Bingung - Mulut - Cinta - Bahagia - Ingin Aku Menanam Damai - Malu - Baiti Jannati | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bingung - Mulut - Cinta - Bahagia - Ingin Aku Menanam Damai - Malu - Baiti Jannati Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:30 Rating: 4,5

Bingung - Mulut - Cinta - Bahagia - Ingin Aku Menanam Damai - Malu - Baiti Jannati

Bingung

Win, aku terlalu lelah untuk tetap bertahan dalam
kesetaraan. Ada hal yang sangat sulit untuk
kuperjuangkan jika tuntutan persamaan terus
menerus kamu dendangkan. Kau nyanyikan. Kau
tembangkan tanpa henti seperti anak-anak di desa
saat diantar tidur oleh simbok atau embah dengan
sinom atau lirik sluku-sluku batok.

Win, kita beda dengan mereka yang berkulit albino
dan rambut jagung. Kulitmu sawo matang dan bola
matamu hitam legam tidak biru, tidak pula berwarna
hijau. Tapi kau begitu ngotot ingin seperti mereka
yang segalanya serba sama. Padahal sisi mata uang
mana pun tak pernah ada yang sama.

Win, percakapan kita malam ini justru
memperpanjang jarak kita. Jembatan yang kita
bangun tak pernah menjadi kokoh meski puluhan
tahun kita bangun bersama dengan skrup dan
mur kasih sayang. Tapi kekokohan titian kita tidak
pernah terjadi. Meski kebersamaan dalam jiwa
yang terjalin terlihat indah. Tapi sesungguhnya
keindahan itu penuh kepura-puraan sekedar berusaha
menyenangkan Tuhan.

Tuhan, maafkan aku yang pernah menuntut pada-
Mu. Dan permohonan itu Kau kabulkan. Tapi kini jadi
penyebab penyesalan yang tak pernah menemukan
titik akhir.

2017


Mulut

tanpa kau sadari
mulut itu telah kau gunakan
mengundang malakul maut
padahal kematian
pasti akan datang
meski tanpa diundang
tak peduli kepada pahlawan
tak peduli kepada pengecut
tak peduli kepada pendiam
tak peduli kepada si besar mulut


Cinta

Andai Kau tak pernah menciptakan cinta nan suci
dan abadi. Barangkali hidupku tak seberapa tersiksa
seperti sekarang ini. Hidup menjadi neraka sepanjang
masa, meski tak pernah ada yang tahu bagaimana
panas yang menyiksa dada dan membuat sesuatu
mendidih di otak yang ada di kepala

Tuhan, kenapa Kau cipta rasa cinta jika pada akhirnya
cinta tidak pernah menyatu di alam nyata. Lalu apa
artinya cinta yang menyiksa. Padahal seharusnya
cinta menambah bahagia tenaga. Menjadi energi
hidup. Menjelmakan irama bahagia.

Tuhan, benarkah cinta yang mendatangkan bahagia
itu masih ada saat dunia disesaki oleh nafsu syahwat
terhadap kekuasaan.

2017

Bahagia

kau selami lautan luas
kau panjat puncak gunung
kau telusuri semua sahara
kau jelajahi ujung dunia
bahkan kau berjalan
di atas awan yang bertebaran
pada angkasa raya
ketika kau cari bahagia
bahagia tak usah kau cari
ke sana ke mari
di sekelilingmu ia adanya
sebab

bahagia adalah buah manis
dari tingkahlaku baikmu
yang mengejawantah
dalam senyum sumringah
orang sekitarmu.

2017


Ingin Aku Menanam Damai

ingin kutanam kedamaian
meski tanah ini penuh perseteruan
ingin kutabur benih ketenangan
walau lahan ini sarat kegaduhan
ingin kusemai pohon kejujuran
kendati bumi ini dilapisi kemunafi kan

Tuhan
ajarkan aku bersabar
menunggu hasilnya
memang tak mudah
tapi aku pasrah.

2017


Malu

bukan malu yang kau jaga
tapi kemaluan yang kau piara
yang kau agung-agungkan
guna membesarkan birahi
pada kekuasaan
memupuk syahwat pada harta
menebar popularitas semu
padahal semua langkah ini
menuju kehancuran diri
tapi tak pernah kau sadari.

Baiti Jannati

-bagi Adin

Bagaimana kau rancang dan cipta bunga dunia dalam
jelmaan baiti jannati. Sedang istri selalu mengajak
diskusi dengan nada gaduh. Dengan kasidah
keributan dan irama capek menjadi lagu sehari-hari.
Aroma saling menyelidik pada setiap pembicaraan.
Dan desible suara perempuan itu ternyata lebih tinggi
dari suaramu nan lembut.

2017

Humam S Chudori, lahir 12 Desember 1958, di Pekalongan, Jawa Tengah. Sajaknya, selain dimuat di media cetak, juga terhimpun dalam sejumlah buku antologi puisi antara lain Sketsa Sastra Indonesia, Trotoar, Resonansi Indonesia(dwibahasa Indonesia–Mandarin), Antologi Puisi Indonesia 1997, Menatap Publik, Senandung Wareng di Ujung Benteng, Jakarta dalam Puisi Mutakhir, Mengalir di Oase, Tifa Nusantara 2, Gelombang Maritim, Ije Jela, Seratus Puisi Qurani 2016, Matahari Cinta Samudera Kata, Kejernihan Cinta, Sail Cimanuk, 1550 Mdpl Kopi, Batik Si Jelita, Buitenzorg, Jejak Kata, dll.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Humam S Chudori
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 19 November 2017

0 Response to "Bingung - Mulut - Cinta - Bahagia - Ingin Aku Menanam Damai - Malu - Baiti Jannati"