Waktu - Sajak Tuhan - Hujan - Penyair - Tuhan - Buruh - | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Waktu - Sajak Tuhan - Hujan - Penyair - Tuhan - Buruh - Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:03 Rating: 4,5

Waktu - Sajak Tuhan - Hujan - Penyair - Tuhan - Buruh -

Waktu

Adalah
Sebuah bingkisan
Tak terucap

Nafas
Menjelma
Peristiwa
Memberontak
Hati kita

Ubun-ubun
Berlaksa-laksa
Hati kita
Di paru-paru keimanan

Tingkir, 21/2/2016


Sajak Tuhan

Tak pernah berhenti, seperti hujan
Mengalir di perbatuan yang padas
Bergulung embun-embun mengikat hatiku
Tak ada koma di atas nalar kepala kita

Tingkir, 26/6/2014


Hujan

gadis cantik,
Bayang-bayang cantik membunuh jiwaku.

Fotomu,
Tak pernah kulihat sebelumnya.
Setelah berhenti,
Rahimmu melahirkan pelangi di balik bukit.

pandai,
Bermain-main irama
Tapi, aku tak mengerti
Arti iramamu yang kontemporer

Tingkir, 5/2/2016


Penyair

Itu dunia sunyi,
Tapi, tak retak dengan realita
Jiwanya bergelayutan imajinasi

Ide
Dimasak
Menjadi hidangan puisi
Sumbernya
Adalah
Hati
Berapi-api
Tak ada yang bisa mengubur
Berabad-abad

Tingkir, 21/2/2016


Tuhan

Bukan mesin fotokopi,
Hanya hati umat manusia
Pandai membuat mesin fotokopi
Ijasah, KTP, uang
Semua itu jiwanya

13/8/2017


Buruh

Pergi menyubuh
Dalam sekujur tubuh
Tumbuh pikiran tak jemuh untuk perjuangan,
Kilang tenaga pikiran terus dikuras tanpa henti-henti bersimpuh
di depan waktu.
Dari ufuk-senja tak berpeluh diri,
Ranting-ranting iman dikumpulkan dalam hati,
Benih cinta, tumbuh menghijau.

30/4/2017


Pasar Kembang

Beruntai-untai bunga menemukan dambaan
Seorang gadis manis menjual nyawa dalam lalu-lalang
Harumnya melebih bidadari

Tingkir, 27/10/2013

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Lukas Jono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 8 Oktober 2017

0 Response to "Waktu - Sajak Tuhan - Hujan - Penyair - Tuhan - Buruh - "