Surat Oman | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Surat Oman Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:10 Rating: 4,5

Surat Oman

SELEPAS tengah malam, Oman menulis surat di atas selembar kertas lebar tanpa garis. Harapannya, kekasihnya membacanya pada malam hening, persis seperti saat dia menulisnya. Cahaya remang-remang lampu tudung hanya menyapu separuh meja. Sinarnya yang kuning kian menguning saat memantul di permukaan meja dari kayu damar berusia lebih dari 15 tahun. Di luar, sisa gerimis hanya mewariskan kesunyian serta tetes air yang mengendap di ember para pedagang kaki lima. Trotoar sekarang ini, sepi pejalan kaki.

JIKA ada yang bertanya, apa hal yang paling kusayangkan di dunia ini saat ini? Jawabannya adalah wanita cantik pemabuk. Seiring waktu, jawaban itu bisa berubah tapi untuk saat ini, tidak ada yang lebih menghancurkan hati melihat wanita cantik dan pintar yang terlibat dalam pergaulan yang buruk.

Begitu bunyi paragraf awal suratnya.

Butuh waktu berhari-hari untuk sepucuk surat agar sampai ke Den Haag. Oman memilih berkirim surat karena meski sudah dianggap kuno tetapi punya kekuatan yang lebih mendalam untuk menyampaikan pesan. Ada kesan spesial yang menyertainya. Kuno memang, tetapi bagaimanapun, sesuatu yang kuno selalu bernilai spesial. Toh, mesin Big Ben yang sekarang namanya Elizabeth Tower di London tidak akan diganti menjadi digital.

Lahir gejala aneh di benak Oman saat berusaha berkirim surat karena mencari alamat rumah kekasihnya itu di seberang lautan sana jauh lebih sulit dibanding menemukan alamat surel atau akun media sosial.

Hubungan antara Oman dan kekasihnya memang tidak sesuai dengan harapan Oman dan sampai sekarang pun, dia masih belum benar-benar memahami alasan kepergian kekasihnya ke Den Haag. Kekasihnya pergi tanpa pesan. Alamat rumah di Den Haag didapatnya dari teman yang sedang kuliah di sana.

Hidup memang seperti kue yang jatuh ke lantai. Namun, bukankah masih lebih baik diambil lagi dan dimakan lalu jadi kotoran daripada langsung dibuang dan membusuk di tempat sampah? Begitulah anggapan yang muncul di benak Oman sesaat sebelum menulis surat.

Sudah sejak lama, Oman yang hanya staf berpangkat menengah di perusahaan telekomunikasi, punya cita-cita membantu kekasihnya melewati masa-masa sulit bersama- sama.

Kukirim surat ini karena aku masih begitu menyayangimu.

Aku tidak akan lagi memintamu berhenti menenggak minuman beralkohol dan merokok. Bagaimana caramu memperlakukan tubuh dan jiwamu adalah hakmu sepenuhnya. Aku tidak akan lagi memintamu berhenti melakukan semua itu.

Oman hanya berharap Mar—begitulah ia memanggil kekasihnya—mengumpulkan cukup alasan untuk pulang. Tidak dapat ditepis lagi rindunya pada Mar. Pada lengkung alisnya, caranya membalikkan halaman saat membaca buku, dan kebiasaanya menggigit bibir saat cernas.

Senyumnya menenangkan, dan Oman, seperti juga kebanyakan orang, semakin sulit menemukan alasan untuk tersenyum sejak kepergian Mar.

Rasa cernas menyergap setiap saat. Ia tidak ingin menua sendirian dan dilupakan waktu seperti kalkulator 8 digit di era telefon pintar. Dia ingin menua bersama Mar dan tidak terbata-bata mengeja zaman.

Meminta padamu barangkali hanya akan berujung kecewa. Maka sudah aku putuskan untuk memintanya kepada yang lain. Aku meminta langsung pada Yang Maha Membolak-balikkan Hati Manusia.

Aku meminta melalui doa. Berdoa serupa berjalan kaki, mungkin kita tidak akan sampai ke tujuan tapi pasti kian dekat menuju titik akhir. Tentu, yang bisa kulakukan saat ini hanya berdoa.

Dari Jakarta, Den Haag adalah kota di belahan dunia lain. Namun, bukankah semua kota adalah salinan dari salinan dari salinan dari salinan. Tidak ada yang benar-benar khas. Setiap orang bisa tinggal di manapun karena semua sama saja.

Hal yang biasanya beda hanyalah cuaca. Di Jakarta, udaranya panas mencekik. Satu hal yang lucu tentang tercekik, orang merasa lega kalau sudah batuk. Untuk batuk, orang kadang harus tercekik.

Tak jarang Oman bertanya, kutukan atau amanahkah ketika Tuhan membuatnya jatuh hati pada seorang pelacur, seseorang yang melakukan sesuatu yang sejatinya sangat ia benci.

Begitu banyak rumor dan gosip tentangmu yang kudengar. Dari teman-temanmu, dari para pelayan kafe, dan dari sopir-sopir pribadi pelangganmu. Harus kuakui, apa yang dikatakan para sopir pribadi tentang majikannya hampir bisa dipercaya karena sopir menyimpan banyak rahasia.

