Secangkir Kopi di Atas Meja | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Secangkir Kopi di Atas Meja Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:03 Rating: 4,5

Secangkir Kopi di Atas Meja

PAGI telah menyapa,aku segera buka jendela dapur. Berharap udara segar menyongsongku. Bersegera datang mengganti udara malam nan pekat dengan kesegaran yang siap bersemayam di paru-paru. Sesaat aku berdiri, termangu di ambang jendela menyaksikan aneka bunga yang sengaja aku tanam untuk menyegarkan udara serta mengisi ruang kosong halaman hati, agar senantiasa indah berseri. Kutatap keluar kembali, mataku sedikit menyipit karena pancaran sang surya yang mulai masuk menerobos dedaunan dan mengena ke daun jendela juga ke arahku. Aku tersenyum puas. Membalikkan badan untuk memulai rutinitas pagi ini. Secangkir kopi hitam segera tersaji di atas meja makan.

Secangkir kopi hitam. Itu yang selalu aku siapkan, mengakhiri pekerjaan lain sebagai ibu rumah tangga. Hidangan khusus. Tersaji dalam sebuah wadah yang antik. Mug cantik, tepatnya. Berwarna putih dengan gambar pohon kopi. Ceceran biji kopi terlihat jelas di sana. Di bawah pohon. Mug yang kadang berganti dengan yang lain, berwarna hitam polos, selalu berada di sini. Di atas meja makan. Sepuluh tahun senantiasa kopi hitain itu terhidang dan selalu dengan segera suamiku menegaknya hingga tandas. Meski di awal ia akan menyeruputnya perlahan. Menikmati setiap seruputnya serta memandang penuh cinta ke arahku.

Ketika kopinya nyaris habis, ketika dedaknya terlihat, ia akan segera menegaknya. Tandas. Dengan beragam cerita yang senantiasa menemani kami. Ya, kopi hitam itu selalu menjadi ikatan antara aku dan suamiku. Dari kopi hitam ini selalu bermula. Perbincangan hangat akan mengalir sebelum keberangkatan ia bekerja. Kopi hitam yang selalu menjaga kebersamaan kami. Mesra.

Sepuluh tahun kopi itu selalu tandas tak bersisa. Diselingi tawa dan cumbunya. Selalu. Seolah tak jemu ia menikmati kopi hitam kemudian memandang ke arahku. Tak jarang kerjanya sedikit terlambat karena sesuatu yang harus kulayani, usai bergulat dengan kopi hitam. Semua mengisi hari-hariku tanpa sepi. Karena kesukaannya itu, aku senantiasa menyediakan aneka kopi terbaik hanya untuk suamiku. Sesuatu yang membuat cinta kami berkecambah.

Sering aku ke luar rumah, jalan-jalan sekadar untuk mencari kopi yang bagus. Kopi terbaik untuk menyenangkan suami. Aneka kopi dari Jawa sampai kopi Papua pernah kubeli. Kopi hitam penyemangat hidup itu selalu katamu.

Selama ia menyeruput kopi, aku selalu berada di sampingnya, menemaninya sampai yakin bahwa kopi itu habis. Meyakinkan bahwa tak ada yang dia perlukan dariku. Hingga akhirnya berdiri. Mengecup keningku perlahan dan berangkat ke kantor, tentulah dengan senyun mengembang yang senantiasa aku kenang.

Tak lepas kupandangi wajah suamiku ketika menyeruput kopi. Takut. Sesuatu terjadi. Dari raut muka saat ia mengecap di lidah, dapat kurasakan sesuatu yang terjadi. Kegembiraan, kegalauan, kesedihan, semua tergambar dari raut wajahnya. Ya, aroma kopi adalah penentu terhadap emosi suamiku. Raut muka yang selalu menyiratkan hati. Dan itu dapat kubaca lewat kopi yang telah ia sesap.

Dan ketika malam. Menjelang ia datang. Selalu sama. Kopi hitam itu harus terhidang di atas meja makan. Dan aku akan menyambut kepulangan suami. Menyimpan tas kerjanya. Membuka tutup cangkir dan menyerahkan padanya. Uap kopi akan segera memenuhi ruangan kami. Ia pun kembali akan bercerita tentang kegiatannya di kantor dari mulai A sampai Z. Dari kesedihan sampai kesenangan. Dan semua akan kembali tenang ketika ia menyeruput kopi. Membicarakan segalanya ke arahku. Tentu aku menimpalinya. Dari mulutku meluncur beberapa kalimat luituk menenangkannya jika ia marah. Dan semua selalu berakhir dengan baik-baik saja. Tidur dengan tenang tanpa beban. Mengolah rasa bersama setelah aroma kopi kami pagut.

***
SEORANG perempuan cantik. Duduk di samping seorang lelaki gagah. Menikmati aroma kopi berdua dengan penuh kehangatan. Sehangat kopi yang baru saja diseduh oleh sang perempuan. Mereka berbicara banyak hal dari mulai rutinitas rumah sampai kantoran. Juga tentang harapan yang akan mereka tuai setelah bayi lahir ke dunia, merasakan kehangatan secangkir kopi.

“Semoga anak kita menjadi kebahagiaan kita, ya, Mas.” Ia menyandarkan kepala ke bahu laki-laki itu.

“Tentu saja. Dia anak kesayanganku.”

“Anak kesayanganku, Mas.”

