamanya, doa semua orang yang datang. Dan pada hari itu tidak ada yang tahu jika perasaannya sangat hambar menerima doa semacam itu, sebab ia ingin sekali merasakan hidup yang seutuhnya, merasakan senang dan sakit, merasakan menang dan kalah.

Potongan buah di piringnya sudah hancur. Ia tak berselera lagi memasukkannya ke mulut. Sambil menarik napas, ia berdiri dari kursinya. Hari ini ia akan kembali keluar—dan mungkin selama beberapa hari dan ia tak perlu memberi tahu suaminya. Lelaki itu memaklumi apa saja yang ia lakukan. Lelaki itu sudah lama tidak mempermasalahkan apa pun. Asal kau bahagia, kata lelaki itu setiap mereka membincangkan tentang kepergian-kepergian mendadak yang sering ia lakukan. Aku bukan mencari kebahagiaan, katanya dalam hati dan sengaja tidak mau berbantahan di waktu yang tidak tepat karena pertengkaran tidak boleh terjadi dalam keluarga mereka yang sempurna.

Ia sedang tak mau mengurus apa-apa dan pergi jauh dari kehidupannya merupakan perjalanan yang paling sering ia inginkan. Bisnisnya berjalan baik di bawah pengawasan rekan sekaligus temannya—seandainya berjalan tidak baik pun, ia tak mau peduli. Ia justru senang jika ada bagian dari hidupnya yang sedikit hancur, meski tentu saja suaminya tak akan membiarkannya merasakan kehancuran itu dan buru-buru membantu menyelesaikan semuanya tanpa pernah tahu kalau itu tidak diharapkannya.

Satu-satunya kesempatan baginya untuk membuat ia tidak bahagia adalah berada jauh dari pasangan baik hatinya, dari dua anak lelaki yang sedang gemar-gemarnya main sepeda, dari teman-teman yang menganggap apa-apa yang ia pikirkan tidak masuk akal,  dari ibu atau bapaknya yang tak henti-henti mengucapkan doa terbaik untuk hidupnya.

Ia pun bangkit dari kursinya. Ia berpikir harus segera berkemas dan keluar. Mungkin ia harus pergi lagi ke sebuah pulau. Ia telah terlalu sering membayangkan mengapung di atas lautan dan serombongan hiu menyerangnya. Ia belum pernah berhadapan dengan ancaman sebesar itu. Ia mungkin akan menangis karena akhirnya ia merasa ketakutan setengah mati dan  hatinya betul-betul menjadi tidak bahagia.

Hiu-hiu masih berkeliaran dalam pikirannya, bahkan bertambah banyak, saat seseorang membunyikan bel di pintu pagar rumahnya. Ia bergerak keluar dan berseru, Siapa?

Seorang pengantar paket membawa sebuah kejutan berupa buket bunga raksasa yang disertai tulisan: semoga bahagia selalu, Tali. (*)

Rumah Kinoli, 2017

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yetti A. KA
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara NTB" Sabtu 28 Oktober 2017

0 Response to "Pasangan Bahagia"