Surat untuk Presiden | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Surat untuk Presiden Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:00 Rating: 4,5

Surat untuk Presiden

“KELUAR kau, Kardi!” teriak Wahyu yang kemudian diikuti suara pintu digedor sepenuh tenaga. Teriakan Wahyu benar-benar merusak ketenangan pagi itu. “Keluar kau atau kudobrak pintu ini,” ancamnya sembari terus menggedor.

Sontak keributan yang dibuat Wahyu memanggil warga untuk datang melihat. Mereka saling berbisik dan menerka, apa gerangan yang menyebabkan Wahyu kalap pagi-pagi begini. Baru saja dia hendak mendobrak, pintu terbuka dan muncullah wajah Kardi yang kebingungan melihat halaman rumahnya mendadak seperti bioskop, penuh warga.

“Ada apa ini, Wahyu?”

Kardi keluar dengan pakaian lengkap hendak berangkat kerja. Burung merpati yang menjadi lambang perusahaan pos nasional tersemat di lengannya.

“Ini semua gara-gara kamu dan teman-temanmu, Kar!” Wahyu menunjuk-nunjuk wajah Kardi.

“Lo, tenang dulu, Yu. Jangan emosi. Aja kesusu nuduh orang. La, aku ini salah apa?”

“Sudah tiga minggu aku menulis surat kepada Presiden. Tapi sampai hari ini belum dibalas. Pasti kalian tidak menyampaikan suratku kan!”

“Lo, kami profesional, Yu. Bahkan kau tahu, aku sudah memastikan suratmu sampai ke tujuan.”

Kardi tak habis pikir, mengapa Wahyu menuduh seperti itu. Akan tetapi di satu sisi, ia semakin kasihan melihat sahabatnya itu. Bagi Wahyu, surat kepada Presiden adalah harapan satu-satunya untuk menyelamatkan tanahnya dari ancaman pembangunan hotel.

Kardi masih ingat betapa kalap temannya itu saat melihat beberapa pekerja mengukur-ukur luas pekarangannya. Pembangun hotel itu mulai bekerja tanpa seizin Wahyu, setelah berkali-kali merayu dia menjual tanah di depan rumah, tetapi tidak juga berhasil.

“Bagaimana mungkin aku menjual tanah di depan rumahku itu, Kar. Kau tahu, itu kenangan terbesar Marni,” ucap Wahyu suatu malam.

Kecintaan Wahyu kepada Marni memang sangat besar. Di pekarangan depan rumah itulah dulu Marni menanam bunga-bunga indah dan aneka pohon yang dia rawat dengan telaten. “Marni pernah berkata, bunga dan pohon di pekarangan itu adalah tempat bermain anak kami kelak,” curhat Wahyu suatu hari.

Namun, nahas, belum sempat mereka diamanahi buah hati, Marni meninggal akibat kecelakaan. Wajar bila Wahyu menolak tawaran dari pengusaha hotel. Saat melihat pekarangan itu, ia selalu teringat kepada Marni. Mereka sudah melaporkan pembangunan itu ke pihak RT dan RW. Namun mereka malah menyalahkan Wahyu. Mereka berkata, Wahyu bodoh menolak tawaran begitu tinggi.

Wahyu juga sudah melaporkan perbuatan pembangun hotel itu ke aparat keamanan. Ketika itu dikatakan, kasus itu akan segera diproses. Wahyu akhirnya sadar, kata “memproses” itu sungguh ambigu. Bahkan hingga detik ini, jika ditanya mengenai perkembangan penanganan kasus itu, aparat keamanan akan berkata sedang memproses.

Kardi tidak sampai hati melihat Wahyu terduduk lemas di kursi ruang tunggu kantor aparat keamanan selepas mendengar kabar untuk kali kesekian bahwa kasus itu sedang diproses.

“Aku tidak tahu lagi harus mengadu kepada siapa, Kar,” ucap Wahyu saat mengatakan niat mengirim surat ke Presiden.

Sore itu, mereka berdua duduk sambil memandangi pekarangan peninggalan Marni. Ranting pepohonan itu bergerak mengikuti tiupan angin sore. Sementara di beberapa titik bisa terlihat jelas bekas galian yang akan dijadikan patok pembangunan.

Kardi masih ingat, saat Wahyu menyerahkan surat itu sambil berkaca-kaca beberapa minggu lalu. “Aku titip harapanku padamu, Kar.”

Tak kuasa hati Kardi menahan air mata. Kedua sahabat itu menangis sejadi-jadinya. Orang-orang yang lalu lalang pun melihat mereka dengan tatapan aneh.

Kardi pun memperlakukan surat itu secara spesial. Saat menyortir surat, dia pisahkan surat Wahyu dari surat-surat lain. Ketika dikirim ke Ibu Kota, dia minta temannya yang bekerja di sana memastikan surat itu baik-baik saja dan sampai ke tujuannya: rumah Presiden.

Maka pagi ini, ketika Wahyu dengan emosi menggedor-gedor pintu rumahnya dan menuduh dia mengkhianati, bukan amarah yang muncul di hati Kardi. Namun rasa iba. Sudah sedemikian frustrasikah sahabatnya itu sampai kehilangan akal sehat? Dia merangkul Wahyu sambil mengelus-elus pundaknya. Maka pecahlah tangis Wahyu pagi itu.

“Mereka sudah membangun tembok di pekaranganku, Kar. Pohon peninggalan Marni juga sudah mereka tebang,” Wahyu bercerita sambil terisak-isak.

“Mungkin memang sebaiknya kaujual saja pekarangan itu. Jangan khawatir, Sahabat, keikhlasan dan perjuanganmu akan diganjar pertemuan dengan Marni di tempat yang lebih kekal kelak,” ujar Kardi sambil menggigit bibir, menahan haru.

Sembari sesenggukan, Wahyu mengangguk perlahan.

Sesampai di kantor, kejadian pagi itu masih membayangi Kardi. Alangkah terkejut dia saat menyortir surat yang datang, ada sebuah amplop berlambang kepresidenan ditujukan ke alamat Wahyu. Dia girang bukan kepalang. Namun dia ingin melihat isi surat itu sebelum memberikan kepada Wahyu. Dia tidak ingin sahabatnya kecewa.

Perlahan dia buka dan baca surat itu. Di surat itu tertulis, “Ikhlaskan saja. Itu semua demi pembangunan dan peningkatan ekonomi.” (44)

Syahirul Alim Ritonga, mahasiswa Teknik Mesin UGM, anggota FLP Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Syahirul Alim Ritonga
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 22 Oktober 2017

0 Response to "Surat untuk Presiden"