Ular Sawit | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ular Sawit Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:00 Rating: 4,5

Ular Sawit

SEBELAS orang turun dari mobil pick-up mendekati bivak-bivak terpal di dalam  kebun itu. Salah seorang, yang berbaju kaus pemain golf, memimpin kawanan.

“Pokoknya kami tidak mau tahu. Kalian harus angkat kaki sekarang juga dari kebun ini!”

Ia menyergah dengan ayunan tangan, mendelik pada Sang Tumenggung (1) sembari menyuruh sepuluh centengnya untuk bergerak. Mereka menyibak-sibakkan bara tungku dengan kaki, mencabut kayu-kayu palang yang terikat di terpal sudung (2), dan membongkar papan yang menjadi alasnya. Orang-orang rimba itu tahu, saat pokok-pokok sawit sudah mulai masak, orang-orang itu akan datang untuk mengusir.

“Silakan saja panen, kami tak akan mengganggu.”

“Kalian pikir kami tidak tahu. Kalian tahu betul kapan harus tegak sudung di sini. Kalian ini macam kucing jantan yang mengencingi lahan orang lalu mengklaim milik kalian. Pindah sana ke areal yang sudah tidak produktif lagi!”

Si Tumenggung hanya diam dengan kekhawatiran yang dalam. Anak-anak rimba dan orang tuanya menyingkir melihat sudung-sudung mereka dibongkar. Setelah asap yang menelan nyawa, mereka kini harus memikul beban kelaparan setiap hari. Seakan malas berdebat dengan Orang Rimba yang selalu berdalihkan lapar dan nenek moyang, para kacung itu menumpuk kayu-kayu sudung mereka di tepi jalan.

“Ke mana kami harus pindah?”

“Ke sana, ke areal yang sudah mati,” tunjuk si asisten ke arah utara.

Sudah kerap terjadi, di tahun-tahun lalu saat tandan-tandan sawit dipanen dan sudung-sudung mereka tepat di bawah pokoknya, tandan-tandan itu menimpa sudung hingga mereka menuntut ganti rugi, mengancam para tukang petik yang tak jarang berakhir dengan acungan parang. Dapatlah ditebak, kalau bukan cari duit untuk makan.

Seakan tak pernah terjadi apa-apa, mereka pindah ke kebun yang masih produktif untuk mencari riba bala. Jangankan hanya pindah, tusuk-menusuk dan teluh-meneluh pun mereka lakukan demi sebatang jernang (3). Setiap rombong memang punya wilayah jelajah dan wilayah berburu sendiri. Walau tak ada hukum tertulis yang mengatur itu, pembagian wilayah jelajah tercipta berdasarkan kesepakatan adat antar tiap kelompok yang dipimpin masing-masing Tumenggung. Batas-batas wilayah jelajah mereka tandai dengan batas-batas alam, semisal sungai, rawa, dan pohon-pohon sialang, yang mana pohon-pohon itu mereka lukai kulitnya untuk membuat tanda. Dan, bagi siapa yang melanggar akan dikenakan denda.

Sejak hutan dibakar habis lalu muncul bibit-bibit sawit di seluruh lahan, mereka sudah tak tahu lagi harus ke mana. Mengambil wilayah jelajah di pedalaman hutan yang masih lebat sudah tak mungkin. Orang-orang rimba lainnya yang masih sangat bersetia dengan adat tak mau lagi berbagi wilayah berburu. Selain memang sudah sempit, mereka yang di kebun dan yang menerima bantuan rumah permanen dianggap sudah menentukan pilihan. Mereka tak lagi memegang adat Anak Dalam secara penuh.

Namun jiwa mereka untuk berburu masih bergejolak sehingga banyak yang memilih terus hidup berpindah-pindah di areal kebun. Meski kelaparan karena tak ada lagi binatang buruan, mereka rela mengemis di kedai-kedai, memunguti makanan sisa yang tak habis dimakan orang.

Tak ada yang bisa dijelaskan kenapa mereka tak mengambil rumah bantuan dan hidup layak dengan ladang dan ternak. Berburu dan berpindah-pindah adalah kebahagiaan mereka, jiwa mereka. Hanya saja, terkadang bila tikus dan ular yang bersembunyi di balik tumpukan pelepah sawit sudah tak ada, terpikirkan untuk menerima saja ladang dan rumah itu.

“Baiklah, kami pindah.”

Mereka digiring ke lahan yang sudah tidak produktif lagi di sebelah utara kebun. Tak lama kemudian tiba-tiba salah satu centeng bernama Hamid pamit untuk buang air besar. Ia berbalik ke belakang untuk mencari tempat semak. Dan setelah rombongan jauh di depan, centeng asal Muaro Bungo itu tak juga muncul.

