Suamiku Ingin Mati di Wawonii | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Suamiku Ingin Mati di Wawonii Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:00 Rating: 4,5

Suamiku Ingin Mati di Wawonii

1/

PUKUL satu siang.

Duduk menyandar pada tumpukan dos mi instan, perempuan itu tampaknya sedang asyik dengan diri sendiri. Pandangannya tak pernah lepas dari layar ponsel yang terkoneksi dengan headset di kupingnya. Namun saya yakin ia tidak bisa fokus mendengarkan lagu. Meskipun duduk di bagian paling atas Kapal Fajar Fadilah, ia pasti terganggu oleh suara mesin yang mulai menaikkan gas. Sebentar lagi kapal berangkat. Kembali mengarungi lautan Kendari-Wawonii. Suara percakapan para penumpang hilang tertelan suara mesin. Begitulah memang setiap kali kapal hendak berangkat.

Rasanya saya kenal perempuan itu. Entah di mana. Sepertinya saya pernah tahu siapa dia. Atau paling tidak pernah berbicara dengannya. Sayang, ingatan tak selamanya panjang.

Pasti ada di antara kalian bertanya, cantikkah perempuan itu? Berapa usianya? Bagaimana postur tubuhnya? Langsing? Kurus? Gemuk? Yang bertanya begitu bisanya laki-laki. Entah kenapa laki-laki di mana pun lebih mengutamakan detail fisik perempuan daripada soal lain. Apakah ia cerdas? Apa kelebihannya? Itu jarang ditanyakan.

Terus terang saya tak bisa menjawab pertanyaan kalian. Seperti sudah saya singgung, saya tak kenal dekat perempuan itu. Apakah ia cantik? Mungkin. Namun bukankah definisi cantik dan tampan sangat relatif? Artinya berbeda bagi setiap orang.

Ketika Pulau Hari di kanan dan Pulau Saponda di kiri telah terlewati, saya perhatikan tidak terjadi perubahan pada wajah perempuan itu. Biasa-biasa saja dan terus mengawasi laut dengan ekspresi sangat wajar. Mungkin kedua pulau itu sudah terlalu biasa bagi dia, tak lagi membawa kesan mendalam. Mungkin ia seperti saya juga, melewati pulau itu hampir tiap pekan. Bolak-balik Kendari-Wawonii. Rutinitas membosankan. Tapi mau apalagi. Saya memang harus menempuhnya demi tugas dan tanggung jawab sebagai aparat negara.

Perempuan itu masih juga memandang laut. Tiba-tiba ia berdiri, melangkah hati-hati mendekati tempat saya duduk di samping tumpukan jerigen solar. Saya berdebar oleh tingkah yang mendadak itu. Bajunya tersibak angin. Jilbabnya juga.

“Bapak masih ingat saya?”

Saya memandang cukup lama seraya mengumpulkan ingatan yang berserakan tentang sosok perempuan yang sekarang berdiri di hadapan saya.

“Saya Nining, Pak.”

“Nining?” saya membalas ragu. Dan ia tahu saya ragu. Ia meneruskan.

“Dulu kita sama-sama naik Kapal Wawonia ke Kendari.”

“Ah, kenapa sekarang sulit sekali mengingat orang?” batin saya. Namun yang keluar dari mulut saya hanya sahutan pendek, “Oh ya?”

Saya memang tidak dikaruniai kefasihan mengingat segala kejadian. Saya nyaris lupa semua kejadian yang telah lewat, meskipun baru sepekan lalu. Mungkin benar ia pernah sekapal dengan saya. Entahlah. Namun mungkin juga ia cuma mengarang-ngarang, mencari alasan bisa mengobrol dengan saya. Saya tak tahu.

Saya perhatikan perempuan itu lebih cermat. Ada sesuatu yang menarik dalam dirinya. Sesuatu yang saya tak tahu. Dan saya bingung tak bisa menunjukkan hal menarik itu. Saya pernah membaca sebuah buku filsafat. Saya lupa judulnya, tetapi ada yang tidak bisa saya lupakan dalam buku itu; bahwa saat kita melihat sebuah objek, sudah berbeda bila melihatnya waktu lain. Perbedaan waktu itulah yang membuat objek berubah.

Saya dan Nining terlibat percakapan. Ia bercerita dulu mengajar di sebuah sekolah dasar dekat Tumburano di Wawonii Utara. Namun sejak empat tahun lalu, ia menikah dan tinggal di Kendari.

“Baru hari ini saya kembali ke Wawonii setelah menikah dengan Rustam.”

“Empat tahun?” tanya saya agak heran.

Ia mengangguk mantap.

“Suami kamu sekarang di mana?”

“Di kapal ini.”

“Di kapal ini? Di mana?”

“Di kamar ABK.”

“Kenapa?”

“Ia sakit. Saya membawanya ke kampung untuk berobat.”

“Kenapa kamu di atas sini? Kenapa tidak menjaganya?”

“Ia sedang tidur sekarang. Biarlah ia istirahat.”

