Pulang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pulang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:30 Rating: 4,5

Pulang

“DI tepi kuburmu ibu, ada rindu yang mencuat ke permukaan saat hati sedang nelangsa. Tetapi aku harus mengerti, ada kalanya kenyataan tak bisa dilawan, bahwa hidup punya aturan yang tak bisa dilanggar. Mawar ini untukmu. Langit dan matahari aku kembalikan pada catatan musim bersama doa yang aku apungkan pada-Nya!” ucap Melati disepuh linang. Selebihnya, hanya sunyi yang menabiknya.

LENTIK api di ujung napasmu

Debur darah di palung rasaku

 Sebuah sajak pendek ia tulis dengan tangan gemetar, dibilas linang air matanya yang jatuh rnewujud hujan. Hujan deras yang tengah berlangsung di dalarn batinnya, kini nampak sudah—jelas terlihat di paras wajahnya, seolah bunga yang mulai melayu dan membusuk. Jamhari dan warga yang melihatnya, yang masih berada di rumahnya, tak berani berkomentar.

***
MELATI, gadis cantik dengan khas senyumnya yang menawan; ia kembang desa yang parasnya mirip Raisa, artis Ibu Kota Metropolitan. Setelah lima tahun dinas di Kota Akulturasi, kini Melati kembali ke kampung halamannya untuk selama-lamanya. Dusun Sidomulyo, nama kampung halamannya tersebut terletak di kota realis. Di awal kariernya sebagai dokter, Melati pun sempat ditugaskan di Kota Suryalis dan di Kota Absurd.

Di Dusun Sidomulyo inilah Melati tumbuh dan besar, sampai usia remaja. Melati sebagai anak petani, terlahir dari rahim Mami yang kini tidur tenang di kedalaman tanah. Sedangkan Darma bapaknya Melati, mati tersambar petir yang datang seketika, ketika tengah membajak sawah di musim hujan. Darma melangit meninggalkan Mami dan Melati, ketika Melati masih berusia balita.

Melati anak tunggal. Pada akhirnya Melati besar dan tumbuh, murni di tangan Mami. Mami sengaja tidak menikah lagi bukan sebab harta warisan yang ditinggalkan Darma untuknya dan Melati lebih dari cukup. Bukan itu pangkal dan sebabnya, melainkan Mami takut jikalau Mami menikah lagi, akankah suami barunya kelak—bisa menyayangi Melati, sebagaimana Mami dan Darma mengasihi Melati sepenuh hati.

Mungkin Tuhan menciptakan Mami memang terlahir untuk menyayangi Melati sampai Izrail menjemputnya. Akhirnya Melati tumbuh dewasa dengan didikan separuh rasa, tetapi Mami cukup berhasil mendidik Melati, sampai Melati menyandang predikat Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang dibutuhkan banyak pasien, di Negeri Badut.

Sebagai Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Melati terkenal santun dengan khas senyumnya yang menawan pada setiap pasien yang datang berobat padanya, baik yang datang langsung ke rumah dinasnya, Klinik dan Rumah Sakit Umum tempat di mana Melati ditugaskan. Selama kembaranya dalam mengemban tugas dari eSKa Negara yang dikeluarkan via Permenkes untuk mengabdikan diri sesuai dengan penempatan daerah kerja, Melati jarang pulang kampung. Tetapi Mami begitu surti akan tugas suci yang diemban oleh anak perawannya yang semata wayang tersebut.

***
JAMHARI, abdi setia sebagai kepercayaan ibunya Melati, ketika Mami mendadak pergi meninggalkan ardi-Nya, tanpa sakit terlebih dahulu; langsung menghubungi Melati di itu pagi. Tetapi Melati tidak bisa pulang dengan seketika, sebab sore harinya ada jadwal operasi yang harus ditangani oleh Melati dan timnya, di samping jaraknya untuk sampai ke kampung halamannya harus melewati beberapa kota dan ditambah lagi belum tersedianya bandara yang memadai di kota kelahirannya.

Kalaulah kali itu ada pesawat udara dengan jurusan ke kota kelahirannya, tentu saja Melati bisa pulang pergi, sekedar untuk mengikuti prosesi penguburan ibunya tercinta. Akhirnya, Melati memberikan mandat pada Jamhari via telefon genggamnya untuk menguburkan Mami dengan segera di tempat pemakaman milik keluarga yang sengaja disediakan almarhum Darma, ketika Darmna rnasih hidup.