“Sul, ke mana Hamid tadi? Kau carilah dia dan cepat balik sini,” suruh si asisten pemantau kepala centeng.

Orang yang disuruh ke arah Hamid tadi pergi. Tapi hingga nyaris magrib, Hamid belum kembali.

Rombong-rombong Orang Rimba sudah jauh ke utara, berduyun-duyun membawa kayu terpal sudung mereka sekitar dua kilometer jaraknya dari areal semula. Si asisten menyuruh semua anak buahnya berpencar mencari Hamid, meninggalkan giringan yang telah jauh berjalan.

Namun, sampai hari ketiga Hamid belum juga ketemu. Si asisten pemantau terpaksa mengajak seluruh rombong Orang Rimba untuk mencari. Dengan iming-iming upah, semua anak, lelaki dan para Tumenggung ikut turun ke kebun menelusuri pohon-pohon sawit yang mati dan yang masih hidup. Bagi siapa yang menemukan Hamid akan diberi uang. Sambil menelusuri mereka mengais-kais pelepah busuk yang biasa menjadi lubang dekam ular-ular, kalau-kalau binatang buruan yang kini menjadi satu-satunya makanan bergizi mereka itu bisa didapat.

Berbekal kayu, bambu, parang, dan ketapel, mereka mencari ke segala arah, memijakkan kaki penuh di atas tumpukan pelepah dan tanah, membabas belukar-belukar yang meninggi sambil meneriakkan nama si orang hilang. Namun sampai jauh mereka menyusur tak juga terdengar sahutan, jejak pakaiannya pun tak ada.

Banyak yang menyangka kalau Hamid mungkin tak sengaja mendatangi sudungseorang gadis di pedalaman hutan, lalu karena tak minta izin pada Tumenggung-nya ia dikenakan sanksi dikurung di wilayah jelajah. Tapi itu lebih kecil kemungkinannya karena pedalaman hutan tempat di mana sebagian Orang Rimba masih kuat memegang adat sangatlah jauh dan berliku, tak mungkin ditempuh dengan kendaraan. Ada juga yang menyangka kalau ia telah kena gendam dan terbengkalai di sudut entah. Namun tak satu pun yang benar.

Setelah obrolan tentang buruh-buruh sawit, kilang-kilang pengolahan, harga per kilogram tandan buah segar dan ton-ton minyak sawit mentah yang dihasilkan, lenyapnya Hamid menjadi hal yang terus dipertanyakan. Di pasar, di ladang, di kedai-kedai dan sudung-sudung debuan.

Sampai hari ketujuh tanda tanya itu akhirnya terjawab tatkala seorang anak dari Rombong Kuyot memekik sepanjang larinya dari sebuah pohon sawit yang sudah lama rebah di pinggir areal.

Terkesiap Datuk Rottuy mendengar pengakuannya!

“Di… di sana Datuk… di batas pohon jati pinggir kebun.”

Bocah delapan tahun yang masih telanjang bulat itu menuntun. Bersama sang datuk dan si asisten ia menuju ke pinggir tengah areal sebelah barat. Diikuti beberapa lelaki rimba dari beberapa rombong di dekat sana mereka pun berkumpul di sebuah kawasan sawit yang telah tumbang. Sebuah rawa berlumpur serupa gorong-gorong terbentuk dari lubang-lubang bekas sawit yang tercerabut. Tanah tepiannya bergambut dengan air yang sangat pekat dan berminyak. Ada sebuah batang sawit besar yang rebah dengan pesona lapuknya ditumbuhi daun-daun paku. Di balik batang itulah seekor ular sebesar tengkuk unta mendengkur dengan perutnya yang kembung!

“Astaga… As-Su’ala.” (4)

Orang sepuh itu sama sekali tak mengira kalau di kebun itu ada binatang buas yang bisa mengancam. Dari hasil penerawangannya ia hanya melihat kalajengking dan orang-orang bersafari yang meninjau wilayah-wilayah berhutan.

“Ular jadi-jadian maksud, Datuk?” tanya si asisten.

“Bisa jadi. Dilihat dari gemuknya ular ini.”

“Lalu bagaimana mengusirnya?”

“Aku coba, tapi setelah kupastikan dulu apa benar ular ini jelmaan dukun hitam atau bukan. Kalau bukan, kita bagi-bagikan saja.”

Titisan dukun sakti yang konon pernah ada di kelompok besar suku rimba itu memang menjadi andalan banyak rombong Anak Dalam. Ia masih juga kerap didatangi orang-orang di bagian luar kebun, bahkan orang-orang desa bersuku lain yang ingin beroleh kemustajaban dari ilmunya, atau berguru kekuatan gaib dan sahir-sahir sakti lainnya. Salah satunya adalah Cikay, bujang tanggung dari Rombong Tariq yang kini tak tahu di mana rimbanya.

