Tangis Api | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tangis Api Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:00 Rating: 4,5

Tangis Api

SARINAH terus menahan air mata melihat gundukan batu yang kini pecah berkeping-keping, diangkat ke atas truk. Dia tidak mengira sisa sawah yang dimiliki, tempat menyambung hidup selama ini akan berdebu, membuat beberapa tanaman layu dan terancam tak subur lagi, tapi bukan itu yang membuat Sarinah sedih. Bukan ! 

Perempuan di depannya, Maryati yang sedang memandang truk pengangkat pecahan batu itulah yang membuatnya sedih. Maryati tidak bisa berbuat apa-apa selain mamandang truk yang membawa batu dan memegang dadanya yang bergemuruh. Gemuruh yang juga dirasakan Sarinah sekarang. Perempuan paruh baya itu, kini menyesal karena pernah mencaci maki Maryati yang menolak untuk menjual tanah kepada pengembang. 

"Aku menjual tanah untuk anak cucuku sendiri!" kata Sarinah kepada Maryati yang memohon agar tidak menjual tanahnya beberapa tahun lalu. 

"Aku tidak menjual tanah, bukan hanya untuk cucuku tapi untuk masa depan anak cucu kita semua!" teriak Maryati. Masih terngiang teriakan Maryati di kepala Sarinah, setiap kali melihat sawahnya. 

Sarinah salah satu warga yang mendukung pembangunan pabrik semen di gunung, tepat di atas sisa lahan miliknya. Dia bahkan menjadi orang terdepan yang mengompori warga lain agar tidak ikut-ikutan menolak pabrik semen. Dia juga yang meminta masyarakat agar tanahnya dijual, "Lumayan lho harga permeternya. Ayo buruan sebelum si-pengembang berubah pikiran," serunya. 

Dari hasil penjualan tanah warga Sarinah medapatkan persenan, baik dari pembeli maupun dari si-penjual. 

Maryati yang tahu kelakuan Sarinah kesal, terlebih Sarinah mengatakan, tanah yang di gunung itu tidak subur dan berbatu cadas. Kekesalan Maryati semakin memuncak ketika Sarinah terang-terangan akan mendukung pembangunan pabrik semen. "Tempat kita akan menjadi ramai dan lahan pekerjaan bertambah, tidak hanya bertani." Mendengar perkataan itu, Maryati langsung menjambak kepala Sarinah hingga kerudungnya lepas. Pertengkaran menjadi tontonan orang sekitar sebelum akhirnya dipisah. 

Sebelum ada isu pabrik semen mereka adalah teman yang selalu kompak saat pergi ke alas, mencari pakan sapi atau memanen hasil bumi. Jika malam mereka akan berkumpul membicarakan apa saja. Tapi yang sering mereka bicarakan tentang pengolahan tanah, masalah pupuk, bibit sampai masalah rencana mereka naik haji. 

Sekarang jangankan bertemu, mendengar namanya saja sudah enggan. Baru setelah Sarinah tahu akibat dari pendirian pabrik hatinya mulai cemas. Apa lagi banyak warga yang mulai menolak pabrik semen itu. 

Warga yang menolak pabrik semen biasanya melewati rumah Sarinah saat mau ke lapangan tempat ritual laporan. Hatinya selalu tergerak ingin ikut, tapi selalu tertahan dengan pertimbangan tidak jelas. Dia hanya bisa melihat dari balik jendela, itu pun sembunyi-sembunyi. Saat seperti itu hatinya semakin bergetar dan semakin sesak menahan air di matanya. Dia tidak ingin menangis. Dia terus menahannya. 

*** 
MALAM itu Sarinah diam-diam dari balik semak mengikuti warga yang akan melakukan laporan di lapangan. Setelah mereka mulai jauh, Sarinah melanjutkan langkah kakinya yang bergetar. Dia putuskan lewat jalan berbeda dengan warga. Sambil mengendap-endap di antara pohon dan batu besar Sarinah terus melihat sekitar, memastikan keberadaannya tidak diketahui warga. 

Jalan gelap dan batuan tajam tidak menghentikan langkah Sarinah. Tapi di antara sepi, dingin, hutan yang dipenuhi pohonan prasangka-prasangka mulai memenuhi pikirannya. Dari jauh dia sudah melihat obor di tangan warga, berputar sambil merapal doa. Tak lama mereka duduk sambil berbagi informasi tentang perkembangan di pengadilan yang menggantung nasib mereka. Melalui pengeras suara seorang lelaki menjelaskan warga yang masih belum sadar bahaya pabrik semen itu. 

"Bagaimana kalau mereka berencana balas dendam kepadaku!" Sarinah sejenak menghentikan langkah. Dia memegang deru dadanya. "Mereka pasti tidak suka dengan keberadaanku. Mereka pasti membicarakan aku dan ah...!" serunya kemudian, kini kakinya yang gemetar. Saat seperti itu dia selalu ingat dengan Maryati yang selalu dijelekjelekkan di hadapan banyak orang. 

"Dia pasti sakit hati karena telah kufitnah," terkanya. 

Perlahan Sarinah melangkah. Langkahnya terhenti setelah menginjak arang yang terhampar di depannya. Dia ingat, tempat itu dulu tempat kemah para perempuan yang secara bergantian menjaga jalan agar tidak ada yang beraktivitas dalam pembangunan pabrik sebelum ada keputusan dari pengadilan. Para perempuan itu berhenti menjaga tanahnya setelah tempat itu beserta kemah dibakar. Sebelumnya mereka digotong paksa saat melawan aparat yang lebih berotot, ada pula yang pingsan karena kepanasan. 

Ingatan itu membuat gemuruh dada Sarinah semakin berkobar-kobar, seperti kobaran api yang disulutnya hingga menghanguskan kemah warga. Dia melihat sendiri tangis para perempuan pecah di antara api yang membakar kemah. Hanya Maryati yang diam tertegun, memandang api meliuk-liuk. Dia tidak menangis, sesekali memegang dadanya. Dia bertahan meski warga telah kembali ke rumah masing-masing. Dan saat seperti itu lah Maryati tidak bisa membendung air matanya. Dari jauh, di antara kobaran api Sarinah lihat air mata Maryati yang terus mengalir. 

Di antara ingatan itu Sarinah dengar lamat-lamat nyanyian warga setelah selesai laporan; /ibu bumi wis maringi/ Ibu bumi dilarani/ Ibu bumi kang ngadili/. Suara mereka terdengar getir dan perih. Diam-diam Sarinah mengikuti nyanyian itu sambil menahan air mata. ❑ - g 

Rembang, Jejak Imaji 2017 

*) Sule Subaweh, nama pena dari Suliman. Saat ini bekerja di UAD dan aktif di Komunitas Sastra Jejak Imaji. Kini sedang mempersiapkan buku kumpulan cerpennya "Bedak dalam Pasir". 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sule Subaweh
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 22 Oktober 2017 

0 Response to "Tangis Api"