Sira dan Samo | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sira dan Samo Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:30 Rating: 4,5

Sira dan Samo

SIRA bercerita tentang anjing barunya—yang baru saja dipungut mamanya dari tempat penangkaran anjing liar di kota sebelah, kemarin siang. Dia tampak bersemangat memaparkan ciri-ciri anjing tersebut. Dari penguraiannya barusan, saya bisa menebak, anjing itu anjing ras Samoyed yang masih muda. Anjing berbulu tebal dan berwarna putih dengan wajah mirip serigala. Selain itu, anjing ras Samoyed selalu tampak tersenyum. “Dia anjing jantan yang sangat lucu,” sambung Sira.

“Kamu sudah memberikan nama untuknya?”

“Belum, Miss Kania. Tapi, sekarang, saya sudah menemukan nama yang pas untuknya.”

“Sekarang, siapa namanya?”

“Tadi, kan, Miss Kania, bilang kalau itu Samoyed. Jadi, saya akan memberikan nama: Samo!” seru Sira girang.

Saya lalu membuka tangan ketika Sira ingin memeluk. Saya merengkuhnya. Belum pernah saya melihat Sira sebahagia ini. Bahkan, semenjak Nyonya Lusy (mamanya Sira) mendaftarkan Sira ke tempat ini–sebuah Day Care di mana saya bekerja sebagai salah satu pengasuhnya–lima bulan yang lalu.

Nyonya Lusy adalah seorang wanita karir yang super sibuk. Dia bekerja sebagai manajer penjualan produk kosmetik di salah satu merek terlaris di kota ini dan beberapa kota sekitar. Demi menjaga prestise sebagai merek terlaris di banyak kota, perusahaan tempat Nyonya Lusy bekerja tak segan-segan mematok target yang sangat tinggi–bahkan lebih sering tidak masuk akal, gerutu Nyonya Lusy. Oleh sebab itu, untuk mengejar target penjualan yang kelewat tinggi tadi, tidak jarang Nyonya Lusy pulang hingga larut malam. Dia pun sering bepergian ke luar kota sampai berhari-hari.

Menyiasati kondisi seperti itu, Nyonya Lusy menitipkan Sira pada saya bila dirinya menjemput Sira melewati batas waktu penjemputan–pukul 6 sore. Dan, jika terlalu lama, Nyonya Lusy akan mengabarkan bahwa dia akan menjemput Sira langsung ke rumah saya. Begitu pula kalau Nyonya Lusy bermalam di luar kota, Sira akan tinggal bersama saya sementara waktu. Tentu saja, Nyonya Lusy memberikan bayaran khusus untuk kesediaan saya tersebut, meskipun saya tidak terlalu mengharapkan hal itu sebenarnya. Karena saya mencintai anak-anak—terlebih bersama Sira. Saya merasa memiliki seorang adik kecil. Dia mirip saya dulu—tidak punya kakak maupun adik, serta tidak mempunyai papa. Sama seperti mamanya, mama saya juga dulu ditinggal pergi oleh Papa ketika saya berumur dua tahun. Bukan cuma pergi, bahkan papa saya menghilang, dia sama sekali tidak pernah datang mengunjungi saya satu kali pun.

Di parkiran, Nyonya Lusy sudah menunggu. Saya mengantarkan Sira ke mamanya.

“Anjing yang bagus,” kata saya melirik Samo yang duduk di kursi belakang.

“Anjing yang malang, sepertinya dia tersesat atau memang sengaja dibuang oleh pemilik sebelumnya. Sebulan lebih dia di penangkaran. Seorang teman menyarankan saya untuk memeliharanya. Beruntung bagi saya dan Sira, anjing itu sangat lucu,” sahut Nyonya Lusy sambil melihat Samo yang sedang menatap kami dari balik jendela mobil.

“Namanya Samo, Ma,” timpal Sira.

“Oh, dia sudah punya nama sekarang. Samo? Hm, itu nama yang bagus,” ucap Nyonya Lusy sembari mengusap lembut kepala putrinya.

Tidak berapa lama, saya dan Nyonya Lusy memutuskan untuk menyudahi perbincangan, mengingat hari semakin sore. Saya pun bergegas menuju mobil. Dalam hati saya merasa senang, paling tidak, di rumahnya, saat ini Sira mempunyai teman bermain. Karena selama ini Sira selalu mengeluh mamanya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sedangkan Bibi Jum, asisten rumah tangga mamanya, lebih sering diam–dia jarang sekali berbicara, protes Sira.

“Samo bisa pergi ke tempat jauh sesuka hati, dia bukan anjing biasa,” tutur Sira.

“Dia pergi ke ujung kompleks perumahan?” tanya saya menanggapi.

