Sebuah Senyum di Balik Cadar | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sebuah Senyum di Balik Cadar Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:32 Rating: 4,5

Sebuah Senyum di Balik Cadar

Sudar senyum-senyum sendiri di bawah pohon rindang, tak hirau pada orang-orang lalu-lalang. Ia bahagia bukan kepalang. Tadi, setelah mencabuti rumput pekarangan, ia dipanggil kepala lapas untuk menghadap. Kepala Lapas memberi kabar kepada Sudar, “Pak Sudar besok sudah bisa meninggalkan tempat ini. Bapak bebas tanpa syarat,” dan betapa girangnya si Sudar itu, sampai-sampai tangannya gemetar saat menyalami tangan kepala lapas. 

Ia melamun, membayangkan tentang kampung halaman, juga tentang wajah istri dan anaknya.

“Nanti aku akan bercinta dengan Sumi sampai puas,”

Begitulah tujuan utama saat ia bebas nanti, dan wajar jika ia begitu. Sebab dulu, sewaktu belum dipenjara, ia dikenal dengan julukan lelaki doyan bercinta, dan bahkan, tanpa malu-malu, ia bercerita kepada teman-temannya bagaimana kehebatannya pada saat bercinta. Selama di dalam penjara, mengendalikan berahi bercinta, adalah perkara paling berat baginya. Beberapa kali ia gagal mengendalikan dan diam-diam menuntaskan hasrat biologisnya dengan tangannya sendiri di kamar mandi.  

“Lihat saja nanti, Sumi, akan aku buat kau berkeringat dengan keberingasanku di ranjang.”

Sudar kembali senyum-senyum sendiri setelah mengucapkan itu. Lalu ia membayangkan sebuah senyum, senyum Sumi yang menawan, senyum kehabagiaan karena melihat lelaki tercinta telah pulang. Tapi bayangan akan senyum itu memudar tatkala ada seseorang mengganggu, datang dari arah belakang dan menepuk pundak Sudar.   

“Selamat, ya, Sudar. Besok kau sudah bisa bertemu dengan keluargamu.” 

Seorang petugas lapas yang mengucapkan itu dan ketika tahu, Sudar langsung berdiri dan menabur senyum.  

“Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak.”

Petugas itu pergi dan Sudar kembali duduk meneruskan lamunannya.

Hari ini, waktu dirasa bergerak lambat oleh Sudar, tapi pada akhirnya gelap tetap datang, menggeser terang, dan malam menampilkan suasana alam begitu syahdu. Angin bergerak halus dan bulan memancarkan sinar sempurna.

Sudar berdiri di dekat jeruji besi, melempar pandangannya ke langit. Sedang Lahab, kawan satu sel Sudar, yang ikut berbahagia dengan kabar kebebasan Sudar, beringsut dari tempatnya dan mendekati Sudar.

“Besok kau sudah bisa bernapas lega. Kalau sudah ada di luar sana, jangan lupa doakan aku, biar bisa segera ikut jejakmu, keluar dari tempat sialan ini.”

Sudar tertawa lepas, lalu berkata, “Tak sia-sia aku berkelakuan baik, Hab. Tak sia-sia aku berdoa pagi, siang dan malam kepada Tuhan. Makanya, kalau ingin seperti aku, lakukan salat. Minta sama Tuhan. Dalam kondisi seperti ini, hanya Tuhan yang bisa menolongmu.”

Lahab terusik mendengar kata salat, karena ia memang tidak suka salat, “Ya-ya, nanti aku salat. Kalau aku ingat.”

“Tuh, kan. Mana mungkin Tuhan mau membantumu kalau kau tak patuh sama Tuhan.”

Percakapan mereka akhirnya terputus gara-gara Sudar selalu menyinggung soal salat. Dan, Lahab, sangat benci kalau mendengar kata salat itu diulang-ulang.

Sejak masuk penjara, Sudar sangat rajin salat, rajin juga berdoa. Tapi, sesungguhnya, sebelum masuk penjara, ia jarang salat, dan ia lebih patuh pada perintah Marda, sang tuan majikan, ketimbang perintah Tuhan. Ah, Marda memang sialan, tak tahu terima kasih. Tanpa Sudar, ia tak akan disegani. Sudarlah yang membuat namanya terkenal dan bersinar. Tapi, pengabdian Sudar yang setulus hati, malah ia balas menyakitkan. Ia jebak Sudar, hingga akhirnya Sudar mendekam di penjara. Begini ceritanya.  

