Setelah Eden - Mazmur Mikhal - Hikayat Percakapan (I) - Hikayat Percakapan (II) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Setelah Eden - Mazmur Mikhal - Hikayat Percakapan (I) - Hikayat Percakapan (II) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Setelah Eden - Mazmur Mikhal - Hikayat Percakapan (I) - Hikayat Percakapan (II)

Setelah Eden

Ini yang pelan-pelan kau ceritakan padaku hari itu:
ada lidah yang menjerat kepala,
gigi yang menggigit dada dan ekor yang kerap
mencambuk kakimu

yang lukanya kubasuh dengan tangan seperti ibu-ibu
Yerusalem menyeka darah Kristus
meski berulang kali engkau hidup di sana
memanggul salibnya

itulah ular Taman Eden
tak menggigit mu hingga mati
ia yang lebih jahat dari itu, menghablurkan bisa
seperti darah perjanjian
kau bawa ke masa depan di mana aku seharusnya
bahagia menumbuhkan pohon
kebijaksanaan

ini yang pelan-pelan ku ceritakan padamu setiap hari:
ada perempuan dalam kitab
suci yang begitu mencintai kekasihnya, ia bukan
Hawa yang jatuh dalam
pencobaan meski ia pun berdosa

 2014


Mazmur Mikhal

aku bagai Mikhal, terseok-seokme lupakan masa lalu
sedangkau Daud yang memesona
dan perempuan-perempuan Israel menulis namamu
pada setiap dinding-dinding ratapan

aku Yerusalem yang ditinggalkan
 kota Tirza yang diam
aku kemah orang Kedar yang terbakar,
tirai Salma yang bisu
berharap kau kembali memasukkan tanganmu
melalui lobang-lobang pintu
sambil berkata, “aku rindu bedeng rempahrempahmu,
yang menguar aroma putri-putri Sion”

tapi sejak semula Tuhan telah menjadikan, Daud
tunduk kepada Batsyeba
yang tercatat dalam sejarah Ibrani
dengan darah dan air mata
sebab dosa karena pedang

2016

Hikayat Percakapan (I)

: yang tidak pernah tahu rasanya memberi banyak
cinta kemudian ditinggalkan

Sebuah percakapan
lalu yang mati adalah kepak sayap kunang-kunang
bersama luruhnya putik-putik kata
dari kelopak-kelopak cahaya
tetiba saja kau bilang,
“aku tidak ingin berlama-lama tanpa angkasa”
rindumu terhadap malam
dan nyanyian akar-akar lainnya
yang terbawa dalam pusaran pertanyaan
namun yang kulihat dari wajahmu yang redup kala
itu adalah ketakutan dan kehilangan
kuantar kau ke sana, ini dulu pernah kulakukan
saat kau tanyakan padaku, apakah mamona lebih
berharga dari pada cinta?
jawabku, “aku mau bersamamu meski kau bukan
siapa-siapa dan tak punya apa-apa”
kumantrakan kita agar bahagia selamanya dalam
sepotong - dua tempe dan air semangka
kuantar kau ke sana, seperti dulu pernah kulakukan
agar kau memahami rasanya pergi
dan berjarak dari kenyataan tentang meninggalkan
sebab katamu hidup mesti begitu
agar kudekap rasa lapar dan syukur
meski tak adil bila dituliskan
tetap saja ku doakan kau dari sini,
kulihat cahaya kecilmu melayang-layang tak
berhaluan di antara ruing daun pepadian
kau luka dan kesepian
namun tidak pernah tahu rasanya memberi banyak
cinta kemudian ditinggalkan

Ubud, 2017

Hikayat Percakapan (II)

Yang jatuh dari pucuk-pucuk frangi pani itu adalah
mantra sang dewata,
Sejak kuingat kau telah berjarak dari luruhnya abu
dupa yang kunyalakan pada subuh tanpa suara.

Aku pernah bertanya padamu, apa yang kau pelajari
dari tebing-tebing Ceningan itu?
Kau menjawab,
“Kekuatanmu untuk memaafkan dan mencintaiku.”
Lalu senyummu merekah, mengusir segala sepi
Dan kau ibaratkan debu rombak di Penida adalah
anak-anak kita kelak yang mengejar mimpi.

Entah setelah beberapa purnama, aku pernah berkata:
Jika kau tiada, aku akan tetap memandang langit dari
arah yang sama.
Wajahku akan berhadap-hadapan dengan sebuah
pura di mana pernah diam-diam harapanku
panjatkan untuk mu di sana.
Demikian pula bila kulihat kelap-kelip pesawat yang
mengangkasa, aku tahu kau akan pulang segera.
Lalu kita akan berlarian lagi di atas pasir hitam Pantai
Masceti di mana dulu pernah kutuliskan untukmu
sebuah prosa
Bahwa cinta adalah misteri antara bumi dan surga,
namun dengan sederhana kita menamainya sebagai
rumah,
Sebab tidak peduli betapa pun salah, kepadanya kau
akan melangkah.

Seperti Ubud yang selalu member ketenangan,
dadamu dulu selalu menghadirkan pelukan.
Kuyakinkan bagaimana pun perih kehidupan, kita
pasti akan menemukan jalan.
Di lain waktu, kutanyakan padamu, apa yang kau
pelajari dari hangatnya senja?
“Hatimu yang kudus,” jawabmu dengan sungguh.
Pun kulihat jiwamu yang penuh.
“Sebab hatimu mampu mengalahkan segala tarian
yang dipersembahkan gadis-gadis itu kepada tuhan.
Sebab hatimu mampu menyimpan ayat-ayat suci yang
tidak pernah dituliskan.”

Hingga kita tiba pada bulan mati, kau memutuskan pergi.
Usai mengaku berdosa, usai merasa tak berdaya.
Aku dirajam kedukaan dan ketidak tahuan setiap kali
ingatan berlari padamu, seperti Danau Batur yang
selalu merefl eksikan gunungnya,
Kulepaskan kau dengan ketabahan yang luar biasa.
Kutanyakan berkali-kali pada diri sendiri, apakah aku
telah diberkati untuk tulus mengampuni?
Dan mengubah kebinasaan menjadi petuah dan cinta?

Untuk dupa dan pucuk frangipani terakhir, jika
mencintaimu begitu menyakitkan, sesuci apa pun
jiwa seorang perempuan, apalagi yang harus ia
pertaruhkan?
Usailah segala pertarungan, mari lanjutkan ziarah ini:
di jalan berlainan, menuju kenangan.
Kau tidak perlu pulang, aku pun tak pulang.
Sayang.

Ubud, 29 August 2017

N. Diana, lahir di Kalimantan Barat, 7 November 1991. Lulusan program Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Untan, Pontianak. Perempuan yang mencintai dunia sastra, seni budaya, musik, dan petualangan di alam bebas. Kumpulan sajaknya yang berjudul Lelaki di Biara. Cerpennya dipilih dalam The 2nd Jakarta International Literary Festival (Jilfest) 2011 bertema Spirit persaudaraan dan multikulturalisme (KSI, KCI, dan Disparbud Provinsi Jakarta).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya N. Diana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 1 Oktober 2017

0 Response to "Setelah Eden - Mazmur Mikhal - Hikayat Percakapan (I) - Hikayat Percakapan (II)"