Sejak mendalami ilmu menghilang dan berubah wujud tiga tahun silam, ia tak pernah terlihat lagi di areal dan hutan dalam. Juga tak terdengar rumor di desa-desa pinggiran tentang ulah rusuh seorang sakti, bahkan Datuk Rottuy sendiri tak bisa menerawang lagi keberadaannya.

“Kemungkinan ia telah melanggar pantangan untuk tidak menjahati sesama Orang Rimba dengan maling buruannya,” begitu sangkanya.

Ular yang diyakininya jelmaan dukun itu persis ular mitos Suja’ul Aqra. Laiknya burung phoenix dan naga, mata ular itu memancarkan nyala api meski tanpa tangan dan kuku besi, tiada pula membawa alat pemukul yang berat sekali. Ular yang konon bertugas menenggak umat yang tak pernah salat itu mampu melumat puluhan manusia dalam sekali telan hingga tubuh mereka hancur serupa daging giling!

Tapi, ah, itu sama sekali bukan ular mitos ataupun jelmaan jin. Itu ular betulan…

“Hanya induk tedung yang kanibal,” ujarnya.

Tibalah pesta daging itu. Segenap rombong berdatangan membawa wadah plastik dan daun jati untuk menerima irisan daging ular juara. Seperti rezeki dari langit, ular itu tak pernah diduga mendekam di dalam sana sudah lama. Selama ini mereka hanya menemukan ular-ular welang anakan dan indukan yang kecil bantat. Tikus sawit pun sudah tak banyak lagi, sementara lubang-lubang sawit tak ada yang terlewatkan, habis dikais-kais. Sudah karuan apa yang akan mereka lakukan dengan ular sanca itu. Daging putihnya yang empuk akan diiris-iris untuk dijadikan santapan.

Namun Datuk Rottuy meminta bagian kepalanya untuk ia jadikan jimat. Setelah satu abad lebih tak melihat binatang-binatang buas yang besar akhirnya ia mendapat tengkorak ular!

Dengan satu tebasan kepala ular itu putus. Datuk Rottuy segera membungkusnya dengan kain sarung yang didapatnya dari sumbangan orang kampung. Setelah menepikan ia lalu mulai membelah.

Terbelalaklah semua. Isi perut itu ternyata tubuh Hamid!

Mata liar orang-orang yang kelaparan sedikit bergetar meski tanpa kedip melihat sebongkah tubuh membengkak biru yang masih berselimut celana baju itu. Kepala Hamid tertutup lendir keputihan yang sangat kental. Seperti bubur sagu.

“Astaga…”

Si asisten muntah. Mayat Hamid yang masih utuh itu mereka usung dengan keranda untuk dibawa ke rumah duka.

“Kalau masih ada yang mau daging ini, tetap akan kita iris.”

“Iya, Datuk. Kami masih mau.”

Jangankan ular yang memamah apa saja, tikus busuk dan cicak hutan pun mereka telan untuk menyumpal perut yang lapar.

Setelah habis membagi-bagikan tubuh ular itu, Datuk Rottuy lalu membawa pulang buntalan kepala ular. Sudah dipikirkan apa yang akan ia lakukan untuk membuat jimat. Ia akan merebusnya agar dagingnya terlepas dan air rebusan ia minum dengan jampi-jampi leluhur. Setelah tengkorak kering lalu akan digantungkan di leher sebagai kalung yang menangkal segala gangguan jahat dari mana pun.

Namun, ketika sampai di sudung, saat buntalan sarung dibuka, alangkah terkejutnya ia melihat kepala ular itu bukan lagi kepala si reptil melata, tetapi kepala manusia…

Sungguh, kepala itu masih sangat dikenalinya. Beragam pikiran melintasi; tentang marwah leluhur, tentang hutan gantungan, tentang masa depan Anak Dalam. Dengan pandangan redup sembari menutup potongan kepala ia akhirnya tertunduk. Kesaktiannya kini sudah tak berdaya lagi. ***

Keterangan:
1. Pemimpin rombong yang terdiri atas anak, cucu, dan menantu-menantu.
2. Bivak atau pondok dari batang kayu, tanpa dinding ataupun tirai penutup, hanya terpal sebagai atap. Sudung ada yang berkaki, ada yang tidak, dengan alas kepingan papan.
3. Sejenis rotan yang tumbuh di hutan, dan getah buahnya dimanfaatkan sebagai bahan baku pewarna.
4. Penyihir dari golongan jin.

Dahlia Rasyad, menulis dua buku fiksi dan kini tinggal di Jogjakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dahlia Rasyad
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 22 Oktober 2017

0 Response to "Ular Sawit"