“Bukan. Samo pergi ke pegunungan salju,” jawab Sira lebih bersemangat.

“Pegunungan salju? Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya saya lagi.

“Setelah kembali pulang, di bulunya banyak sekali butiran salju.”

Saya tersenyum. Saya tidak langsung membantahnya. Biar bagaimanapun, saya pernah mengalami masa kanak-kanak. Dulu, saat berumur 6 tahun, sewaktu saya masih seumuran Sira sekarang, saya pernah mengatakan pada orang-orang kalau kucing peliharaan saya bisa berubah menjadi seekor macan kumbang. Berhubung ketika itu saya baru saja melihat macan kumbang di kebun binatang, dan kebetulan kucing peliharaan saya juga berwarna hitam polos. Saya yakin sekali, kali ini Sira pun sedang berimajinasi. Barangkali dia baru menonton film kartun, mungkin Putri Salju. Dan, di film kartun itu dia melihat seekor anjing yang sangat mirip dengan Samo. Bisa jadi demikian.

Saya tidak akan membantah Sira, setidaknya untuk saat ini. Karena saya tahu bagaimana rasanya jika khayalan itu hancur berkeping-keping. Saya pernah merasakan sakitnya seperti apa, ketika Mama mengatakan saya berbohong, dan melarang saya membayangkan hal-hal yang ada di luar logika.

“Miss Kania, tidak percaya?”

“Miss Kania percaya sama kamu,” jawab saya, lantas tersenyum lagi.

Sira terlihat murung. Kemarin malam Samo tidak pulang, katanya.

“Nanti juga Samo pulang lagi. Anjing kadang-kadang suka begitu, mereka jenis hewan yang memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi. Nanti dia pasti kembali.”

“Bagaimana kalau dia merajuk? Soalnya, sebelum Samo pergi, Om Ivan menendang badan Samo kuat-kuat.”

“Kenapa Om Ivan menendang badan Samo?”

“Om Ivan tidak suka Samo selalu membuntutinya. Apalagi waktu Samo membuntuti Om Ivan sampai ke kamar mama.”

Saya sudah menduga, laki-laki yang menjadi kekasih Nyonya Lusy itu berperangai buruk. Bahkan, saya bisa menduga sejak pertama kali berjumpa dengannya, ketika dua bulan kemarin dia pernah ikut menjemput Sira ke tempat ini. Saya dapat mengendus watak kasar yang tersembunyi dalam diri lelaki itu. Persis ketika saya mampu merasakan ketidakbaikan yang ada dalam diri Om Jeff, kekasih Mama waktu itu. Om Jeff berselingkuh dengan Tante Utari, salah satu sahabat terdekat Mama. Saya pernah memergoki mereka berciuman di ruang tamu ketika Mama tengah berada di kamar mandi. Dan, Om Jeff juga pernah berbuat tidak senonoh pada saya. Dia menelanjangi saya, seandainya saja waktu itu Mama tidak lekas pulang, entahlah, saya tidak tahu lagi apa yang akan terjadi pada diri saya ketika itu.

Beruntung, seminggu setelah peristiwa yang menakutkan itu, saya menerima kabar dari Mama bahwa Om Jeff tewas. Laki-laki itu mati diterkam binatang buas. Kata Mama, banyak sekali bekas cakaran di tubuhnya. Dia diserang binatang buas ketika berkemah dengan rekan-rekan bisnisnya. Dan, Mama menangisi Om Jeff hingga bertahun-tahun. Mama merasa sangat kehilangan. Mama terpuruk dan memilih mengakhiri hidupnya. Mama tidak pernah tahu siapa sebenarnya kekasihnya itu. Karena saya tidak pernah memberitahukannya.

Saya menghela napas, “Sudah, Sira jangan terlalu larut dalam kesedihan. Sekarang kita sama-sama berdoa, semoga Samo segera kembali.”

Tadi pagi, Sira tidak hadir. Nyonya Lusy mengabari saya lewat telepon, dia bilang, Sira demam tinggi. Mungkin karena terlalu memikirkan Samo. Sira jadi sulit tidur dan tidak berselera makan. Sebenarnya saya ingin sekali menjenguknya tadi, tetapi pekerjaan saya menumpuk. Banyak laporan yang mesti saya buat. Saya melirik jam di ponsel; pukul 9 malam. Laporan mengenai perkembangan dan kreativitas anak-anak di Day Care baru saja selesai. Menjenguk Sira sekarang rasanya sudah terlalu malam.

Saya melangkah menuju ruang TV. Saya terlonjak. Di sofa, seekor Samoyed meringkuk lesu. “Samo?” pekik saya.