Ya, tanpa harus menunggu kepulangannya; Melati menyuruh Jamhari untuk bersegera memakamkan Mami, tepat di samping kuburan Darma. Tempat pemakaman milik keluarga tersebut, terletak tidak jauh dari rumahnya, hanya beberapa meter saja jaraknya dari belakang rumahnya. Semasa hidupnya, Darma, sengaja menyediakan lahan pemakaman tersebut, di samping sebagai tempat pemakaman milik keluarga, pun tiga perempatnya diwakafkan bagi pemakaman umum, khususnya untuk warga setempat.

Di pucuk senja itu, masih di hari yang sama; Jamhari dan beberapa warga yang masih berada di rumah Mami, beberapa menit selepas tahlilan pertama; mendapati Melati yang tengah tersungkur tangis yang disepuh gumam di atas gundukan tanah merah yang masih wangi oleh irisan daun pandan dan bunga rampai. Sepintas ada barisan huruf yang merangkai kata kaget yang terbersit di benak Jamhari; ya, bagaimana mungkin Melati bisa datang dengan secepat itu, kalaulah diperkirakan dengan durasi jam, dari Kota Akulturasi menuju Kota Realis dan sampai ke Desa Sidomulyo, tempat di mana Melati dilahirkan, paling cepat memakan waktu dua belas jam lebih seperempat menit.

Tetapi pikiran Jamhari sirna seketika dengan jawaban yang ditemukannya sendiri, mungkin Melati tidak jadi dalam melangsungkan praktek operasi bagi pasiennya. Ya, ketika itu—di hari itu; memang Jamhari menelefon Melati tepat jam enam pagi. Gerimis tipis mulai merindu bumi, menjengkal tiap sudutnya untuk dibasahi percik rindu air langit. Jamhari menghampiri Melati dengan membawa sebuah payung yang sudah terbuka di genggaman tangan kanannya. Pucuk senja yang kesumba, Jamhari mengajak Melati untuk masuk ke dalam rumah yang disambut beberapa warga yang masih berada di dalam rumahnya Mami.

Sesampainya di rumah; tanpa adanya jeda istirahat, tanpa adanya balik sapa hangat pada warga yang masih berada di rumahnya, Melati langsung meminta selembar kertas beserta bolpoin pada Jamhari. Di bawah sajak pendek yang dituliskannya itu, Melati menulis sepucuk surat pendek: “Kekasih, sungguh tak terduga dalam benak, kau punya hati seburuk Buriswara. Padahal pelaminan melati yang kau dan aku rencanakan tinggal hitungan hari. Ibu, maafkan anakmu yang memilih menjadi Subadra (l); semoga kau dan aku kembali bertemu di bilik hari!” Usai menulis di atas meja makan, Melati pergi ke kamarnya dengan membawa selembar kertas yang sudah ditulisi jejak tangannya tersebut, dan tak ke luar kamar Iagi.

***
PAGI harinya Dusun Sidomulyo digegerkan dengan kedatangan sebuah mobil ambulans yang menuju kediaman Mami. Di dalam mobil ambulan tersebut, membawa jenazah Melati yang meninggal bunuh diri, berdasar keterangan dari petugas jenazah. Seketika, Jamhari dan beberapa warga yang melihat kepulangan Melati di hari kemarin, tepatnya di pucuk senja; tentu saja syok dengan melihat dua kenyataan yang dialaminya secara langsung tersebut; kemarin dan ini hari—meski berbeda waktu—mereka dan khususnya Jamhari seolah mengalami dua kali disambar petir di siang hari.

Selebihnya, kamar Melati yang masih tertutup rapat dibuka paksa oleh Jamhari dan beberapa warga; tak ada siapa-siapa di sana. Ligar Melati di negeri timur, tiga lambang tak bisa dipisah; kelahiran, perkawinan dan kematian. Hening! ***

1. Dari kisah Dewi Banowati, dalam cerita Wayang Kulit Jawa, di sana diceritakan: Buriswara suatu saat masuk ke kediaman Arjuna di Kasatrian Madukara dan berusaha memperkosa Dewi wara Subadra, istri Arjuna. Dalam usaha mempertahankan kehormatannya Dewi Subadra mati tertusuk keris Buriswara. Putra Prabu Salyapati ini akhirnya tertangkap dan seharusnya akan dihukum mati, tetapi Dewi Saribanon segera datang dan membujuk Arjuna, sehingga Buriswara diampuni dan akhirnya dibebaskan. Sumben http://blvckshadow.blogspotco.id/2010/03/banowati-dewi.html


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Lintang Ismaya
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 22 Oktober 2017

0 Response to "Pulang"