Sajak Musim Kemarau - Rahim Doa - Wajah Pagi - Waktunya Malam - Sepotong Kisah Pengembara - Pagi Melintas - Pembisik Hati - Arji’ - Tetesan Air | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sajak Musim Kemarau - Rahim Doa - Wajah Pagi - Waktunya Malam - Sepotong Kisah Pengembara - Pagi Melintas - Pembisik Hati - Arji’ - Tetesan Air Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Sajak Musim Kemarau - Rahim Doa - Wajah Pagi - Waktunya Malam - Sepotong Kisah Pengembara - Pagi Melintas - Pembisik Hati - Arji’ - Tetesan Air

Sajak Musim Kemarau

Di buku halaman pertama
Dalam dekapan aksara-aksara
Kita akan kekal

Kita menikmati kasihnya
Memainkan kemarau panjang yang
Telah menampung duka
Para petani di balik jendela
Sambil memandangi tanah-tanah
Yang menampakan keretakannya

Angin bukan saja menjatuhkan dedaunan
Melainkan memainkan rasa
Menaik turunkan harapan dan doa-doa
Untuk bergerak

Mengubah duka menjadi senyum
Di wajah peramu cinta

Purwokerto, Agustus 2016

Rahim Doa

Aku pernah kau ajak
Mengunjungi luka di luar taman puisiku

Bagaimana ibu merawatku dalam
Rahim doa
Agar aku selalu bersayap senyuman
Terus terbang menuju ingin
Yang kadang angin dan kadang seperti beringin
Yang hanya mengantarkan kesejukan
Ketika siang menantang

Lalu ada kalanya menggugurkan diri
Sebagai isyarat kalau kemarau membisikan waktuku
Untuk mengakhiri sebuah tasbih
Dan mengganti tasbih yang lain

Entah berapa kedalaman luka
Yang tertampung dalam matanya yang teduh
Juga pada setiap dawuh-dawuhnya

Tapi ibu masih merawatku dalam
Rahim doa
Agar aku selalu bersayap senyuman
Terus terbang menuju ingin
Hingga aku berkali mendarat pada berbagai bukit
rasa
Dimana pada sari patinya
Aku berkali mengembalikan segala kekeluh kesah
Kepada penciptanya

Purwokerto, Agustus 2016

Wajah Pagi

Rumah masih menyimpan sunyi
Suara deru kendaraan seperti memainkan kata-kata
Untuk mengantar dan sampai pada sehampar puisi

Langit masih menampakkan warna kelabunya
Sekelabu warna rasa gadis itu
Yang di tunggu piatu

Waktu selalu memutar hidup
Tetapi hanya wajah pagi
Yang akan menampakkan tingkah
bersama keluarga memanggil sebuah senyuman

Di adegan itulah
Waktu ingin dia hentikan

Rajawana, Agustus 2016

Waktunya Malam

Baiklah aku harus mengikhlaskan kepergian
Cahaya matahari serta kejadian yang
Akan berpulang kepada kuasamu

Waktunya malam yang mengisi sebuah catatan
Mengindahkan diksi dan
Mengantar nafas-nafasku menyaksikan
Gelap yang menutup banyak warna

Dan aku harus sadar
Sebab dengan gelaplah
Kerlip cahaya ribuan bintang yang
Dibentangkan takdir dengan jarak begitu panjang
Kurasakan keberadaannya

Purwokerto, Agustus 2016

Sepotong Kisah Pengembara

Entah berapa sepatu yang melangkah menyusuri
Lika dan liku takdir
Setelah membagi waktu dengan begitu adil
Untuk aktivitas-aktivitas yang tak pernah sempurna
Menyajikan senyuman

Celana dengan berbagai warna dan
Beragam harga dikenakan
Sekedar mewakili menyuarakan kehormatan
Pada mata-mata yang mendaratkan pandang

Sebab di antara jalan selalu ada suara
Yang setiap saat mengantar luka dengan paksa
Juga murka yang akan dibelai dengan lihai
Oleh waktu-waktu berikutnya

Purwokerto, Agustus 2016

Pagi Melintas

Aku membaca tulisan pada embun
Yang berjatuhan setelah
Daun-daun itu kuhaturkan sentuh

Tulisan tentang rindu
Yang dipertentangkan keinginan
Dan ketakdiman kepada yang
Menaruh kasih dalam dada
Paling sunyi

Sebenarnya semua telah mengerti
Kalau setiap embun memulai tasbihnya
Berakhir pula kenyamanan yang di berikan
Mata terpejam
Mata-mata kembali dilukiskan
Kejadian yang tak di pesan doa-doa panjang

Purwokerto, Agustus 2016

Pembisik Hati

Aku hanya pelengkap
Begitu juga dengan kau dan luka-luka
Yang biasa dialamatkan
Juga malaikat-malaikat yang selaksa
Mengantar kita pada wangi kasturi
Karena tingkah kau aku
Adalah yang terbagi
Oleh kuasaNya

Purwokerto, Agustus 2016

Arji’

Kemanapun aku berlari
Akhirnya aku tunduk dan patuh
Kepada yang mencahaya
Diantara airmata dan doa-doa kelumpuhan

Aku terikat dan
Tak akan sempat mematahkan ketakdiman
Tersebab aku terpercik dari zatMu

Purwokerto, Agustus 2016

Tetesan Air

Aku tak pernah memesan setetes airpun
Terjatuh diantara ketenangan danau
Ketika kulukis segala isi hati
Di kebeningannya

Sebab dari ketenangannyalah
Aku menemukan segala jawaban
Makna yang bersembunyi pada
Tetesan dari langitMu dan
Langit puisiku

Purwokerto, Agustus 2016

Irna Novia Damayanti, lahir di Purbalingga, 14 September 1992. Seorang mahasiswa Pascasarjana IAIN Purwokerto Jurusan Ilmu Pendidikan Dasar Islam. Aktif di Komunitas Sastra Santri Pondok Penadan Gubuk Kecil. Seorang santri di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irna Novia Damayanti
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 15 Oktober 2017

0 Response to "Sajak Musim Kemarau - Rahim Doa - Wajah Pagi - Waktunya Malam - Sepotong Kisah Pengembara - Pagi Melintas - Pembisik Hati - Arji’ - Tetesan Air"