Seorang Sudar yang polos, tanpa banyak pikir, langsung meng-iya-kan perintah Marda, karena tergiur  imbalan uang 500 ribu rupiah. Perintah Marda  cukup sederhana waktu itu. Sudar harus datang ke rumah Layat, kepala desa yang ingin Marda singkirkan, hanya untuk mengambil sejumlah uang keuntungan anggaran Dana Desa. Setelah menggenggam uang imbalan itu, Sudar segera berangkat ke rumah Layat. Waktu itu, malam sebenarnya sudah larut. Sesampainya di halaman rumah Layat, Sudar  sama sekali tak menaruh curiga saat melihat rumah Layat sepi dan lampu beranda depan padam. Pintu rumah Layat terbuka lebar, menjadi jalan keluar cahaya dari dalam rumah yang muram. Tanpa pikir panjang lagi, dengan memasang wajah riang yang menonjolkan warna gigi kuning, ia merangsek masuk. Barulah terkejut ia saat kakinya berdiri di tengah ruang tamu. Ia dapati tubuh Layat terkapar dengan banyak luka, juga batang leher nyaris putus.  Sudar bingung, tak tahu harus melakukan apa. Kemudian, karena takut menjadi tertuduh, ia segera keluar rumah, bermaksud lari sejauh-jauhnya. Tapi, sampai di beranda depan, kakinya berhenti. Rumah Layat sudah terkepung oleh banyak laki-laki bersenjata celurit. Sudar tak  berkutik. Lalu beberapa laki-laki maju, mendekati Sudar dengan celurit diacung-acungkan. Sudar tak melakukan perlawanan, menyerah, mengaku kalah. Tapi sebenarnya ia bisa melawan, tapi tak mau melakukannya. Ia pun dibawa ke kantor polisi, dan beberapa hari kemudian dijebloskan ke dalam penjara. Setelah peristiwa itu, Marda mengadakan pesta, bersyukur atas tertangkapnya Sudar sebagai pembunuh Layat. Kepada masyarakat, ia sebarkan fitnah, bahwa Sudar sengaja membunuh Layat karena mengincar jabatan kepala desa.

Begitulah ceritanya. Tetapi, Sudar yang polos menerima apa yang terjadi padanya itu sebagai takdir, dan tak menaruh curiga atau dendam kepada siapa pun, termasuk kepada Marda. Kepada teman-temannya di dalam penjara, ia bercerita kalau dirinya tidak pernah membunuh orang. “Aku tidak bersalah. Aku dijebak,” begitu kata-kata terakhir setiap kali ia bercerita, yang selalu diulang-ulang. Tapi, mereka, para napi yang kebanyakan dihukum karena bersalah, tidak mau percaya, dan mengatakan, “Ya, begitulah kalau orang sudah kena tangkap dan dipenjara, selalu mengatakan kalau dirinya tidak bersalah.”

Akhirnya, hari yang ditunggu Sudar tiba. Setelah menyelesaikan urusan administasi ini dan itu, Sudar diperkenankan pulang tapi sayang, tidak ada satu pun orang menjemputnya.  

“Biarlah,” kata Sudar, “biarlah kehadiranku nanti menjadi kejutan buat Sumi dan Sanca.”

Untung Lahab masih mau peduli pada Sudar. Ia memberi sejumlah uang kepada Sudar, dan dengan uang itu Sudar pulang.

Setelah melakukan perjalanan satu jam lebih lamanya, ia pun sampai di kampung halamannya. Lalu ia berlari. Saat kakinya berada tepat di depan pintu rumahnya, ia berhenti. Aura kebahagiaan terus memancar di wajahnya. Ia putar gagang pintu dengan pelan. Pintu terbuka, dan kondisi menjadi terbalik. Rumahnya kosong, melompong! Jangankan manusia, satu perabotan pun tak ada. Sudar yang polos, bersedih. Matanya berembun. Lututnya melemah. Tangannya gemetar.  

“Ke mana Sumi? Di mana Sanca?”

“Mereka pasti ada di sekitar sini. Aku harus mencarinya. Harus.”

Atas dorongan sedikit keyakinan itu, ia bangkit, berbalik badan, dan berlari ke luar rumah. Ia kembali mendapatkan kejutan. Di luar rumah sudah ramai dengan warga. Salah satu dari mereka lantas bersuara, “Pembunuh tidak pantas tinggal di kampung ini. Kau harus pergi. Ini sudah menjadi kesepakatan seluruh warga kampung ini.”

Sudar menghela napas. Kepalanya tertunduk lemas. Sudar yang polos, tak berhasrat melawan. Ia hanya mampu berkata, “Baiklah, aku pergi dari kampung ini. Tapi, tolong sampaikan pesanku ini jika ada salah satu dari kalian bertemu Sumi atau Sanca. Katakan kepada mereka kalau aku sudah bebas dari penjara.”

Setelah mengatakan itu, Sudar melangkah pergi. Menjauh dengan langkah lemah. Tak lama dari itu, telinganya mendengar sorak-sorai, yang menyuarakan, “Pergi kau pembunuh.” Sudar tak mau menoleh ke belakang lagi. Ia pasrah.

Sudar yang polos tidak tahu, kalau di antara kerumunan warga itu ada Sumi yang menutup sebagian wajahnya dengan cadar. Di balik cadar, Sumi sunggingkan sebuah senyum bahagia, bahagia karena sudah bisa lepas sempurna dari lelaki bodoh.(*)

Asoka, 2017 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Agus Salim
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 15 Oktober 2017

0 Response to "Sebuah Senyum di Balik Cadar "