Gosip yang kudengar membuat telinga dan hati panas bahkan hingga berminggu-minggu. Namun harus kuakui, lagi-lagi, gosip lebih bisa diandalkan dibanding berita. Berita mungkin benar atau salah tapi gosip akan selalu menjadi gosip yang selalu berada dalam ranah antara.

Seketika, Oman mengingat bagaimana ia berlari menuju rumah Mar kala hujan pada suatu malam di bulan Desember untuk menyatakan seberapa besar rasa sayangnya. Malam itu, cahaya lampu membanjiri kota dan cinta tak butuh suara. Rindu tak perlu kata.

Sungguh aku tidak dapat pastikan kebenaran semua rumor yang beredar. Sempat terpikir untuk meminta penjelasannya langsung dari bibirmu tapi apalah gunanya. Aku sudah tidak peduli lagi.

Bahkan aku sudah tidak peduli lagi kau tidur di hotel mana dan dengan siapa setiap akhir pekan tiba, atau barangkali kau sudah rnenjadi simpanan tetap seseorang.

Aku tak peduli lagi mengetahuinya hanya menghadirkan siksaan jiwa dan pikiran.

Percayalah, tidak ada satu malam pun yang aku lewatkan tanpa mengkhawatirkanmu.

Hanya dua bulan sebelum kepergian Mar ke Belanda, Oman baru tahu jika Mar yang selama ini dipujanya ternyata menjadikan seks bukan sekadar cara medapat harta. Seks adalah candu baginya.

Sejak setidaknya tiga tahun lalu Mar bukan lagi sekadar “hanya”dalam hal apa pun. Ada satu kotak dalam pikiran dan hati Oman yang ia labeli “segalanya”. Hampir semua isinya dibuang agar ada cukup ruang untuk bisa memasukkan Mar ke dalarn kotak itu.

Ada bagian dari diriku yang membencimu tapi sebagian lainnya sangat menyayangimu. Entah yang mana yang menang tetapi selalu saja aku berharap kebaikan menyertaimu. Hanya isi doaku yang berubah, rasa sayangku tetap semurni air dalam kuncup pucuk kecubung.

Mar bukan pelacur kelas lonte. Tapi bukan pula pelacur kelas atas dengan bayaran puluhan juta. Perernpuan berparas ayu meski tanpa riasan itu biasa keluar masuk hotel bintang empat. Ijazah magister hukum didapatnya dari perguruan tinggi ternama tanpa banyak kesulitan.

Kuingat lagi saat-saat pertama kita bertatap mata. Pada bahtera tanpa bendera di tengah samudera di luar batas negara, kudapati kau, wanita tanpa nama yang datang entah dari mana.

Hanya keyakinanku yang kekar untuk menyayangimu, mengakar membelah batu. Kalau seumpama kau potong tangan kiriku, kujadikan kau sebagai pemandu. Arahkanlah mataku menuju senja kuning berkilau yang tak akan larut dalam air rakasa.

Seseorang di ujung jalan memukul tiang listrik dua kali. Suaranya menggema menyelingi alunan merdu “In Between Days” dari The Cure yang keluar dari pemutar piringan hitam di pojok ruang kerja Oman. Surat itu dituliskannya hanya dalam waktu tak lebih dari sejam.

Semua mengalir tanpa beban. Tanpa keraguan. Tanpa kesalahan. Tanpa ada segaris pun coretan tak bermakna. Namun, guratan penanya jelas penuh kegelisahan.

Oman yakin Mar sudah sangat paham dan berpengalaman menafsirkan sikap serta tingkah pria. Mar sudah sangat fasih menafsirkan mana pria yang tulus dan mana yang berpura-pura.

Aku memujamu. Jika ada tepuk tangan paling meriah, itu bukan untuk seorang pemimpin diktator di negeri tiran atau untuk seorang superstar paling terkenal. Jika ada nyanyian paling menggetarkan jiwa, itu bukanlah tentang kepahlawanan. Jika ada pujian paling mahsyur yang dipanjatkan seorang anak manusia, itu bukan harapan masuk surga. Bagiku, adalah kau yang layak menerima semua kehormatan itu.

Semoga kau temukan kebahagiaan yang hakiki dengan kehidupan yang kaujalani. Dan aku rasa, bukan aku pikir, aku pun tidak lebih baik darimu. Aku lelaki yang sudah beristri.

Akan tetapi jika tekadmu bulat untuk meninggalkan semua, kau tahu di mana harus menemukanku. Tempat paling kita sukai. Aku masih sering ke lantai paling atas Pasar Baru setiap sore saat cuaca cerah dengan awan yang terpenggal-penggal. Memandang horizon di barat. Menatap langit senja. Pulanglah, aku merindukanmu seperti juga aku merindukan senja yang ungu.

Jakarta, Sabtu, 1 November 2014

Oman

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yusuf Wijanarko
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 8 Oktober 2017

0 Response to "Surat Oman"