“Kesayangan kita berdua.”

“Apakah nantinya ia akan menyukai kopi sepertimu?” Dahi perempuan itu berkerut. Menatap laki-laki di hadapannya.

“Pastilah kopi hitam yang nikmat. Lambang keperkasaan lelaki. Meningkatkan semangat dalam segala hal.”

“Kopi hitam?”

“Kopi hitam bercampur susu,” ralat laki-laki itu. Tak banyak cakap karena kemudian mereka telah tak bercakap. Bergelut dengan secangkir kopi bersama mulutnya.

“Jangan kauberi anakmu sejenis kopi,” perempuan itu merenggut manja.

“Robusta… Robusta Magdalena.” Lelaki itu meloncat dari tempat duduknya. Kegirangan. “Terima kasih, sayang. Kau telah memberiku ilham tentang nama bayi kita.”

“Ah, Mas ini.”

“Perpaduan yang indah antara aku dan kau. Aku pencinta kopi. Dan kau Lena, Magdalenaku sayang.”

Perempuan itu tersenyum puas. Kendati tak suka dengan nama yang diberikan laki-laki itu. Namun setidaknya tahu bahwa laki-laki di hadapannya begitu mencintainya.

***
TERGOPOH aku buka pintu garasi. Menyambut suamiku pulang. Jam berdentang tiga kali ketika suamiku duduk dengan muka ditekuk.

“Ada masalah di kantor, Mas? Sebentar aku buatkan kopi.”

“Ngantuk terlalu berat. Bangunkan aku jam enam pagi.” Ia berdiri. Berjalan ke arah kamar.

“Baiklah, Mas.” Aku terdiam sesaat. Melihat punggungnya sampai hilang.

“Nanti kubuatkan kopi spesial.” Suaraku mendesis, tak mungkin didengar suamiku yang telah menutup pintu kamarnya. Rapat.

Tak kututup mataku sekadar untuk merebahkan diri atau beristirahat. Kumanfaatkan waktu. Menunggu sampai fajar datang. Teringat pada amanatmu. Jam enam pagi. Ya, tepat ketika jam berdentang enam kali. Akan kubangunkan kau dengan sajian spesial untukmu. Aroma kopi yang menguar. Kopi yang akan membawamu terbang. Hingga kesumat dalam dadamu mungkin juga kesumatku akan berkurang atau bahkan hilang. Aku tersenyum puas. Mengingat pencarian kopi yang tak mudah. Kopi antik. Pemburuan yang mahal karena untuk mendapatkannya aku harus mengeluarkan berlipat uang.

Aku berdiri termangu di ambang jendela. Menyaksikan aneka bunga yang sengaja aku tanam untuk menyegarkan udara serta mengisi ruang kosong halaman hati, agar senantiasa indah berseri. Berharap udara segar menyongsongku. Bersegera datang niengganti udara malam nan pekat dengan kesegaran yang siap bersemayain di paru-paru. Seperti biasa aku berdoa, semoga kebahagiaan senantiasa bersama. Bahagia? Apakah mungkin bahagia masih menjadi milikku esok hari? Sementara secangkir kopi hitam di atas meja makan tak pernah tandas.

Jam berdentang enam kali. Tergesa aku masuk kamar. Membangunkan ia dengan penuh cinta.

“Mas…”

“Hem…”

“Jam enam. Bangunlah.”

“Ah… mengapa kantuk ini tak mau pergi.”

“Bangunlah. Secangkir kopi hitam telah tersaji.”

Dengam malas ia buka matanya. Tersenyum kaku ke arahku.

“Ya… ya… aku bangun sayangku. Hari ini aku ada meeting di kantor. Tak boleh terlambat.”

Secangkir kopi di atas meja makan. Telah tersedia ketika kau turun dengan pakaian lengkap untuk ke kantor. Wangi dan parfummu menyeruak ke arah dapur. Bertempur dengan aroma kopi yang sebentar lagi siap kau minum. Bersemayam dalam perutmu.

“Kopi apa ini, sayang? Begitu harum.” la duduk menghadap kopi.

“Pastilah itu kopi terbaru, Mas. Kemarin aku sengaja membelinya.”

“Kau memang pandai membahagiakanku, istriku.” la menatap ke arahku. Menyeruput perlahan kopi. Berhenti. Dahinya mengernyit.

“Tapi rasanya begitu beda. Mengapa kau tambahi susu?” Kembali ia menyeruput kopi. Menyecapnya di lidah lebih lama. “Kopi manis?” Ia tertegun.

“Sengaja, Mas. Mungkin kau sudah bosan dengan kopi hitam. Bukankah kau sekarang menyukai kopi yang lain? Kopi manis?” Aku tersenyum ke arahnya.

“Ka…. kau….” Matanya terbelalak.

“Ya. Aku sudah tahu. Kopi manis dalam tasmu adalah jejak untukku. Ada seseorang yang membuatmu menyukai kopi yang lain.”

“Maafkan aku, Lastri.” Buih keluar dari mulutnya. Badannya rubuh. ***

Nina Rahayu Nadea, lahir di Garut, 28 Agustus 1975. Menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Tulisannya dimuat di berbagai media

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nina Rahayu Nadea
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tribun Jabar" edisi Minggu, 8 Oktober 2017 

0 Response to "Secangkir Kopi di Atas Meja"