Anjing itu mendekati saya. Kemudian, dia menjilat-jilati kaki saya. Mengibas-ngibaskan ekornya. Seolah dia ingin saya memperturutkan langkahnya. Penasaran, saya mengikuti anjing itu.

“Kamu meminta saya mengantarkan kamu ke rumah Sira?” tanya saya ketika anjing itu memaksa membuka mobil. Dia melenguh, lalu terus menjilat-jilati pintu mobil.

Cepat-cepat saya memacu mobil. Saya mendapat firasat, sesuatu yang tidak beres sedang terjadi pada Sira. Di mobil, Samo tak henti-hentinya melenguh. Namun, terlepas dari semua kepanikan itu, saya heran; bagaimana Samo bisa masuk ke rumah saya? Apalagi, dia sama sekali belum pernah mengunjungi rumah saya.

Suasana jalanan terlihat lengang. Saya memarkirkan mobil di depan halaman Sira. Saya berjalan pelan. Samo tampak tidak sabar. Saya memperingatkannya agar jangan membuat gaduh. Saya mengitari rumah–setelah tidak mendapatkan respons dari penghuni rumah. Saya menyusuri lorong yang ada di samping rumah. Lorong itu menembus ke halaman belakang. Dan, di halaman belakang, saya terkejut. Di situ saya melihat Nyonya Lusy sedang memegang sekop. Dia seperti menimbun sesuatu. Sesuatu yang sangat besar–entah apa.

“Miss Kania? Gerangan apa yang membawa Anda ke rumah saya malam-malam begini?” Nyonya Lusy menghampiri.

“Saya, ng…,” saya gugup, “bagaimana keadaan Sira sekarang?”

“Oh, Sira sedang tidur nyenyak, mungkin karena efek obat demam yang saya berikan tadi,” Nyonya Lusy masih menatap aneh ke arah saya.

“Oh, tadi saya, ng…,” saya ingin mengatakan perihal Samo yang tiba-tiba muncul di rumah saya, dan memaksa saya untuk datang kemari. Namun, saya urungkan. Sebab barusan saya melihat Sira bermain dengan Samo di ruang tengah. Saya bisa melihat jelas dari kaca jendela yang berada tepat di hadapan saya.

“Saya hanya mencemaskan Sira. Syukurlah kalau Sira sudah bisa tidur sekarang. Kalau begitu, saya permisi dulu,” pamit saya buru-buru.

“Terima kasih sudah mencemaskan Sira,” balas Nyonya Lusy yang masih merasa aneh dengan kedatangan saya.

Saya tak berani menoleh ke belakang. Saya ingin segera masuk ke mobil. Ada yang tidak beres, pikir saya. Nyonya Lusy bersikap lain dari biasanya. Apa yang dia timbun? Apa yang sedang dia sembunyikan? Dan, mengapa dia harus berbohong mengenai Sira? Jelas-jelas Sira belum tidur.

Saya menyalakan mobil, lalu lekas-lekas pergi dari tempat ini.

“Miss Kania.”

“Kalian?!”

Sira dan Samo ada di mobil saya. Mereka bersembunyi.

“Saya dan Samo boleh ikut, Miss Kania? Kami tidak betah di rumah,” Sira pindah ke kursi depan.

Saya tidak langsung menjawab. Saya tidak tahu harus menjawab apa.

“Miss Kania, bagaimana kalau kita pergi ke pegunungan salju?”

“Mustahil, Sira. Pegunungan salju sangat jauh dari sini. Harus menggunakan pesawat,” jelas saya menoleh ke arahnya.

Sira tersenyum, lalu cekikikan. Saya kembali fokus ke depan. Tiba-tiba saya kaget. Saya menginjak rem sekuat-kuatnya. Mobil berputar-putar dikarenakan rem dadakan serta jalanan yang begitu licin. Cukup lama. Setelah mobil benar-benar terhenti, saya menghimpun tenaga supaya bisa mengangkat kepala. Saya merasa sedikit pusing. Saya tidak mendapati Sira dan Samo di dalam mobil.

Saya membuka pintu. Lagi-lagi saya terkejut; jantung saya hampir copot. Saya melihat hamparan salju di mana-mana. Terasa dingin. Lebih dingin dari AC pendingin mobil. Di ujung sana, saya melihat Sira bermain bersama Samo. Mereka terlihat begitu bahagia. Dan, di sisi yang berbeda, saya melihat seekor macan kumbang tengah duduk menatap saya. Di sampingnya, terbaring seorang lelaki yang dulu pernah saya kenal. Lelaki itu berdarah-darah.

Abdullah Salim Dalimunthe lahir di Medan, November 1982. Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Kini ia tinggal di Bandung.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Abdullah Salim Dalimunthe
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 28 - 29 Oktober 2017 

0 Response to "Sira dan Samo"