Sebenarnya banyak yang saya ingin tanyakan. Namun, entahlah, saya hanya mampu membisu seraya menatap ombak berkejaran.

2/

TIGA jam sebelumnya.

“Tahan sakitnya ya, Rus, sebentar lagi kita ke pelabuhan,” bujuk Nining.

Rustam diam, tak menyahut atau mengangguk. Di dalam taksi sepanjang perjalanan, Nining berusaha menghibur sang suami. Ia mengajak Rustam bicara dengan nada manis. Sesekali tangannya mengusap pelipis dan rambut Rustam yang acak-acakan. Sopir taksi yang mereka tumpangi, lelaki gemuk yang tampak baik hati, cuma sesekali melirik mereka lewat kaca spion.

“Sejak dulu kan aku sudah bilang, kita berobat ke Makassar saja, tapi kamu maunya ke kampung. Memang di kampung ada yang bisa mengobatimu?” Nining terus bicara sendirian. Rustam tergolek tanpa daya di jok belakang, di sampingnya.

Nining menyuruh sopir taksi mempercepat laju kendaraan, khawatir ketinggalan kapal. Ia tahu jadwal berangkat kapal kayu ke Pulau Wawonii tak pernah tepat. Kadang lebih cepat, kadang juga terlambat berjam-jam. Dalam hati ia berdoa semoga kapal belum berangkat. Kalau ia ketinggalan, pupuslah harapan membawa pulang Rustam ke kampung.

Memasuki pintu gerbang pelabuhan, Nining sedikit lega ketika dari jauh melihat Kapal Fajar Fadilah masih tertambat di dermaga. Orang ramai naik-turun kapal. Pedagang asongan di mana-mana, berteriak menjajakan nasi bungkus, jagung rebus, dan air mineral.

Nining minta tolong sopir taksi membantu membopong Rustam ke kapal. Dalam hati ia berharap semoga tidak ada yang tahu apa yang sesungguhnya ia lakukan. Sengaja ia menutup kepala Rustam dengan kain panjang supaya tak terkena sinar matahari. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu ramai membicarakan keadaan Rustam yang telah lama diketahui sakit dan tidak sembuh-sembuh sampai sekarang. Orang-orang di pelabuhan siang itu dan hari-hari lain kebanyakan orang Wawonii juga. Mereka kenal Nining. Juga Rustam tentu saja.

“Kasihan ya,” kata seseorang.

“Memang ia sakit apa?”

“Saya dengar ia sakit jantung.”

Rustam dimasukkan dalam kamar kosong, kamar seorang anak buah kapal. Nining lega. Kembali ia mengusap kepala suaminya penuh kasih sayang. Dalam hati ia berdoa kepada Tuhan agar perbuatan itu tidak diketahui penumpang lain di kapal. Apalagi sampai diketahui juru mudi. Bisa gawat urusan nanti. Tadi ia berdebar ketika seorang ABK berkata tubuh Rustam sudah pucat, mirip mayat.

“Jangan-jangan ia sudah mati,” kata orang itu.

Nining menyahut cepat, Rustam cuma tak sadarkan diri. Penyakitnya memang gawat. “Ia pernah pingsan dua hari,” ucap Nining untuk menenangkan diri sendiri.


3/

DERMAGA Langara sudah tampak. Kami berhenti bercakap-cakap. Nining lekas berdiri dan minta diri untuk ke bawah, ke kamar sang suami berbaring. Ia menatap saya agak lama, membuat saya agak heran seraya berpikir pasti ada rahasia yang hendak ia katakan. Saya memberanikan diri bertanya.

“Ada apa?”

Ia mendekat lagi, mendekatkan mulut ke kuping saya. Suaranya halus dan dalam, meskipun agak gemetar.

“Suamiku ingin dikuburkan di Wawonii. Ia ingin mati di pulau itu.”

“Lantas apa masalahnya? Kan kamu membawanya pulang untuk berobat?”

“Ia sudah meninggal, sudah mati sejak dari rumah di Kendari.”

“Hah?”

“Jangan bilang-bilang ya,” bisiknya dengan wajah agak sedih.

“Soalnya kapal-kapal di sini dilarang membawa mayat. Pemali, kata mereka. Saya pun terpaksa melakukan ini untuk melaksanakan wasiat suami saya yang ingin dikuburkan di Wawonii.”

Saya belum mampu mencerna apa yang sesungguhnya terjadi ketika dari bawah terdengar teriakan seorang anak buah kapal. “Ada mayat dalam kapal ini! Siapa keluarganya? Siapa bertanggung jawab?” (44)

Arsyad Salam, menulis novel dan cerpen. Novel yang telah terbit Kidung dari Negeri Apung (2015), Jejak Manusia Langit (2016), dan Lintasan Menikung (2017). Kumpulan cerpennya Pasung Jiwa Merpati Putih (2016). Kini, dia tinggal di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arsyad Salam
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 29 Oktober 2017

0 Response to "Suamiku Ingin Mati di Wawonii"